Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 104


__ADS_3

Amaris, Adel, Damar, dan Ilyas memutuskan untuk makan siang bersama di kafe milik Damar. Ya, Damar membuka sebuah kafe berkonsep angkringan, hasil patungan modal dengan Sigit dan Ali.


Ilyas dan Adel kagum dengan konsep yang diterapkan Damar. Kafe ini merupakan anak cabang dari kafe angkringan milik Sigit dan Ali.


Damar menyuguhkan nasi bakar yang porsinya sama seperti nasi kucing. Es teh manis menemani siang panas itu. Sesekali mereka tertawa menceritakan kisah lucu tentang diri mereka ataupun kawan mereka.


"Mas, kalau aku suplai sambel lele mau gak? Produk baru nih" Adel juga tak ingin melewatkan peluang usaha yang ada.


"Sambel lele? Ada testernya Del? Kalau ada, Mas minta dulu. Biar mas cobain, ambil sedikit dulu gak papa kan?"


"Gak papa lah, besok Adel kirimkan"


"Gak usah dikirimkan, besok Kakak pulang kok. Nambah lagi gak nasinya?" tanya Amaris


Ilyas mengangguk semangat. "Pokoknya jangan yang ayam ya Kak"


"Banyak banget sih makannya" protes Adel. Damar dan Ilyas hanya tertawa mendengarnya. "Dek, tolong mintakan es teh lagi"


Adel heran melihat nafsu makan Ilyas. Adel pergi sebentar memintakan tambahan es teh bagi Ilyas. Sementara Damar sedang curhat terhadap Ilyas.


"Yas, salah gak sih kalau aku jadi anak pembangkang sama orang tuaku??"


Ilyas mengerutkan keningnya. "Maksudnya gimana Mas??"


"Aku kasihan sama Maris kemarin, satu bulan full diawasi oleh Mamahku. Kasihan dia. Setiap pengeluaran dari gajiku selalu ditanyakan. Kami malah seperti didikte"


Ilyas diam sekejap. "Mbak Marisnya gimana Mas?"


Damar menyunggingkan senyum kecutnya. Menyendokkan kembali nasi ke dalam mulutnya. "Dia memang berhati malaikat Yas, pernah waktu itu aku pulang kerja dan mendapati Mamahku sedang melakukan kalkulasi dengannya. Mamahku seperti orang yang tertangkap basah sedang mendiskriminasi anak mantunya. Aku marah, tapi dia yang balik memarahiku. Katanya, gak pantas seorang anak memarahi orang tuanya. Apalagi ibunya sendiri"


Adel kembali dengan membawa es teh di tangannya. Menyuguhkan kepada Ilyas. Ilyas tersenyum ke arah Adel. "Makasih sayangggg....."


"Sama-sama"


Ilyas kembali fokus terhadap cerita Damar. "Kenapa Mamah Mas begitu? Apakah dulu sebelum kalian menikah, Mamah Mas Damar juga begitu??"


Adel yang baru datang, tak paham dengan percakapan mereka. Dia hanya mendengarkan dengan seksama isi percakapan itu.


Damar menggeleng. "Gak, Mamah dulu gak pernah mengurusi gajiku. Baru satu bulan kemarin. Dan itu seperti tiba-tiba. Aneh gak sih Yas??"

__ADS_1


"Ini pada ngomongin apa sih? Serius amat" Amaris kembali dengan membawa nasi bakar yang masih panas. Damar langsung memberi kode kepada Ilyas agar berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Ngomongin bola dong, kan sudah waktunya"


"Bola? Sejak kapan kamu senang sama bola Mas?" tanya Amaris mulai curiga. Ilyas tak tahu jika Damar tidak gemar menonton bola.


"Ya... ya... Mas gak begitu senang, tapi cukup tahu lah" elak Damar. Adel hanya tersenyum kecut.


"Makan makan makan, jangan ngobrol ngalor ngidul terus!" kata Adel menyudahi sandiwara mereka.


Mereka makan dengan penuh candaan. Lalu mereka pamit untuk ke Demak. Menengok keponakan kecil mereka. Damar menyuruh Amaris ikut. Karena dia tahu, istrinya pasti suntuk di rumah terus menerus. Karena sampai saat ini, Amaris belum memiliki pekerjaan tetap.


Dulu, dua bulan setelah pernikahan mereka, dirinya pernah diterima mengajar tetapi Amaris hanya digunakan untuk menggantikan guru yang sedang cuti. Setelahnya Damar menyuruh Maris untuk di rumah saja.


"Ikut sama mereka, biar Mas yang bereskan rumah" kata Damar.


"Gak ah, kalau kamu gak ikut aku juga gak ikut. Salamin saja deh buat keponakan gantengku, Syafiq Baihaqi Wicaksana"


Akhirnya Ilyas dan Adel berangkat ke Demak sendiri. Adel menelpon orang rumah untuk menjemput Aylin di puskesmas. Dan memberitahukan kepada orang rumah bahwa dirinya sedang bersama Ilyas di Demak.


Dalam perjalanan, Adel langsung mencecar pertanyaan kepada Ilyas. "Tadi ghibahin siapa?"


Ilyas menoleh cepat ketika mendengar kata ghibah. "Enak saja ghibah! Mana ada??"


"Kak Maris cerita sesuatu ke kamu gak Dek?" Adel menggeleng.


"Ooohh... ya sudah lah, jangan dibahas. Bukan urusan kita juga"


"Ck, ceritakan dulu dong Abang.... Mas Damar ngomong apa?"


"Ya intinya, keadaan rumah tangga mereka sedang tidak baik. Kita do'akan semoga ujian untuk mereka bisa mereka lalui dengan baik"


Adel terdiam. Memikirkan keadaan kembarannya. Apakah karena mereka belum diberikan keturunan? Tanya Adel dalam hati.


Ilyas tidak tega melihat wajah Adel yang terlihat memikirkan sesuatu. Akhirnya dia menceritakan tentang curahan hati Damar.


"Kok gitu ya?" komentar Adel setelah mendengar cerita dari Ilyas. "Gak tahu Dek"


"Duh kok Adek jadi was-was ya?"

__ADS_1


Ilyas tertawa atas kekhawatiran yang dirasakan Adel. "Gak semua mertua gitu sayang"


Sementara Amaris sedang memarahi Damar karena dengan sengaja cerita kepada Ilyas. "Ya apapun alasan kamu Mas, tidak seharusnya kamu tidak menceritakan aib keluarga kita! Cukup aku dan kamu yang tahu Mas! Jangan sampai orang lain juga mengetahuinya"


"Mereka bukan orang lain Dek, mereka saudara kita"


"Mas, kamu tahu saat kamu meminang anak perempuan, dan saat dia sudah sah menjadi istrimu, maka bagi keluarganya, anak perempuan itu menganggap dirinya seperti orang lain di keluarganya sendiri. Aku minta tolong sama kamu, jangan pernah menceritakan apapun lagi sama keluargaku ataupun keluargamu. Biar ini menjadi masalah untuk kita saja"


Damar terdiam. Dia mendekati Amaris yang sedang merapikan baju di dalam lemari. Memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di bahu istrinya. "Maaf" ucapnya.


Amaris menghentikan aktivitasnya dan berbalik. Membalas pelukan suaminya. "Aku gak mau kamu menjadi durhaka sama Mamah. Apapun masalahnya, kita harus bisa menyikapinya dengan kepala dingin Mas. Aku juga tidak akan memintamu untuk membelaku, karena aku sadar, beliau yang merawatmu, membesarkanmu, mengasihimu sejak dalam kandungan"


"Terima kasih sudah sangat pengertian dan dewasa. Mas janji, Mas akan cari tahu kenapa Mamah sampai seperti itu. Karena Mas yakin, Mamah bukan orang yang suka mencamputi urusan orang lain"


Amaris mengangguk. Dia melepaskan pelukan itu. "Besok kalau ambil baju diangkat Mas! Jangan asal main tarik!" omelnya. Damar tertawa mendengarnya.


"Iya deh iya"


"Iya mulu, tapi selalu berantakan"


"Pengen diomelin kamu setiap hari"


Amaris memicingkan matanya melihat Damar di sampingnya. "Ih, nyeremin! Kabuuuur!"


Damar meninggalkan istrinya yang sedang merapikan baju. Lalu duduk termenung di meja makan. Memikirkan sesuatu sambil mengusap wajahnya.


Aku harus mencari tahunya sendiri. Baru kali ini Mamah seperti ini


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Maaf semalam gak up. Badan othor capek banget


__ADS_2