Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 72


__ADS_3

Sementara itu, di Semarang, Amaris sedang melakukan tes kesehatan. Ia bersama Damar berada di rumah sakit Bhayangkara. Menunggu giliran untuk dilakukannya tes menyeluruh di anggota badan mereka.


"Mas, besok aku pulang sama Papah dan Mamah saja. Biar kamu gak terlalu capek nganterin aku" kata Amaris. Damar berpikir sebentar lalu mengangguk.


"Tanya Kak Aylin, persiapan keluarga Mas Imam gimana? Nanti siapa dulu yang melamar? Maksud Mas, wakil besan siapa dulu yang mengutarakan maksud dan tujuannya"


"Iya nanti aku tanya sama Kakak. Semuanya sudah beres tinggal lamaran dan akad plus resepsi. Hmmm.... gak kerasa ya?"


Damar tersenyum menanggapinya. "Mas bilang juga apa? Jalani saja. Nanti pasti selesai sendiri"


"Atas nama Ibu Amaris Ayu Wicaksana dan Bapak Ipda Damar Assegaf" seorang perawat memanggil mereka. Damar dan Amaris segera beranjak dari duduknya.


"Silahkan bu Amaris di ruangan sini, pak Bripda Damar di ruangan sana" Mereka berdua mengangguk dan mulai menuju ruangan yang diberitahukan oleh perawat tadi.


Amaris duduk berhadapan dengan seorang dokter muda nan cantik. Ia memperkenalkan diri kepada Amaris dan menjelaskan prisedur pemeriksaan yang nantinya akan diterima oleh Amaris.


Amaris mendengarkan penjelasan dari dokter tersebut dengan seksama. Lalu pemeriksaan pun dimulai. Butuh waktu hampir 1 jam akhirnya pemeriksaan menyeluruh itu pun selesai.


Amaris keluar dari ruangan dan melihat Damar telah duduk menunggunya. "Sudah?" Amaris mengangguk. "Hasilnya mana?" tanya Damar lagi.


Amaris menyerahkan hasil itu. Lalu mereka keluar dari rumah sakit. "Habis ini ngapain lagi?"


"Menghadap pada atasan, foto gandeng, terus besok kita sidang BP4R" terang Damar. Amaris mengangguk. Mereka segera kembali ke Polda.


Tak lama mereka sudah tiba di Polda. Damar langsung menuju ruangan komandannya, yaitu ruangan Hamka. "Assalamualaikum" ucap keduanya.


"Waalaikun salam" Hamka tersenyun ke arah mereka berdua. "Duduk. Piye Ris? Capek gak nikah kantor?"


Amaris tertawa. "Gak Bang, seru iya!"


"Lhaaaahhhhh dia malah girang! Mana Dam formulir nikah kantormu? Langsung tak tanda tangani saja lah, bolo dewe kok!"


Damar tertawa mendengarnya. "Bapak ada kan?" tanya Damar kepada Hamka yang hendak menandatangani formulirnya. "Ada"


"Duh, Bang, kenapa aku malah jadi deg-degan ya?" kata Damar lagi saat Hamka ingin tanda tangan. "Astaghfirullah..... batal tak tanda tangani lho ini"


"Hahahaha, ojo to. Monggo komandan, ditanda tangani dulu" Hamka membubuhkan tanda tangannya.

__ADS_1


"Pedang pora wes siap Dam?" tanya Hamka. "Sudah semua"


"Semoga dilancarkan acaranya, sekarang tahapnya sudah lebih serius lagi, jadi Abang sebagai komandan sekaligus teman kamu minta, kalau ada masalah sama Maris diselesaikan dengan kepala dingin"


"Kepala dingin maksudnya kepalanya dikasih es batu gitu?" Damar mencoba bercanda dengan Hamka.


"Hahahah, sak karepmu! Ya maksudnya, kalau ada masalah jangan sampai mengambil keputusan saat emosi. Ingat Dam, Ris, menikah hanya sekali seumur hidup. Terima kekurangan dan kelebihan pasangan kita. Contohnya kayak Shanum gitu lho?"


Amaris menautkan alisnya. "Memang Bang Hamka ada kurangnya?"


"Ada Yank, kurang buang lemak! Hahahaha"


"Hahahaha, nah kuwi maksudku! Shanum itu hanya protes saat aku benar-benar hilang kendali atas nafsu makanku. Dia pengennya aku sehat. Hahaha. Memalukan! Pakai kaos partai bapakmu Ris" terang Hamka mengingat kejadian memalukan itu.


Amaris tertawa mendengarnya. "Kaosnya masih disimpen Bang?"


