
Archee berusahan meluluhkan hati Papahnya. Aylin juga membantunya. "Papah kalian sudah mengalah, jangan merengek terus seperti anak kecil!" kata Mamah Laras.
"Beneran Pah?" tanya Archee. Papah Duta mengangguk. "Ah, terima kasih Papahku sayang.... Dibujuk pakai apa nih tiba-tiba mau berubah pikiran?"
"Dirayu pakai baju haram ya mah!" celetuk Aylin. Membuat semuanya tertawa. "Mamah kalian sekarang jarang pakai baju haram lagi" balas Papah Duta.
"Hish! Papah! Lin, bawa calonmu kemari" Mamah Laras mengalihkan pembicaraan. Aylin mengangguk. "Chee, minggu depan pulang lagi, kita akan melamar calonmu"
Archee yang saat itu tengah menyeruput kopi menjadi terbatuk hingga keluar ingus dari hidungnya. Aylin tertawa melihatnya. "Memang Abang mau dijodohin sama siapa sih mah?" tanya Aylin.
Adel ikut nimbrung bersama keluarganya. "Rahasia!" jawab Adel sambil menjulurkan lidahnya.
"Memang kamu tahu dek?" Tanya Archee, Adel mengangguk. "Siapa??" tanya Archee dan Aylin bersamaan.
Adel meminum teh Aylin dan pergi ke lantai atas. "Kepo lu!" jawabnya sambil menyengir.
Archee mengejarnya. "Dek, kasih tahu abang dong siapa orangnya" Adel menggeleng dan menutup pintu kamarnya.
"Del, ih.... kok gitu sih sama abang? Besok abang udah balik Demak lho Del...."
"Bodo!" jawab Adel dari dalam kamar. "Memang aku tahu siapa orangnya? Aku aja gak tahu.... wkwkwkwkw" kata Adel pada dirinya sendiri
.
Maris tetap memberitahu orang tua Damar tentang keadaan anaknya. Mengharuskan Damar dibawa paksa oleh orang tuanya, pindah ke rumah sakit di Jakarta.
Amaris pun ikut pulang ke Jakarta. "Maafin Maris Mah, Pah, gara-gara Maris, Mas Damar jadi begini"
Mamah Damar tersenyum. "Bukan salah kamu sayang, dianya saja yang ceroboh"
"Tapi tetap saja mah...." ucapan Maris terpotong.
"Ya sudah, kalau kamu merasa ini salah kamu, berarti nanti di Jakarta kamu harus merawat Damar sampai sembuh" ucap Papah Damar. Maris mengangguk.
Orang tua dan keluarga Maris menjenguk Damar. Mereka bertemu untuk pertama kalinya. "Maaf ketemunya malah di rumah sakit" kata Papah Alwi.
"Gak papa pak, Dam, kira-kira bisa sembuh cepat tidak? Segera urus nikah kantormu bersama Maris"
Maris dan Damar saling toleh. "Alhamdulillah ya Allah....." kata Damar mengucap syukur senang.
Amaris memeluk Papahnya dan menangis. "Makasih banyak ya pah?" Papah Duta mengangguk.
__ADS_1
"Sama-sama sayang"
Amaris memeluk Archee. "Makasih abangku sayang..."
"Sama-sama. Jangan galau-galau lagi. Urusin Damar sampai sehat, Abang bahagia kalau melihat kalian bahagia"
Damar akhirnya diberangkatkan dengan pesawat ke rumah sakit di Jakarta. Amaris pulang terlebih dahulu meninggalkan Aylin.
Maris menepati janjinya untuk merawat Damar. Orang tua Damar tidak menunggui anaknya di rumah sakit, karena aturannya hanya boleh ditunggu oleh 1 orang.
"Yank"
"Iya mas?" tanya Maris. Damar menunjuk dompetnya. "Tolong bawa sini"
Amaris mengambil dompet itu dan membawanya kepada Damar. Damar mengeluarkan ATM nya. "Itu kamu yang pegang. Gaji dan tunjangan Mas ada disitu semua. Gunakan untuk membeli kebutuhan pernikahan kita. Dan selanjutnya, kelola lah. Kamu calonnya Mas, sebentar lagi jadi bhayangkarinya Mas, kamu yang berhak pegang itu"
Amaris tersenyum. "Makasih sayang, mau konsep nikahan yang gimana?"
"Sederhana saja, yang penting semuanya bisa happy"
Amaris mengangguk. "Mau di Jakarta atau dk Magelang?"
"Kamu maunya dimana?" tanya Damar. "Magelang"
Damar tertawa. "Memang sudah menentukan tanggal?" Amaris menepok jidatnya. "Eh tapi pesen dulu kan gak papa"
"Pesen undangan digital saja Yank, yang cetak dikit saja. Takutnya kita gak ada waktu buat nyebarin undangannya" Amaris mengangguk.
"Mas mau bicara serius sama kamu" Damar memasang wajah seriusnya. Amaris menatapnya serius.
"Setelah nikah, gimana dengan kerjaan kamu? Mas sudah coba mengajukan pindah ke Jakarta, tapi belum bisa" Amaris menghela nafasnya dan tersenyum.
"Resign, cari kerjaan disana, itupun kalau kamu mengizinkan aku kerja sih mas" Damar tersenyum mendengar jawaban Maris. "Boleh kok, Mas mengizinkan kamu kerja, tapi..... saat mas pulang, kamu sudah harus ada di rumah"
Maris mengangguk dan memberi hormat pada Damar. "86 Ndan!" Damar tertawa melihatnya. "Jangan pernah lagi minta berpisah, hati ini terlalu mencintaimu, hati ini sudah terpatri sama hatimu"
Maris mengangguk. "Insyaallah, kemarin itu aku benar-benar frustasi, mau dibawa kemana hubungan ini? Di satu sisi papah keukeuh, di satu sisi bang Archee juga keukeuh dengan keputusannya. Aku gak enak sama orang tua kamu Mas, aku takut dinilai tidak serius sama hubungan kita ini"
"Makanya kalau ada apa-apa itu curhat sama Mas, jangan disimpen sendiri. Pikiran mas kacau setelah kamu minta mengakhiri hubungan kita. Sampai ada selokan mas sadar dan akhirnya jatuh"
Amaris menautkan alisnya. "Jadi bener kamu jatuh di selokan? Terus motornya nimpa kamu?" Damar mengangguk.
__ADS_1
"Pantesan aja, bajumu waktu itu baunya seperti air comberan. Aku kira kamu ganti parfum" Damar tertawa mendengarnya.
"Enak saja kalau ngomong! Bau comberan pun juga kamu tetep nempel!" Maris tertawa.
"Lukamu kira-kira bisa sembuh dalam waktu berapa bulan mas?"
Damar mengangkat bahunya. "Pasrah saja lah sama Allah, tugas kita hanya berikhtiar. Kenapa? Sudah gak sabar buat dihalalin? Hmm?" Amaris mengangguk malu.
"Mas cuma dapat cuti 2 minggu tok yank, selanjutnya mas terapi di Semarang"
"Nanti kalau aku ada waktu, aku temenin" Damar mengangguk. "Bosen, pesan makan gih Yank"
Amaris mengangguk. Ia mengambil ponselnya. Memesan makanan lewat aplikasi. "Nasi uduk mau gak?" Damar mengangguk. Amaris memesan 2 porsi. Menunggu sesaat dan tak lama driver pengantar makanan itu pun datang. "Mas, aku ambil makanan dulu di loby"
Damar mengangguk. "Jangan lama-lama" Maris tersenyum. "Iya...." Ia segera menuju loby mengambil makanan itu.
"Makasih mas" kata Maris kepada driver pengantar makanan itu. "Sama-sama mbak" Maris segera kembali ke kamar Damar. Saat yang sama, ia berpapasan dengan orang yang ia kenal.
"Seno?" Maris berbalik arah mencari orang itu, tapi tak ada. Ia merasa heran. "Mata aku gak salah kan? Itu tadi Seno kan? Ngapain dia sama perempuan hamil tadi?" tanya Maris pada dirinya sendiri. Ia berbalik dan menuju kamar Damar.
ceklek. Damar sudah memasang wajah cemberut. "Ih.... wajahnya kenapa tayang?"
"Lama banget sih cayang.... ngobrol apa sih sama ojolnya?" Maris menyiapkan makanan sambil tersenyum.
"Gak ngobrol, tadi aku kayak lihat mas Seno, tapi, gak tahu juga itu dia atau bukan. Sudah ah, gak usah dibahas. Ayo makan"
"Suapin...." rengek Damar. Maris mengangguk. "Mumpung gak ada Mamah sama Papah kan? Jadi berani manja begini?" Damar mengangguk.
Maris telaten menyuapi Damar, setelah selesai barulah ia makan. Damar memperhatikannya. Ia tiba-tiba tertawa. "Kenapa sih? Ada yang aneh?"
Damar menggeleng. "Mas takut gak bisa menahan diri kalau melihat kamu dengan jarak dekat begini" Amaris tersenyum. "Tunggu halal" Damar mengangguk.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip