
Zoya memegang kepalanya sambil tersenyum. Jantungnya berdegup cepat akibat ulah Zafran. Seseorang mengetuk kaca mobilnya. Ia tersadar dan menoleh.
Ia menurunkan kaca mobilnya. "Ih, kok kamu lagi?" tanyanya pada orang itu. Siapa lagi jika bukan Zafran. Zafran tersenyum menyengir. "Aku lupa jalan baliknya ke rumah Archee lewat mana"
"Ha?" tanya Zoya bingung. "Bisa minta tolong lagi? Antarkan aku ke rumahnya?" pinta Zafran. Zoya mengangguk. Zafran membuka pintu mobil Zoya.
"Ih, duduk sebelah sana" kata Zoya. Zafran menggeleng. "Kamu yang geser kesana. Biar aku yang setirin"
"Katanya lupa jalan, malah mau nyetirin!" Zoya berpindah dari kursi kemudi ke kursi penumpang. "Ya kan nanti kamu bisa ngasih petunjuk jalannya bu camat. Tapi, pinjam mobilnya bentar ya? Target aku barusan keluar dari sarangnya"
"Ha?"
Zafran hanya menyengir. Ia menghubungi seseorang. "Bantuin nangkep mangsa gua! Telponin Kang Cilok Demak, minta bantuan pasukan sama dia. Okay gua share lock"
"Ih, kita mau ngapain?" tanya Zoya ketakutan. "Pasang sabuknya yang benar sayang, kita mau main kejar-kejaran bentar ya.... Percaya sama aku"
Zoya menggeleng. Ia ingin turun tapi terlambat. Zafran sudah menginjak gas dengan kecepatan tinggi. Memotong jalur lalu melakukan pengejaran. Zafran melirik ekspresi wajah Zoya yang menutup mata karena takut. Dan ia senang melihat wajah itu. Ia tertawa.
"Takut ya? Beginilah pekerjaanku. Hmmm..... pasti habis ini kamu gak bakalan mau deh menghubungiku. Pasrah saja lah aku" katanya. Zoya tak menjawab ucapan Zafran. Ia sedang sibuk berkomat kamit membaca doa.
Damar dan Hamka sudah menyusul menggunakan mobil Imam. Beberapa mobil halus pun ikut dalam pengejaran itu. Zafran menerima panggilan lagi. Dari rekanannya. "Oke, 86!" jawabnya. Ia fokus mengejar mobil di depannya. Hingga akhirnya mereka terjebak di kemacetan. Zafran masih mengawasi mobil itu dan tak bisa kemana-mana.
Para intel itu sepakat untuk mengepungnya dalam kemacetan itu. Zafran menepikan mobilnya di salah satu swalayan. Lalu ia turun meninggalkan Zoya. Target mereka tak kalah cerdik. Ia juga turun dari mobilnya dan berlari.
Terjadi aksi kejar-kejaran. Para intel itu tak bisa menggunakan senjata mereka dalam keadaan seperti itu. Zafran berhenti dan mengambil beberapa kerikil. "Kalau tepat pasti jatuh!" katanya.
Ia melempar beberapa kerikil dengan cepat ke bagian kaki target mereka. "Yes!" target mereka tersungkur dan jatuh ke depan. Hampir terlindas oleh ban mobil.
Kang Cilok Demak dan anak buahnya berhasil membekuk target mereka. Menggiringnya ke mobil. "Bawa ke Polres" Zafran menyuruh rekanannya. Ia segera kembali ke mobil dan mendapati Zoya tengah muntah.
"Are you okay?" Zoya menggeleng. "Gara-gara kamu nih!" umpat Zoya.
Zafran membantu memijat tengkuk Zoya. "Aku belikan obat mual dulu ya?" Zoya mengangguk. Zafran segera masuk ke swalayan dan mencari obat untuk mabuk. Lalu segera kembali ke mobil.
"Minum dulu nih" Zoya meminumnya tanpa membantah. Zafran kembali mengemudikan mobilnya. "Pelan aja bawa mobilnya" pinta Zoya.
"Iya. Udah selesai kok kejar-kejarannya. Ikut ke Polres bentar ya?"
"Up to you lah!" kata Zoya pasrah. Zafran tertawa mendengarnya. Mereka telah sampai di polres. "Mau ikut turun?" tanya Zafran. Zoya menggeleng.
__ADS_1
"Oke, tungguin ya, jangan ditinggal pulang" pesan Zafran.
"Bawel ih!" balas Zoya. Zafran segera masuk ke dalam Polres untuk menyelesaikan tugasnya.
Zoya merenung di dalam mobil. Merenungi tentang Zafran. "Terima apa gak ya? Duh, jadi bingung. Kalau terima, apa aku siap dengan pekerjaan dia yang penuh resiko seperti itu? Tapi kalau aku tolak? Aku rugi karena ciuman pertamaku hilang, ganteng sih, tapi penuh resiko. Duh Ya Allah..... piye iki? Kenapa bukan Archee aja sih jodohku? Kenapa malah sepupunya? Astaghfirullah.... Sadar Zoy, sadar kamu! Archee sudah jadi milik Humai. Huft....."
Hampir 1 jam Zoya menunggu di dalam mobil. Damar dan Hamka kembali ke rumah Archee terlebih dulu. Zafran kembali ke mobil Zoya. "Maaf ya lama" kata Zafran.
"Gak papa. Sudah selesai?" Zafran mengangguk. "Masih mual gak?" Zoya menggeleng.
"Aku antarkan pulang deh, rumah kami dimana?"
"Terus nanti kamu pulangnya gimana?" tanya Zoya. "Gampang, minta jemput sama mas Agil kan bisa"
"Terserah kamu lah" jawab Zoya pasrah. "Jadi, alamat rumah kamu dimana bu?"
"Ba bu ba bu! Kamu pikir aku ibumu apa?" Zafran tertawa mendengar ucapan judas Zoya. "Ya panggilnya apa dong?"
"Terserah" jawab Zoya.
"Oke. Kalau gitu aku panggil sayang"
"Iya" jawab Zafran terus terang. Membuat Zoya salah tingkah dan merona merah. "Hahaha, malu ya? Jadi? Mau dong jadi teman dekatku? Gak cuma temab dekat. Teman hidup. Mau?"
Seketika tubuh Zoya bergejolak. Butiran keringat kecil muncul di dahinya. "Kok diam? Jawab dong sayang"
"Kamu kerja dimana?" tanya Zoya. Zafran tersenyum.
"Janji jangan kasih tahu ke orang-orang ya?" Zoya mengangguk. "Jakarta"
"Jauhnya... Terus kalau jawaban aku mau gimana? Aku bukan tipe orang yang bisa LDR an" tutur Zoya jujur.
Zafran bersidekap dan tersenyum. "Aku yang pindah kesini"
"Memang itu mudah?"
"Gak tahu, tapi sepertinya sih mudah. Oke, kekhawatiran kamu yang pertama terselesaikan. Ada yang masih kamu khawatirkan?"
Zoya mencoba mencari pertanyaan. "Pekerjaanmu nakutin, gak bisa cari pekerjaan yang lebih santai gitu?" Zafran kembali tersenyum.
__ADS_1
"Kamu ingin aku keluar dari duniaku?" tanya Zafran. Zoya mengangguk. "Maaf, kalau untuk yang satu ini, aku tidak bisa"
Zoya menghela nafasnya. "Jadi?" tanya Zafran. "Kan tenggat waktunya sampai besok siang" jawab Zoya.
"Kasih jawaban sekarang aja sih" Zoya menggeleng. "Biar kamu penasaran"
"Hahahah, oke, tapi kenapa hatiku yakin ya?" goda Zafran. Membuat Zoya kembali merona. "Ih malu ih" godanya lagi.
"Hish! Buruan pulang!" Zafran mulai melajukan mobil. Zoya memberikan arahan jalan pulang ke rumahnya. "Kamu asli Demak?" tanya Zafran. Zoya mengangguk.
"Orang tua masih lengkap?"
"Masih"
"Anak nomor berapa?"
"Tunggal"
"Oooo..... kamu habis muntah gak laper lagi sayang?"
"Hish! Bisa gak manggilnya jangan begitu? Kita ini belum resmi"
Zafran tersenyum mendengarnya. "Belum resmi artinya bakalan jadi resmi dong ya? Aku suka manggil kamu sayang. Tolong panggil aku dengan sebutan yang kamu suka"
"Ha?"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1