"Masih lah! Itu kaos penuh kenangan. Ya pokoknya Abang pesan sama kalian, bersikaplah layaknya orang dewasa saat susah dan senang. Selalu bersama hingga nanti ke jannahnya. Damar sebagai seorang suami harus bisa menjaga kepercayaan istrinya saat ia berada di luar rumah. Maris sebagai istri harus selalu menjaga kehormatan dan nama baik suaminya. Baik terhadap tetangga di kompleks asrama, nyedulur lah intinya. Aktif juga di kegiatan Bhayangkari ya Ris"


"Iya Bang"


"Oh ya Dam, sudah hapal doa bersetubuh kan?"


"Serius? Aduh, aku lupa. Kan memang doa itu belum pernah aku ucapkan. Hahaha"


"Serius! Aku dulu waktu nikah kantor juga ditanyain itu Dam. Si Shanum disuruh baca doa mandi junub. Hapalin dari sekarang, daripada nanti di depan Bapak gak hapal"


Amaris dan Damar mengangguk. "Terima kasih wejangannya Bang"


"Sama-sama. Huft..... Alhamdulillah lulus juga predikatmu sebagai jomblo sholeh Dam! Abang turut senang kamu bertemu dengan yang seiman dan mengerti akan dirimu. Sekali lagi, Abang ucapkan selamat" Hamka menepuk bahu Damar.


Damar memeluknya. "Makasih Bang"


"Sana menghadap ke Bapak. Ada Ibu juga kok" Damar dan Amaris mengangguk. Mereka lalu menuju ruangan Kapolda. Menghadap berdua. Diberikan wejangan dari Kapolda dan juga istrinya. Persis seperti yang dikatakan Hamka, bahwa mereka disuruh membaca doa bersetubuh dan mandi junub.


Menghadap ke pejabat atasan sudah selesai. Kini, mereka menuju studio foto. Melakukan sesi foto gandeng. Menunggu giliran. Tak lama, rangkaian acara pengajuan nikah kantor pun selesai. Tapi, belum seluruhnya, karena mereka masih harus mengikuti sidang BP4R.


Tak terasa waktu telah menunjukkan siang hari. "Beli makanan sekalian ya Yank"

__ADS_1


"Iya Mas" Damar melajukan mobilnya. "Padang aja ya Yank?"


"Terserah kamu, maunya makan apa sayang?"


"Makan kamu......."


"Ih..... selalu begitu!" Damar tertawa mendengarnya. "Nanti malam piket lagi?"


"Gak, nanti malam tidur asrama Bang Hamka. Kemarin kan ada mbak Shanum. Gak enak dong kalau Mas numpang tidur. Kalau di asrama sama kamu Mas takut kehilangan kendali"


Amaris tertawa mendengarnya. "Aku kok tetiba kangen sama 3 krucil ya Mas? Mereka apa kabar ya? Pengen main ih sama mereka"


"Mau mas antar ke rumah krucil itu? Hati-hati dikerjain sama mereka. Sifat emak bapaknya nurun ke anaknya. Mas aja pernah dikerjain sama mereka"


"Mau, boleh? Emang dikerjain apa?"


"Boleh, nanti Mas antar ke rumah orang tuanya mbak Lun. Mereka dititipin sama budhe Tari. Eyangnya si Baim. Pernah tuh ya, Mas kan main tuh ke apartemen mbak Luna, eh ada genk somplak disana. Si krucil nih pada pinter, Zia sama Ariiz tuh paling jadi kompor, mereka bilang, kita aja yang bikin minuman buat om Damar. Emang bisa? Bisa dong? Sekalinya Mas minuk rasanya aneh yank, ini sirup kenapa gak manis? Zia dengan entengnya bilang, karena sirupnya dari kertas warna yang dikasih air"


Amaris terpingkal-pingkal dibuatnya. "Parah mereka itu. Nanti besar pasti pada jahil kayak emak bapaknya. Si Baim paling kecil juga udah pinter ngejahilin orang, sepatu Mas diumpetin di kamar mandi, biar gak bisa pulang katanya. Halaahhhhh...... tingkah mereka tuh....."


"Ahahahaha, namanya juga anak-anak Mas. Nanti kalau kita punya anak juga bakalan begitu"


Damar tersenyum mendengar ucapan Amaris. "Cie.... yang sudah siap jadi seorang ibu. Wah, Mas kudu wajib praktekin caranya Bang Archee, 5M"


Amaris dan Damar tertawa bersama. Mereka telah sampai di rumah makan padang. Amaris memesan lauk sesuai dengan keinginan Damar. Lalu setelah itu, pulang ke asrama.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2