
Suci menghela nafasnya. "Ini sebenarnya ada apa sih? Ada yang bisa menjelaskan sama saya?"
Aylin tersenyum kecut. Semuanya menikmati makanannya kecuali Seno dan Suci. Seno mulai hilang kesabaran. "Ay!"
"Apa??! Ini aku lagi ngerayakan kita putus lho. dan aku bahagia. Harusnya kamu bahagia dong! Karena tidak adanya diriku, akan membuatmu memilikinya selamanya. Oke, gini mbak Suci, saya perkenalkan diri saya dulu. Saya Aylin, seorang dokter, mantan pacar Seno. Beberapa menit lalu sih masih jadi pacar tapi sekarang cuma mantan. Jadi, aku memang meng-hack WA Seno, aku membaca semua isi chatmu dan Seno. Dan.... dia sudah melamarmu bukan? Selamat atas hal itu. Dan aku memilih mundur. Karena aku bukan pengemis cinta"
Suci diam mendengarkan penjelasan Aylin. Ia beralih menatap Seno. Seakan meminta penjelasan ke Seno. "Cari tahu dulu dia itu beneran cinta sama kamu, atau hanya kasihan karena mengakibatkan satu keluargamu tewas? Karena, kemarin dia juga bilang mau bertemu orang tua ku lhoh! Aneh kan? Udah melamar kamu, tapi masih mengharapkanku? Maruk sekali"
Amaris dan Zafran tersenyum kecut sambil menikmati makanan mereka. Membiarkan Aylin menunjukkan pada mereka bahwa singa betina sudah bangun dan siap menerkam mereka yang mencoba mengintainya.
"Cukup Ay!" kata Seno. Aylin mengangguk. "Emang udah kok, aku udah selesai ngomongnya. Dan aku juga udah selesai makannya. Terima kasih sudah mau hadir untuk merayakan putusnya kita. Dek, Mas, yok balik" Amaris.dan Zafran mengangguk.
Mereka bergegas pergi meninggalkan Seno dan Suci. Saat baru beberapa langkah, Suci menghentikan mereka. "Aylin tunggu!"
Suci mendekat ke arah mereka. Aylin berbalik dan bersidekap. "Aku gak tahu kalau mas Seno pacar kamu, kembalilah padanya. Aku yang akan pergi dari kehidupannya"
Aylin tertawa. "Gak usah, jangan buat pengorbananku sia-sia. Lanjutkan saja hubunganmu dengannya, karena bagi Aylin, jika barang itu sudah disumbangkannya, pantang baginya mengambilnya lagi. Karena itu sudah dianggapnya barang bekas!"
Aylin melangkah pergi meninggalkan Suci. Ia masuk ke mobil Zafran lagi. "Ke rumah mas yo? Main sana sama krucil. Biar gak ingat terus sama dua orang itu" kata Zafran. Amaris dan Aylin mengangguk.
Aylin menghidupkan musik. "Cari pacar lagi, siap diputar...." Semuanya tertawa.
Biar 'ku putuskan saja (hak e hak e)
'Ku tak mau hatiku terluka (hak e hak e)
Lebih baik 'ku cukupkan saja (hak e hak e)
'Ku tak mau batinku tersiksa (lho lho lho lho lho lho lho jos)
Jangan kau selalu merasa (hak e hak e)
Lelaki bukan dirimu saja (hak e hak e)
Lebih baik 'ku putuskan saja (hak e hak e)
Cari pacar lagi (lho lho lho lho lho lho lho jos)
Suci menatap Seno. "Kenapa kamu tidak jujur padaku kalau kamu sudah memiliki kekasih mas?"
Seno mengacak-acak rambutnya. "Aku ingin bilang, tapi selalu tak tepat waktunya. Maafin aku Ci"
__ADS_1
Suci menggeleng. "Dia yang kamu sakiti, dan aku pun menyakitinya. Tak seharusnya kamu mempermainkan hati kami berdua mas"
"Maaf Ci, aku tak bermaksud seperti itu"
"Tapi itulah yang kamu lakukan. Sudah lah, aku ingin pulang saja" Suci mengambil tasnya dan meninggalkan Seno.
Seno mengejarnya. "Aku antar" Suci menggeleng. "Ck, jangan keras kepala Ci, aku gak mau kamu dan bayi kamu kenapa-napa. Aku sayang sama kalian. Please, beri aku kesempatan untuk membuktikan padamu bahwa aku benar-benar tulus padamu"
Suci menghela nafasnya. "Kamu hanya kasihan dengan ku mas" Seno menggeleng dengan cepat. "Awalnya aku memang merasa seperti itu. Tapi, ini berbeda Ci, rasa sayang ini sudah menjalar di hatiku. Aku akan membuktikannya"
"Lalu bagaimana dengan Aylin? Kita menyakiti hatinya"
"Aku akan minta maaf dengannya"
"Aku ikut jika kamu minta maaf dengannya, dan jika dia memintamu kembali, aku akan merelakanmu untuknya"
"Aku bukan barang yang bisa kalian lempar kesana dan kemari Ci, aku juga punya perasaan. Aku akan mempertahankan hubungan kita. Karena bagi Aylin, aku sudah seperti sampah"
.
Aylin bangun dengan senyum merekah. Ia segera bersiap untuk bekerja. Ada perasaan bahagia setelah mengakhiri hubungannya. Bebannya hilang.
"Siap kerja?" tanya Amaris bahagia. Aylin mengangguk bahagia. "Let's go!" kata Aylin.
Mereka berangkat bekerja ke tempat kerja masing-masing. Melaksanakan rutinitas mereka setiap hari.
Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Amaris ijin pulang terlambat karena ingin mengunjungi calon mertuanya.
Aylin di rumah sendirian. Mendapatkan kabar dari papahnya, bahwa senin depan, ia sudah bisa pindah ke salah satu Puskesmas di Magelang. Dan, ia juga sudah dibuatkan tempat praktik dokter mandiri.
Seseorang mengetuk pintu rumahnya. Membuatnya harus membukakan pintu itu. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam, ngapain pada kesini?" tanya Aylin pada Suci dan Seno.
"Boleh kami masuk?" tanya Suci. Aylin enggan menerima mereka. Ia menunjuk terasnya. "Silahkan duduk dulu. Ku buatkan minum dulu"
Aylin masuk dan membuat minum dengan cepat. Lalu kembali ke teras. Ia menyilangkan kaki dan tangannya bersandar pada kursi teras. "Minumlah, lalu katakan ada apa?"
Suci meraih tangan Aylin. Menggenggamnya. "Aku minta maaf, karena menyakitimu"
Aylin menarik tangannya. "Jangan minta maaf, tak ada yang salah dalam hal ini. Pulanglah, aku harus segera berberes"
__ADS_1
Seno mendongakkan kepalanya. "Memang kamu mau kemana Ay?"
Aylin diam tak menjawab pertanyaan Seno. "Aku minta maaf telah menyakitimu. Maaf tidak jujur dari awal terhadapmu....."
"Ck, sudah lah. Aku kan sudah bilang, tak ada yang perlu dimaafkan! Jika kalian kemari hanya untuk hal tidak penting ini, aku akan masuk"
"Kembalilah padanya" pinta Suci. Aylin kembali tertawa dengan nada yang keras. "Kembali? Sama dia? Sorry, stok gua banyak di Magelang! Banyak yang lebih dari dia!"
"Sombong kamu Ay!" Ucap Seno tak kalah ketus. Suci menenangkannya. Aylin menghela nafasnya.
"Berbahagialah, jaga hati perempuan ini, jangan lagi kamu sakiti hatinya. Dan untuk kamu mbak Suci, jangan memintaku kembali padanya, karena itu adalah hal yang mustahil. Aku melepasnya untukmu, jadi, tolong jaga cinta kalian, pupuk dengan kesetiaan dan kejujuran" Aylin bangkit dari duduknya dan berjongkok di depan perut Suci. Mengelusnya sesaat dan tersenyum.
"Hai dedek, nanti kalau sudah lahir, jadi anak yang kuat seperti mamahmu ya sayang. Ketemu di lain waktu" Suci meneteskan air mata. Ia benar-benar tak menyangka, hati Aylin benar-benar tulus. Aylin berdiri dan tersenyum ke arah mereka berdua.
"Tak ada hal yang salah dalam mencinta, kalian tak perlu minta maaf, karena ini bukanlah kesalahan" Suci memeluknya. Menangis dalam pelukan.
"Hatimu benar-benar tulus, semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Mas Seno"
Aylin tersenyum dan membalas pelukan itu. "Terima kasih do'anya. Semoga nanti lahiranmu lancar" Ia melepaskan pelukan itu.
Seno ingin menjabat tangannya, Aylin mengatupkan tangannya di depan dada dan tersenyum. "Jaga dia, jaga hatinya, jangan kamu ulangi lagi kesalahan yang sama"
Seno mengangguk. "Kami permisi Ay, semoga kamu mendapatkan kebahagiaanmu"
Aylin tersenyum pada mereka berdua dan mengangguk. "Pasti"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Nanti malam udah lebaran ya gaes... Jadwal othor padat merayap. Upnya mungkin malam banget ya.... othor sekeluarga mengucapkan
__ADS_1
"Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin"
Selamat lebaram gaes