
Adel menunda jadwal bertemunya dengan Ilyas dari janjiannya jam 4 mundur di jam 8 malam. Itu karena Adel harus mengantarkan pesanan Lele ke beberapa tempat. Aylin memilih menjaga klinik seorang diri karena malas berada di rumah.
Selepas isya' Ilyas dan Imam sudah berada di empang dengan menggunakan pakaian santai. Seperti biasa, Imam akan berkeliling melihat lele. Sedangkan Ilyas menuju ruangan Adel.
"Assalamualaikum" ucap Ilyas membuka pintu ruangan Adel dengan wajah datar dan langsung duduk tanpa menunggu dipersilahkan Adel.
Adel sedikit terkejut. Ia melihat ekspresi wajah Ilyas. "Waalaikum salam" Ia menutup dokumen itu dan duduk di samping Ilyas.
"Mau minum apa bang?" tanya Adel berbasa-basi. Ilyas menggeleng. "Abang masih marah?"
Ilyas menggeleng lagi. "Ih..... ngomong lah bang, jangan hanya geleng-geleng kepala! Adel gak tahu harus ngapain??" katanya bergetar.
Ilyas masih memasang ekspresi datarnya. Membuat Adel semakin jengkel. "Dari awal, Adel kan sudah pernah bilang kalau Adel belum siap untuk menikah, Abang sendiri yang bilang akan siap menunggu Adel. Kenapa malah begini?" tanya Adel mengungkapkan kekesalannya.
Ilyas masih diam. "Ih.... abang..... ngomong lah!" kata Adel dengan suara bergetar karena menangis. Ilyas menoleh padanya. Adel menutup wajahnya karena tak ingin dilihat Ilyas.
"Kenapa malah nangis??" tanya Ilyas sambil membuka telapak tangan Adel yang menutupi wajahnya. "Adel bingung harus gimana bang, Abang maunya gimana? Putus?"
Ilyas berdecak. "Ya terus apa? Abang pengennya kayak gimana? Jalan satu-satunya adalah putus bang" imbuh Adel.
Ilyas malah tak habis pikir dengan pemikiran Adel. Ia berdiri dan pergi menuju pintu. Adel menghambur memeluknya dari belakang. Ilyas memegang tangan Adel. "Kamu pengen putus dari Abang?" tanyanya.
Adel menggeleng. "Terus kenapa ngomong begitu sayang?"
"Adel bingung. Gak ada jalan keluar untuk masalah kita Bang"
Ilyas berputar. Adel melepaskan pelukannya. Ilyas menarik tangannya dan mereka berdua duduk di sofa. "Abang kesini mau minta maaf sama kamu, gak seharusnya Abang marah karena Abang sendiri yang mau menunggumu. Maaf membuatmu sedih. Abang akan tetap menunggumu. Tapi, tolong beri kepastian sama Abang, kapan kamu siap?"
Adel menghela nafasnya. Mereka sama-sama diam. "Setelah kak Maris dan Mas Damar menikah" katanya tiba-tiba.
Ilyas menoleh padanya. "Benar?" tanya Ilyas. Adel mengangguk. "Bentar lagi dong"
Adel mengangguk kembali. "Adel tidak siap kalau berpisah sama Abang, Adel gak bisa lihat Abang sama yang lain"
Ilyas tersenyum. "Bos lele bucinnya gak ketulungan. Ya sudah, kalau gitu, kita persiapkan mulai sekarang. Karena kita juga harus nikah batalyon dek"
"Iya"
Akhirnya mereka berbaikan. Menemukan solusi untuk permasalahan mereka. "Kenapa tiba-tiba siap untuk nikah?" tanya Ilyas.
"Karena..... karena Adel gak sanggup kalau kamu nantinya meninggalkan Adel dan bersanding dengan yang lain" Ilyas tersenyum bahagia.
"Katanya sama Bang Imam, mana?" tanya Adel mengalihkan pembicaraan.
"Biasa, lihat lele. Eh, Abang mau tanya, itu nama kak Aylin lengkapnya siapa?"
Adel mengerutkan keningnya. "Kenapa memang?"
"Imam nanya kemarin"
__ADS_1
"Aylin Ayu Wicaksana" jawab Adel. Ilyas hanya mengangguk.
"Sudah makan dek?" Adel menggeleng. "Mau makan apa?" tanya Ilyas lagi.
"Abang pengennya apa?"
Ilyas membuka aplikasi. "Nasi mawut saja lah"
"Terserah"
Imam menyusul mereka. "Woi!" katanya.
"Apa??" jawab Ilyas. "Berduaan nanti yang ketiga setan lho"
"Lu setannya, kan barusan lu yang jadi orang ketiga" Adel hanya tersenyum.
"Bang, gimana? Mau gak aku kenalkan sama kembaran aku?"
Imam hanya tersenyum. "Nanti lah" katanya. Ilyas keluar dan mengambil makanan yang telah sampai.
"Asek, makan gratis lagi" kata Imam. Ilyas hanya geleng kepala.
Ilyas membuka satu porsi. Lalu mulai menyuapkan pada Adel. Imam hanya menghela nafasnya. "Pamer kemesraan lagi, padahal tadi pagi bilang marahan"
Adel dan Ilyas tertawa mendengarnya. "Ya kan salahmu sendiri, makanya cari pasangan hidup! Gak semua cewek itu matre!"
"Iya bawel lu lama-lama, ngelebihin emak!" balas Imam. Selesai menyuapi Adel, Ilyas gantian makan. Imam merasa perutnya mulas.
"Kebiasaan! Habis makan pup!" kata Ilyas. Adel memberitahukan letak kamar mandi umum.
"Sebelah kanan setelah musholla bang" kata Adel. Imam mengangguk. Ia segera menuju kamar mandi. Adel membereskan berkas-berkas kantornya. Ilyas bermain ponsel.
"Bang, sabtu depan dapat IB gak? Kami mau ke Demak, ke rumah bang Archee" Ilyas tak menjawabnya.
"Abang!" bentak Adel. Membuat Ilyas terjengkit kaget. "Apa sih dek? Bikin kaget aja sih?"
"Penting hapenya apa penting Adel??" tanyanya dengan nada ketus.
"Ya penting gamenya dong, eh.... bercanda sayang.... hahahah. Apa sih? Kenapa?" tanya Ilyas mendekati Adel.
"Besok minggu depan kami mau ke Demak, nengokin bang Archee dan Kak Humai. Abang dapat IB gak? Mau ikut gak?" Adel mengulangi pertanyaannya.
Ilyas mengambil kalender yang ada di meja Adel. "Abang dapat IB nya hari minggunya dek, sabtunya masih kena jaga. Palingan, sabtu sore udah selesai sih. Oke, Abang ikut. Abang ajak Imam ya? Biar bisa kenalan sama kak Aylin"
Adel mengangguk. Adel selesai menyusun berkasnya. Ilyas duduk di kursi Adel. "Enak gak dek jadi bos?" Adel mengangguk dan menggeleng.
"Piye sih?" protes Ilyas. "Ya ada enaknya ada gak enaknya. Kerjaan kan begitu semua abang"
"Iya juga sih" Jawab Ilyas. Tiba-tiba saja pintu ruangan Adel terbuka dengan keras. Imam berdiri disana dengan berkucur darah di area dagunya.
__ADS_1
Ilyas dan Adel sampai berlari mendekatinya. "Astaghfirullahal 'adzim" ucap keduanya.
"Bang Imam kenapa?"
"Bawa gua ke rumah sakit Yas! Buruan! Dagu gua sobek!"
Ilyas mengangguk. "Dek, Abang bawa Imam ke rumah sakit dulu"
"Eeee, lebih dekat ke Klinik Bersama, kakak ada disana seharian. Belum pulang. Nungguin Adel. Bawa kesana aja" Ilyas mengangguk. Mereka menggunakan mobil masing-masing menuju Klinik Bersama.
Adel mengirim pesan pada Aylin.
Me : Kak, tolongin temannya bang Yas, dagunya sobek
Kak Aylin : Bawa ke klinik aja, kakak siapin alatnya
Me : Meluncur
Mereka mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Imam meringis menahan sakit. "Ceroboh banget sih lu Mam!"
"Namanya musibah Yas! Kesandung kaki gua sendiri itu tadi ceritanya, kena ujung pintu, eh sobek"
Ilyas mencoba membayangkan posisi jatuhnya Ilyas. "Udah sempet Pup?" tanyanya konyol.
"Ck, belum lah, orang itu tadi aku baru mau masuk, buka pintu aja belum penuh. Eh, udah jatuh aja"
"Nah ini lu meringis gara-gara sakit, atau nahan pup?" tanya Ilyas bercanda.
"Sakit monyet! Udah gak kebelet pup lagi!" Ilyas tertawa. Mereka sampai di klinik.
Adel turun terlebih dahulu. Aylin menghampirinya. Ilyas memapah Imam. "Yang sakit dagu gua Yas, ngapain dipapah??"
"O iya lupa, gua kira kaki lu yang ilang. Hahaha"
"Mana dek?" tanya Aylin. Ilyas yang baru sampai menunjuk Imam.
Deg deg deg deg deg deg deg deg
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip