Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 32


__ADS_3

Imam menyimpan ponselnya di dadanya. Senyum mengembang sempurna di wajahnya. Berawal ingin menghubungi sepupunya, malah mendapatkan jackpot kenalan dengan seorang perempuan, anggun, berhijab, tapi judas. Pikirnya.


Ia membaca lagi chat itu dan baru tersadar akan suatu hal. "Kok namanya mirip bos lele sih?" Ia nampak berpikir keras. Ia juga mengingat kembali wajah Aylin saat video call dengannya tadi, meskipun hanya sebentar.


"Wajahnya juga mirip lho! Jangan-jangan ini beneran kembarannya bos lele lagi?" Ia ingin menanyakan hal iti pada Aylin, tapi ia juga mengingat waktu, yang saat ini sudah menunjukkan setengah 11 malam. Ia mencoba menghubungi Ilyas, tapi tak diangkatnya.


"Pasti sudah ngorok ini! Ya sudah lah, besok pagi saja aku tanyakan"


Akhirnya Imam membersihkan dirinya. Berganti baju dan siap tidur. Ia tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi. "Kok aku kayak anak ABG zaman dulu sih? Salah nomor berujung kenalan. Hahaha, Mam, Imam" Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik selimutnya. Berdo'a lalu memejamkan matanya.


Subuh berkumandang, semuanya khusyu' dalam sujudnya. Karena itu hari minggu, tak ada kegiatan yang berarti di Batalyon. Bagi yang mendapatkan IB mereka akan pulang, bagi yang tidak, itu tandanya mereka harus berjaga. Imam dan Ilyas berjalan menyusuri jalanan Batalyon untuk patroli pagi.


"Mam, gua mau cerita" kata Ilyas sambil berjalan. Imam mengangguk. "Gih cerita"


"Salah apa gak? Kalau aku marah sama Adel?" tanya Ilyas.


Imam mengerutkan keningnya. "Masalah apa? Bukannya tadi malam kalian baik-baik aja? Pamer kebucinan didepanku?"


"Aku nih tanya, hubungan aku sama dia mau dibawa kemana? Gak mungkin kan kalau kami gini-gini aja? Aku juga pengen serius, menata masa depan dari sekarang, dan nanti di masa tua tinggal menikmatinya. Gitu lho Mam, maksudku, dia masih aja belum siap. Alasannya masih pengen bebas"


Imam tersenyum kecut mendengar penuturan Ilyas. "Kalian waktu kenal gimana? Lu siap gak nunggu dia? Nih ya Yas, cewek kalau semakin lu paksa akan semakin menjauh"


Ilyas menghela nafasnya. "Ya kan aku juga pengennya ada kemajuan dalam hubungan ini. gak mungkin stuck aja di titik ini"


"Sabar dulu lah, toh kalian kenal juga baru beberapa bulan kan? Yang perlu lu lakuin adalah, terus guyur dia dengan stok perhatian yang lu punya. Yakinin dia bahwa lu memang satu-satunya yang terbaik bagi dia. Jangan pernah minta perpisahan. Temui dia, minta maaf, dan jalanin apa adanya dulu. Aku jamin, dia bakalan minta dinikahin lu secara tiba-tiba"


Ilyas menatap Imam. Imam ganti menatapnya. "Ngeri ih aku dilihatin begitu. Eh Yas, nama kembarannya Adel siapa? Yang dokter itu lho"


"Kenapa? Tertarik pak?"


"Ck, jawab gih"


"Aku gal tahu nama panjang mereka sama atau gak, tapi biasa dipanggil Aylin. Kalau Adel kan namanya Adelia Ayu Wicaksana, gak tahu deh kalau Aylin"


Imam berpikir. Ia membuka lagi chatnya Aylin Ayu Wicaksana. Bener ini orangnya dong!. Batin Imam.

__ADS_1


"Temenin aku minta maaf sama Adel yok nanti"


Imam tertawa. "Terus habis baikan bucin lahi depanku? Wegah! Prei bos!" kata Imam.


