Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 20


__ADS_3

Amaris dan Aylin kembali ke Jakarta pagi hari buta dengan menggunakan pesawat. Mereka diantarkan oleh Damar dan supirnya ke bandara Yogyakarta. "Hati-hati ya sayang" kata Damar berpesan pada Amaris.


Amaris tersenyum. "Iya, LDR an dulu ya? Sabar, berkas nikah kantor sudah lengkap semuanya"


Damar tersenyum dan mengangguk. Amaris mendekat padanya, dan tiba-tiba saja memeluk Damar. Membuat Aylin dan Damar terkejut.


"Yank"


"Sebentar saja, aku kangen sama kamu mas" Damar membalas pelukan itu. Mengecup puncak kepala Amaris. "Mas juga kangen banget sama kamu, I love you bu guru"


"I love you too pak pol" Amaris melepaskan pelukan itu. Damar mengecup kening Amaris.


"Sst, heh, aku opo kasat mata ngunu to? Iso yo peluk-pelukan ning ngarepku? (Sst, heh, aku apa kasat mata gitu to? Bisa ya peluk-pelukan di depanku?)" Aylin protes dengan kemesraan mereka berdua.


Amaris dan Damar tertawa. "Kabari mas kalau sudah sampai di Jakarta". Amaris mengangguk. Mereka masuk dan melakukan check in. Damar melambaikan tangannya.


Aylin mencoba menghubungi Seno tapi tak diangkat-angkatnya. Membuatnya semakin kesal. "Kenapa sih kak?"


"Mas Seno tak telpon, gak diangkat terus coba"


"Masih pagi buta kak, masih tidur palingan. Pakai taksi dari bandara saja lah nanti" Aylin mengangguk. Pesawat mulai terbang mengepakkan sayapnya di udara, meninggalkan daratan dan menyapa sang awan yang masih gelap.


Aylin dan Amaris masih mengantuk, mereka melanjutkan tidurnya. Tak terasa, pesawat mendarat mulus di Jakarta. Baik Aylin dan Amaris langsung berganti pakaian karena mereka akan langsung bekerja.


Mereka menggunakan taksi masing-masing untuk mengantarkan mereka ke kantor tujuan mereka.


Saat di lampu merah, Amaris kembali melihat mobil Seno yang berada tepat di samping taksinya. Ia menurunkan kaca mobil dan melihat Seno bersama seorang wanita hamil di dalam mobil itu.


"Seno sama perempuan itu lagi? Saudara kok care banget? Malah kesannya kayak suaminya sih?" Lampu merah menyala, taksi melaju kembali.


Amaris tak tahan dengan yang dilihatnya. Ia menghubungi Aylin. "Assalamualaikum"


Waalaikum salam, kenapa dek?


"Seno sudah balas chat kakak?"


Belum, emang kenapa?


"Barusan aku lihat mobil Seno di lampu merah dekat sekolahan. Dia sama saudaranya yang hamil itu. Itu tuh beneran saudaranya bukan sih kak? Kok kayaknya lebih pantas dibilang suami istri ketimbang dibilang saudara?"

__ADS_1


Aylin diam tak menjawab ucapan Amaris. "Kak? Kak Aylin?" tak ada sahutan dan tiba-tiba saja terputus. "Kakak nih gimana sih?" Amaris mencoba menghubunginya lagi tapi ponsel Aylin tak aktif. "Hmmm, mbuh lah" Amaris telah sampai di sekolah tempat ia mengajar. Ia segera turun dan membawa barangnya masuk.


Sedang di lain tempat, pikiran Aylin seketika menjadi kacau. Ia diam memikirkan perkataan adiknya. Air matanya sudah berkumpul di pelupuk mata, siap berderai ketika ada perintah untuk luruh.


Apel pagi membuyarkan lamunan Aylin. Ia menghapus air matanya dan segera bergabung dengan yang lainnya. Selesai apel, seperti biasa, ada breefing dari kepala puskesmas. Tapi, pikiran Aylin tak bisa fokus.


Membuat dokter Gibran ingin tahu yang terjadi dengan Aylin. "Dokter Ay Ay kenapa?" tanya dokter Gibran dengan sebutan yang biasa ia gunakan pada Aylin.


"Eh, gak papa kok dok. Dokter Gibran, bisa gak hari ini saya tukar jadwal? Saya saja yang di pustu, dokter Gibran yang di puskesmas. Saya ingin menyibukkan diri" jelas Aylin.


Dokter Gibran mengangguk dengan cepat. "Boleh boleh boleh, saya juga janji sama anak saya mau jemput sekolah. Kasihan kalau sampai kecewa lagi. Nanti aku yang bilang sama bu KaPus deh"


"Biar saya aja dok, makasih banyak ya dok"


"Sama-sama, kalau ada masalah jangan dipendam sendiri, ungkapin, kalau sekiranya sama orang tidak percaya dan takut akan disebarluaskan, curhat sama Allah yang lagi Maha Pendengar Maha penjaga rahasia"


Aylin tersenyum dan mengangguk. Dokter Gibran adalah seniornya, sudah menikah dan memiliki satu anak perempuan. Akhirnya Aylin berangkat ke pustu dengan tim medis lainnya. Ia mencoba menyibukkan diri agar lupa sejenak permasalahannya.


Selesai pelayanan, ia menghidupkan ponselnya. Ada sebuah chat masuk. "Mas Seno"


Ia membukanya. Membaca satu per satu pesan masuk dari Seno.


Mas Seno : Sayang, kok hapenya gak aktif? Gak kangen apa sama mas?


Mas Seno : Ay..... balas dong sayang


Mas Seno : Huft, kamu marah ya? Maafin mas karena lupa jemputnya 😥


Mas Seno : Sayang, hapenya diaktifkan dong. Mas mau ngomong sama kamu


Aylin menghela nafasnya. Ia tak tahu harus membalas apa pesan dari Seno. Hatinya berkecamuk. Mengingat kata-kata Amaris tadi pagi.


Panggilan masuk ke ponselnya, tapi Amaris mengabaikannya. Ia ingin memberi pelajaran kepada Seno. Karena tak mendapat jawaban dari panggilannya, Seno mengirim pesan lagi pada Aylin.


Mas Seno : Ay, sayang, jawab telpon Mas dong


Hanya dibaca Aylin, tanpa dibalas. Bidan Yuki mendekatinya. "Dok, hapenya bunyi terus tuh" katanya.


Aylin tersenyum kecut. "Biarin aja mbak, lagi males sama orangnya"

__ADS_1


"Lagi marahan ya? Cie cie cie...."


"Hahaha, orang lagi marahan malah di cie cie in. Mbak Yuki nih aneh"


"Yang aneh itu dokter, ada masalah itu diselesaikan dok, jangan malah kayak anak ABG yang ngambek terus gak mau kasih kabar gimana-gimana gitu"


Aylin kembali tersenyum. "Nanti saja lah mbak, biarin aja dulu. Saya butuh berpikir jernih"


"Memang rumit banget ya masalahnya?"


Aylin menghela nafasnya. "Belum nemu titik terangnya mbak, masih putih abu-abu"


"Ya makanya, biar ketemu titik terangnya itu diselesaikan dokter Ay Ay"


Aylin mengangguk. "Makasih ya mbak sarannya, Mbak, saya boleh tanya sesuatu gak?"


Mbak Yuki mengangguk. "Apa dok?"


"Dulu, waktu mbak Yuki ketemu sama suami, langsung yakin kalau itu jodohnya mbak bukan?"


Mbak Yuki tersenyum. "Saya sama suami ketemu itu waktu dalam giat bakti sosial untuk bencana banjir. Suami yang kerjanya di BPBD mengantarkan saya untuk sampai ke posko. Awalnya hanya biasa aja, tapi, lama kelamaan kalau saya gak lihat dia, atau dia gak ketemu saya, pasti ada yang kurang. Kami saling mencari. Dari situlah saya yakin dia adalah jodoh saya, saya bukan hanya menginginkan dia, tapi saya juga butuh dia di samping saya, selalu membuat saya tertawa, bahkan selalu memberikan kejutan kepada saya. Hingga sekarang, kalau kami sedang terpisah jarak, sehari saja kami tak pernah tak memberi kabar. Karena sesibuk apapun kami, kami akan saling berkabar, agar hati kami selalu tentram"


Aylin tersenyum mendengar penuturan Mbak Yuki. "Beda dengan saya mbak, saya ngasih kabar dianya cuek-cuek aja. Kalau saya marah, baru dia ngejar-ngejar saya" Aylin menghela nafasnya.


"Makasih mbak atas sharingnya"


"Sama-sama dok"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2