
Hari semakin sore. Imam dan Damar sepakat bahwa mereka akan melamar pujaan hati mereka bersamaan. Mereka mengompori Ilyas agar ikut melamar Adel pada hari itu. Tapi, Ilyas hanya diam tak menjawab.
Imam yang sangat mengenal Ilyas, paham betul jika sahabatnya sudah seperti itu. Mereka memutuskan untuk kembali ke Magelang. Damar menjadi pengemudi untuk mereka semua. Amaris duduk mendampinginya.
Perjalanan pun dimulai. Adel telah selesai dengan pekerjaannya. Ia sadar jika dirinya lapar dan belum makan. "Duh, lapar. Ada yang punya cemilan gak?" tanya Adel.
Semuanya menggeleng. Ilyas menyuruh Damar untuk mampir ke rumah makan terlebih dahulu. "Dam, mampir ke rumah makan dulu deh" katanya.
Imam tersenyut dan menyikut perutnya. "Jengkel tapi masih peduli! Bucin banget sih lu!"
Ilyas tak menjawab ejekan Imam. Damar mencari rumah makan yang memiliki lahan parkir yang cukup luas. "Masakan padang gak papa ya?" tanya Damar. "Iya" jawab Adel.
Semua turun dari mobil. Mereka memesan makanan sesuai dengan keinginan mereka. Makanan pun datang. Semuanya duduk berjajar dengan pasangan masing-masing. Saat tengah menikmati makanan, ponsel Adel berdering dan ia mengangkatnya.
Ilyas sudah tak sabar lagi menghadapi kelakuan Adel. Amaris menangkap raut wajah Ilyas yang menahan amarah. "Dek, makan! Telponnya nanti saja!"
"Bentar" jawabnya.
"Dek!"
"Ih! Bentar doang Abang!" Ilyas sudah hilang akal. Ia tak bisa mengontrol emosinya. Langsung merebut ponsel Adel dan mematikannya. Membuat Adel tersulut emosi.
"Ck! Abang apaan sih?? Ini telpon penting!" Aylin hendak menengahi mereka tapi dicegah oleh Imam. "Biarin. Mereka sudah dewasa" kata Imam.
"Kamu bilang tadi kamu lapar kan?? Lalu kenapa kalau lapar tidak makan? Malah terima telpon??"
"Iya! Nanti Adek makan! Tapi biarin Adek terima telpon dulu!"
Ponsel Adel berdering kembali. Ia meraih ponselnya dan mengangkatnya. Membuat Ilyas benar-benar hilang kesabaran. Ia langsung merebut ponsel Adel dan membantingnya. Membuat semua mata yang ada disana menyaksikan kejadian itu.
"Abang apa-apaan sih??! Keterlaluan kamu Bang!!"
"Abang keterlaluan?? Lalu kalau Abang keterlaluan kamu apa??? Kamu seharian asyik dengan duniamu sendiri tanpa peduli dengan Abang! Apa disini Abang yang selalu egois?? Apa Abang salah jika Abang minta perhatian dari kamu?? Abang selalu ngalah sama kamu, tapi kamu malah gak terima begini??? Ha?? Abang cuma minta kamu makan dengan benar!!"
"Stop!" Adel tak tahan lagi dengan ucapan Ilyas. "Beginilah aku! Aku cuek! Kalau kamu gak suka dengan sifatku, aku tidak memaksamu untuk bertahan denganku!"
Semua semakin tercengang dengan ucapan Adel. "Apa maksud ucapanmu??" tanya Ilyas.
Adel menghela nafasnya "Aku capek! Inilah aku! Kalau kamu gak bisa nerima aku yang begini, sudah lah, lebih baik kita akhiri saja sampai disini! Aku gak bisa sama orang yang sarkasme seperti tadi!"
__ADS_1
Ilyas mengepalkan tangannya. "Oke! Terserah apa maumu! Aku akan ikuti itu! Camkan ucapanku dengan benar! Kamu akan menyesal minta putus denganku!"
Adel tak tahan lagi. Ia berlari keluar dari rumah makan. Amaris mengikuti adiknya. Ilyas mengambil tasnya dan keluar juga dari sana. "Yas.... Yas!" Imam mencegahnya.
"Gua mau pulang naik bis aja Mam! Harga diri gua udah gak dihargai sama dia!" kata Ilyas
"Tenang dulu Yas! Kalian sama-sama emosi!" Ilyas tak menggubris ucapan Imam. Ia terus melangkah meninggalkan rumah makan itu. Imam hanya bisa menghela nafasnya kasar.
Shanum memungut ponsel Adel yang berceceran. "Yah.... layarnya ajur" katanya.
"Gak papa Shan, penting nomornya aja. Nomor penting di hp itu semua. Haduh.... kenapa pada kayak anak kecil begini sih? Sama-sama kepancing emosi" kata Aylin.
Imam kembali. "Mana Ilyas Mas?" tanya Damar. "Dia keukeuh naik bus" jawab Imam.
"Ya sudah lah, biarkan mereka sama-sama tenang dulu" sahut Hamka. Damar dan Imam setuju dengan saran Hamka.
"Yank, Mas mau bilang sama kamu, siang tadi, kami dapat WA dari rekan kami, yang bilang bahwa daftar nama yang diberangkatkan Satgas sudah ada. Tapi, masih rahasia dimananya dan siapa saja" jelas Imam. Aylin menghela nafasnya.
"Pasrah saja lah aku" jawabnya.
"Ya masalahnya, ini si bos lele sama Ilyas gimana? Ilyas itu, tipe orang yang kalau marah bujuknya susah" kata Imam. Mereka semua diam. Tak tahu harus menjawab apa.
Adel memeluk Amaris. "Sudah. Jangan nangis. Kamu ini kenapa sih? Kakak dan Kak Aylin sudah ngingetin kamu kan? Cobalah untuk lebih memahami Ilyas"
Adel melepas pelukannya. "Kakak kenapa belain Abang sih?"
"Ck, kakak bukan belain dek, tapi memang dari sudut mana pun, kamu yang salah. Kamu bilang lapar, Ilyas yang nuruti maunya kamu untuk makan karena gak ada cemilan. Saat makan, dia cuma minta kamu fokus sama makanan kamu agar kamu kenyang, tapi apa?"
"Kakak gak tahu kan? Usaha meubel sedang dalam masalah kak! Itu tadi yang telpon adalah pengacara Papah yang bakalan bantuin Adel ngusut kasus korupsi yang dilakukan oleh salah seorang karyawan kita! Apa Adel salah?"
Amaris diam. Ia tak tahu jika adiknya sedang dalam masalah. "Ya sudah lah, tenangkan diri kamu dulu. Pikirkan juga ucapan yang baru saja terlontar dari mulutmu. Kakak tahu, kamu sama Ilyas sama-sama sedang emosi"
"Aku butuh waktu sendiri kak" Amaris menghela nafasnya dan meninggalkan Adel. Ilyas sudah berada di dalam bus. Ia melamun dan merenungi sikapnya. "Huft..... kenapa bisa lepas kendali sih Yas?? Arrghhhh......."
Seorang pria paruh baya yang duduk di sampingnya menoleh padanya. "Kenapa nak?"
"Oh, maaf pak kalau saya mengganggu. Tidak ada apa-apa" jawab Ilyas tak enak.
Pria itu tersenyum. "Tidak papa, kenalkan nama saya Arjun Priyadi"
__ADS_1
"Saya Ilyas Saputra, Pak" Ilyas menyalami Papah Arjun. (Masih ingat dong ya siapa?) "Ngomong-ngomong, Bapak darimana mau ke mana? Sendirian saja pak?"
"Saya dari Kudus mau pulang ke Magelang. Mobil saya mogok di daerah Demak, makanya saya memutuskan untuk naik bus saja. Saya sama istri dan kedua putri saya. Itu mereka" Papah Arjun menunjuk kursi di sampingnya yang berisikan 3 orang perempuan.
"Mah, kenalkan ini nak Ilyas" Seorang wanita berhijab menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Renata. Ini anak saya yang pertama, Rachmi, dan ini anak saya yang kedua Rachma"
Ilyas tersenyum manis ke arah dua gadis itu. Membuat Rachmi, terpesona oleh manisnya senyuman itu. "Nak Ilyas mau kemana?"
"Mau pulang ke Magelang juga Pak, tadi nengokin saudara yang sedang sakit di Demak"
"Ooo.... dapat teman ngobrol dong Bapak ya. Hahaha. Kerja dimana Nak?" tanya Mamah Rena.
"Saya tentara bu"
"Ooo.... tentara. Sudah punya pacar belum?" tanya Mamah Rena lagi. Ilyas hanya tersenyum.
"Kok hanya senyum? Ini kenalkan Rachmi, dia perawat lho"
"Ih, Mamah apaan sih??" Rachmi menjadi malu karena ulah Mamahnya. Ilyas hanya tersenyum menanggapinya. Perjalanan diisi dengan obrolan. Hingga Rachmi, memberanikan diri untuk meminta nomor ponsel Ilyas.
Ilyas tak enak jika tak memberikan nomor ponselnya. Akhirnya mereka bertukar nomor ponsel. Mereka berpisah di angkutan yang membawa mereka pada tujuan masing-masing.
"Hati-hati ya Bang" pesan Rachmi. Ilyas hanya mengangguk.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Hiya..... sudah pada muncul nih ya tokohnya. Nina dan Dirga diwakilkan Yohan dahulu. Hehehe
__ADS_1