
Ada hati yang saling menahan rindu untuk saling bertemu. Ada rasa yang membuncah ingin segera bersama. Namun apa daya? Jarak dan waktu belum mengizinkan mereka untuk bersama.
Hubungan jarak jauh, menguji kesabaran dan kesetiaan dalam hubungan. Melewati hari sendirian. Itulah Amaris dan Damar. Satu hari bagaikan satu bulan bagi mereka.
Terkadang bertengkar karena sulitnya memberi kabar di tengah kesibukan. Tapi mereka mengingat kembali dan menyadarkan diri mereka lagi, bahwa ada tanggung jawab yang masih mereka emban.
"Halo, Assalamualaikum" jawab Maris menerima panggilan video itu. Damar menyengir di layar ponsel itu. "Waalaikum salam"
"Apa??" tanya Maris judas.
"Ih, galaknyaaaa...... Mas kan udah minta maaf sayang. Tinggal 3 hari lagi lho kita ketemu. Masa masih mau ngambek? Hmm?" Damar membujuk Maris agar mau memaafkannya.
Maris memeluk gulingnya dan menghela nafasnya. "Tahu gak salahnya Mamas dimana?"
"Iya, tahu. Mamas gak ngabarin kamu kemarin, sekalinya ngabarin cuma bilang lagi kerja"
"Besok masih mau diulangi lagi gak?" Damar menggeleng. "Sesibuk apapun kamu, tolong, kasih kabar ke aku. Aku tuh sangat khawatir kalau kamu ngilang. Apapun alasan kamu, kalau kamu beneran sayang ke aku, pasti ada waktumu untuk memberi kabar terhadapku"
Damar menggaruk-garuk keningnya. "Iya"
"Kamu sebenernya sayang gak sih Mas sama aku?"
Damar mengerutkan alisnya. "Mulai deh, merembet kemana-mana. Ya sayang lah Maris.... jangan ditanya, sayang banget malah"
Terlihat Hamka dan Sigit masuk ke asrama Damar. "Ngapain?" tanya Damar heran. "Assalamualaikum, eh ada mbak Maris" sapa Sigit.
Amaris tersenyum. "Waalaikum salam, mas Si bang Ham"
"Ngapain?" tanya Damar lagi. Hamka membuka box pizza itu. "Nih, kita nih tau lu belum makan, kita bawain!" jawab Hamka.
"Widiiihhhhh.... tumben royal! Pasti ada udang dibalik gajah nih!" sahut Damar. Amaris hanya memperhatikan tingkah para lelaki itu.
"Ck, orang tulus malah dikira modus! Yuk lah bang balik! Damar sekarang gitu" kata Sigit. Damar mencegahnya.
"Becanda! Ih kalian semenjak punya istri dan anak dikit-dikit baperan!" Amaris tertawa mendengarnya. "Yank, matiin dulu ya?"
"Eh, jangan.... biar begitu aja, Maris kangen berat tuh sama lu Dam!" cegah Hamka.
"Ya Allah..... Bang Hamka ternyata lebih peka ketimbang calon suami ku lho..... Bahagianya Shan dapat seperti bang Hamka" Maris sengaja memuji Hamka di depan Damar untuk membuatnya cemburu.
Damar hanya bisa menghela nafasnya. "Yank, Mamas makan ya? Kamu udah makan belum?" tanya Damar.
"Udah"
Mereka memakan pizza itu. "Dam, hubungan LDR tuh harus sering-sering ngabari" kata Sigit
"Tahu aku Bang Si"
"Tahu, tapi suka melakukan kesalahan, yaitu suka gak ngabari!" Sewot Maris. Sigit dan Hamka saling lirik.
"Lhoh, Damar gak ngabari kamu Ris? Kapan?" tanya Hamka menyelidik.
"Kemarin bang, ditelponin sampai ada 30 kali juga gak diangkat. Di WA gak dibalas" terang Maris.
"Ya Mamas kan udah bilang maaf yank"
"Owh, kemarin? Kemarin bukannya lu vidcall an sama cewek ya Dam? Gua kira itu Maris" jawab Hamka. Mata Damar langsung melotot.
__ADS_1
"Cewek? Siapa bang?" tanya Maris mulai terpancing. "Yank, jangan percaya omongan bang Hamka, gak, sumpah, Mamas kemarin lupa bawa hape Yank" Damar mulai panik takut jika Maris salah paham.
"Ih bohong, kemarin lu kan yang minjem ces hape gua? Bener Ris, dia vidcall an ama cewek. Aku ada buktinya lho. Nanti aku kirim ke kamu" kata Hamka sambil memainkan ponselnya.
"Ya Allah Dam, jangan bilang kamu selingkuh dari Maris. Ingat.... mau pengajuan juga" Sigit ikut mengompori.
"Sumpah, Wallahi Yank, Mas gak ngelakuin itu" kata Damar melihat ekspresi Maris yang menahan amarah. Hamka dan Sigit menahan tawanya.
"Kenapa kamu ketakutan kalau kamu gak nglakuin itu Mas?" tanya Maris membaca ekspresi wajah Damar yang ketakutan. "Takut ketahuan? Iya?" tanyanya lagi dengan suara bergetar.
"Ih, Bang! Bilang ke Maris dong kalau itu bohong. Ayolah.... kalian ini. Pizza ini mengandung racun untuk menghancurkanku" kata Damar.
"Ih, racun dia bilang. Dosa ngomong gitu di depan makanan halal" kata Sigit.
"Ya habisnya kalian begitu. Maris, jangan dengerin mereka. Sumpah Mamas gak pernah selingkuh"
"Hilih, ada Maris bilangnya gitu, kemarin aja mesranya minta ampun sama itu cewek. Sampai nanyain ukuran BeHa lagi"
Amaris melongo mendengarnya. Damar mengusap wajahnya kasar. "Huaaa..... aku pengen nangis aja..... senior kampret.... Sumpah yank, gak pernah Mas begitu"
"Mbuh karepmu! Batalin aja pernikahan kita! Assalamualaikum! Bang Hamka, kirim buktinya ke nomorku bang!"
"Oke siap Maris" Amaris memutuskan mengakhiri panggilan video itu. Sigit dan Hamka tertawa puas. Melihat Damar dan Maris bertengkar.
"Ih, kalian nih.... kalau beneran batal gimana?"
Damar merengek-rengek pada Hamka dan Sigit. Membuat mereka semakin terpingkal-pingkal. "Pangeran bucin kalah perang gaes" kata Sigit sambil mengambil foto Damar dan mengirimnya di grup.
Bima : Bahahahaha, kenapa anak itu?
Ali : Ha? Beneran? Kenapa lagi?
Danang : Lhoh kok iso?
Habib : Ada apa gerangan?
Muti : Beneran??? Kalian gak lagi ngeprank orang segrup kan?
Maris : Damar selingkuh!
Hana : 😧
Luna : Seorang Damar selingkuh?
Shanum : Beneran itu?? Ih kalian berduaa.... bang Ham, mas Si.... buruan ih dijawab!
Damar : ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Mbak Shan, mbak Muti, suami kalian nih penyebabnya.... dia ngompor2in Maris. Yank sumpah gak bener itu.
Shanum : Abang???
Hamka : Iya sayang??
Shanum : Abang tahu kan hukuman kalau sampai Abang bohong??
Hamka : ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Jangan sayang
Shanum : Ceritain yang sebenarnya
__ADS_1
"Ih, jangan cerita bang, biar rame dulu"
"Gundulmu Si! Aku puasa sebulan nanti.....huhuhu"
Hamka : Maris..... itu tadi cuma bohongan ya.... Damar memang kemarin lupa bawa hape
Damar : Tuh kan! Senior lucknut emang. Please Maris.... percaya sama Mamas....
Maris : Bang Hamka ngomong gini pasti kamu todongin pistol di kepalanya
Damar : Astaghfirullah.... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ gak yo. Sumpah
Muti : Mas Siiiiii
Sigit : Iya iya kita ngaku. Itu semua akal-akalannya kita berdua mbak Maris.
Muti : Dasar kalian nih ya! Jahil banget sih! Anak pak menteri lho itu
Damar : Tuh kan yank.... Mamas gak pernah bohong sama kamu
Hamka : Maris, maaf ya
Sigit : Maaf ya mbak Maris.... bercandanya kelewatan 😂😂😂
Maris : Iya dimaafin
Damar : Mamas juga kan?
Maris : 🙄
Damar : Sayang.....
Maris : Iya dimaafin. Awas kalau besok gak ngabari lagi.
Damar : makasih..... pasti ngabari yank
Damar mengusir dua senior pengganggu hidupnya. "Hmmm, sekarang aku tahu senjata untuk melumpuhkan kalian. Istri kalian. Hahahah"
"Njir.... seneng dia Si! Nih, kita kesini mau ngasih undangan pindah rumahnya si Ali dan Hana"
"Balik cepet bang, sebelum kita kena hukuman! Dua kali lho aku gagal ngerjain junior! Heran aku"
Damar tertawa. Seniornya pun langsung pulang.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1