
Pak penghulu datang. Damar bersiap. Waktu sudah menunjukkan jam 9 lewat 5 menit. Penghulu dan Modin memulai acara ijab qobul itu. Para saksi telah siap. Papah Duta tersenyum bahagia menyambut Damar duduk di hadapannya.
Setelah dirasa siap, penghulu menyuruh Damar untuk meminta restu kepada Papahnya terlebih dahulu. Tangannya seketika menjadi dingin. Ada segelintir buliran-buliran keringat yang muncul di dahinya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Membuat perutnya ingin mual. Tapi ia menahannya. Menstabilkan keadaan dirinya Setelah itu ia berjabat tangan dengan Papah Duta.
"Bismillahirrahmanirrahim. Damar Assegaf, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, dengan putri saya yang bernama Amaris Ayu Wicaksana binti Duta Wicaksana dengan mas kawin seperangkat alat sholat, sebuah mobil, dan uang tunai sepuluh juta rupiah dibayar tunai!"
Damar mengambil nafas. Bersiap untuk mengucapkan ijab. "Allahumma janibnasyaithana wa........" Semua yang mendengarnya tertawa. Bukan ijab qabul yang Damar lantunkan, melainkan niat atau do'a bersetubuh.
Sigit, Ali, Hamka yang berada di belakangnya langsung menayar kepalanya. Bima sampai terpingkal-pingkal dibuatnya. Papah Duta pun tak kuasa dengan ulah calon mantunya itu. "Wes ora sabar opo kepiye Mas Damar?? Ngasi salah olehe jawabi Papah (Sudah tidak sabar atau bagaimana Mas Damar?? Sampai salah memberi jawaban Papah)"
Pak penghulu mengendalikan keadaan. "Atur nafas dulu. Baca istighfar dulu" kata penghulu itu. Damar diberikan minum untuk Sigit. Lalu mengatur nafasnya.
"Lu gimana sih Bang? Malu-maluin di depan Kapolda" protes Ali. Hamka menunjuk dirinya dengan rasa heran.
"Kan kita udah bilang, tes dulu dia waktu mau ijab Bang. Jangan sampai malu-maluin depan Kapolda" imbuh Sigit.
"Orang dia juga kalau disuruh nyoba bilangnya sudah khatam" Ketiganya riuh sendiri di belakang tubuh Damar. Membuat penghulu sedikit geram dengan ulah mereka.
"Ini acara ijab qabul! Kalau mau ribut jangan disini! Sana di luar!" gertak penghulu itu. Sigit, Ali, dan Hamka menjadi malu. Lainnya menahan tawa karena mereka dimarahi persis seperti anak SD.
Damar sudah agak tenang. Ia kembali menjabat tangan Papah Duta. "Sudah? Sudah tenang?" Damar mengangguk.
Papah Duta mengucapkan kembali ijab qabul. Damar menarik nafasnya dalam. Lalu membaca basmalah. "Bismillahirrahmanirrahim..... Saya terima nikah dan kawinnya Amaris Ayu Wicaksana binti Duta Wicaksana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Gimana saksi??"
"SAH!!" ucap semuanya. Amaris dijemput sendiri oleh Papah Duta. Berjalan menuju kamar Amaris yang terletak di lantai dua. Hati Papah Duta bergemuruh. Membuka pintu kamar. Tersenyum hingga meneteskan air mata melihat Amaris.
Ia segera menghapus air mata itu. "Cantik sekali anak Papah..... Barakallah nak! Kamu resmi menjadi istri Damar Assegaf. Ayo turun dan temui suamimu"
Amaris memeluk Papah Duta. "Terima kasih telah menjadi wali nikah untuk Maris"
"Awas mewek awas luntur!" ucap Adel. "Bawel ih!" sahut Maris. Lalu mereka tertawa.
__ADS_1
Archee menyusul Papah Duta karena Amaris harus segera menandatangani buku nikah. Archee dan Papah Duta menggandeng Amaris. Aylin, Adel, dan Humai mengiringi langkah mereka menuruni anak tangga.
Damar berdiri menyambut istrinya. Ia menangis haru. Rindunya telah sampai pada pemiliknya. Amaris tersenyum menatap suaminya. Ia menyalami mertuanya. Sampai di depan Damar.
Amaris menyodorkan tangannya menyalami Damar. Semuanya mengabadikan momen itu. Damar meletakkan satu tangannya di atas kepala Amaris. Lalu mencium keningnya dengan sangat lama.
Mereka berdua sama-sama tersenyum. Duduk kembali dan melakukan penandatanganan buku nikah. Damar membacakan hak dan kewajibannya sebagai suami. Penghulu dan Modin berpesan untuk menjaga rumah tangga mereka dengan baik dan penuh kerukunan. Lalu setelahnya pamit.
Acara akad pun selesai dilaksanakan. Mereka bersiap berganti baju untuk acara resepsi. Geng somplak juga bersiap karena mereka termasuk dalam pasukan pedang pora.
Seno mencuri-curi pandang ke arah Aylin. Yang mana Suci masih bisa melihatnya. Sontak hal itu membuat pertikaian kecil diantara mereka. Imam dan Aylin sengaja memamerkan kebersamaan mereka di depan pasangan itu.
"Tuh kamu dilirik lagi sama mantanmu. Ini kayaknya mantan kamu psikopat deh Ay" kata Imam. Aylin tertawa mendengar hal itu.
"Kamu cemburu ya?"
"Siapa? Mas?" Aylin mengangguk. "Ooo.... tentu tidak! Tidak salah!" Aylin kembali tertawa. Imam tersenyum senang melihat calon persitnya tertawa lepas begitu. Adel duduk bersama mereka.
"Ngapain disini?? Ganggu aja sih!" kata Imam tak terima. Adel memasang wajah cemberutnya. Ia bersandar di bahu Aylin. "Ih si Adek kenapa sih??" tanya Aylin.
"Mas ih! Dia lagi sedih tauuuu......"
"Ya gimana dong?? Kan kami ini bukan hanya milik kalian, kami ini milik negara sayang"
Kedua perempuan itu mendengus kesal mendengarnya. Acara pedang pora mulai digelar. Semuanya terkesima dengan kecantikan dan ketampanan mempelai.
"Sumpah! Maris cantik banget!" puji Aylin dan Adel bersamaan.
Selesai pedang pora, geng somplak bersama para istri dan anak mereka menyalami Damar dan Amaris. Mereka membawa kado masing-masing. Sigit membawa jemuran baju dan hanger, Ali membawa bantal dan guling, Hamka membawa teflon dan sutil, Bima membawa indomie 3 dus, Danang membawa 2 dus aqua, dan Habib beberapa paket quota dan sarung, dan Hilal membawa sapu sawang dan juga kemoceng (apalah namanya lupa othor).
Kado itu tentu saja mengundang gelak tawa dari semua orang. "Mereka memang gila, hahahaha" komentar Zafran.
Kado itu diletakkan di depan pelaminan. Damar berkacak pinggang dengan tingkah seniornya itu. "Apaan nih bawa jemuran segala? Gua sudah punya!"
__ADS_1
Bima berdecak. "Lu gimana sih Dam? Masih untung lho kita nyumbang. Nih, nanti malam kalau lapar makan mie sama minumnya air mineral, nah dimasaknya sama teflon dan sutil, kalau bosen sudah disediakan paket kuota. Cari dah referensi yang bisa bikin hasek-hasek"
"Kalau dingin pakai sarung dong buat selimutan, paginya pasti beberes rumah pakai kemoceng, atap rumah juga jangan lupa dibersihin. Jemur pakaiannya pakai hanger dan ditaruh di jemuran!" timpal Hilal yang sudah mulai ketularan somplaknya dari mereka.
"Mbuh lah karepmu!" kata Damar pasrah. Amaris hanya tertawa melihat perdebatan kecil mereka. Saatnya berfoto bersama. Para krucil tak mau berfoto dengan Damar.
"Aaliz gak mau kalau potonya ada Om Damal" kata Aariz kepada Maris. Dasarnya Maris sayang sekali dengan anak kecil, ia menjadi tak tega menolak keinginan krucil itu. Akhirnya Damar mengalah. Sigit, Ali dan Danang siap mengambil foto. Mengarahkan gaya untuk anak mereka masing-masing.
"Riz, tangannya bentuk huruf V letakkan di dagu kayak Ayah gini" instruksi Ali.
"Zia, kakinya disilangkan nduk, dagunya dinaikkan dikit" Sigit pun memerintah putrinya.
Danang tak mau kalah, "Im, duduk di samping Zia, kakinya dibuka dikit nak, tangannya disatukan. Nah gitu. Ih.... pada pinter!"
Damar sengaja berjalan di depan kamera. Hingga dirinya diteriaki oleh krucil itu. "Minggil Om!" gertak Zia.
"Mak! Galaknya!" Akhirnya para krucil puas berfoto dengan Maris. "Ayo foto sama om" kata Damar.
"Gak! Nanti hasilnya luntul cemua om" kata mereka bertiga. Sontak mendapatkan kekehan dari geng somplak.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
hari ini 1 aja, karena othor suibuk