Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 59


__ADS_3

Selepas kepergian Aylin dan Imam, Ilyas duduk di hadapan Adel yang sama sekali tak mempedulikannya. Ilyas membiarkannya. Ia memilih bermain ponsel. "Dek, lapar gak? Pesan makanan yuk" ajak Ilyas.


Adel memasang wajah serius di depan laptop tanpa menyahut Ilyas. "Dek!" Ilyas sedikit mengeraskan suaranya. Membuat Adel tersentak kaget.


"Bisa gak sih hargai kehadiran Abang disini?? Abang daritadi perhatiin kamu, tapi kamunya malah makin menjadi-jadi ya?? Ada orang disini! Abang bukan patung!"


Adel terdiam. Ia tahu dirinya salah. "Maaf Bang" jawabnya. Ilyas menghela nafasnya dan mengusap wajahbya kasar. "Bisa gak hargai kehadiran Abang disini?" tanya Ilyas melembut


"Kita ini jarang ketemu dek, kamu juga jarang nengokin Ibu dan Ayah. Bisa gak sih sedikit aja kamu luangkan waktu untuk hubungan kita?"


Adel mengangguk. "Maaf, laporannya harus segera selesai"


"Ck, ya udah lah, Abang pulang saja. Maaf ganggu kamu kerja" kata Ilyas sudah sangat kesal. Adel semakin merasa bersalah.


"Jangan marah dong sayang....." rengek Adel sambil bergelayut manja di lengan Ilyas. ilyas membuang muka ke sembarang arah.


"Abang marah bukan tak ada sebab dek, Abang marah karena adek udah keterlaluan. Cobalah luangkan sedikit waktumu untuk memikirkan hubungan kita. Ibu nanyain, kenapa kamu jarang ke rumah? kalaupun ke rumah pas ada Abang doang? Kamu itu juga perlu pendekatan dengan calon mertuamu. Abang gak nuntut banyak dari kamu. Abang hanya minta, luangkan waktumu sebentar untuk hubungan kita" tutur Ilyas panjang kali lebar.


Adel dan Ilyas sama-sama diam. "Udah lah dek, Abang pulang saja. Sepertinya percuma Abang disini kalau pikiran kamu masih di laporanmu" Ilyas beranjak dari duduknya. Adel mencegah dengan menarik tangannya.


"Jangan pulang.... Adek kangen sama Abang" kata Adel mencoba meluluhkan Ilyas. Adel berdiri dan berhadapan dengan Ilyas.


"Maafin Adek, Adek akan coba lebih perhatian ke hubungan kita. Tapi tolong, Abang juga ngertiin tanggungjawab yang Adek emban" pinta Adel.


Ilyas menarik nafasnya panjang. Mencoba menstabilkan emosinya. Akhirnya ia mengangguk. "Senyum dong" pinta Adel.


Ilyas tersenyum tipis. "Ih..... pelitnya. Senyum yang lebar kayak Adek begini dong Abang sayang...." Adel tersenyum menyengir menampakkan gingsulnya.


Ilyas menjadi tak tahan untuk tak tertawa. "Jangan nyengir begitu. Gigi gingsul itu hanya boleh dibuat senyum ke Abang! Paham?"


"Iya Om loreng, udah.... jangan ngambek lagi. Ayo pesan makan" Ilyas tersenyum dan mengangguk. Adel merapikan berkas laporannya. Ilyas memesan makanan via aplikasi online.


"Mau makan apa?" tanya Ilyas sambil mengutak utik ponselnya.


"Adek pengen dimsum"


Ilyas mengangguk. Ia mencari makanan pesanan Adel. "Adek simpan berkas sebentar ke kamar. Mau minum apa? Sampai lupa belum ditawari minum. Hehehe"


"Makanya jangan fokus mulu ke laptop. Es teh enak Dek kayaknya" Adel mengangguk.

__ADS_1


"Ya udah nanti sekalian Adek bikinkan" Adel segera ke atas menyimpan laporan dan juga laptopnya. Lalu segera turun, dan seperti biada dia terjatuh pada anak tangga terakhir.


Ilyas menertawainya. "Seneng!"


"Hahahah, kamu tuh sebenarnya berapa lama sih di rumah ini? Kok ya gak hapal-hapal jumlah anak tangganya. Nanti kalau kamu hamil kamarnya pindah bawah aja lah kalau pas nginap sini"


"Ha? Ih.... ngomongnya kejauhan!" Adel bergegas menuju dapur. Ilyas membuntutinya. "Kejauhan gimana? Semuanya akan terasa singkat sayang"


Adel mulai meracik pesanan Ilyas. "Besok kamu ikut kan ke Demak?" tanya Adel. Ilyas mengangguk.


"Kalau Abang gak ikut?"


"Ikut dong! Wajib ikut! Kalau Abang gak ikut, Adek bakalan jadi nyamuk tuh di tengah-tengah Aylin dan Amaris"


Tak lama pesanan makanan pun datang. Ilyas segera mengambilnya dan membawanya ke dapur. "Kok ada mie juga?" tanya Adel.


"Ya masa mau makan dimsum doang sih sayang, mana kenyang??"


"Iya juga sih"


"Yang tanpa ayam punya Abang lho ya"


"Kalau ayam Abang gak mau, kalau ayang boleh tuh.... mau dicobain yang bagian mananya?" goda Ilyas. Adel memukul lengan Ilyas berulang-ulang.


"Ngeres!"


"Hahahahahaha, Abang seneng godain kamu. Pasti langsung takut"


Mereka menyantap makanan itu dengan nikmat. Penuh canda tawa. Ilyas menyapit dimsum dan mengarahkan ke mulut Adel. Adel tersenyum dan menerima suapan itu.


"Ih, yang bener dong nyuapinnya, jadi belepotan kan" protes Adel. Ilyas tertawa dan mengambil tisue. Ia membersihkan sudut bibir Adel tang terkena saos. Mata mereka bertemu. Tangan Adel seketika menjadi dingin ditatap Ilyas yang begitu mendambanya.


Ilyas mendekatkan bibirnya ke bibir Adel. Adel mengepalkan tangannya takut. Ia memejamkan matanya. Ilyas semakin menepis jarak diantara keduanya.


Semakin dekat. Jarak kini hanya beberapa senti saja. Ilyas memejamkan matanya. Saat akan menempelkan bibirnya, ponsel Adel berbunyi. Menggagalkan semuanya.


Adel meraih ponselnya dan berlari menjauh dari Ilyas. Ia mengatur nafasnya. Lalu menjawab panggilan itu.


Sedang di dapur, Ilyas tersenyum geli mengingat kelakuannya yang hampir di luar batasnya. Ia melihat jam yang berada di dinding dapur. Sudah menunjukkan pukul 21.35 WIB.

__ADS_1


"Cepet banget sih kamu waktu.... Lambat-lambatin ngapa? Aku masih kangen sama bos leleku"


Adel kembali dengan kikuk ke arah Ilyas. Ilyas pun menjadi canggung. "Abang.... pulang dulu ya? Udah malam" pamit Ilyas akhirnya.


Adel mengangguk. "Hati-hati di jalan. Kabari kalau sudah sampai rumah" Ilyas mengangguk. Ia segera keluar dari rumah Adel. Karena terlalu grogi, hingga ia melupakan kunci mobilnya.


"Kunci mobil Abang lupa" kata Ilyas sambil menyengir.


Adel mengambilkan kunci itu dan memberikannya pada Ilyas. "Abang.... pulang ya? Di rumah sendirian berani kan?"


"Berani" jawab Adel.


"Ya sudah, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Ilyas mengecup kening Adel. Membuat degup jantung dan pipi mereka sudah tak karuan bentuknya. "Abang pulang"


Ilyas langsung berlari meninggalkan Adel yang masih mematung di depan pintu. Adel memegang keningnya.


"Sumpah..... ini nyata lho" katanya sambil berbinar-binar sorot matanya. Ia tersenyum dan segera menutup pintu. Ia berlari ke kamarnya.


Naik ke ranjang dan memeluk boneka Ilyas. "Sumpah, malam ini aku beneran takut sama kamu Bang, kamu nafsu banget sih sayang..... Hahahaha"


Ilyas mengemudikan mobilnya sambil tersenyum. "Sabar Yas..... tahan...... huft..... itu tadi kalau gak ada telpon, beneran udah aku cium dia! Ah, bos lele..... hatiku selalu terkena oathil cintamu! Hahahaha"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Othor lagi sakit. Kena radang lagi.... 🤧🤒😷🤕

__ADS_1


__ADS_2