Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 75


__ADS_3

Aylin baru saja kembali dari klinik dijemput oleh Imam. Mereka langsung menuju tempat budidaya lele. "Itu masalah Adel berat banget sih Ay, jadi gak enal deh tadi judas sama dia" kata Imam.


"Memang kamu apain Adel?"


"Hehehe, aku judesin dia. Ya habisnya, ambil keputusan saat emosi. Akhirnya nyesel. Kan susah sendiri jadinya" Mereka telah sampai di empang. Terlihat banyak truck bermuatan tanah merah. Aylin dan Imam bingung dengan yang terjadi.


Mereka mencari keberadaan Adel. Bertemu dengan Roni. "Eh bu Aylin dan Pak Imam, kok Pak Ilyas gak kelihatan? Kasihan tuh, bu Adel butuh dihibur"


"Adel dimana?" Roni menunjuk saung yang ada di pojok empang. Adel duduk termenung sendirian sambil memperhatikan truck pengangkut tanah merah itu. Aylin tak tega melihat adiknya memikul beban sendirian.


"Kakak macam apa kami ini? Membiarkannya sendirian menyelesaikan masalah, padahal usaha ini adalah milik keluarga" Aylin bersama Imam mendekati Adel. Yohan terlebih dulu bersama Adel.


"Mbak, makan dulu" Yohan memberikan makanan kepada Adel. Adel menerimanya. "Del" panggil Aylin.


"Hai kak" jawabnya lesu. Aylin tak tega. Ia menjadi berkaca-kaca dan memeluk adiknya itu. Yohan berkenalan dengan Imam.


"Mas Imam sama Mbak Aylin sudah makan belum? Yohan ambilkan dulu kalau belum makan" kata Yohan.


Tante Nina dan Om Dirga datang membawakan mereka makanan. "Disitu saja, sudah Bunda bawakan" kata tante Nina tersenyum ke arah semua orang.


"Tante? Om? Ya Allah.... apa kabar? Maaf Ay Ay belum sempat main ke rumah"


"Halah, tahu deh yang sibuk nyari tambatan hati" goda Om Dirga kepada Aylin. Membuat semuanya tertawa.


"Oom kalau ngomong suka bener deh.... hahahah" kata Aylin. "Ini calonnya?" tanya Om Dirga.


"Assalamualaikum Om, saya Imam" sapa Imam.


"Waalaikum salam, Saya Dirga, Ayahnya Yohan, sepupu dari Papahnya Aylin. Udah Del, gak usah sedih. Percaya sama kuasa Tuhan. Gak akan Tuhan ngasih cobaan kamu seberat ini, kalau kamu gak bisa melewatinya" Om Dirga memberikan nasihat pada Adel.


Tante Nina memeluk keponakannya. "Iya Om, huft.... Gak tahu deh, ngejelasinnya sama Papah dan Mamah gimana? Takut kalau bikin mereka syok dan malah jatuh sakit"


"Nanti kakak bantuin ngomong Del. Tapi, itu kenapa ditutup pakai tanah?" tanya Aylin.

__ADS_1


"Dari lingkungan hidup menyarankan seperti itu kak, karena kalaupun mau disedot airnya, limbahnya mau dibuang kemana? Cara paling efisien dan tidak menimbulkan efek lagi bagi yang lain ya ini kak. Besok ngeruk tanah yang sebelah sini. Saungnya pindah sana" terang Adel sambil menghapus air matanya sedih melihat keadaan usahanya.


"Oo.... saat begini Ilyas malah Satgas dek"


"Jangan nangis! Kalau nangis tak laporin Ilyas lho!" Imam mencoba menghibur Adel.


"Hahaha, laporin gih. Berapa lama sih sini Malaka?"


"Besok juga udah sampai. Gak usah disesali Ilyas gak ada disampingmu. Yang penting kan udah balikan" kata Imam


"Balikan? Alhamdulillah...." sahut Aylin. "Emang pernah putus?" tanya Yohan polos.


"Kemarin putus" jawab Aylin. Adel menghela nafasnya. "Balikan gimana? Belum kok, orang dia bilang nunggi dia nyampai sana dulu baru nanti diomongin. Gitu katanya" bantah Adel.


"Lhah! Terus ngapain tadi mau dipeluk? Pakai cium kening lagi. Gua kira juga udah balikan" Semua memandang jahil kepada Adel. Sudah bersiap dengan berbagai pertanyaan di kepala mereka.


"Ya.... ya itu kan.... ya itu kan karena kami bakalam kepisah jarak!"


Adel mengangguk. "Tante balik bareng Adel yuk? Adel antar sampai rumah"


"Gak usah Mbak, biar Yohan yang antar. Mbak Adel istirahat di rumah aja. Mobilnya tinggal aja sih, biar gak capek" Adel mengangguk. Akhirnya mereka pulang.


Adel lebih banyak diam di dalam mobil. Ia memikirkan banyaknya kerugian yang dialaminya. "Del, ngapain ngelamun?" tanya Aylin.


"Bingung, nasib karyawan gimana mbak? Ikan lele yang siap panen mati semua. Harus beli padas untuk nutup empang. Huft.... kepala Adel rasanya mau pecah....."


"Sabar Del, Mas bantuin. Nanti Mas tawarkan bisnis lele kamu ke teman bisnis Mas. Gak usah dipikirin. Nanti pasti ada rejekinya kok. Tugas kamu berdoa terus. Dzikir. Pasrah sama Allah" tutur Imam.


"Makasih Mas" Mereka telah sampai di rumah. Imam langsung pulang karena jam izin keluarnya sebentar lagi habis. Aylin dan Adel langsung masuk rumah. "Makan dulu Del. Kakak gak mau kamu sakit ya?"


"Nanti lah kak, aku mau buka ini dulu" Adel menunjukkan tas ponsel yang diberikan Ilyas. "Beli hp baru?"


"Dari Abang. Kata Mas Imam sih ada suratnya. Adel ke atas dulu ya?" Aylin mengangguk. Ia memeluk adiknya lagi. "Kuat kuat kuat! Adel paling kuat diantara kami!"

__ADS_1


Adel tersenyum. Ia berkaca-kaca. "Gak boleh nangis..... jangan bikin Abang kecewa lagi" katanya. Aylin tersenyum mendengarnya.


Adel segera masuk ke kamarnya. Ia duduk di meja belajarnya. Tersenyum pada boneka Ilyas. "Hai.... assalamualaikum ganteng, sudah sampai mana? Gak nyangka ya? Dua hari ini bagaikan nano nano bagi kita. Aku bersyukur masih bisa bertemu dan memperbaiki semuanya. Meskipun belum kamu jawab. Kamu tahu? Aku lelah.... banyak masalah di kantor. Aku ingin berbagi cerita sama kamu, tapi, aku juga gak enak, kamu juga pasti sudah capek sendiri kan sama kerjaan kamu? Semangat ya ganteng. Eh, kadonya aku buka ya?"


Adel mengeluarkan kardus berisi ponsel itu dari dalam tasnya. Segel dari kardus ponsel itu sudah terbuka. Adel tersenyum melihat ponsel yang sama persis seperti miliknya sebelumnya. Ia menemukan sepucuk surat. Membukanya dan mulai membacanya.


*Teruntuk Adelia,


Hai cantik, apa kabar? Masih jengkel kah sama sikap Abang? Maafin Abang ya?? Nih Abang belikan hp yang baru. Pas kamu baca surat ini, Abang mungkin sudah jauh dari pandanganmu, raga Abang sudah jauh untuk merengkuhmu. Kita memang sudah putus, tapi, hati Abang selalu terisi hanya untuk cintamu. Baik-baik ya disini. Kurangi cuekmu. Kalaupun nanti kamu punya orang lain dalam hidupmu, hargai keberadaannya. Kasih dia perhatian ya cantik. Kami para lelaki, hanya butuh diperhatikan kok cantik.... Cukup Abang yang kamu cuekin. Abang selalu mendoakanmu. Nanti saat Abang pulang, hatimu akan Abang rebut kembali. Semoga hatimu masih untuk Abang. Abang cinta kamu, sayang kamu, Adelia.


Pengagum Hatimu


Ilyas Saputra*


Adel kembali menangis haru membaca surat dari Ilyas. "Adel juga sayang dan cinta sama Abang. I love you too ganteng.... baik-baik disana ya? Jaga hati buat Adel seorang. Adel disini menunggumu... hiks..... huft.... jangan nangis Del.... ingat perintah Abang...."


Adel memeluk boneka Ilyas dan mendaratkan ciumannya di kening boneka Ilyas.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Jaga selalu kesehatan ya gaes..... yang lagi hamil di rumah aja..... tuh pasien othor lagi hamil reaktif.... kasihan.... tapi kok.ya jengkelin, disuruh isoman malah periksa. Othor kudu piye? 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2