
Damar dan Maris masih menertawakan ketakutan akan kesalahan yang dilakukan geng somplak.
Maryam : Aduh, bisa begitu. Gimana tuh? Ih, kalian nih kalau ngerjain orang suka kelewatan. Sepertinya kalian memang harus diberikan binsik ya sama istri-istri kalian. Kasihan kan Mas Damar
Hana : Iya ih kalian! Pengantin baru. Pengen anu-anu kok malah dibuat teler! Nah loh. tanggung jawab!
Sigit : Han, kasih tahu kek caranya biar adeknya Damar tidur lagi. Gak kaku keras kayak monas gitu
Shanum : Sumpah! Ini Bang Hamka aku jewer telinganya. Maaf ya Mariss
Jihan : Maafin suami-suami kita Mbak Maris
Luna : Hadeh...... kalian mbok ya pada ingat umur gitu
Muti : Gak cuma ingat umur Mbak Lun! Ingat kubur juga! Kalian ih! Bikin jengkel deh!
Sigit : Ya maaf Maris, sampaikan maaf kami untuk junior kesayangan kami yaaa 😞
Ali : Maaf ya Maris dan Damar.... Ini idenya Sisi tuh!
Hamka : Iya tuh!
Danang : Huum, aku awalnya gak setuju tapi dipaksa ikutan
Habib : Bang Si, aku harus dipihak siapa??
Sigit : Lhaaaahhhhh...... aku lagi kenanya . 😭😭. Ngalamat gak dapat jatah seminggu nih
Hana : Bukan cuma Mas Si yang gak dapat jatah. Semua penghuni cowok kecuali Damar di grup ini kena hukuman yang sama! Gak dapat jatah selama seminggu!
Ali : 😭😭😭
Luna : Tambah binsik!
Danang : Karma dibayar tunai ini namanya, Bundanya Baim..... aku kan gak yang mencetuskan ide itu. Please kasih aku diskon hukuman itu
Azka : 🤣🤣🤣🤣 Kudu salto aku membaca ini semua, ini lagi Mas Danang, dikiranya lagi belanja kali minta diskonan
Luna : Kagak ada tawar menawar! Sekalinlagi nawar hukuman ditambah lagi jadi satu bulan!!
Hamka : Huaaaaa...... untungnya aku puasaaa hahahaha, Si, Al, Nang, Bim, Bib, selamat kawan, medan perang sudah di depan mata
Ali : 🤐
Sigit : Aku gak protes kok, aku diem bae lah. Salah teroooooosssss... kesalahan ditanggung supir ya ini ya?
Bima : 😁, aku pun sedang puasaaaaa
__ADS_1
Habib : Aku juga puasa bang Ham, jadi amannn hahahaha
Ali : Seneng.....
Sigit : Bahagiaaaa.... perlu binsik nih!
Maryam : Mbak Mut, Mbak Han.... suami kalian nih berulah lagiiiii
Azka : 🤣🤣🤣🤣 Gak bisa bayangin aku, pasti wajah mereka lagi ngrengek sama bini mereka. Dah lah, tidur!
Damar dan Maris tak menjawab chat itu. Mereka tertawa senang atas pembalasan dendam mereka.
Pagi itu suasana sedang mendung, selesai sholat subuh, Archee bersama Humai dan Zoya pamit pulang ke Demak. Karena mereka hanya mengajukan izin untuk 2 hari.
Archee memberikan sejumlah uang kepada Adel untuk membantu usaha peternakan lele yang sedang tertimpa masalah. Begitu juga dengan Aylin dan Amaris.
Damar juga akhirnya ikut membeli lele-lele itu. Imam sudah mentransfer uangnya jauh-jauh hari sebelum dirinya berangkat tugas.
"Masih kurang Del?" tanya Archee.
Adel dibantu Amaris masih menghitung kerugian yang mereka alami. "Masih sekitar 25% lagi yang harus kita tutup Bang" kata Amaris menyelesaikan penghitungannya. Adel pun mengangguk.
"Ya sudah, pelan-pelan saja. Nanti pasti ada jalannya kok. Abang balik dulu ke Demak ya? Biar sampai rumah masih bisa istirahat. Kasihan Humai kalau kecapekan lagi" jawab Archee. Semuanya mengangguk. Mereka berpamitan.
Keluarga yang lain sedang mengantarkan kepulangan Archee, Humai, dan Zoya. Kembali ke masalah Adel.
"Kalau semisal kita mengurangi jumlah karyawan gimana? Efektif gak sih?" Adel memberikan usulan lain agar tidak terlalu membebani saudaranya.
Papah Duta yang baru saja mengantarkan kepulangan Archee, merasa heran mengapa semua anaknya berkumpul. Beliau berjalan santai sambil mendengarkan percakapan mereka.
