Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 44


__ADS_3

Aylin menunggu jam pulang. Sudah menunjukkan setelah 8 malam. Tapi Imam tak kunjung datang. "Kemana ini orang? Kenapa gak ngasih kabar sih? Telpon gak telpon gak telpon" Aylin bingung harus menelpon Imam atau tidak.


"Ah, gengsi dong, nanti dikira aku lagi yang keganjenan gak sabaran. Tunggu bentar lagi aja deh"


tok tok tok. Seseorang mengetuk pintu ruang periksa. Dela, seorang perawat yang bekerja di klinik itu membuka pintu. "Dokter gak pulang?"


"Nanti Del, kalian kalau mau pulang duluan gak papa. Nanti biar saya yang ngunci pintunya"


"Lhah, gak enak lah dok. Dokter saja masih disini masa kami pulang dulu. Kami tunggu sampai dokter dijemput" Aylin tersenyum. "Ya sudah kalau kalian maunya begitu"


Terdengar suara ribut-ribut kecil di depan. Aylin dan Dela saling berpandangan. "Ada apa Del?"


"Gak tahu dok, Ria ngamuk sama siapa tuh di depan?"


Aylin dan Dela lalu menuju meja pendaftaran. Disana, Ria, salah satu bidan yang bekerja di klinik itu sedang adu mulut dengan seorang pria.


"Ya saya tahu mbak saya kesininya melewati jam, tapi, luka saya butuh perawatan lho" Yup, Imam yang sedang adu mulut dengan Ria.


"Stop stop stop" Aylin menengahi perdebatan itu. "Ri, data pasiennya, biar saya aja yang tindakan"


"Tapi kan dok.... dia melewati batas jam pendaftaran. Kalau kita terima bisa jadi kedepannya dia begini lagi"


Aylin tersenyum. "Ri, kita itu pelayan masyarakat. Pasien datang ke kita itu tandanya butuh pertolongan kita, ya mungkin tadi di jalan ada apa gitu, jangan pernah nolak pasien Ri. Kalian kerja dapat cuan dari siapa kalau bukan dari pasien? Udah, gak usah diperpanjang. Buruan di data. Biar saya yang tindakan, karena yang menjemput saya sudah datang. Ini orangnya"


Ria dan Dela mengerjap-kerjapkan matanya. Dengan cepat Ria meminta KTP dari Imam. Aylin menerima dan membaca status rekam medis Imam. "Udah, kalian duluan aja. Biar nanti saya yang kunci"


Dela mengangguk. "Beneran gak perlu dibantuin tindakan dok?"


"Gak usah, saya bisa sendiri"


"Emmm..... pak, maaf ya saya kurang sopan" Ria meminta maaf kepada Imam. Imam tersenyum dan mengangguk. "Saya juga salah mbak, kesininya telat"


"Ya sudah, ayo Mas, ganti balut dulu" Imam mengangguk. Ria dan Dela berpamitan pada mereka berdua. Aylin dan Imam menuju ruang tindakan. Aylin mempersiapkan alatnya. Imam naik ke bed.


"Maaf ya Ay, Mas telat jemputnya" Aylin tersenyum sambil menuju arahnya. "Darimana aja?" tanya Aylin.


"Tadi tuh keran asrama mati, bingung mandinya" Aylin mengangguk. Mulai membuka plester anti air itu. Lalu mengambil kassa yang menempel di dagu Imam.


"Udah makan belum?" tanya Imam. "Belum"


"Habis ini nyari makan ya?" Aylin mengangguk. Ia fokus melihat luka di dagu Imam. Hingga keningnya hanya berjarak beberapa senti dari mulut Imam. Jantung Imam berpacu sangat cepat. Hingga Aylin samar-samar mendengarnya.


Ia melihat ke arah Imam. "Kamu deg-degan mas?"


Imam menyeka keringatnya. "Ya gimana gak deg-degan sih? Kening kamu deket banget sama bibirnya Mas"


"Hahahaha, ya gimana dong.... lagi lihat jahitannya. Tiduran aja deh kalau gitu" Imam menggeleng.

__ADS_1


"Duduk aja"


"Jahitannya bagus Mas, gak ada nanahnya. Tetap dijaga sampai kering ya? 4 Hari lagi kontrol lagi. Bentar, tak tutup lagi lukanya"


Imam mengangguk. Aylin dengan cekatan menutup luka itu lagi dengan kassa dan plester anti air yang baru. "Selesai. Obatnya masih atau habis Mas?"


"Habis Ay"


"Oke, aku siapin sekalian obatnya" Aylin mencuci peralatan lalu mengeringkannya. Setelah itu ia kembali ke ruang periksa dan menyiapkan obat untuk Imam.


"Nih obatnya kayak kemarin mas" Imam menerimanya dan mengangguk. "Yuk nyari makan"


Aylin mengangguk. Ia mengambil tasnya. Mereka berdua keluar dari klinik. Mengunci pintu dan menaruh kunci di tempat biasanya. "Mau makan apa Ay?" tanya Imam menuju motornya.


"Terserah, Mas Imam mau makan apa?"


"Lamongan aja yuk" Aylin mengangguk. Imam memakaikan helm pada Aylin. "Ayo tak boncengin pakai Ninja KW"


Aylin tertawa. "Ninja, Astrea! Legend ya Mas motormu"


"Ya dong, kayak orangnya, legend" Aylin tertawa mendengarnya. Ia naik ke motor tua itu. Imam mulai melajukan motornya menuju warung Lamongan kesukaannya.


"Mas, motornya kuat kan dinaiki berdua? Hahaha, aku miris nanti kalau rontok di jalan"


Imam tertawa. "Nanti kalau rontok, bantuin Mas munguti. Hahaha. Ay"


"Kamu gak malu diajak jalan pakai motor butut begini?" tanya Imam.


"Ngapain harus malu? Penting motornya sehat wal afiat mas, makanya yang aku takutin tuh, ini kuat kan?"


"Tenang aja, bakoh kok!" Aylin mengangguk. "Valentino Rossi mau nyalip, pegangan kuat!" kata Imam sambil menambah kecepatan. Membuat motor tua itu seperti dipaksa.


Aylin tertawa senang akibat ulah Imam. Imam tersenyum mendengar tawa Aylin. Aku lagi ngetes kamu, matre apa gak. Batin Imam.


Tak lama, mereka sampai di warung lamongan itu. Imam memesan makan. "Ayam atau bebek Ay? Atau lele?"


"Ayam sama terong Mas, lele bosen"


"Iya ya, nanti malah keinget bos lele lagi. Heheh. Mas, ayam goreng 1 porsi, terong 1 porsi, tahu tempe 1 porsi"


Aylin bingung dengan pesanan Imam. "Mas gak makan?"


"Makan"


"Pesen apa emang?"


"Tahu tempe. Lagi ngirit. Hehehe" Aylin menjadi merasa tak enak hati. "Pesen ayam gih, nanti Aylin yang bayar"

__ADS_1


Imam menggeleng. "Gak mau, gengsi dong dibayarin cewek. Mas gak papa makan tahu tempe, yang penting kamu makan yang enak" Aylin menjadi terharu. Tak menyangka Imam akan mengalah demi dirinya.


Mereka menunggu makanan sambil mengobrol. Tak lama pesanan pun datang. Masih sangat panas. "Kenapa gak dimakan?" tanya Imam.


"Masih panas" jawab Aylin. Imam mengambil ayam milik Aylin. Lalu menyuirkannya. Aylin tersenyum. "Mas"


"Hmm?"


"Suapin"


"Ha?" jawab Imam kaget. "Suapin, panas tuh" Imam mengangguk. Ia menyuapi Aylin. "Pakai tempe sama tahu" kata Aylin.


"Lha ayamnya?"


"Bagi berdua lah mas. Terongnya jangan lupa" Imam tersenyum. Lolos lagi di ujian kedua.


Mereka berbagi lauk. "Maaf ya belum bisa ngajak kamu ke restaurant"


"Ih, apaan sih ngomongnya gitu? Memang Aylin minta diajak ke resto? Udah sih mas, Aylin paham kok, gaji kita itu berapa. Ngirit ya memang perlu"


"Kamu gak masalah nantinya hidup susah dan kekurangan materi?" tanya Imam menyelidik. Ingin jawaban dari Aylin.


"Materi udah ada yang ngatur. Gak usah mendahului kehendak-Nya. Yang perlu kita lakukan cari materi itu dari yang halal. Dikit banyak disyukuri. Masih banyak yang dibawab kita"


Imam tersenyum. Tangannya mengusap-usap kepala Aylin. Membuat debar jantungnya kembali berdegup tak beraturan.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip



Ekspektasi Ninja dipikiran kita



Realita yang dinaiki Imam dan Aylin

__ADS_1


__ADS_2