Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 22


__ADS_3

Sedang di lain tempat. Amaris sedang berjalan-jalan dengan calon iparnya. Memilih baju untuk bayi. Amaris diajak oleh Wulan, kakak Damar untuk menemaninya menjenguk bayi temannya. Amaris dan Wulan seperti orang yang kalap mata.


Tiba-tiba saja ada seorang perempuan menepuk bahu Wulan. Mereka menoleh. "Masyaallah.... Suci??"


Perempuan yang dipanggil Wulan dengan sebutan Suci mengangguk dan tersenyum. "Apa kabar kamu Ci?"


"Alhamdulillah baik mbak" Wulan memperkenalkan Amaris pada Suci. "Dek, kenalkan, ini teman arisan mbak, namanya Suci"


Amaris memaksakan senyumnya dan berjabat tangan dengan Suci. "Amaris"


"Suci"


"Kamu sama siapa Ci?" tanya mbak Wulan sambil melihat sekeliling karena Suci tak ada yang mengantar.


"Sama mas Seno mbak, dia lagi ambil uang di ATM" Amaris mematung mendengar nama itu. "Makin lancar dong ya hubunganmu sama Seno"


Suci tertawa. "Do'akan saja lah mbak" Amaris sudah tak tahan dengan yang di dengarnya. Ia mencoba mencari tahu lebih dalam hubungan Suci dan Seno. "Lagi berantem ya sama suaminya? Kok minta dido'akan" tanya Amaris ceplas ceplos.


Suci hanya tersenyum. "Ya sudah mbak, aku milih baju dulu" Mbak Wulan mengangguk. "Aku juga mau bayar kok. Ketemu lain waktu ya?"


Suci mengangguk dan cipika cipiki dengan Wulan. Wulan dan Amaris menuju kasir. Dan saat yang sama, Seno masuk ke toko itu dan berpapasan dengan Amaris.


Seno terlihat salah tingkah. Amaris hanya melihatnya dengan tatapan sinis. Setelah selesai membayar, Wulan keluar dari toko itu. Amaris mengambil foto Seno dan Suci yang tengah memilih pakaian untuk bayi.


"Mbak, itu tadi suaminya mbak Suci?" Wulan hanya tersenyum. "Udah, jangan kepo sama hidup orang. Yuk kita tengok bayi"


Amaris bagai ditampar oleh ucapan calon iparnya. Tapi, dia juga sangat penasaran dengan hubungan Seno dan Suci. Siapa sebenarnya kalian? Ada hubungan apa diantara kalian? Kalau kalian cuma saudara, mbak Suci tidak akan bilang seperti itu. Minta dido'akan untuk hubungan mereka?


.


Aylin pulang ke rumah dengan perasaan kecewa. Ia mandi untuk menyegarkan diri. Bimbang begitu mendera hatinya. Amaris datang.


"Kak"

__ADS_1


"Hmm"


"Kakak baik-baik saja?" tanya Amaris prihatin melihat Aylin yang lebih banyak diam. Aylin yang dikenalnya adalah gadis ceria. Bukan gadis yang bisa diam. Alias lebih pecicilan.


Aylin menggeleng. Lalu ia menangis lagi. "Aku tadi berantem sama Mas Seno. Hiks.... huhuhu...."


"Masalah tadi pagi?" Aylin mengangguk. "Yang kamu lihat bener Ris, dia sama Suci tadi pagi. Itu artinya aku memang diabaikan bukan?"


Aylin menghela nafasnya. Amaris membelai rambut kakaknya. "Kak, kalau aku cerita ke kakak, jangan tambah sedih ya?"


Aylin menatap Maris. "Soal mas Seno lagi?" Amaris mengangguk. "Aku akan siapkan mental dan hatiku. Ceritalah"


"Jadi...." Ponsel Aylin berdering. Panggilan video dari kakak sepupunya, Zafran.


"Mas Zafran" Aylin mengambil hijabnya dan memakainya, lalu mengangkat panggilan itu. "Halo, Assalamualaikum mas"


"Waalaikum salam. Habis nangis lagi?" Aylin hanya tersenyum.


"Mas udah dapat nih data tentang orang yang kamu minta. Suci Triana, janda cerai mati, umurnya 28 tahun, tinggal di kawasan Kemayoran, dia hidup seorang diri karena keluarganya semuanya meninggal dalam kecelakaan termasuk sang suami. Yang selamat dia seorang. Sedang hamil 7 bulan, dan.... sedang dekat dengan pria bernama Seno Baskara" Zafran berhenti sebentar. Melihat ekspresi dari adiknya. Amaris juga ikut mendengarkan penjelasan Zafran.


Aylin dan Amaris sama-sama terkejut mendengarnya. "Tahanan?" Zafran mengangguk. "Ya dek, pacarmu itu pernah menjadi tahanan atas kasus tabrakan itu. Dan satu keluarga yang dimaksud adalah, keluarga dari Suci Triana. Mas sudah menghack WA nya. Laptop mas sedang dikirm ke rumahmu oleh seorang anak buah mas, hanya itu yang bisa mas bantu untuk kamu"


Aylin menangis. Amaris merebut ponsel Aylin. "Mas Zaf, makasih bantuannya ya? Selanjutnya biar Kakak dan Maris yang cari tahu"


"Iya, sama-sama. Tenangin kakaknya ya dek, saran mas, lebih baik akhiri hubungan dengan Seno. Karena nanti saat kalian membaca isi WA nya, akan sangat menyakitkan. Lin, dengarkan mas, kamu berhak bahagia. Kamu berhak menentukan pilihanmu, jika hatimu sudah ragu maka berhentilah. Itu adalah pilihan terbaik yang bisa kamu lakukan agar hatimu bisa bahagia"


Amaris mengangguk. "Makasih mas Zaf, info ini sangat membantu sekali"


"Hemm, ya sudah, mas masih ada kerjaan, mas tutup dulu ya? Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Amaris mematikan panggilan itu. Lalu merengkuh kakaknya. Aylin menangis dalam pelukan sang adik. Hanya bisa meluapkan emosinya tanpa bisa berucap.


Seseorang datang dan mengetuk pintu rumah mereka. Amaris melepaskan pelukan itu dan membuka pintu rumah mereka.

__ADS_1


"Malam kak, saya disuruh pak Zafran untuk mengantarkan laptopnya" kata pria itu. Amaris mengangguk.


"Iya mas, makasih ya, tadi mas Zafran sudah telpon saya kok" jawab Maris. Pria itu pamit. Amaris menutup pintu rumahnya kembali. Lalu ke kamar.


"Kak"


Aylin menghapus air matanya. "Dek, ceritakan dulu yang ingin kamu ceritakan tadi"


Amaris meletakkan laptop itu di meja Aylin. Ia kembali ke ranjang dan menggenggam tangan kakaknya. "Tadi aku jalan sama Mbak Wulan di toko perlengkapan bayi. Aku bertemu dengan mbak Suci. Dia adalah teman arisan dari mbak Wulan. Saat ditanya sama mbak Wulan dia sama siapa, dia bilang sama mas Seno, dan dia minta dido'akan hubungannya dengan mas Seno. Saat aku dan mbak Wulan menuju kasir memang mas Seno ada disana, dan dia terlihat salah tingkah melihatku" Amaris mencari ponselnya dan menunjukkan foto Seno sedang bersama Suci yang memilih baju bayi.


Dalam hati Aylin, mereka cocok dikatakan sebagai suami istri. "Aku mencoba bertanya pada mbak Wulan ada hubungan apa antara mereka, tapi, aku malah disindir olehnya. Jangan kepo sama hidup orang lain. Katanya begitu"


Aylin menghela nafasnya dan menenangkan dirinya. "Astaghfirullah....." ucapnya berulang-ulang. Amaris mengelus-elus punggung kakaknya. Memberinya semangat.


"Kak, kakak itu perempuan kuat, perempuan cantik, perempuan kuat, perempuan hebat. Sebelum kakak kenal dengan Seno, kakak adalah dokter terceria dan palinh semangat yang Maris kenal. Yok semangat yok, selesaikan satu per satu masalah yang sekarang kakak hadapi, dan bangkit untuk menata diri. Semua keputusan ada di tangan kakak. Hati kakak berhak bahagia"


Aylin mengangguk. Ia memeluk Amaris. "Makasih ya dek, kamu menjadi teman sekaligus saudara yabg sangat perhatian dengan kakak"


"Sama-sama kak, mau lihat isi chat mas Seno sekarang?" tanya Amaris. Aylin mengangguk.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Othor kagak sahur lagi tadi, 😅😅. bangun2 udah imsak aja. Mohon bersabar yak. othor masih kerja. yang masih kerja semangat.... jangan iri sama yang libur. Yang libur silahkan dinikmati liburnya... do'akan kami para nakes juga dapat libur 😜


__ADS_2