
Selepas makan siang, Hilal, Habib, Azka, Bunda Ais, dan Ayah Farid pamit pulang terlebih dahulu. "Baik-baik disini ya nak, nanti kalau Bunda dan Ayah ada waktu pasti kami tengokin kalian lagi"
Humai memeluk Bunda Ais dengan manjanya. "Masih kangen, bisa gak kalau pulangnya besok pagi aja?"
Hilal tersenyum. "Udah mau jadi Ibu gak boleh manja. Keep strong baby! Tuh ada Archee yang akan selalu memanjakanmu. Bunda, Ayah, dan kami juga punya urusan adekku yang manis" Hilal mencubit pipi Humai karena gemas.
Humai menunduk lesu. "Janji ya sering tengokin Humai?" Bunda Ais tersenyum dan mengangguk.
Mereka berpamitan pulang. "Hati-hati di jalan Mas, Bun, Yah" pesan Archee mengantarkan mereka hingga halaman rumah.
Mereka mengangguk. "Yang sabar ngadepin Humai. Kayaknya sifat manjanya bakal dominan muncul daripada galaknya" pesan Ayah Farid.
Archee tersenyum dan mengangguk. Ia menyalami mertua dan iparnya. Papah Duta dan Mamah Laras juga ikut mengantarkan kepulangan keluarga Ayah Farid. "Titip jagain calon cucu kita ya Ras, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku"
"Iya kak, pasti. Kalian hati-hati di jalan"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Mamah Laras mengambilkan makanan untuk Humai. "Biar Archee aja yang suapin Mah" Mamah Laras mengangguk.
Imam, Damar, Ilyas, Hamka, Zafran, dan Agil berkumpul bersama dengan papah Duta. "Zaf, Ayah sehat kan?"
"Alhamdulillah sehat Om, Om nih malah jarang main ke Jakarta. Dulu waktu Zafran kecil aja suka banget bolak balik nengokin"
Papah Duta tertawa. Mamah Laras datang membawakan cemilan dan nimbrung. "Dulu kan Om kamu memang tugasnya di Jakarta Zaf, nah sekarang?"
"Hehehe, iya juga sih! Itu si bontot memang selalu bisa diandalkan urusan bisnis. Udah punya calon masing-masing nih, hmmm..... dilancangi lagi"
Semuanya tertawa mendengar ucapan Zafran. Archee datang dan menyuruh Mamahnya menyuapi Humai. "Maunya disuapi sama Mamah katanya"
"Yaweslah, Mamah tinggal dulu. Habisin tuh cemilannya"
"Oh tenang tante, perut Hamka masih muat banyak!" Papah Duta mencubit lengan Hamka. "Jangan gemuk lagi, nanti dipakaiin kaos hadiah dari detergent lho"
Damar tertawa puas mengingat kejadian itu. "Ih, si Om, kenapa harus diingatkan lagi sih? Jadi sedih akunya"
Semuanya tertawa melihat ekspresi Hamka. "Eh pak Camat, tanya dong, gimana caranya bisa langsung tokcer begitu?" tanya Hamka.
Archee tertawa mendapatkan pertanyaan seperti itu. Imam dan Damar juga antusias mendengar jawaban dari Archee.
"Gampang itu Bang Hamka"
__ADS_1
"Gampang piye? Aku udah hampir 4 bulan belum juga ada hasil lho"
"Coba punyamu diukur bang berapa?" goda Damar. Semuanya tertawa mendengarnya. "Ih, ayolah bagi rahasianya" paksa Hamka.
Archee berdahem. "Ehm.... gampang yo. Nek pengen cepet dadi terapkan 5M. Rungokno kanggo poro calon manten. Ojo ngasi aku baleni omonganku maneh. Ngko tak kirimi whatsapp e (Ehm.... gampang ya. Kalau pengen cepet jafi, terapkan 5M. Dengerin untuk para calon pengantin. Jangan sampai aku mengulangi ucapanku lagi. Nanti tak kirimi whatsapp nya)"
"5M? Apa itu?" tanya Damar dan Hamka antusias.
"Mlumah, mengkurep, mancep, mlebu, metu" jawab Archee semangat. Damar dan yang lain langsung tertawa mendengarnya.
"Apa sih?" tanya Hamka masih bingung. "Mlumah artinya?" tanya Damar
"Telentang" jawab Hamka
"Mengkurep?"
"Tengkurap"
"Mancep?"
Hamka menggeleng. "Tancap! Masuk keluar!" Hamka telat sendiri dalam tertawa. "Eh, tapi aku sudah begitu juga yo...." kata Hamka jujur.
"Yakin? Coba ah tanya mbak Shanum" kata Damar. Hamka membekap mulut Damar. "Jangan ember to mulutmu Dam!"
Semuanya kembali tertawa. "Cowok kalau udah kumpul yang diomongin gak jauh-jauh dari hal itu ya?" kata Aylin dari dalam rumah sambil membawakan minuman dingin.
Zoya berpamitan untuk pulang. Zafran tak enak hati atas kelakuannya. "Om, permisi bentar. Mau nyelesaikan sesuatu dulu" kata Zafran mengejar Zoya.
Zoya baru saja masuk dalam mlbilnya, dan Zafran juga ikut masuk. Membuatnya terkejut. "Turun gak??!"
"Jalan aja dulu bu camat. Saya cuma mau minta maaf. Gak enak lah kalau berantem di depan orang banyak. Malu" Zoya menirukan ucapan Zafran tanpa suara. Membuat Zafran tertawa dengan tingkahnya yang seperti anak kecil.
Zoya mengemudikan mobilnya keluar dari rumah Archee. "Bu Zoya ada urusan apa pak sama pak Zafran?" tanya Agil.
"Kepo kamu ih Gil, yang penting, Zoya gak gangguin kamu lagi. Apa kamu mau digangguin Zoya terus??" Agil menggeleng ngeri. "Amit-amit pak"
Archee tertawa puas mendengarnya. "Mau kemana nih?" tanya Zoya judas. Zafran duduk menyamping melihat wajah Zoya dan tersenyum.
"Kenalan dulu dong!"
"Ogah! Katanya cuma mau minta maaf kok tadi" balas Zoya. "Ya gimana caranya minta maaf kalau gak tahu namanya bu Camat?"
"Ya panggil aja kayak barusan" Zafran menggeleng. "Aku Zafran Putra Wicaksana. Sepupu dari Archee Putra Wicaksana. Aku mau minta maaf atas kelakuanku yang mengambil ciuman pertamamu di ATm senter tadi"
__ADS_1
"Enak aja cuma minta maaf!"
Zafran tertawa mendengarnya. "Terus maunya apa? Dicium lagi??" Zoya sontak menginjak rem karena terkejut dengan ucapan Zafran. Hingga membuatnya diklakson oleh mobil di belakangnya.
"Hati-hati dong bu camat, gih jalan lagi" perintah Zafran. Zoya menepikan mobilnya. "Turun!" Zafran menggeleng. "Turun atau aku teriak!"
"Teriak aja gih! Tak bungkam sama ciuman!"
"Astaghfirullah..... beneran cabul ya otak kamu! Nyesel saya nolongin kamu! Buruan turun!"
Zafran menggeleng dan menahan tawanya melihat ekspresi wajah Zoya yang ketakutan. "Hish!"
"Hahahaha, kenapa sih? Santai dikit dong bu camat. Ayo kenalan dulu, biar lebih akrab. Susah bener diajak kenalan" kata Zafran. Zoya tak ingin memperpanjang lagi urusan itu. Ia menghela nafasnya.
Zafran menyodorkan tangannya. "Zafran Putra Wicaksana"
"Zoya Meydianti" Zoya menerima uluran tangan Zafran. Tanpa disangka-sangka, Zafran menciun tangan mulus Zoya. Membuat Zoya semakin berpikir jika Zafran memanglah lelaki cabul.
Zoya menarik tangannya. "Eh maaf. Duh, mikirnya pasti cabul lagi. Gak kok, aku bukan lelaki cabul. Aku terpaksa mencium kamu tadi karena gak ada cara lain"
"Sebenarnya kamu tuh apa sih? Sampai dikejar orang-orang tadi?" Zafran menghela nafasnya. "Kalau aku kasih tahu, bakalan ngejauhin aku gak?"
"Dih! Emang sekarang kita deket?" Zafran mengangguk. "Aku mau jujur sama kamu. Kamu orangnya baik, mau nolongin orang meskipun kamu yang dirugikan. Tolong rahasiakan pekerjaanku. Aku intel, aku sedang ditugaskan untuk mencari seseorang. Aku masih jomblo lho.... hehehe. Kamu mau gak jadi teman dekat aku? Aku sulit mendapatkan wanita karena terkendala di pekerjaanku"
"Kenapa aku?" tanya Zoya bingung.
"Kamu baik. Satu kata itu udah cukup buat aku. Pinjam ponselmu" Zoya menautkan alisnya bingung.
Zafran berdecak. "Hape kalau gak tahu ponsel" Zoya menyerahkan ponselnya. Zafran menuliskan nomor ponselnya dan menghubungi ponselnya sendiri. "Ini nomorku. Jika kamu setuju jadi teman dekatku, satu kali dalam 24 jam hubungi aku di nomor ini. Tapi, jika kamu dalam tenggat waktu itu tidak menghubungiku, aku anggap kamu menolakku. Sekali lagi, maaf ya mencuri ciumanmu. Aku.... turun. Hati-hati bawa mobilnya. Daahhh..... bu camat cantik!"
Zafran tersenyum dan mengacak-acak rambut Zoya. Ia turun dari mobil dan meninggalkan Zoya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Othor penuhin janji othor karena udah mendingan