
Zafran mengemudikan mobil Zoya. Ia tak melewati jalan yang biasanya. Ia memilih jalur lurus ke depan. Zoya heran mengapa Zafran memilih jalan itu. Namun, dirinya membiarkannya.
"Arah ke pecinan lurus melewati alun-alun kan?" Tanya Zafran. Zoya mengangguk sambil mengetik pesan. Zoya sedang membalas pesan dari asistennya. Memberitahukan kepada asistennya bahwa ia agak terlambat kembali ke kantor. Zafran memperhatikannya dengan lirikan matanya.
"Apa?" tanya Zoya. "Hmm? Gak papa"
"Mas, kok kamu bisa disini sih? Bukannya kamu bilang pulang ke Jakarta??"
Zafran masih fokus dengan jalanan di depannya. "Lagi berjuang demi cinta! Bolak balik pun gak masalah!" Zoya tersenyum malu mendengarnya. "Gombal!"
Zafran tertawa sambil geleng kepala mendengarnya. "Ngapain gombal? Beneran! Mas.... lagi kangen sama kamu"
"Bener??"
"Mbuh!" jawab Zafran pasrah. Mengundang gelak tawa Zoya. Zafran tersenyum senang menikmati tawa Zoya. "Eh, kita mau ke pecinan ngapain?" tanya Zoya baru tersadar kemana tujuan mereka.
Zafran diam tak menjawab pertanyaan Zoya. "Ih, Mas Zaf! Kita mau ngapain ke pecinan??" Zoya tak kunjung mendapatkan jawaban dari Zafran. "Mas Zaf sayang....."
"Dalem sayang....." Zoya dan Zafran sama-sama tertawa karena panggilan itu. Tapi, sungguh. Hati mereka sedang berdesir hebat karena panggilan sederhana yang penuh makna itu.
"Kita mau ngapain ke Pecinan, Mas?"
"Mau beli cincin buat lamaran besok Bu Camat. Toko yang sebelah mana?"
Zoya menunjukkan sebuah toko yang biasa ia kunjungi bersama Ibunya. Zafran memarkirkan mobil. Mereka berdua bersiap turun. "Kalau lamaranmu aku tolak gimana?"
"Cincinnya buat kamu. Kok susah. Sudah yakin mau nolak lamaran Mas??" Zoya hanya diam. "Ayo turun"
Zoya turun bersama Zafran. Toko sedang ramai pembeli. Ada beberapa Ibu-Ibu dan gadis yang sedang memilih model perhiasan di toko itu. Mereka terpesona oleh ketampanan Zafran. Hati Zoya seketika panas. Tanpa pikir panjang, Zoya langsung memeluk Zafran yang tengah fokus melihat model cincin. Zafran terkejut.
"Eh"
"Ngapain pada ngelihatin suami saya?" ucap Zoya judas pada semuanya yang melihat Zafran. Angin segar bagi Zafran. Hatinya sangat senang ketika Zoya mengakuinya sebagai suami, meskipun hal itu belum terjadi.
Zafran membiarkan dirinya dipeluk oleh Zoya, ia hanya membalas pelukan dengan satu tangannya. Lalu mengusap-usap kepala Zoya. Semua pelanggan di toko mas itu lalu kembali fokus dengan pilihannya.
"Suka yang mana?" tanya Zafran. "Kamu suka mana?"
"Ini" kata jawab Zoya. Zafran mengangguk. "Cobain dulu"
Pemilik toko itu mengambilkan cincin sesuai pilihan Zoya. Mereka mencobanya. Milik Zafran terlalu besar sedikit. "Gimana nih? Kebesaran"
"Ya sudah, pilih yang model lain" Zoya melihat model cincin lainnya. Lalu menunjuk dua buah model cincin yang berbeda. Mereka kembali mencobanya. Milik Zoya sedikit terlalu longgar. Lalu mereka mencoba yang terakhir. Dan pas!
Mereka tersenyum senang. Zafran memberikan dompetnya kepada Zoya. Ia melihat-lihat kalung yang sangat menawan. Memilih satu model yang menurutnya simpel lalu menyuruh pemilik toko itu untuk membungkusnya.
__ADS_1
"Buat siapa?" tanya Zoya. "Buat calon Ibu lah"
"Nyogok nih ceritanya?" Zafran tertawa. Mereka telah menyelesaikan pembayaran. Mereka kembali ke mobil. Zafran mengambil kalung itu. "Sini, Mas pakaikan"
"Lhah, katanya buat Ibu"
"Calon Ibu yang mas maksud adalah kamu, calon Ibu dari anak-anak kita nanti. Ya kamu orangnya"
Zoya tertawa senang mendengarnya. Zafran berhasil membuat jantungnya mencolos dari tempatnya. Zafran memakaikan kalung itu. "Makasih Mas"
"Sama-sama"
"Beli kebaya yuk? Yang sudah jadi saja, biar samaan" ajak Zoya. Zafran mengangguk. Zoya memberi arahan tempat penjual batik dan kebaya itu. Mereka sampai dan segera memilih. Zafran sangat tampan mencoba beberapa batik itu. Hingga membuat Zoya terpana melihatnya.
Akhirnya mereka kembali menuju kantor kecamatan. Zoya mengembangkan senyumnya dalam perjalanan itu. "Mobilnya bawa kamu saja, nanti biar si Agil yang mengembalikan ke rumah"
"Gak usah, Mas nanti naik ojek saja" Zafran memarkirkan mobil Zoya. Mereka berdiam di dalam mobil. "Zo" panggil Zafran.
Zoya menoleh. "Mas itu baru pertama kali merasakan yang namanya jatuh cinta. Dan itu cuma sama kamu. Saat Mas mencium bibirmu, ada getaran seperti tersengat yang Mas rasakan. Itulah yang membuat Mas, berani memintamu menjadi pendamping hidup Mas. Mas tahu, waktunya terlalu singkat, tapi percayalah, waktu singkat ini akan membuktikan keseriusan cinta ini"
Pipi Zoya kembali merona. Baru kali ini, dia merasakan bahagia yang teramat sangat. Zafran mengembalikan kunci mobil Zoya. "Selamat bekerja, Zo"
"Mas" panggil Zoya, Zafran yang hendak turun kembali menoleh pada Zoya. "Tunggu sampai jam kerjaku selesai. Nanti mampir ke rumah. Bapak dan Ibu kangen sama kamu"
Zafran tersenyum mendengar hal itu. "Kamu kangen juga gak sama Mas?"
Zoya mengangguk. Ia segera turun. Meninggalkan Zafran yang ingin tidur di dalam mobil.
.
Damar merasakan rindu yang teramat kepada Amaris. Tak melihat wajahnya sehari, bagai satu bulan rasanya. Ia gelisah, mondar mandir di asramanya. Telpon tak diangkat Maris. Sms pun tak dijawab olehnya.
Hamka yang sedang bermain game di ponselnya mulai jahil. Ia mengambil foto Damar dan mengirimkannya di grup.
Hamka : (Mengirim foto Damar yang sedang galau)
Ali : Kenapa tuh? Grogi mau ijab??
Hamka : Bukan!
Bima : Grogi gimana caranya belah duren?? Sini Dam, gua ajarin! 😜
Sigit : Suruh ngapalin ijabnya tuh Bang! Jangan sampai malu-maluin lho. Kapolda datang kan?
Hamka : Udah katam dia Si! Dia lagi galau karena gak bisa ngeliat wajah Maris!
__ADS_1
Ali : Isengin Bang! Gua kangen dia belum dijahilin lagi sama krucil
Hamka : Baiqla. Wait yak!
Hamka mengalihkan mode foto ke video. Ia menyuruh Damar untuk meluapkan kerinduannya dengan cara berteriak.
"Sana keluar terus teriak" kata Hamka masih menyembunyikan kamera ponselnya yang sedang merekam.
Damar menuruti ide Hamka. Ia berteriak di luar.
"Ya Allah..... aku kangen sama Maris Ya Allah, biarin lihat wajahnya sehari saja Ya Allah, boleh gak sih??" teriak Damar. Hamka mulai keisengannya. Dengan sengaja ia menarik celana kolor Damar yang mengakibatkan celana itu melorot ke bawah.
Damar malu bukan main. Ia berlari ke dalam karena ditertawakan oleh Ibu-Ibu Bhayangkari yang lewat depan asramanya.
"Jian! Buangeten tenan komandanku iki! (Jian! Kebangetan sekali komandanku ini!)" Hamka tertawa puas. Ia mengirimnya ke grup. Semuanya tertawa.
Maryam : 🙈🙈🙈
Azka : Ya Allah, ada vitamin mata lewat! 🤣🤣
Muti : Reply lagi, pengen tahu warnanya apa
Sigit : Heh heh heh! Pengen dihukum kamu??
Hana : Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Mbak Shan! Bojomu memang juahil! 😄😄
Shanum : Ya Allah.... aku lagi hamil. Moga gak nular ke anaknya sikap jahil Apaknya.....
Jihan : 😂
Adel yang memang sedang memegang ponsel Maris menunjukkan yang terjafi di grup itu. Adel dan Maris tertawa keras akibat ulah Hamka.
"Kasihan Mamasku dikerjain mulu sama mereka"
"Wkwkwk, Mas Damar bloon sih!"
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip