
Damar dan Amaris telah sampai di asrama. Mereka melakukan sholat dhuhur terlebih dahulu. Selanjutnya, Damar dan Amaris makan siang bersama di asrama. Amaris menyiapkan segalanya. Damar menghubungi Luna, menanyakan keberadaan tiga krucil.
Sama Eyang Tari, bawa aja Maris kesana. Atau kalau gak, ajak anak-anak ke asrama mu. Biar nanti aku yang jemput mereka
"Biar Maris aja yang kesana. Masih pada jahil kah?"
Hadeh..... ya masih lah, apalagi kemarin mereka seharian di rumah Zia. Entah dapat pelajaran baru apa lagi dari Sisi
"Hahahah, parah emang! Ya sudah, nanti setelah makan siang aku antar Maris kesana
Jangan pas jam tidur siang dong Damar..... Mereka jam segini udah dikunciin sama Eyangnya. Nanti sore aja
"Yah..... kasihan dong Maris sendirian di asrama. Ku pikir bisa gitu. Ya sudah lah. Aku bilang dulu sama Maris. Sore nanti masih di tempat Eyangnya?"
Iyap, lepas maghrib baru kami jemput kesayangan kami itu. Oke, nanti aku bilang eyangnya. Sampaikan salamku untuk Maris, semangat jadi bhayangkari!
"Oke, Assalamualaikum"
Waalaikum salam.
Damar menuju meja makan dan memberitahukan kepada Maris bahwa tiga krucil sedang istirahat siang. "Yank, ketemu tiga krucil nanti sore ya. Soalnya jam segini mereka pada bobo siang"
Amaris mengangguk. "Okay. Ayo makan dulu" Damar mencuci tangannya lalu duduk berdampingan dengan Maris.
"Makan mu kok dikit banget sih?" tanya Damar.
"Aku takut kalau bajunya gak muat Mas"
Damar menggeleng keras. Ia menambahkan nasi untuk Maris. "Gak ada protes! Mas gak mau ya, udah deket hari H kamu sakit gara-gara gak makan! Kalau sekiranya timbangan naik sekilo atau dua kilo tingkatkan aktivitas fisik Yank, binsik! Jangan porsi makanmu yang kamu kurangi sampai segitu"
Amaris tersenyum mendengarnya. "Makasih ya udah perhatian banget sama aku"
"Sama-sama. Mas gak suka kamu sakit, paham"
"Nggih Mas ku.... paham" Damar tersenyum mendengarnya. "Mas, lamaran kerja aku kok sampai sekarang belum ada panggilan ya?" tanya Maris sambil melahap makanannya.
"Sabar aja lah Yank, kalau pun kamu gak kerja, Mas masih sangat mampu untuk membiayai kehidupan kita"
"Bukan gitu maksudnya, lebih ke bosen aja sih Mas kalau gak ada aktivitas"
"Ya sudah, sabar aja. Mumpung kamu masih free, mending kamu bikin zoom atau streaming sama murid mu. Kasih pelajaran tambahan bagi mereka" Damar mengutarakan idenya. Amaris berpikir sejenak.
"Boleh juga tuh ide kamu Mas, oke, nanti aku bikin zoom meeting deh buat ngasih materi ke anak-anak" Damar mengangguk.
"Gak usah takut bosen kalau kamu gak keterima jadi guru di sekolahan. Zaman sekarang sudah serba teknologi sayang, jadi apa yang menjadi kendala buat kamu??"
__ADS_1
Amaris tersenyum mendengarnya. Ia sangat bersyukur memiliki calon imam seperti Damsr. Yang selalu memiliki pemikiran kreatif dalam menyelesaikan masalahnya.
Damar melirik ke arah Maris. "Kenapa? Mas makin ganteng ya?"
Maris memukul lengan Damar. "Geer banget sih kamu! Sumpah! Pedenya selangit! Gak papa!"
"Hilih, tinggal bilang Mas makin ganteng apa susahnya sih?" goda Damar yang telah menyelesaikan makannya. Amaris hanya menggeleng sembari menyuapkan makanannya.
Damar memangku kepalanya dengan satu tangan. Menelengkan kepalanya ke arah Maris dan tersenyum. "Apa sih Mas?"
"Gak papa, suka aja lihat kamu yang selalu malu-malu kucing kalau lagi diperhatiin gini. Hahaha"
"Udah sih, jangan dilihatin mulu aku nya"
"Memang salah ngelihatin calon istri sendiri?"
"Ya bukan salah sih, tapi bikin aku jadi salah tingkah!" Amaris menyelesaikan makannya. Ia membereskan piringnya dan milik Damar.
Damar beranjak dari kursi makan dan mengambil tas selempangnya. "Mas balik kantor dulu. Istirahat di rumah. Kunci rumahnya. Jangan bukain pintu kalau bukan Mas yang kamu lihat di depan pintu"
"Iya Mas" Amaris mengikuti langkah Damar hingga di depan pintu. Menyalaminya lalu melambaikan tangan ke arah Damar. "Dikunci pintunya. Assalamualaikum" kata Damar lagi.
"Nggih Mas, waalaikum salam" Amaris langsung menutup pintu dan menguncinya seperti perintah Damar. Maris mencuci piring, setelahnya beristirahat.
Cukup nyenyak ia beristirahat, saat bangun melihat jam dinding di kamar Damar sudah menunjukkan pukul 3 lewat 30 menit. "Astaghfirullah.... sudah sore ternyata"
Mas Damar : Yank, Mas otw pulang
Amaris tersenyum membacanya. Segera melaksanakan sholat ashar. Selesai sholat ia memasakkan air untuk Damar, dan menyeduh teh hangat. Pintu diketuk. Amaris menoleh dan segera melihat siapa yang datang.
Ia tersenyum. Segera membuka pintu dan menyalami Damar. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam. Seneng deh begini terus. Pergi ada yang nganterin, pulang ada yang nyambut"
"Hahahaha, lebay ih. Aku sudah buatkan teh untukmu" Damar mengangguk. "Makasih ya"
"Sama-sama. Mau aku siapkan air mandinya?"
"Boleh. Hati-hati angkat pancinya ya?" Amaris mengangguk. "Iya"
Setelahnya, Damar bergegas mengambil pakaiannya dan bergegas mandi. Amaris merapikan sepatu dan atribut milik Damar. Tak lama, Damar telah lebih segar. "Langsung nengokin krucil?" tanya Damar
"Boleh. Belikan mainan dulu untuk mereka Mas"
"Oke" Amaris segera bersiap. Damar telah siap di dalam mobil. Lalu mereka menuju tempat mainan. Membelikan segelintir barang untuk tiga anak sahabat mereka. Setelah mendapatkannya mereka bergegas bertemu dengan tiga anak menggemaskan itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum" sapa Damar kepada keluarga Eyang Tristan sambil menyalami kedua orang tua itu. "Waalaikum salam, Zia, Ariiz, Baim, lihat siapa yang datang?"
Ketiga anak itu pun tersenyum senang melihat Damar datang bersama Maris. "Om Damal......" teriak ketiganya. Mereka memeluk Damar karena beberapa minggu tak bertemu.
"Eh, Om bawa Tante baru buat kalian lho" kata Damar. Mereka melihat Maris lalu salim dengannya. Membuat Maris takjub akan tingkah mereka. "Pinternya keponakan tante. Siapa yang mau mainan?"
Ketiganya sudah riuh. Maris membagikan mainan kepada ketiganya. "Tante namanya capa?" tanya Aariz. "Onty Maris"
"Onty Malis kelas belapa? Aim kelas pauk" tanya Baim yang sekarang sudah menginjak 2 tahun lebih.
"Onty kelas banyak, gak bisa dihitung lagi"
"Ih.... Onty gak apal angka ya? Zia bisa lho Onty. Kalo Onty gak apal angka belalti Onty gak lulus pauk" Amaris tertawa karena ucapan Zia. "Bukan pauk Zia, tapi PAUD. Belakangnya pakai D"
"Cucah onty" bantah Baim. "Main yuk. Aku punya stikel lho Onty" Aariz menunjukkan stiker gambar yang bisa ditempel di anggota badan.
"Aariz bisa nempelinnya?"
"Bisa dong! Om Damal sini" Damar menautkan alisnya. "Apaan Riz"
"Ih, sini!" Damar menuruti keinginan Aariz. "Baling situ, telus tutup mata. Kalo buka mata Onty Malis tak cium nanti"
Amaris dan Damar tertawa mendengarnya. "Allahu akbar.... siapa yang ngajarin begitu?" tanya Damar.
"Ayah.... kalau Ibu bandel suluh melem malah melek pasti dicium Ayah"
"Yowes lah, Om Damar merem aja, daripada pipi Onty Maris kamu cium. Gak ikhlas Om"
"Ya Allah si Mas..... cemburu sama anak kecil!" Kata Maris memukul lengan Damar. Damar berbaring dengan posisi telentang dan memejamkan matanya.
Aariz, Zia, dan Baim memulai aksi mereka. Mereka menempelkan stiker itu di wajah Damar. "Apa nih?" Damar hendak membuka mata.
"Et.... melem Om. Onty Malis nanti tak cium lho" kata Aariz. Damar akhirnya memejamkan matanya lagi. Amaris tak kuasa menahan tawanya melihat wajah Damar yang penuh dengan stiker. Seperti di tato.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip