
Amaris mengantarkan Aylin ke bandara. Sungguh dirinya sedih karena harus berpisah dengan saudara kembarnya. Tapi, Aylin berhak memilih jalan hidupnya. Ia berhak bahagia. Dan ia tak ingin mengingat luka yang menggores hatinya terlalu dalam.
"Jaga diri baik-baik disini dek, kakak pamit ya?" Aylin sudah berkaca-kaca. Amaris mengangguk. Ia memeluk saudaranya itu.
"Kakak juga jaga diri disana. Aku bakalan kangen sama kakak, satu minggu lagi kita ketemu. Karena aku akan proses sidang pra nikah. Dan, mungkin sekalian resign"
Aylin mengangguk. "Kakak tunggu. Kakak check in dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam. Hati-hati kak" Aylin mengangguk. Lalu pergi masuk ke dalam bandara. Amaris menghela nafasnya.
"Sepi deh gak ada yang diajak berantem sampai jambak-jambakan" Amaris menghela nafasnya dan tersenyum. Kembali ke mobil dan menuju sekolahan.
Ia menghubungi Adel, karena nanti dirinya yang akan menjemput kakaknya di bandara. "Halo, Assalamualaikum"
Waalaikum salam, kak Aylin udah berangkat?
"Pesawatnya sih nanti jam 7 dek, kamu udah berangkat ke Jogja?"
Syudah dalam perjalanan, ehek
"Sama Ilyas?"
Gak, sendirian, dia kerja kerja kerja terus pokoknya. Gak libur pokoknya
Amaris tertawa. Ia juga pernah merasakan yang dirasakan Adel. "Sabar lah, mereka itu bukan hanya milik kita dan keluarganya, mereka juga milik negara! Jadi, kita ini harus berbagi cinta dan mengalah untuk negara"
Iya bawel ih, udah ya, kakak kapan pulang
"Seminggu lagi. Kenapa?"
Gak papa, mau ngajak main sekeluarga ke rumah Bang Archee. Hampir seminggu masa mereka belum ngapa-ngapain coba kak, mana bisa kita dapat ponakan kalau begitu caranya?
"Hahahaha, memang Humai belum jatuh cinta sama Abang? Perlu dipancing nih biar jadi bucin"
Itu dia maksudku, biar jadi bucin
"Kayak kamu kan? Hahahahah"
Emang kamu gak bucin sama Mas Damar? Tak bilangin ke dia tahu rasa kamu
"Hahaha, sudah ah, kakak sudah sampai sekolahan nih. Assalamualaikum"
Waalaikum salam
Amaris masuk ke dalam sekolahan. Ia berpapasan dengan Ircham. Muridnya yang selalu menggombalinya.
"Pagi guruku tersayang" sapa Ircham sambil cengar cengir
"Pagi"
"Ih, ibu hari ini canteeeekkkk banget. Hawanya dingin ya bu? Tapi kenapa kalau saya dekat ibu bawaannya hangat terus ya?"
"Saya bawa kompor" jawab Maris asal.
"Bukan bu, karena ibu itu bagaikan mentari yang selalu menghangatkan dunia dan seisinya"
__ADS_1
Amaris memutar bola matanya malas dan ingin muntah. "Cham, kumpulin PR dan tugas kelompok kalian di meja ibu"
Ircham berhenti berjalan. "Maaf bu, saya tiba-tiba mengalami vertigo. Haduh.... haduh.... haduh...."
Amaris tetap berjalan dengan tertawa. Karena Ircham takut dengan guru olahraga yang pernah memberinya pelajaran yang memalukan.
.
Adel sudah sampai di bandara Jogja. Ia menunggu kakaknya. Panggilan video masuk dari Ilyas. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam, dek lagi dimana?"
"Bandara"
"Singkat banget jawabnya sayang, nanti malam bisa ketemu gak? Kita makan di luar, tapi Abang belum bisa IB"
"Sibuk aja terus"
Ilyas tertawa. "Gemesin banget sih kalau lagi ngambek begini. Bisa gak sayang?"
"Jam berapa?"
"Jam 8 nan, selesai apel malam. Tunggu Abang di gerbang Batalyon"
"Iya"
"Bos leleku lagi ngambek. Oh iya dek, coba kamu tengok anak-anak kita sudah pada besar atau belum" Adel tertawa mendengarnya. Mereka berdua seperti orang aneh yang menganggap benih lele itu adalah anak mereka.
"Ye... malah ketawa"
"Bapaknya kan lagi kerja demi bahagiain bundanya" Mereka sama-sama tertawa. Tak lama Aylin menghampiri Adel.
"Assalamualaikum! Cie.... cie.... asik bener vidcall nya"
"Eh, Waalaikum salam. Kakak sudah nyampai aja sih? Sampai kaget akunya"
Ilyas menyapa calon iparnya. "Kak Aylin beneran patah hati apa gak sih? Kok ceria banget"
Aylin dan Adel tertawa. "Putus cinta sedih? Haduh, seneng iya. Karena aku berhasil buang barang bekas. Hahahha"
"Salut salut salut. Eh, kak, mau aku kenalin sama teman aku gak? Dia Danki regu A. Adel kenal kok sama orangnya"
"Siapa? Imam maksud kamu bang?" tanya Adel. Ilyas mengangguk. "Aku kalau pacaran sama abdi negara kok ngeri-ngeri sedap ya?" tutur Aylin.
Membuat Ilyas dan Adel tertawa. "Takut gitu kalau gak pulang. Lain kali aja deh. Aku mau fokus sama karir aku dulu"
"Ya sudah, kalau nanti sudah berubah pikiran, kasih tahu Ilyas, biar Ilyas kenalkan dengan Imam. Anaknya baik kok. Sopan, pekerja keras, tapi agak selengekan kalau sama cewek"
Aylin mengangguk. "Del, ayo balik. Kakak harus segera ke Puskesmas untuk wawancara sama KaPus"
Adel mengangguk. "Bang, Adek pulang dulu. Lanjut nanti lagi ya?"
"Iya. Hati-hati bawa mobilnya. I love you, bos lele. Pathil cintamu selalu terasa cenat cenut di hatiku" Aylin dan Adel tertawa.
"Dasar tentara bucin!" sahut Aylin. Akhirnya panggilan video pun berakhir. Adel dan Aylin segera pulang ke Magelang.
__ADS_1
Aylin dan Adel pulang ke Magelang. "Dek, kemarin papah bilang kalau aku dibuatin klinik, beneran?"
"Ck, bukan. Papah salah ngomong itu. Bukan dibuatin, tapi, kakak yang jadi pimpinan dari Klinik Bersama, karena Yohan ataupun Habib gak mau jadi pimpinan. Berat katanya"
Aylin melongo mendegarkan penjelasan Adel. "Ih, papah kok bilangnya gak gitu ke aku"
"Itu karena biar kakak mau. Wkwkwkw. Selamat jadi bos! Rasain yang Adel rasain selama ini. Mikir gaji karyawan, mikir ngelola ini itu, mikir harus nambah tenaga. Wkwkwk"
Aylin menjitak kepala Adel. "Seneng banget sih!"
"Iya lah! Kita senasib dokter cantik!"
.
Archee mengantarkan Humai untuk tes wawancara di rumah sakit. Ia sengaja membawa mobil agar istrinya tak kepanasan, ataupun kehujanan, karena cuaca sekarang tak bisa ditebak.
Archee memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. "Nanti kalau sudah selesai WA. Biar Abang jemput"
"Gak usah. Nanti aku bisa pulang naik ojek online kok" tolak Humai. Archee menghela nafasnya.
"Terserah kamu lah" ucap Archee kecewa. Humai menjadi tak enak hati. "Ya sudah, nanti jemput kalau aku sudah WA Abang. Mmmm.... bang..."
"Iya?"
"Semangat kerjanya, do'ain Humai wawancaranya lancar" Humai meraih tangan Archee dan mengecupnya. "Assalamualaikum"
Humai membuka pintu mobil dan melempar senyum ke arah Archee. Membuat Archee bagai melayang di awan. Degup jantungnya kembali berpacu tak beraturan.
"Abang akan selalu mendo'akanmu Mai, waalaikum salam" balas Archee meskipun Humai sudah turun dari mobil.
Ia segera menuju kantornya dengan perasaan gembira. Ia yakin jika Humai mulai mencintainya. "Meski bibir ini tak berkata bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda diantara kita.... Asek asek.... siapkah kau tuk jatuh cinta padaku Humai?"
Archee tersenyum sumringah. Sampai di kantor pun senyumnya mengembang sempurna. Agil sampai heran melihat atasannya begitu.
"Pak, nanti rapat...."
"Kosongkan jadwalku Gil, aku janji akan menjemput Humai nanti"
Agil mengangguk. "Nggih pak, sendiko dawuh"
Agil meninggalkan ruangan dan mendapatkan jawaban atas sikap aneh atasannya. "Pak Camat sudah jadi bucin ternyata. Hihihi"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1