
Deg deg deg deg deg deg deg deg deg deg. Degup jantung Imam dan Aylin menjadi tak beraturan.
Kenapa deg-degan gini? Aylin merasa mengenali Imam. Tapi lupa, dimana ia pernah bertemu.
Aduh, kenapa ketemunya pas lagi kena musibah begini sih?. Batin Imam. Aylin mempersilahkannya masuk. "Langsung ke ruang tindakan aja ya"
Aylin menunjukkan ruang tindakan itu pada Imam. Aylin memakai sarung tangannya. "Aduh, kepalaku kok pusing ya?" kata Imam merasa sedikit limbung. Aylin tersenyum.
"Yas, Del, temen kalian pusing nih... belikan teh manis gih. Bisa karena kehilangan banyak darah makanya pusing" kata Aylin menyuruh adiknya.
"Pusing Mam?" tanya Ilyas. Imam mengangguk. "Ya sudah, kak, aku sama Adel beli teh hangat dulu ya" Aylin mengangguk dan menuju bed Imam.
Mata mereka saling bertemu. Hati Aylin tiba-tiba berdesir tak jelas, membuatnya mengeluarkan keringat dan kepanasan. "Namanya siapa Mas?" tanya Aylin mulai membersihkan luka Imam.
"Imam Bachtiar" Aylin menghentikan aktivitasnya dan melihat lagi wajah Imam. "Ealah, mas salah sambung ternyata. Jadi, temennya Ilyas yang dimaksud Imam itu kamu mas?"
Imam hanya mengangguk. "Robeknya agak lebar ya, 1 2 3 4 5. Kira-kira 5 jahitan luar. Gimana?"
"Jahit aja dok" panggil Imam sopan mengingat profesi Aylin adalah seorang dokter. "Oke, dibius dulu ya?" Imam mengangguk. Aylin mulai menyuntikkan obat bius di sekitaran luka Imam.
Imam mencengkeram kuat sisi bed periksa itu. "Kalau mau teriak, gak papa kok" canda Aylin. "Ini kerasa atau sakit?" tanya Aylin mencoba efek dari obat bius itu.
"Kerasa disentuh" jawab Imam. Aylin mulai menyiapkan benang dan jarum jahitnya. Mulai menjahit bagian luka dagu Imam yang masih menganga.
"Ehm.... jadi yang semalam beneran salah sambung atau modus?" tanya Aylin. Imam menjadi malu mengingat kejadian semalam.
"Beneran salah sambung dok, saya juga gak tahu kalau dokter kakaknya Adel si bos lele" Aylin tertawa mendengar sebutan bagi adiknya. Imam tersenyum menikmati gelak tawa Aylin.
"Bener ya? Gak minta nomor ku ke Ilyas ataupun Adel si bos lele?"
Imam mengangguk. "Tentara dong!" kata Aylin lagi. Imam mengangguk lagi. Adel dan Ilyas kembali dengan membawa teh hangat manis 2 bungkus. "Diminumkan sekarang apa nanti kak?" tanya Adel.
"Nanti aja, tinggal 2 doang kok. Ini temen Ilyas yang mau dikenalin ke kakak?" tanya Aylin. Mereka berdua mengangguk.
"Dia cerita ke kamu gak Yas semalam ngajakin kenalan cewek gara-gara salah sambung?" tanya Aylin pada Ilyas. Membuat wajah Imam merona merah.
Ilyas menatap Imam penuh selidik. Lalu dengan cepat mengambil ponsel Imam dan membuka chatnya. Ia juga menunjukkannya ke Adel.
"Dikenalin bilang nonta nanti, kosak kosek, taunya nyolong start duluan! Gayamu bang!" Adel memukul lengan Imam.
"Oh, ini alasan kamu nanya nama lengkap kak Aylin? Cieee...... kayaknya ada yang berjodoh nih!" goda Ilyas kepada mereka berdua. Aylin hanya tersenyum tipis sambil menutup luka Imam.
__ADS_1
Imam tak bisa mengelak lagi dihadapan semuanya. "Sudah selesai, lukanya gak boleh kena air selama seminggu, tiap 3 hari kontrol ya Mas" Aylin membereskan peralatannya.
Imam mengangguk. "Ya dok"
"Gaya lu manggil dok! Kontrolnya dimana aja bisa kan kak?" tanya Ilyas. Aylin mengangguk.
"Bisa, terserah mau dimana aja. Teh hangatnya diminum dulu mas biar gak pusing" Ilyas memberikan teh itu. Adel duduk di depan kakaknya.
"Jadi Bang Imam gimana?" bisik Adel. Aylin menjawabnya sambil berbisik. "Lukanya udah kakak jahit 5 aman" katanya.
"Bukan itu maksudnya Aylin!" teriak Adel. Aylin tertawa. Imam dan Ilyas hanya menyaksikannya. Imam berdesir melihat senyuman Aylin.
"Kedip Mam! Cantik kan? Kayak Adel kan? Gaya lu nolak! Taunya nyolong start!" Ejek Ilyas.
Aylin menyiapkan obat untuk Imam. "Mas" panggilnya. "Hasek, manggilnya alus bener kayak jalan tol! Keluar yuk bang! Kita yang jadi nyamuk disini!" kata Adel.
Ilyas dan Adel keluar. Imam duduk di depan Aylin. Imam menatap wajah Aylin, lalu tersenyum. "Ehm.... ini obatnya Mas, yang ini antibiotik jadi harus dihabiskan sehari 3 kali, ini untuk nyerinya sehari 3 kali, yang ini untuk peradangannya juga sehari 3 kali, setelah makan semua ya Mas, ada yang mau ditanyakan?"
"Ini, kalau yang ngobatin kamu aja bisa gak? Ya maksudnya kan kamu dokter yang ngejahit ini...."
"Bisa" jawab Aylin. "Ada lagi?" tanya Aylin.
"Boleh kenalan lebih jauh?" tanya Imam langsung ke intinya. Aylin menatap Imam. Hati mereka sama-sama berdesir tak karuan. "Kamu mau ngedeketin aku ya?" jawab Aylin tahu arti tatapan Imam.
"Ya aku tahu, kamu tidak akan mau pacaran, maunya langsung menikah"
"Ya kok bisa tahu darimana? Adel si bos lele yang cerita?" Imam menggeleng. "Terus? tahu dari siapa?"
"Tahu lah, aku kan suami kamu dari masa depan" jawab Imam santai. Aylin tak kuasa menahan senyumnya. Wajahnya merona merah.
"Ngerih! Gombalan maut!" sahut Ilyas di sebalik pintu, mendengarkan percakapan Imam dan Aylin sedari tadi. Imam dan Aylin tertawa.
"Jadi?" tanya Imam. Aylin mengangguk. "Makasih" jawab Imam bahagia. Adel dan Ilyas masuk dan menggoda mereka. "Cieeeee..... ihir....icikiwir....."
Mereka semua tertawa. "Obat hati ya dapat hati yang baru Bang, Kak" tutur Adel.
"Udah malam, yuk pulang, nanti dicariin papah sama mamah lho" kata Aylin. Ia mulai membereskan barangnya. Mengunci semua ruangan dan menaruh kuncinya di tempat semula.
"Dek, Abang semobil sama kamu ah" Ilyas melempar kunci mobilnya pada Imam. Aylin dan Imam hanya pasrah dengan tingkah keduanya.
Mobil melaju ke rumah Papah Duta. Imam menjadi canggung terhadap Aylin. "Dok" panggil Imam.
__ADS_1
Aylin tertawa. "Panggil nama aja kenapa sih Mas?"
"Canggung, kenalan secara nyata yuk? Aku Imam Bachtiar, biasa dipanggil Imam, usia 31 tahun, tentara AD"
"Aylin Ayu Wicaksana, biasa dipanggil Ay atau Aylin, usia 27 tahun, dokter umum" Imam mengangguk.
"Kamu kenapa bisa dapat luka itu sih Mas? Jangan bilang kalau mikirin aku" canda Aylin. Imam tertawa mendengarnya.
"Jatuh kesandung kaki sendiri, pegangan pintu, eh malah kena ujungnya, sobek deh. Maaf ya ketemunya di situasi yang sangat amat tidak terduga" terang Imam. Aylin mengangguk dan memainkan jari jemarinya.
"Besok kamu kerja Ay?" tanya Imam. Aylin mengangguk. "Mmm, ini 3 hari kontrol ke klinik atau dimana?" tanya Imam lagi.
"Ya kamu maunya dimana mas?" tanya Aylin.
"Kalau di asrama Mas gimana? Nanti ajak Adel dan Ilyas, Mas traktir kalian, sebagai tanda terima kasih udah ditolongin" Aylin mengangguk.
"Terserah, tapi aku bisanya jam 8nan, karena pelayanan di klinik selesai jam segitu"
"Kalau gitu di klinik aja deh, nanti aku kabari dulu kalau mau kesana" kata Imam.
"Iya, terserah kamu" Akhirnya mereka telah sampai di rumah papah Duta. Aylin mengucapkan terima kasih pada Imam.
"Makasih ya Mas, sudah diantarkan sampai rumah"
"Sama-sama. Mmm..... nanti boleh Mas telpon?" Aylin tersenyum dan mengangguk. Ilyas mengetuk pintu mobil. Aylin membukanya.
"Lancar nih" Aylin memukul bahu Ilyas. "Godain aja terus! Gak tak bolehin nglangkahi aku kamu!"
"Ampun kak, jangan.... hahahhaha. Ya sudah, kami langsung pulang aja ya? Papah dan Mamah sudah tidur katanya" Aylin mengangguk.
"Hati-hati" kata Aylin.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip