Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 103


__ADS_3

Ceklek


Pintu asrama terbuka. Muncul seorang lelaki yang tak dikenali oleh Adel. Ia merasa heran melihatnya. Sebaliknya, lelaki itu pun bingung dengan kemunculan Adel di depan rumahnya.


"Maaf, siapa ya?" tanya lelaki itu. Saat Adel akan menjawab, muncul seorang perempuan dari dalam sana. "Siapa Mas?"


"Gak tahu"


Adel kebingungan. "Ini benar asramanya Ilyas bukan?" tanyanya dengan suara parau sambil menghapus air matanya.


"Oh, nyari asramanya Danki, disebelah Mbak. Ini nomor sebelas, Danki Ilyas nomor dua belas" terang lelaki itu.


Adel melirik nomor rumah itu. "Astaghfirullah.... Maaf salah alamat"


"Iya gak papa, kayaknya tadi baru saja lewat Danki nya"


"Makasih infonya. Maaf mengganggu. Assalamualaikum" pamit Adel dengan wajah merona karena malu. Karena terlalu terburu-buru sampai tak membaca nomor rumah yang tertera di atas pintu.


"Bodohnya kamu Del! Jadi bener yang aku lihat tadi Abang kan? Orang tadi bilang ada Danki Ilyas. Hish..... bikin dag dig dug saja sih!"


Adel mengomel sambil berjalan ke sebelah. Dia berdiri di depan pintu. Mempersiapkan diri untuk memarahi Ilyas. Dirinya siap mengetuk pintu.


Namun, belum sampai itu terjadi, pintu sudah terbuka. Ilyas sampai terkejut dengan keberadaan Adel di depan matanya. Bagaimana dia bisa tahu? Mungkinkah Aylin dan Imam yang memberitahukannya? Mungkin seperti itu arti pandangan Ilyas.


Adel tak bisa bergerak. Dirinya mematung. Benar-benar melihat dengan jelas dan nyata bahwa Ilyas ada di depannya. Air matanya tumpah kembali. Ilyas menjadi merasa bersalah dan salah tingkah. Ia meletakkan tempat sampah yang dipegangnya.


Mencoba menyentuh bahu Adel, tapi ditepis oleh Adel. "Jahat! Hiks..."


"Jangan nangis please" Ilyas membawa Adel dalam dekapannya. Adel membalas pelukan itu. Hatinya lega melihat pemilik hatinya pulang dengan selamat.


"Cup cup cup, maafin Abang ya??" Adel sesenggukan dalam pelukan Ilyas. "Maaf tidak memberitahumu bahwa Abang sudah pulang. Abang ingin memberikan kejutan untukmu"


"Jahat! Gak tahu apa? Disini Adek nahan rindu?? Pakai acara salah asrama lagi! Hiks...."


Ilyas tertawa dan melepaskan pelukan itu. "Masuk dulu deh, Abang buang sampah dulu"


Adel masuk dengan wajah kesal. Namun, tak dapat dipungkiri, saat ini, hatinya sedang dipasangi petasan yang sudah meledak sejak tadi.


Aylin menelpon adiknya, karena lama sekali dia pergi. "Adel lagi sama Abang. Ya sudah Adel antarkan. Tunggu bentar"


Ilyas masuk dan mencuci tangannya. "Kenapa?"


"Ayo antarkan kakak dulu"


"Oke siap, Abang ganti kaos dulu"


"Gak usah! Buruan!"


"Masih galak saja ternyata kalau ngambek. Hahaha"


Entah mengapa Adel sangat senang mendengar suara lelaki itu. Sangat khas dan selalu memiliki memori sendiri di telinganya. Mereka segera menghampiri Aylin.


Aylin sampai lumutan menunggu mereka. "Lama banget siiiihhhh! Mana rotinya?? Kakak lapar Dek"


Adel menyodorkan roti itu. Aylin duduk di belakang. Adel menemani Ilyas di kursi depan. "Ketahuan ya??" goda Aylin.

__ADS_1


"Pasti kakak kan yang ngasih tahu?" tanya Ilyas balik.


"Ooo.... jadi Kakak udah tahu??" Aylin mengangguk.


"Ih, nuduh! Bukan! Kamu tahu dari siapa Del??"


"Bukan dari siapa-siapa. Hanya mengikuti kata hati"


Aylin dan Ilyas tertawa mendengarnya. Adel masih berpura-pura cuek. "Jangan sok cuek kamu Del! Pergi lagi baru tahu rasa kamu!"


Ilyas menyengir lewat kaca spion atas. Adel membuang muka. "Ini dianterin kemana nih?"


"Puskesmas, Kakak ijin keluar doang tadi"


"Oke"


Dalam perjalanan mereka hanya diam. Ilyas tahu jika Adel sedang dongkol karena dibohongi olehnya. Tak lama, Aylin sudah sampai di puskesmas. "Nanti jemput jam 3 sore" katanya.


"Iyo!" kata Adel judas. Lalu mereka meninggalkan puskesmas. Adel masih diam seribu bahasa.


Ilyas sudah tidak tahan lagi dengan kebisuan yang terjadi. "Dek"


"Hmm?"


"Mau kemana?"


"Pulang!"


"Ih, kok pulang?! Katanya kalau Abang pulang, maunya sama Abang terus" protes Ilyas yang masih mengingat permintaan Adel.


Ilyas malah tertawa mendengarnya. "Hisshhhh..... gemeesshhhhhh Abang sama kamu. Pengen gigit boleh??"


"Adek juga gemeeeeezzzzhhhhh sama Abang! Pengen ngeremet-remet Abang boleh??"


Ilyas tertawa terbahak-bahak. "Monggo kalau kamu mau Abang hancur" Ilyas meraih tangan Adel. "Jangan pegang-pegang ih!"


"Halah, kenapa pegang tangan gak boleh sedangkan tadi kamu nyaman sekali dalam pelukan Abang? Kamu gak berontak saat Abang peluk kamu?? Hmm??" Ilyas mencubit pipi Adel.


Adel sedikit demi sedikit tersenyum. Ilyas kembali meraih tangan Adel dan mengecupnya. Adel menatap Ilyas. Ilyas membalasnya dengan senyuman. "Kenapa? Abang makin ganteng??"


"Makin item iya!"


"Hahaha, yang penting manis dong! Jangan marah. Abang niatnya mau ngasih surprise sama kamu. Hari ini kita ke Semarang yuk? Nengokin Kak Maris lanjut ke Demak nengok anaknya Bang Archee"


Adel mengangguk. "Adek hubungi Roni dulu" Adel segera mengirim pesan untuk Roni. Mengatakan bahwa dirinya tidak akan ke empang maupun mengontrol meubel.


"Kosongkan jadwal kamu besok sore dek. Abang mau main ke rumah" Adel hanya mengangguk.


"Abang"


"Iya, apa sayang??" jawab Ilyas sambil mengusap kepala Adel.


"Adek sayang sama Abang"


Ilyas tertawa senang mendengar hal itu. Membuat Adel juga senang melihatnya. "Abang lebih sayang sama kamu. Setiap malam hanya kamu yang selalu memenuhi mimpi Abang"

__ADS_1


"Kak Maris sudah hamil?" tanya Ilyas lagi. Adel hanya menggeleng. "Kita do'akan saja" jawab Adel.


"Anaknya Bang Archee cewek apa cowok?"


"Cowok, ganteng banget kayak bapaknya!" jawab Adel semangat menceritakan keponakan barunya.


"Abang punya saingan nih!"


"Ih! Apaan sih??"


"Hahahah"


Rasa rindu itu terbayar sudah. Adel sangat bahagia. Dia tak ingin mengantuk dalam perjalanan itu. Karena dirinya hanya ingin terus memandangi wajah lelaki yang mampu membuat perasaannya jungkir balik.


Tak terasa mereka sudah sampai di Semarang. Adel menelpon Amaris. Memberitahukan bahwa dirinya akan datang bersama Ilyas. Lalu Adel memberi arahan pada Ilyas dimana letak rumah Amaris dan Damar.


Tak lama, mereka telah sampai disebuah perumahan. Rumah itu nampak asri karena pemiliknya menyukai berbagai macam bunga.


"Amarilis, lily, tulip, bougenvile, kamboja lokal, mawar, melati, euphorbia, monstera...." Celetuk Ilyas melihat semua bunga milik calon iparnya itu.


Amaris membuka pintu dan langsung berteriak memeluk Adel. "Kangen" katanya.


"Kangen tapi gak pernah pulang" jawab Adel dengan wajah merengut.


"Hehehe, kemarin Mamah mertua disini sebulan Del, gak enak lah kalau kakak tinggal" terang Maris. "Eh, Babang tamvan balik nih! Apa kabar Yas?"


"Alhamdulillah baik Kak, Mas Damar kerja?"


"Ada di dalam. Ayo masuk" Mereka masuk ke rumah Amaris.


Damar memeluk Ilyas. "Baru balik Yas?"


"Iya Mas. Libur Mas?"


"Iya" Mereka melanjutkan mengobrol di ruang santai. Sedangkan Amaris membuatkan minum bersama Adel.


"Ngapain mertua lu sampai sebulan disini kak?"


Amaris hanya tersenyum sendu. "Jangan tanya hal itu. Itu urusan rumah tangga Kakak! Ayo bawakan cemilan untuk mereka. Senang nih Ilyas pulang. Cieeee"


Adel merona malu digoda oleh kembarannya sendiri.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2