
Waktu mendekati pukul 12 siang. Archee bersama Humai keluar dari rumah. Memeriksa semua jendela dan pintu sudah di kunci. Menghidupkan lampu depan, lalu masuk ke mobil. Archee membukakan pintu mobil untuk Humai.
"Makasih bang" jawab Humai dengan pipi yang merona. Archee mengangguk. "Sama-sama"
Mereka menuju rumah sakit. Humai memperkirakan waktu tempuh dari rumah Archee ke rumah sakit. Hanya sekitar 10 menitan jika menggunakan mobil.
Mereka telah sampai di RSUD, Humai dan Archee turun untuk menunggu pengumuman. Banyak orang juga yang menunggu pengumuman itu. Seorang pria datang menghampiri Humai. "Hai, kamu yang kemarin kan?"
Humai dan Archee menoleh ke sumber suara. "Oh, iya, kamu yang dokter umum itu kan? Gimana? Belum keluar ya hasilnya?"
Pria itu mengangguk. "Belum. Bentar lagi mungkin" Humai dan Pria itu mengakrabkan diri. Membuat Archee seperti orang asing disana. Jengah, panas meskipun di dalam gedung terlindungi atap.
Pengumuman pun keluar. Mereka yang menunggu pengumuman itu langsung menyerbunya. Archee menepi. Humai ikut dalam gerombolan itu. Humai menghampirinya setelah 10 menit melihat pengumuman itu.
"Abang! Lihat ini, aku lulus!" ucapnya senang dan reflek memeluk Archee. Archee mematung mendapatkan pelukan itu.
Humai tersadar lalu melepaskan pelukan itu. "Coba Abang lihat" Humai menunjukkan foto yang diambilnya, yang menyatakan dirinya lulus.
"Alhamdulillah" kata Archee tersenyum. Humai tersenyum senang. "Selamat ya, terus habis ini masih nunggu atau apa?"
"Jadwalnya minggu depan tes wawancara. Jadi, bisa langsung pulang kok" Archee mengangguk. Mereka langsung menuju mobil. Pria tadi memanggil Humai kembali.
"Hei.... tunggu!"
Humai dan Archee berhenti. "Kamu lulus?" tanya Pria itu. Humai mengangguk. "Selamat ya?" kata Pria itu sambil menyodorkan tangan. Archee menjabatnya. "Terima kasih, kalian bukan muhrim jadi biar aku saja yang mewakili uluran tanganmu" Pria itu melepaskan genggaman tangannya
"Kamu lulus juga?" Pria itu menggeleng. "Belum rejeki" kata Humai. Pria itu mengangguk, lalu berpamitan. "Saya permisi" lalu pergi meninggalkan Humai dan Archee.
Archee langsung masuk mobil tanpa membukakan pintu untuk Humai. "Ih, dia nih kenapa sih? Aneh, tadi bukain pintu, sekarang dicuekin"
Ia masuk ke dalam mobil. Archee langsung tancap gas meninggalkan rumah sakit. Mereka saling diam. "Dia nih kenapa sih?" gumam Humai. Archee menepikan mobil di minimarket dan membeli beberapa makanan dan minuman tanpa bertanya pada Humai.
Membuat Humai semakin bingung. "Kamu kenapa sih Bang? Bentar-bentar perhatian banget, bentar-bentar dingin banget" tanya Humai tanpa ada jawaban. Archee kembali ke mobil dan meletakkan belanjaannya di dashbor. Langsung tancap gas.
Dalam perjalanan itu mereka hanya saling diam. Humai melirik Archee. "Bang" panggilnya.
"Hmm"
"Abang kenapa?" tanya Humai
"Gak papa"
"Gak papa tapi sedari tadi diam terus"
__ADS_1
"Malah bagus kan kalau Abang diam? Biar gak ganggu kamu?" Humai membaca ekspresi Archee. Jengkel, marah, kecewa, campur menjadi satu kata, yaitu cemburu.
Humai mengingat lagi kejadian saat memperkenalkan Zidni kepadanya. Persis seperti itu ekspresi Archee saat ini. Dan Humai baru menyadari kejadian di rumah sakit tadi. "Bang"
"Hmmmmm!"
"Ih, Abang.... Abang cemburu kah?" tanya Humai langsung pada inti permasalahan yang sedang mendera Archee. Archee menggeleng.
"Bohong" jawab Humai. "Abang cemburu karena tadi Humai akrab dengan cowok tadi kan?"
"Kalau sudah tahu ngapain nanya?" Jawab Archee akhirnya mengaku. Entah mengapa, Humai senang dengan jawaban Archee. "Abang gak suka sama cewek yang friendly ke semua cowok"
"Cuma 1 cowok" ralat Humai.
"1 dari mana? Yang tadi? Zidni? Itu cuma 1 cowok?"
Humai menautkan alisnya. "Yang Zidni diralat, kan memang aku ada hubungan sama dia dulu sebelum sama Abang"
Archee melirik Humai. "Benar kan?"
"Ya... ya tapi..."
"Iya aku tahu, aku tidak akan akrab lagi dengan lawan jenis kecuali itu mahram dan muhrimku. Puas pak camat???"
Archee menahan senyumnya mendengar panggilan itu dari Humai. "Kenapa kamu berjanji begitu?" tanya Archee
"Kok aku merasa disindir ya dengan lagu ini?" Archee menoleh. "Abang sengaja nyiapin lagu ini buat nyindir aku?"
"Ih, nuduh! Mana ada? Orang memang munculnya lagu itu kok"
Humai memanyunkan bibirnya dan bersidekap. Membuat Archee gemas dan reflek mengusap-usap kepala Humai. Mereka kembali sama-sama merona.
Humai tersenyum tipis. Hatinya berdesir mendapatkan sentuhan dari Archee. Humai melihat isi belanjaan Archee. Humai mengambil minum dan membukanya. Lalu menyodorkannya pada Archee.
"Abang gak minta minum" kata Archee. "Ya sudah kalau gak mau" Archee langsung merebutnya, membuat air itu tumpah di celananya. Humai mengambil tisu dan membersihkan bagian paha Archee yang terkena air itu.
Archee merinding. "Mai, Abang lagi nyetir, jangan buat sesuatu dibawah sana bangun karena sentuhanmu" Humai langsung duduk kembali ke kursinya.
"Abang jorok"
"Kok jorok? Heh, kita ini besok sudah halal, gak ada itu istilahnya jorok tentang milik pribadi kita"
"Perjanjian tetap berlaku lho yo"
__ADS_1
Archee menggodanya. "Gak tahu bisa menepati janji itu atau tidak, kalau Abang sudah sangat berhasrat gimana? Kewajiban kamu kan? Hak Abang kan?"
Humai menyilangkan tangan di depan dadanya. Membuat Archee tertawa. "Lelaki sejati adalah dia yang memegang janjinya" kata Humai.
"Lelaki sejati adalah yang bisa membahagiakan istrinya" jawab Archee. Membuat Humai semakin takut. "Ih.... Abang...." rengeknya.
Archee tertawa. "Tidur tidur tidur, jangan gangguin Abang yang lagi nyetir"
"Jawab dulu, kalau Abang tidak akan memintanya sebelum aku jatuh cinta sama Abang"
Archee menahan tawanya. "Ih.... Abang...."
"Iya sayang"
Deg. Jantung Humai berhenti berdetak beberapa saat. Nafasnya tercekat. Hatinya berdesir-desir tak karuan. Archee melirik ekspresi wajahnya. "Tidur hih, sebelum Abang berubah pikiran"
Humai salah tingkah. Ia menurunkan sandaran kursinya lalu tidur miring membelakangi Archee.
Archee membiarkannya tertidur. Hingga masuk Magelang, Humai tak kunjung bangun. Archee membiarkannya. Setelah sampai di rumah Humai, barulah dia membangunkan Humai. Humai berpura-pura menguap.
Archee mengerutkan dahinya. "Kamu tidur atau pura-pura tidur sih? Kok kayaknya bukan habis tidur ya"
"Tidur lah, udah, aku turun dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Archee turun dari mobil dan membuntuti Humai. Humai bergumam sendiri. "Gimana bisa tidur setelah dengar panggilan itu? Hati aku malah jadi tak karuan begini kok bisa tidur" katanya.
Archee tersenyum mendengarnya. Ia mendahului Humai. "Berarti perjanjian itu batal, karena kamu sudah jatuh cinta sama Abang"
Humai berhenti. Wajahnya sudah seperti udang rebus. Archee menyalami calon mertuanya. Maryam menghampiri Humai.
"Kenapa wajah kamu merah begitu? Demak panas banget emang? Atau kamu digoda terus sama Bang Archee?"
Humai berdecak. Ia tak menjawab pertanyaan kakak iparnya dan pergi berlalu masuk ke dalam rumah melewati semuanya.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip