
Adel berpamitan bersama Ilyas dan tim sesi pre weddingnya. Menggunakan motor dari rumah menuju Sindoro. Adel senang sekali menikmati udara pagi yang menerpa kulit wajahnya karena helmnya dibuka. Dia tertawa kecil membuat Ilyas senang mendengarnya.
"Senang sekali Adek satu ini" Ilyas membuka percakapan diantara mereka.
Adel tersenyum mendengarnya. "Abang, sering-sering di rumah setelah kita nikah. Biar kita bisa traveling terus seperti ini"
"Abang kalau habis nikah sama kamu gak mau traveling jauh-jauh"
"Ya dekat saja Adek sudah senang kok"
"Iya, Abang sangat senang sekalii. Tempat liburan yang minim biaya, adanya cuma kenikmatan lagi"
Adel berpikir mencerna kata-kata Ilyas. Tempat liburan yang minim biaya alias murah? "Dimana tempatnya Bang?"
"Di kamar kita nantinya lah, naik gunung kembar kamu, turun ke hutan gundul ketemu lembah surga dunia. Hahahahahahaha" Ilyas tertawa puas mengucapkannya. Membuat Adel kesal dan langsung melayangkan cubitan mautnya ke perut Ilyas.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" Teriak Ilyas seperti Tarzan yang sedang bergelantungan sambil berteriak dengan suara khasnya. "Ngomong jorok sekali lagi, Adek pulang nih!"
"Hahahahah, kok jorok sih sayang?? Kan nanti memang kita bakalan begituan??"
"Begituan apanya?? Ih! Udah ah! Bahas yang lain!"
Ilyas menghentikan tawanya. "Mau membahas apa Dek?"
"Abang mau konsep nikahnya bagaimana?"
"Terserah"
"Abang mau langsung resepsi atau nanti satu hari setelah akad?"
"Terserah"
"Mau pakai adat atau internasional untuk resepsinya?"
"Terserah"
Adel memukul bahu Ilyas berulang-ulang. Keaal dengan jawaban lelaki itu. Hanya satu kata 'TERSERAH'. Membuat Adel bingung akan mengambil keputusan seperti apa.
"Mending Abang turunin Adek di pinggir jalan"
"Jangan dong! Nanti kalau diculik bagaimana?"
"Biarin! Terserah!" jawab Adel membuat Ilyas tertawa. "Balas dendaaaaammmm. Abang pengennya yang sederhana dan agak private untuk keluarga. Langsung resepsi saja, biar capeknya langsung sekalian. Pakai adat untuk akadnya, resepsi pakai internasional"
__ADS_1
Adel senang dengan jawaban Ilyas. Karena, jawaban Ilyas adalah seperti yang dipikirkan olehnya. Konsep sudah sama. Tinggal nanti eksekusinya.
Setelah melewati jalanan panjang itu. Mereka siap untuk mendaki gunung. Tim prewedding yang laki-laki sebagai pemimpin jalan. Perempuan berada di tengah. Dan Ilyas sebagai ekornya.
Mereka mulai mendaki. Sesekali berhenti untuk beristirahat dan minum. Adel yang baru pertama kali naik gunung, merasa letih. Ilyas mendampinginya.
"Jangan menyerah ya cantik, ada Abang disampingmu" Adel tersenyum dan mengalungkan tangannya ke lengan Ilyas. Sang juru kamera tak ingin melewatkan momen romantis itu. Langsung mengabadikan kejadian itu tanpa diketahui keduanya.
Mereka telah sampai di pos tujuan mereka.
Mendirikan tenda untuk nantinya ruang make up dan ganti baju. Sang fotografer melihat pasangan itu sedang bahu membahu mendirikan tenda. Lalu menjepretnya. Melakukan tugasnya untuk mencari sudut fotografi yang estetik.
Adel mulai di make up. Ilyas melihatnya dari kejauhan. Dia mengagumi kecantikan Adel. Sang kameramen mendekatinya. "Cinta banget ya Bang sama Mbak nya?"
Ilyas menoleh dan mengangguk. "Banget Mas"
"Beruntung Abangnya dapat Mbaknya, begitu pula sebaliknya. Dari bawah saja dia gak ngeluh untuk sampai disini"
"Alhamdulillah Mas, saya pernah hampir kehilangan dia"
"Iya kah?"
Ilyas mengangguk. Mengingat kembali kejadian 8 bulan lalu. Karena sama-sama egois dan dipenuhi amarah lalu keduanya mengambil keputusan yang salah.
"Gak bakalan bisa saya melihat dia bersanding dengan yang lain"
"Setahun lebih Mas, dan dia gak pernah berubah dari ketulusan hatinya. Dulu cuek, dan sekarang jadi bucin"
"Hebat Anda Bang, bisa membuat seorang yang cuek menjadi bucin"
Adel selesai didandani. Dia berganti baju yang sudah dipersiapkannya dari rumah. Gaun berwarna biru langit. Ilyas pun berganti dengan kemeja batik dominan warna putih itu.
Sesi pemotretan pun dimulai. Berbagai gaya diarahkan oleh juru kamera. Jepretan demi jepretan mereka lalui. Akhirnya sesi pemotretan pun selesai.
Malam menjelang. Hawa dingin mulai menyerang. Adel mengenakan parasutnya. Cukup menghangatkan badannya. Ilyas datang dengan membawakan secangkir susu hangat untuknya.
"Makasih"
"Sama-sama. Mau makan lagi gak Dek?" Adel menggeleng. "Takut nanti kalau pengen ik ok. Bingung tempatnya"
Ilyas tertawa mendengar alasan Adel. "Nanti gali tanah di bawah"
"Ih, gak ah! Ceboknya pakai apa??"
__ADS_1
"Pakai air lah"
"Emang ada air?"
"Air minum kitaaa"
Adel menggeleng. "Bang, indah ya langitnya"
Ilyas mengangguk sambil memandang hamparan bintang di atas. "Abang sudah punya satu yang paling indah, dan sekarang sedang ada di samping Abang, sambil merona karena digombali sama Abang"
Adel tertawa mendengarnya. Mereka saling tatap dan tertawa kembali. "Cobaan tiap orang tuh beda-beda ya Bang"
"Maksudnya?" tanya Ilyas tak paham kemana arah pembicaraan Adel.
"Bang Archee sama Humai, kisah cinta mereka terjalin karena do'a yang kuat dari Bang Archee. Dulu, Humai sama sekali tak menganggap Bang Archee, setelah berjuang meyakinkan hati Humai, barulah cinta itu muncul. Kak Aylin, diselingkuhi oleh mantannya, malah dia yang seperti selingkuhan, akhirnya bertemu dengan Mas Imam dengan cara yang hahaha, luar biasa tak terduga" Adel kembali menyeruput susu hangat itu. Lalu melanjutkan kembali pidatonya.
"Kak Maris, dari awal perjalanan cinta dia paling mulus diantara kami berempat dan cobaan malah datang saat mereka berumah tangga. Kita? Putus nyambung, terpisah jarak, nangis, marahan..... Adek hanya pengen seperti ini terus sama Abang. Selalu rukun. Tanpa ada pertengkaran karena orang lain alias orang ketiga"
Ilyas tersenyum. Menggenggam tangan Adel kemudian mengecupnya. "Posisi kamu ada disetiap inchi tubuh Abang. Hati, otak, jantung, paru, ginjal, kamu itu organ vital bagi Abang. Kalau kamu menghilang, maka dunia Abang akan hancur dan runtuh. Mempertahankanmu adalah tantangan bagi Abang. Dan Abang akan memenangkan tantangan itu. Jangan takut Abang akan bermain hati dengan wanita lain. Karena hal itu bisa membuat Abang mati sendiri"
"Terima kasih Abang" Adel menyandarkan kepalanya di bahu Ilyas. "Sama-sama. Kalau kamu manja begini sama Abang, pengem rasanya besok langsung pengajuan sama Komandan. Pengen cepet-cepet narik kamu ke kamar. Hahahaha"
"Selalu deh ngomongnya itu! Dasar cowok!"
Ilyas hanya tertawa menanggapi ucapan Adel. Membuat Adel juga ikut tertawa mendengarnya.
Dan ku t'lah jatuh cinta
Ku wanita dan engkau lelaki
Perasaan ku berkata
I'm fallin in love
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip