Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 98


__ADS_3

Rangkaian acara pernikahan Amaris dan Damar telah selesai. Semuanya beristirahat di kamar masing-masing. Pengantin baru itu pun juga masuk ke kamarnya.


"Sholat isya' dulu dek" kata Damar menyebut Amaris dengan sebutan lain. Amaris sedikit terkejut dengan panggilan itu.


"Apa tadi Mas? Kamu panggil aku apa?"


"Dek, kenapa gak suka?" Amaris tersenyum dan berlari kecil memeluk suaminya. "Kenapa gak dari dulu kamu panggil Adek begitu??"


"Hahaha, ya kamu gak ngomong. Yuk ah sholat. Habis itu unboxing punya kamu" kata Damar senang sambil menaik turunkan alisnya.


Amaris pun tertawa atas ucapannya. Mereka mengambil wudhu secara bergantian. Memakai pakaian untuk sholat. Damar menjadi imam untuk Amaris. Baru pertama kali. Dan dirinya merasa sangat bahagia bercampur gugup.


Damar mengambil nafas panjang agar dirinya lebih tenang. Lalu dengan khidmat dirinya membaca niat. "Allahu akbar....." ucap Damar. Amaris mengikuti gerakan Damar.


Empat rakaat telah meleka lakukan. Damar menggeser sajadahnya. "Ayo sholat sunnah" Amaris mengangguk. Mereka melakukan sholat sunnah 2 rakaat.


Selesai sholat Amaris mencium tangan Damar. Damar mencium kening Amaris. "Semoga keberkahan dan kebahagiaan tercurah untukmu Dek"


"Aamiin, do'a yang sama untukmu Mas, semoga selalu sehat, lancar rezekimu, dan diberikan keberkahan hidup" kata Amaris.


"Aamiin" Damar dan Amaris berdzikir sebentar lalu menengadahkan tangan. Setelah hal itu selesai, Damar langsung menarik Amaris menuju ranjang.


"Astaghfirullahal adzim. Sabar sayang"


"Mas sudah tidak bisa sabar. Untung itu pil gak aku minum" Amaris tertawa mendengarkan hal itu.


"Hapalkan kelakuan mereka Mas"


Damar mengelus-elus punggung tangan Amaris lalu menciunya sambil tersenyum. Mereka sama-sama malu untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan.


"Mas"


"Iya Dek"


"Sekarang??" tanya Maris akhirnya.


"Kamu sudah siap?"


"Insyaallah"


Damar memeluk istrinya. Membelai rambutnya lalu mencium wangi aroma shampoo yang dipakai Maris.


"Wangi banget sih rambut kamu"


"Kenapa? Gak suka kah?" Maris mendongakkan kepalanya. Damar langsung menyambar bibir ranum milik Amaris. Damar berhasil membuat Amaris merona malu.


Kini tubuh Maris merasakan hawa panas menjalari tubuhnya. Damar melakukannya sekali lagi. Tapi kali ini bukan hanya sekedar menempel. Melainkan sedikit melu*matnya. Amaris membalas ciuman itu.


Hati mereka sama-sama berdesir. Damar menjelajahi seluruh ruang mulut Amaris dengan lidahnya. Mengeksplor segala yang ingin ia rasakan dari tubuh istrinya.

__ADS_1


Ciuman itu semakin dalam. Semakin panas. Tangan Damar menangkup wajah istrinya. Lalu bibirnya turun menjelajahi leher putih mulus milik Amaris.


Maris semakin menikmatinya. Tangan Damar kembali bergerilya. Masuk ke dalam baju Maris. Melepaskan sesuatu di belakang punggung Maris. Ia kesusahan. Akhirnya dengan kesal ia menghentikan ciumannya.


"Kenapa?" tanya Maris.


"Susah banget sih lepasin tali BeHa kamu" Amaris terkikik mendengarnya. Lalu ia melepasnya.


"Ayo dilanjut" kata Maris. Damar tersenyum senang mendengarnya. Ia merebahkan tubub Maris ke kasur. Mulai mencium bibir Amaris kembali. Tangan Damar menuntun tangan Maris untuk menyentuh barang pribadi miliknya.


"Adeknya Mas sudah bangun" kata Damar berbisik. Maris mengalungkan tangannya ke leher Damar. "Segerakanlah untuk bertempur"


Dengan cepat Damar menanggalkan pakaian miliknya dan milik Maris. Membuat Maris agak malu. Damar begitu terpana dengan tubuh polos istrinya.


Damar menuruni leher menuju tempat yang sejak tadi menggiurkan baginya. Maris mengikuti permainan Damar. Suaminya berhasil membuatnya mabuk kepayang. Membuatnya merasa rileks dan menikmati setiao sentuhan yang diberikan oleh Damar pada setiap inchi tubuhnya.


Milik Damar semakin mengeras. Ia mulai membaca do'a menuntunnya masuk. Amaris mengerang kesakitan. Damar mencobanya secara perlahan. Maris kembali berteriak. Hingga Damar terkikik dan harus menutup mulutnya.


"Pelanin dikit suaramu Dek"


"Sakit Mas" rengek Amaris. Damar tersenyum.


"Cuma diawal saja kok, nanti pas sudah berhasil kamu pasti akan menikmatinya"


Damar mencobanya kembali, setelah percobaan yang kesekian kalinya, barulah dia berhasil membobol pertahanan istrinya. Amaris sampai mengeraskan rahangnya menahan sakit yang teramat.


"Sakit Dek?" kata Damar. Amaris mengangguk. Damar mulai bermain dengan kecepatan dan tempo. Amaris yang tadinya kesakitan, kini mulai menikmatinya.


"Ahhh......" lenguh keduanya setelah berhasil mencapai puncak kenikmatan secara bersama-sama. Damar segara menarik mundur senjatanya yang baru saja memenangkan misinya.


Damar mencium perut Amaris. "Semoga cepat diberikan momongan sama Allah"


"Aamiin" jawab Amaris.


Damar berguling ke samping. Amaris memeluknya. Membenamkan wajahnya di dada Damar. Tangannya meraba-raba perut Damar.


"Seksi sekaleeeeeee" komentar Amaris. "Mas, sampai saat ini, Adek belum dapat kerjaan. Piye??"


"Gak usah terlalu dipikirkan. Kalau sudah digariskan kamu bisa mengajar lagi, pasti saat itu akan tiba Dek. Mas malah bersyukur kamu belum mendapatkan pekerjaan. Karena bisa lebih banyak waktu berdua sama kamu"


Amaris terdiam dan tersenyum. Benar juga ucapan Damar, harusnya dia bersyukur karena mereka diberikan waktu lebih banyak berdua. Karena saat mereka LDR an, yang mereka keluhkan adalah waktu.


"Eh, ngerjain senior yuk!" Ajak Damar


"Maksudnya?"


"Kirim pesan di grup. Nanti kamu tanya, ini obat apa? Kok belum sampai unboxing Damar sudah teler dengan posisi adeknya masih bangun. Cara ngatasinnya gimana gitu?? Biar mereka panik!"


"Yakin bakalan kepancing merekanya??" tanya Maris memastikan terlebih dahulu. Pasalnya, Damar yang selalu menerima ulah jahil mereka.

__ADS_1


"Yakon seratus persen. Karena para istri mereka pasti gak tahu kelakuan mereka"


Maris mengangguk. Ia segera meraih ponselnya.


Maris : Assalamualaikum, gaes ini obat apa ya? Kok Mas Damar minum ini, dianya tepar, tapi adeknya masih berdiri kokoh. Aku bingung nih.... Kak Aylin nyuruh baea ke RS aja ik. Piye yo?


Hamka : Ha? Adeknya Damar gak mau lengser kah Maris??


Maris : Gak mau Bang Ham, ini obat kuat??? 😳


Sigit : He? Adeknya Damar gak mau bobok? Dia minum berapa butir sih??


Ali : Aduh! Kok bisa gitu ya? Coba kutanya Hana dulu deh


Muti : Mas Si, Mas Al, Bang Ham, Habib, Bima, Mas Danang, kalian gak lagi jahil kan?? 🤔🤔


Bima : Eh, itu bukan pil kuat Maris, itu cuma antimo. Terus sekarang keadaan adeknya Damar gimana??


Hamka : Ih, gimana kalau terjadi apa-apa sama Damar?? Habib kemana sih?? Bib muncul Bib


Damar dan Maris cekikikan membaca pesan Hamka yang ketakutan.


Sigit : Mbak Maris, Damarnya dibawa ke rumah sakit saja deh, duh! Malah pusing saya


Ali : Hana juga bingung gimana membuat adeknya Damar mau lemes, biar gak tegang terus. Piye Si? Bim?


Danang : Waduh! Bisa begitu??


Maris : Jadi ini bukan pil kuat? Dia kira pil kuat, karena dia percaya banget sama kalian


Sigit : 😟😟 Maafkan kami Mbak Marisss..... Coba dikocok


Danang : Lu kira susu kali Si dikocok!


Ali : Ya terus gimana dong??


Hamka : Itu bocah kenapa bloon banget sih???


Damar dan Maris tertawa puas membaca komentar yang ada. "Kita lihat cerita mereka 6 hari kemuadian! Diapain sama istri mereka! Hahahah" Ucap Damar puas


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2