
Selesai makan mereka kembali ke batalyon. Ilyas menjadi pengemudi kali ini. Imam kembali bermain ponsel.
"Bang Imam, gimana? Mau gak aku kenalin sama kembaranku? Namanya Aylin"
Imam melirik Adel. Ia tampak berpikir. "Dia kerjaannya apa Del?"
"Dokter umum, baru pindah dari Jakarta dan sekarang di Puskesmas x. Sama di Klinik Bersama" terang Adel.
Ilyas hanya diam, ia tak mau ikut campur dengan keputusan Imam. Karena, Ilyas tahu masa lalu percintaan Imam. Yang hanya dipandang sebelah mata karena ia seorang tentara. Yang dianggap tak mampu menghasilkan apa-apa dibandingkan harta keluarga pacarnya.
Padahal, Imam adalah anak seorang pengusaha sukses di Sleman. Nama lengkapnya Imam Bachtiar, 31 tahun, seorang tentara tapi juga seorang pengusaha. Ia memiliki truck 6 buah, 1 buah toko baju, 1 kafe di daerah Sleman. Ia menyerahkan itu semua kepada orang kepercayaannya karena ia lebih mencintai dunia militer.
Ia sengaja tidak jujur terhadap mantannya dulu, karena ia juga ingin menguji besar rasa cinta sang mantan terhadapnya. Ternyata ia hanya dianggap sebelah mata. Membuatnya menganggap semua wanita sama jika didekati oleh seorang tentara. Hanya memandang materi.
"Lama mikirnya ih" kata Adel. Mereka telah sampai di batalyon. Imam turun dan memberikan laporan. Lalu masuk hingga ke rumah dinas.
"Tadi dia kerja dimana Del?" tanya Imam mulai penasaran.
"Puskesmas x kalau pagi, kalau sore di Klinik Bersama" Imam mengangguk.
"Nanti aja deh, hehehe, masih pengen menjomblo. Gua balik Yas! Silahkan dilanjut kebucinan kalian" Imam segera turun dari mobil.
Ilyas mematikan mesin mobil. "Masuk dulu yuk?"
Adel menggeleng. "Gak ah, malam banget ini bang"
"Pulangnya abang antarkan. Ayo turun dulu"
Adel akhirnya menuruti keinginan Ilyas. Mereka masuk ke asrama. Ilyas bergabti baju. Sedangkan Adel duduk menunggunya di sofa. Ilyas datang dengan membawa sebuah kotak.
Lali memberikannya pada Adel. Membuat Adel bingung. "Apa ini?"
"Buka aja"
Adel membukanya. Sebuah boneka TNI dan perempuan yang sedang memegang lele. Adel tertawa melihatnya. "Ini maksudnya kamu? Dan ini aku? Gitu?" Adel menunjuk satu per satu boneka itu. Ilyas tersenyum dan mengangguk.
"Suka gak?"
Adel mengangguk. "Suka lah, makasih ya bang"
"Sama-sama dek, pandangi boneka itu kalau kamu bener-bener kangen sama Abang dan gak bisa ketemu. Abang juga punya kok, anggap aja ini diri kita"
Adel mengangguk. "Iya"
"Imam itu punya trauma, dianggap sebelah mata sama keluarga mantan pacarnya. Sekarang susah kalau mau ngedeketin cewek. Makanya dia kebanyakan selengekannya. Hanya menganggap semuanya teman"
Adel mengangguk. "Owh gitu, tapi kan gak semua cewek gitu bang"
__ADS_1
"Ya itu kan pemikiran kita, pemikiran orang yang trauma? Beda dong pastinya"
"Iya juga sih"
"Dek, pijitin kepala Abang bentar kek, pusing nih. Kebanyakan micin apa gimana ya?"
Ilyas langsung merebahkan dirinya dipangkuan Adel. Membuat Adel terkejut. "Bang...."
"Hmmm?"
Adel mencoba menyingkirkan kepala Ilyas dari pangkuannya tapi Ilyas memberontak. "Bentar doang ah!"
Adel mengalah. Ia mencoba menstabilkan perasaannya yang sedang sangat gugup saat ini. Ia mulai memijit kepala Ilyas. "Enak banget sih dipijitin kamu. Apalagi kalau tiap hari bisa ketemu dan mandangi wajah kamu, lebih seneng lagi Abang"
Adel hanya tersenyum. "Kita mau gimana?"
Adel menghentikan pijitannya. "Gimana apanya?"
"Hubungannya"
Adel terdiam. Ilyas memberikan kode untuk memijit lagi dengan menyentuh tangan Adel. Adel mulai memijit lagi. "Adel kan sudah pernah bilang bang, kalau Adel untuk saat ini belum ingin menikah"
Ilyas memejamkan matanya. "Tapi kita gak mungkin terus seperti ini dek, sampai kapan kamu tidak akan siap? Kalau alasanmu adalah karena kebebasan, Abang bisa pastikan ke kamu bahwa kamu masih bisa bebas seperti sekarang"
Ilyas mengubah posisinya ke duduk. Mereka sama-sama terdiam. Ilyas bersidekap. "Sudah malam, ayo Abang antarkan pulang"
Adel membawa boneka itu, keluar dari asrama. Ilyas mengunci pintunya. Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Ilyas mulai mengemudikan mobil menuju rumah Adel. Sama-sama terdiam.
"Abang marah?"
Ilyas hanya menggeleng. Adel bingung bagaimana harus bersikap. "Kok hanya diam?"
"Memang Abang harus ngomong apa?" tanya Ilyas.
Adel menggigit bibir bawahnya. Benar-benar tak tahu harus bagaimana. Perjalanan menjadi canggung dan sunyi. Tak lama mereka sampai di rumah papah Duta. Ilyas memberikan kunci mobil pada Adel.
"Abang pulang dulu. Assalamualaikum"
"Abang gak mau ketemu papah sama mamah dulu?" Ilyas menggeleng. "Lain kali aja"
Adel meraih tangan Ilyas dan menyalaminya. "Waalaikum salam" jawab Adel. Ilyas langsung pulang tanpa menoleh ke belakang.
Hati Adel menjadi sedih. Ia masuk ke rumah. Orang tuanya sudah berada di kamar. Adel masuk ke kamar Aylin.
Merebahkan diri di ranjang. "Huft"
Aylin yang saat itu sedang menyusun berkas, menolah pada adiknya. "Kenapa?"
__ADS_1
"Lagi puyeng"
"Soal?" tanya Aylin.
"Bang Ilyas"
Aylin menghentikan aktivitasnya dan duduk di samping adiknya. "Kenapa?"
"Dia nanya, hubungan ini mau bagaimana? Karena aku belum siap menikah"
Aylin menautkan alisnya bingung. "Alasannya?"
"Aku masih pengen bebas kak, masih pengen ini itu tanpa ada yang melarang"
Aylin malah tertawa mendengar penuturan Adel. "Kamu aneh ih dek, udah ada yang ngajak serius malah kamunya begini. Kalau kakak jadi kamu, kakak akan siap dinikahi Ilyas. Dengar, pacaran juga gak baik dek, banyak dosa iya. Kenapa kalau bisa halal malah milih yang dosa?"
Adel mencoba berpikir. "Kamu itu beruntung dek, memilih dan memiliki lelaki seperti Ilyas, yang mana dia orangnya benar-benar bertanggung jawab dan serius terhadapmu. Lelaki langka di jaman modern seperti ini. Atau kalai kamu gak mau, kakak samber nih!"
"Ih, kakak! Jangan dong! Bang Ilyas kan cintanya sama Adel, bukan sama kakak!"
Aylin tertawa. "Bercanda! Takut banget sih?? Kalau hatimu saja sudah mantap, kenapa harus ditunda-tunda? Kakak ikhlas kalau dilangkahi"
Adel bangkit dan keluar dari kamar Aylin tanpa pamit. "Malah pergi, pikirin tuh!"
Adel kembali ke kamarnya. Merenungi setiap nasehat dari Aylin. Ia meraih boneka pemberian Ilyas. "Kok ngambek sih sayang? Baru juga ketemu, malah ngambek begini"
Adel meraih ponselnya. Memeriksa apakah ada pesan atau panggilan dari Ilyas? Tapi sayang, tak ada. "Huft.... marah beneran deh ini. Aku harus gimana??" tanyanya bingung.
Ia memilih melupakan masalah itu. Menuju kamar mandi dan berganti pakaian. Mwrebahkan dirinya di ranjang dan mulai memejamkan matanya sambil memeluk boneka Ilyas.
"Selamat malam Abang, tidur nyenyak dan mimpi yang indah. Semoga marahmu segera reda. Jangan diamkan aku. I Love you"
Di lain tempat, Ilyas yang sedang memeluk boneka Adel pun memejamkan mata. "Semoga kamu cepat memberi jawaban atas jalan hubungan kita dek, aku mendiamkanmu bukan tanpa sebab. Itu agar kamu bisa tahu arti kehadiranku. I love you bos lele"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Maaf ya othor upnya lamaaaaa banget. Karena di kampung othor tetap ada silaturahmi. Othor juga lagi kena flu dan radang. Happy ied mubarok semuanyaaaa