
Pagi menjelang, Archee izin tak masuk kerja karena menunggui Humai yang sedang dirawat di rumah sakit. Archee meminta Agil untuk merahasiakan berita tersebut agar tak bocor kemana-mana. Ia ingin istrinya bisa benar-benar beristirahat dan segera pulih.
"Abang kenapa malah izin? Berangkat saja gak papa bang" Archee menggeleng.
"Abang akan temani kamu. Oh iya, Bunda bakalan nemenin kamu beberapa hari"
"Lhoh, kok Bunda bisa tahu sih Bang??" Humai sedikit kesal. Ia tak ingin merepotkan siapapun. Meskipun itu orang tuanya sendiri.
"Abang yang ngasih tahu Bunda dan keluarga kita di Magelang"
"Ck, kenapa malah dikasih tahu sih???"
"Lhoh, kok malah marah sih yank? Ya kan pikirnya Abang, mereka berhak tahu keadaan kamu"
"Humai itu gak mau merepotkan orang lain! Humai inginnya, kita bisa mengatasi masalah ini berdua! Tanpa ada bantuan dari keluarga Bang, Humai gak ingin membuat mereka repot dan cemas akan keadaan Humai!" Tuturnya kesal karena sikap Archee yang mengambil keputusan tanpa meminta pendapatnya.
Archee menggaruk kepalanya. Bingung apa yang harus dilakukannya. Di satu sisi, mertuanya ingin merawat dan menjaga anaknya. Di sisi lain, istrinya tak ingin membuat keluarganya repot.
Humai memasang wajah cemberut. Ia bersidekap dan memandang kesal Archee. "Ya terus Abang harus gimana? Gini lho sayang, Abang, memberitahukan kepada keluarga kita biar kamu itu ada yang menjaga saat Abang tinggal kerja. Kan kamu belum bisa ngurus diri kamu sendiri sayang"
Humai hanya diam tak menyahut argumen Archee. Perawat dan dokter Rini masuk ke ruangan. Menyapa dengan salam dan senyuman. "Kenapa nih bumil? Pagi-pagi kok sudah cemberut saja? Cek dulu keadaannya ya?"
Humai menyimpan rasa kesalnya. Ia memaksakan senyumnya kepada dokter Rini dan perawat yang ramah kepadanya. "Iya silahkan dok" Humai mempersilahkan dirinya untuk diperiksa.
Dokter Rini dibantu dengan perawat mengecek perdarahan. "Masih keluar sedikit ya? Tapi gak papa kok, gak usah khawatir. Pokoknya yakin. Selalu isi pikiran kita dengan hal-hal positif aja. Oke bu Camat?"
Humai tersenyum dan mengangguk. "Makasih dokter"
"Sama-sama. Nanti kalau butuh apa-apa bisa hubungi perawat"
Archee mengangguk. Dokter Rini dan perawat pun pamit. Humai kembali diam. Archee menghela nafasnya, mencoba mendwkati istrinya dan membujuknya. "Abang minta maaf tidak melibatkanmu dalam mengambil keputusan semalam. Abang tahu Abang salah, Abang tahu kamu ingin mandiri. Tapi, keadaannya sedang tidak memungkinkan untuk kamu mandiri sayang. Jangan egois, ingat, di dalah rahim kamu sedang ada yang harus kita pertahankan. Ada yang harus kita perjuangkan. Kalau kitanya saja gak kompak, bagaimana dengan ia nantinya?
Please maafin Abang, sekali ini...... aja. Biarkan orang tua kita, ikut merawatmu. Abang juga tidak mau kamu sampai kecapekan dan malah membuatmu memperburuk keadaan. Jadi, tolong, mengertilah alasan Abang mengapa Abang melakukan hal itu sayang"
Humai mencerna setiap ucapan Archee. Ia mengangguk. "Humai juga minta maaf karena sudah marah sama Abang. Aslinya, kalau kita berdua yang menyelesaikan masalah ini bisa kok bang. Kan Humai masih dirawat di RS, jadi, gak papa kalau Abang tinggal kerja. Ada perawat dan bidan yang siap siaga menjaga dan membantu Humai. Tapi, ya sudah lah, Humai tidak enak saja sama orang tua kita, mereka itu sudah saatnya istirahat dari aktivitas mereka. Ini malah kita bebankan orang sakit keoada mereka"
Archee tersenyum. "Mereka akan senang hati merawat kamu dan calon cucu mereka Mai. Mereka tidak merasa dibebani. Justru mereka ingin menghujanimu dengan rasa sayang padamu"
"Iya"
__ADS_1
Seorang pegawai datang membawakan makanan untuk Humai. "Permisi pak, bu, saya dari bagian gizi, ingin memberikan makanan untuk Bu Humaira"
Archee dan Humai mengangguk. "Makasih bu" jawab Archee. "Oh iya, ada pantangan makan tidak ya untuk istri saya?" tanya Archee.
Petugas gizi itu melihat daftar catatan yang dibawanya. "Saya kurang tahu pak, apakah ibu Humai ada pantangan atau tidak. Tapi di catatan saya, menunya seperti orang sehat. Coba tanya ke perawat saja"
"Oh, terima kasih" ucap Archee.
"Sama-sama. Saya permisi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Archee mengambil makanan itu. Humai melihatnya saja sudah tidak berselera. "Humai gak mau makan itu ah, gak enak" katanya.
"Terus maunya makan apa?" tanya Archee.
"Mmm, bubur ayam"
"Abang tanyakan dulu sama perawatnya ya? Boleh atau tidak" Humai mengangguk. Archee segera menanyakannya.
"Boleh pak. Bu Humai tidak ada pantangan makan, makanannya seperti orang biasa normal"
"Nggih pak monggo" Archee bergegas mencari bubur ayam di sekitaran pecinan. Biasanya memanh disitulah jajanan ramai digelar waktu pagi.
.
Sedang di Magelang, semuanya menjadi heboh. Aylin, Adel, dan Amaris melalukan video call grup kepada Humai.
"Assalamualaikum, kakak ipar" sapa mereka semua. Humai tersenyum. "Waalaikun salam, tumben pagi-pagi kompak video call?"
"Kakak gak papa?" tanya Amaris.
"Gak papa, Abang kalian aja yang lebay. Jadi heboh kan?"
"Masih perdarahan kak?" tanya Aylin. Humai mengangguk. Adel meringis-ringis. "Kenapa bisa sampai perdarahan sih?" tanya Adel.
"Jadi ceritanya, aku tuh lupa kalau udah terlambat mens, nah, semalam tuh.... Abang.... minta jatah lebih" tutur Humai malu-malu.
Aylin dan Amaris langsung paham. Berbeda dengan Adel. "Jatah? Jatah apaan sih? Uang jajan gitu maksudnya?"
__ADS_1
Aylin dan Amaris tertawa. "Lu kira Abang kita anak SD yang kalau uang jajannya kurang minta tambah?" sanggah Amaris.
"Ya apaan dong?" Aylin membisikkan seauatu ke telinga Adel.
"Ih, dasar si Archee! Awas aja kalau sampai calon ponakanku kenapa-napa! Beneran aku bawain obat tidur, biar gak rewel minta itu melulu. Biar tidur terus!" Semuanya tertawa dengan penuturan Adel.
Archee kembali. "Siapa?"
"A squad" jawab Humai. Adel langsung memaki Abangnya. "Dasar! Tahan bentar napa sih? Minta dobel terus!"
Archee tertawa. "Ya gimana? Namanya orang pengen"
"Ya tahan lah!"
"Abang pasti disuruh puasa kan?" tanya Aylin. Archee mengangguk dengan wajah lesu dan sedih. Sontak mengundang tawa semuanya.
"Sudah, kalian kerja sana, Abang mau nyuaoin istri Abang"
"Cieeeee...... sekarang panggilannya beda ya?" goda semuanya. Membuat Humai merona malu. Mereka mengakhiri panggilan video itu.
Archee menyuapi istrinya. "Dikit-dikit bang!"
"Iya bawel ih"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Maaf baru up, baru sempet
__ADS_1