Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 116


__ADS_3

Hilal merasa tubuhnya tak memiliki daya untuk berdiri. Dua dokter spesialis sedang berada di dalam ruangan IBS. Dokter orthopedi melihat ada sesuatu yang aneh pada Hilal.


"Lal, kamu kenal dengan pasien ini?" tanya Dokter Tirta, ahli bedah tulang. Hilal terdiam dan setelahnya mengangguk.


"Dia siapa?"


"Calon istriku" Semua yang berada di ruangan itu terkejut mendengar jawaban Hilal. Dokter Tirta sekarang tahu penyebab temannya seperti itu. Dia sedang kalut.


"Lal, reputasimu dipertaruhkan disini. Prinsip kamu jika dengan pasien lain, lakukan penyelamatan meskipun kecil kemungkinannya. Karena tangan kita memang digunakan untuk memperbaiki. Kamu ingat kata-katamu itu kan?"


Hilal mengangguk. "Jadi? Keluarkan semua kemampuanmu untuk menyelamatkannya. Semangat!"


"Semangat dokter Hilal!"


"Semangat dok!"


"Chayo dokter! Buat calon istrinya tersenyum lagi" Para perawat lainnya memberikan semangat bagi Hilal. Hilal tersenyum getir dan mengangguk.


"Terima kasih. Tolong bantu saya menolong calon istri saya"


Ada perdarahan di perut yang dialami oleh Azka. Kemungkinan besar diakibatkan dari benturan keras antara benda keras dengan tubuh Azka. Mereka bekerja sangat lama. Hampir dua jam. Dan Hilal berhasil menolong Azka.


Lampu ruang bedah telah padam. Dokter Tirta tersenyum bangga dengan juniornya. "Aku akan menjelaskan terlebih dahulu pada keluarga pasien. Antarkan dia sampai ICU"


Hilal mengangguk. Azka dipindahkan ke ruang ICU. banyak peralatan yang menempel padanya. Luka bakarnya sudah dililit perban. Hampir 40 persen tubuh Azka mengalami luka bakar. Ditambah dengan patah tulang betis kanan dan perdarahan perut.


Hilal melihatnya dan tersenyum. Mendekatinya dan duduk di samping ranjangnya. "Cepat bangun Sayang, maafkan Mas tidak bisa menjagamu. Sehingga kamu mengalami seperti ini. I love you Az"


Hana, Ali, Maryam, dan Habib menunggu Hilal di depan ruang ICU. Tak lama Hilal muncul. Ali dan Habib memeluknya secara bergantian. Air mata yang sedari tafi dibendungnya tumpah. "Coba tadi aku bawa Azka kesini, pasti dia tidak akan menyusulku sendirian dalam kondisi seperti ini"


"Tenang Lal, kamu harus kuat! Jangan sampai Azka merasakan kesedihan dari diri kamu. Kita sedang diuji. Untuk meningkatkan keimanan kita. Kamu harus sabar dan yakin atas ketetapan Allah. Allah adalah perancang skenario terbaik. Pasti akan ada akhir yang indah" Ali menasehati calon iparnya. Hilal mengangguk.


"Aku ingin sendiri dulu" katanya. Semuanya mengangguk. Hilal meninggalkan semuanya. Menuju atap rumah sakit. Menyendiri disana.


Aylin dan Imam datang. "Azka gimana?" tanya Imam. Habib menjelaskan semuanya.


"Sekarang Hilal dimana?" tanya Aylin.


Semuanya menggeleng. Aylin tahu persis dimana sahabatnya berada jika dalam kondisi terpuruk seperti ini. "Mas, boleh gak aku temani Hilal sebentar?" Aylin meminta izin pada suaminya.

__ADS_1


Imam mengangguk. "Ayo antarkan aku ke atap rumah sakit"


Imam mengangguk lagi. Lalu menuju atap rumah sakit. "Hapal benar kamu Ay??"


"Hish! Bukan waktunya cemburu sayang!"


"Hmmm.... Oke. Hari ini Mas gak akan cemburu pada Hilal. Mas tahu, dia butuh teman untuk meluapkan yang dirasakannya"


"Makasih sayang"


"Cium yang banyak nanti sebagai hadiahnya!"


"Nggih Mas Imam sayang, lebih pun silahkan!"


"Yes!! Ada hikmahnya juga! Hahaha"


Aylin tertawa karena tingkah suaminya. Mereka menaiki lift hingga bagian teratas rumah sakit. Benar dugaan Aylin. Hilal sedang menangis sendirian disana. Aylin melihat Imam.


Imam seakan tahu arti tatapan istrinya. "Iya, silahkan ditenangkan sahabatnya. No pelukan! kalau cuma sandaran..... ya oke lah!"


Aylin tersenyum dan mencium bibir Imam. "Makasih cinta"


Hilal menoleh. "Ay?"


"Iya, ini gue! Cengeng banget lu!"


Hilal menghapus air matanya. Menoleh ke belakang dan melihat Imam melambaikan tangan ke arah mereka. "Gue ikut prihatin atas kejadian yang menimpa Azka"


"Makasih Ay"


Mereka saling diam. Menatap langit yang begitu luas. "Ay, gue ini emang cowok brengsek ya??"


"Iya brengsek banget malah!" Mereka saling pandang dan tertawa. "Bodoh gue Ay! Harusnya gue anterin pulang dulu itu bocah! Harusnya gak gue tinggalin dia sendirian! Harusnya....."


"Harusnya lu lebih kuat untuk menguatkan dia nantinya!" potong Aylin. "Lu tahu gak sih Lal? Apa yang akan terjadi setelah ini? Azka butuh dikuatkan. Butuh lu yang selalu memberinya support! Patah kaki dan luka bakar. Dua hal yang cukup membuat jiea terhantam akan kenyataannya nanti"


Hilal mengangguk sambil tertunduk. "Gue gak tahu siap atau gak Ay"


"Harus siap! Gue gak mau Hilal yang selalu dibully kembali lagi dalam diri lu. Kalahkan rasa tidak percaya diri lu Lal! Lu itu bisa! Lu itu kuat! Lu itu mampu melewati semuanya!!"

__ADS_1


Hilal kembali menangis. Aylin menepuk pundaknya. "Gue udah dikasih izin kok sama Mas Imam. Gih! Mumpung orangnya lagi baik noh!"


Hilal menyandarkan kepalanya di bahu Aylin. Menangis dan meluapkan semua yang dia rasakan. Aylin memang paling bisa mengerti apa yang dirasakannya. Hampir 15 menit Hilal menangis hingga matanya merah dan bengkak.


Sedang di belakang. Imam menahan api cemburunya agar tak muncul ke permukaan. "Ini nih yang gak aku suka dari pertemanan cewek dan cowok! Haish!!" katanya


"Oke! Saatnya bangkit kawan! Azka butuh lu yang kuat! Jangan pernah nangis dihadapannya saat nanti dia sadar. Tunjukkan senyum terbaikmu. Support dia dan dirimu sendiri"


Hilal mengangguk. Mereka berdua bangkit dari duduknya. Menghampiri Imam. "Suami lu kemasukan malaikat apa bisa baik begitu??"


"Dasar! Terima kasih sono lu sama dia! Kalau dia tadi gak ngasih ijin lu bakalan gimana??"


Hilal tertawa mendengarnya. Aylin ikut tersenyum melihat hal itu. Hilal memeluk Imam. "Makasih ya Mas, sudah mengizinkan Aylin menemaniku sebentar"


"Sama-sama. Cuma ini pertama kali dan terakhir kalinya Lal! Gak ada lagi! Panas gue lihatnya! Sumpah!"


Mereka tertawa mendengar pernyataan Imam. Tentara bucin dan posesif. Aylin dan Imam pamit. Maryam pulang bersama Hana diantarkan Ali.


Sigit, Habib, dan Danang, menemani Hilal. Sigit mendekati Hilal yang masih menampakkan kesedihannya. "Dia wanita kuat! Kalau dibandingkan dengan Luna, Hana, atau Maryam, dia lah yang terkuat! Saran Mas, tersenyumlah segetir apapun kenyataannya. Karena Azka tidak suka melihat air mata menetes dari orang yang disayangnya"


Hilal mengangguk. "Aku akan coba Mas!"


"Istirahatlah. Biarkan kami yang menjaganya. Kembalilah dengan wajah yang sangat fresh ketika kesini"


Hilal menuruti keinginan Sigit. Ia memilih untuk tidur di ruangannya. Melupakan sejenak kejadian yang menimpa calon istrinya.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Tinggal beberapa chapter lagi, TAMAT. Othor harus semakin fokus sama ujian SKD CASN


__ADS_2