"Ngomongin apa sih? Pagi-pagi sudah seru sekali" Kata Papah Duta santai. Tapi hal itu dianggap tak santai oleh semua anaknya. Jantung mereka seperti kuda yang sedang dilatih berpacu.
Mamah Laras yang bisa membaca situasi menghampiri suaminya. Membawa suaminya duduk dengan tenang. Lalu memberikan anggukan bagi anak-anaknya.
Adel mengubah posisi duduknya. Kini dia sedang bersebelahan dengan Papahnya. Tangannya dingin. Wajahnya memucat. "Mmmm..... Pah, Adel ingin ngomong sesuatu"
Papah Duta memperhatikan wajah anak-anak dan istrinya satu per satu. Wajahnya kini beralih menjadi serius. Adel mengambil nafas dalam-dalam. Lalu mengucapkan basmalah. Berharap bisa meredam kekhawatiran Papahnya saat nanti sudah tahu kenyataannya.
"Bismillahirrahmanirrahim, Ehmm..... Pah, empang lele kita sedang dalam musibah"
Papah Duta menunggu Adel melanjutkan pernyataannya. Namun, Adel tak melanjutkannya. "Masalah apa Del?"
"Mmm....." Adel meremas-remas tangannya sendiri. "Mmmm...."
"Ck, ngomong yang jelas dong Del! Papah gak paham nih"
"Empang lele kita diracuni Pah, dan kita rugi banyak. Lalu, empang itu harus diratakan dengan tanah karena mengandung racun, jadi limbahnya tak bisa dibuang kemana-mana" Terang Adel dengan susah payah.
__ADS_1
Papah Duta sedikit syok. Tubuhnya sekarang lemas. Ia tak bisa membayangkan nasib karyawannya. "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, Papah mau lihat empang dulu" seraya berdiri dan hendak pergi meninggalkan rumah.
"Pah, tenang dulu Pah" Mamah Laras mencoba menenangkannya. Zafran dan keluarganya yang sedang di depan televisi sampai terkejut melihat semuanya mencoba mencegah Papah Duta.
Dengan sigap Zafran menahan Om nya untuk tetap tinggal. "Ada apa Dut?" Tanya Ayah Agus.
"Empang sedang dalam masalah Mas"
"Tenang dulu, biarkan Adel menyelesaikan ucapannya Pah. Del, ceritakan secara lengkap kepada Papah nak"
Adel melanjutkan penjelasannya. Papah Duta sudah menduga hal itu. "Papah mau lihat empang"
"Oke, kita sama-sama lihat empangnya. Biar bisa menganalisa penyelesaian yang tepat" kata Ayah Agus.
Budhe Yuna menenangkan Adel yang terlihat ketakutan akan respon Papahnya. "Ini semua salah Adel Pah,.... Maafin Adel"
Papah Duta mencoba berpikir jernih. Menenangkan dirinya. Lalu memeluk Adel. "Itu bukan salah kamu sepenuhnya. Sudah, Papah gak marah sama kamu. Papah hanya khawatir dengan nasib karyawan kita nak. Bagaimana pun juga, mereka punya keluarga yang menjadi tanggung jawab mereka. Papah gak tega kalau harus memecat mereka" terang Papah Duta.
"Ya sudah, kita lihat dulu empangnya. Gimana keadaannya" kata Budhe Yuna. Semuanya mengangguk. Lalu berangkat menuju empang.
Ternyata disana sudah ada Tante Nina dan Om Dirga. "Aa' ngapain kesini pagi-pagi?"
"Mau lihat keadaan. Seberapa kacau Ga?"
"Lumayan menguras pikiran A', empang yang sudah siap panen yang menjadi targetnya" Om Dirga menunjuk empang yang kemarin diracuni dan kini sudah rata dengan tanah.
"Astaghfirullah....." Tubuh Papah Duta melemas. Hampir saja jatuh. Zafran dan Damar membantunya duduk di saung. Mamah Laras memberikannya minum. "Sabar Pah, semuanya sedang berusaha untuk memperbaiki semuanya. Anak-anak kita saling membahu untuk menutup kerugian. Agar kita tidak terlalu banyak meminjam uang di bank ketika memang masih kurang"
"Berapa yang kalian dapat dari sumbangan itu?" tanya Zafran.
"Masih kurang 25% Mas" terang Amaris.
Zafran mengangguk. "Mas pesan 100 kilo untuk dikirim ke Demak, terus pilihkan yang agak kecil untuk nanti pas Mas akad"
Aylin tersenyum dan menggodanya. "Gaji intel banyak ya pak?"
Zafran menjitak kepala Aylin. "Sudah Dut, jangan terlalu dipikirkan. Laksanakan saja apa yang sudah ada. Nanti pasti ada jalannya"
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip