
Adel dan Ilyas pulang ke Magelang. Dalam perjalanan Adel menanyakan sesuatu yang mengganjal hatinya sejak tadi. Sesuatu yang ingin ditanyakan semenjak mereka bertemu dengan Rachmi.
"Abang"
"Dalem sayang"
"Abang kenal Rachmi dimana?" tanya Adel dengan tampang siap untuk menyidik dan menghakimi Ilyas jika tak jujur.
"Seperti kata Abang tadi, Abang ketemu keluarga mereka saat kita marahan. Satu bis untuk pulang ke Magelang. Garis bawahi dan di bold bagian keluarga mereka. Abang bukan hanya ketemu Rachmi saja lho ya"
Adel mengangguk. "Kenapa Rachmi bisa tahu nomor Abang??"
Deg. Tuh kan! Pasti merembet. Jawab cepat Yas.... Ilyas membenarkan posisi duduknya. "Dulu tuh karena dia minta, ya Abang kasih saja. Dia lho ya yang minta, bukan Abang"
"Hish...... tetap saja itu namanya genit!!" Adel mencubit keras lengan Ilyas. Membuat si empunya kesakitan.
"Adala adala adalaaaaaaaa..... sakit sayang! Kamu ih! Kalau nyubit pakai apa sih??"
"Adek jengkel sama Abang! Genit banget sih??"
"Ih, genit darimana?? Sumpah Wallahi Dek! Sama sekali gak pernah Abang respon!"
Adel mencebik ucapan Ilyas. "Hilih! Mana buktinya?? Pinjam HP!"
Ilyas mengeluarkan ponsel miliknya. Menyerahkan kepada Adel. Kok gak dikunci? Batin Adel saat mengetahui ponsel Ilyas tidak diberikan pengaman.
Adel membuka semua log panggilan. Hanya ada nama dirinya dan beberapa teman Ilyas. Tak ada nama perempuan lain. Lalu membuka kontak ponsel dan mencari nama Rachmi. Tak ditemukan.
Lalu membuka pesan dan chat. Sama sekali tak ditemukan nama Rachmi ataupun nomor tak dikenal disana. Hanya chat dengan dirinya mulai pertama kali kenal hingga sekarang dan beberapa pesan dari anggota TNInya.
"Ketemu gak Dek?" tanya Ilyas. Adel menggeleng.
"Sudah Abang hapus ya?"
"Ya dihapus lah, orang gak penting kok. Yang penting-penting masih tersimpan rapi dalam situ kan? Abang gak pernah main hati sama kamu Dek, percaya deh! Ini hati kalau dia punya mulut bakalan ngomong ke kamu, bahwa cuma kamu yang bisa bikin dia terluka dan kamu pula obatnya"
Adel tersenyum malu mendengarnya. "Maafin Adek ya Bang??"
"Iya, Abang maafin. Abang gak bisa marah sama kamu. Gimana doong?!"
"Hahahaha" mereka berdua tertawa bersama. "Ayo naik gunung" ajak Adel tetiba.
"Gunung mana? Gunung kembar?"
Adel mencubit kembali lengan Ilyas dengan keras. "Hahahah, bercanda sayang! Iya, nanti Abang ajak ke Sindoro. Besok setelah Abang ketemu Mamah dan Papah"
"Abang ngapain mau ketemu Mamah dan Papah?"
"Ya masa Abang gak menyambangi mereka sih Dek, Abang kangen juga kali sama calon mertua. Besok ba'dha Maghrib Abang datang. Dandan yang cantik ya cintaaaaa"
__ADS_1
Adel mengerutkan keningnya. Bingung dengan permintaan Ilyas. "Kenapa harus dandan segala? Kan Abang cuma mau ketemu Mamah dan Papah. Memang habis itu mau ngajak Adek kemana??"
"Ke pelaminan"
"Ha?"
Ilyas malah tertawa melihat ekspresi wajah Adel. "Seriusan ah Abang...."
"Serius" jawab Ilyas dengan tertawa.
"Ck, kalau serius tuh jawabnya gak pakai ngguyu Abang"
"Beneran serius Dek"
"Mbuh lah karepmu!" Adel kesal. Ilyas hanya membalasnya dengan tawa.
.
Sore hari nampak kesibukan disebuah rumah yang asri. Rumah milik keluarga Ayah Bekti sedang mempersiapkan sesuatu. Ada beberapa kerabat yang juga meramaikan rumah itu.
Ilyas masih sibuk mempercantik hantaran untuk sang pujaan hati. "Makanya kalau Bunda bilang pesan saja ke tukang buat hantaran itu manut! Biar gak repot" ucap Bunda Siwi sambil berlalu lalang mempersiapkan buah tangan untuk keluarga Papah Duta.
Ilyas hanya menghela nafasnya ketika Bundanya sudah mengomel seperti itu. Mak Siwi datang bersama suaminya, Pak Andi. Menyapa keluarga Ilyas.
"Biuh! Durung dadi Yas?? Sido lamaran opo ora sih bocah iki?? Mbok yo sing sat set koyok Imam sih Yas (Biuh! Belum jadi Yas?? Jadi lamaran apa gak sih anak ini?? Yang gercep seperti Imam sih Yas)"
"Sakit Mak!"
"Hahahah, bisa juga tentara bilang sakit!"
"Yo bisa lah Mak, apalagi kalau sakitnya menahan rindu. Hadeh.... obatnya hanya satu, ketemu!"
Semuanya tertawa mendengar ucapan Ilyas. "Adel mesti sering mbok gombali kan??"
"Enak saja gombal, tak tumbaske sutra re (Enak saja gombal, saya belikan sutra kok)"
"Maksudnya kamu rayu-rayu Ilyas dodol!" jawab Mak Siwi jengkel. Semuanya kembali tertawa. Adzan Maghrib sayup-sayup terdengar. Hantaran pun sudah jadi semua. Mereka sholat maghrib berjamaah. Dan ketika Maghrib usai, mereka segera meluncur ke rumah Papah Duta.
Adel heran melihat Amaris dan Aylin sibuk menata rumah. "Ada apaan sih?"
"Ada yang mau melamar kamu" jawab keduanya kompak.
"Ha??" jawab Adel bingung sambil berjalan menuju ruang tamu.
Damar menggeser kursi agar tertata rapi dan menambah kesan luas di ruangan itu. "Mas Damar, kenapa digeser kursinya?"
"Biar tamunya muat lah Del"
"Ha? Emang tamunya siapa yang bakal datang??"
__ADS_1
"Ilyas dan keluarganya lah!"
"Ha?"
"Ha ho ha ho, buruan sana mandi, dandan yang cantik biar Ilyas sama keluarganya pangling"
Adel bingung mendengar jawaban dari para saudaranya. Menuju dapur dan melihat banyak sekali makanan yang dipersiapkan Mamah Laras dibantu dengan Tante Nina.
Papah Duta sudah rapi dan wangi. Menghampiri Adel dan mencium kening anaknya. "Lhah, anak Papah kok masih bau kecut? Mau dilamar lho??"
"Ha?" lagi-lagi kata itu yang keluar dari mulut Adel. Aylin menarik tangan Adel. Mengajaknya kembali ke kamar.
"Buruan mandi, bentar lagi keluarga Ilyas bakalan datang melamar kamu!" kata Aylin. Amaris mempersiapkan make up dan baju yang akan dikenakan adiknya.
Adel menuruti keinginan para saudaranya dengan keadaan bingung dan heran. "Jangan lama-lama Del" teriak Amaris tak sabar menunggu adiknya.
"Baru juga masuk! Lepas semuanya saja belum! Kalau pada nge-prank tuh kelewatan" teriak Adel dari kamar mandinya.
Sedangkan di bawah keluarga Ilyas sudah sampai dan diterima baik oleh kedua orang tua Adel.
Acara dimulai. Adel masih belum tahu yang terjadi di bawah. Dirinya pasrah mengikuti arahan para saudarinya.
Damar mengetuk pintu kamar iparnya itu. "Sudah selesai belum?" tanyanya.
"Wes siap!" jawab Amaris dengan senyum puas. Adel dibawa keluar oleh dua saudarinya. Sedikit terkejut dengan banyaknya orang yang ada di bawah. Beneran malam ini aku dilamar Abang??
Adel takut jika ini mimpi. Ia sengaja mencubit Amaris dan Aylin. "Sakit Del!"
"Kak, balas cubit aku kak, aku gak mimpi kan?" Mereka berdua tertawa dan membalas cubitan Adel. "Sakit!"
"Berarti nyata Del!" jawab Aylin.
Ilyas tersenyum melihat pemilik hatinya turun dengan begitu anggunnya. Sumpahhhh..... cantik banget diaaaa
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
skrg aplikasinya kok sering eror ya??
__ADS_1