"Yeee..... gak! Pasti nanti aku sama dia jaim-jaiman. Ayo lah Mam, lu sebagai penengah" bujuk Ilyas. Imam menghela nafasnya. Dan akhirnya ia mengangguk.


Patroli selesai dilakukan. Baik Imam dan Ilyas segera membuat laporan. Ilyas merogoh saku celananya karena ada chat masuk. Ia melihatnya dan tersenyum.


Adel Sayang : Assalamualaikum, Abang masih marah sama Adel?


Ia tersenyum membacanya. "Jual mahal ah, biar dikira marah beneran"


Me : Waalaikum salam, ada apa?


Adel Sayang : Gak papa sih, Adel ganggu Abang ya? Kok ketus banget jawabnya? Abang masih marah sama Adel?


Me : Nanti sore bisa ketemu gak? Ada yang perlu Abang sampaikan


Adel Sayang : Bisa bang, di kantor Adel saja gimana? Mau ngomong soal apa?


Me : Ya sudah, nanti jam 4 aku sama Imam kesana. Assalamualaikum


Ilyas menyimpan kembali ponselnya dan mengerjakan laporannya.


Sedangkan di rumah, Adel menjadi was-was. Isi chatnya dengan Ilyas membuatnya menjadi gusar. Ia turun ke bawah dengan wajah cemberut.


"Sarapan Del" kata Papah Duta. Adel mengangguk dan menuju ruang makan. Disana sudah ada Aylin dan Mamah Laras.


"Si bontotnya Mamah kenapa cemberut begitu?" tanya Mamah Laras menuangkan air di beberapa gelas.


Adel hanya diam tak menjawab. "Lagi marahan sama Iluas tuh...." goda Aylin. Membuat Adel semakin kesal.


"Kenapa?" tanya Papah Duta. Adel tak menanggapinya. Aylin lagi yang menjawabnya. "Karena Ilyas pengennya cepet-cepet halalin si adek, tapi si adek masih pengen bebas"


"Ck, kakak! Mulutmu ember banget sih! Bikin badmood aja deh!" Adel hendak pergi tapu disuruh Papah Duta duduk kembali.

__ADS_1


"Duduk" Adel menghela nafasnya dan duduk kembali. "Makan dulu, urusan ambek-ambekan bahas nanti lagi" kata Mamah Laras.


Mereka sarapan dengan tenang. Hingga sarapan itu selesai, piring Adel hanya berkurang separuhnya saja. Aylin membereskan meja makan. Papah Duta dan Mamah Laras berbicara dan menasehati Adel.


"Kamu itu kenapa sih Del sama Ilyas?" tanya Papah Duta.


"Bang Ilyas pengen hubungan Adel dan dia menuju jenjang yang lebih serius Pah, Mah, tapi, Adel belum siap"


Mamah Laras menghela nafasnya. "Kenapa belum siap? Kalau cuma pengen bebas, itu bukan alasan yang tepat sayang. Ilyas itu bertanggung jawab. Dia memang ingin berkomitmen dengan kamu"


"Benar kata Mamah, sekarang Papah tanya, semisal kamu sama Ilyas putus terus Ilyas nikah sama orang lain, apa hatimu akan baik-baik saja?"


Adel terdiam. "Pikirkan nak, sedikit lelaki yang seperti Ilyas. Yang serius mengajakmu berkomitmen, kamu juga sudah waktunya memikirkan masa depan. Kamu masih bisa bebas meskipun sudah menikah, meskipun konteksnya berbeda. Bebasmu setelah menikah adalah lebih banyak waktu berdua, lebih banyak bertukar pikiran dengannya, dan lebih bebas mengenalnya" imbuh Papah Duta.


Aylin duduk dan menggenggam tangan adiknya. "Kamu itu beruntung dapat lelaki seperti Ilyas, kamu tahu isi chat Seno? Dia melamar perempuan lain saat bilang ingin meminang kakak di hadapan Mamah dan Papah. Jangan sia-siakan Ilyas hanya karena alasan bodohmu itu Del, tentukan atau menyesal selamanya"


Adel memeluk kakaknya. "Nanti aku pikirkan dulu, terima kasih atas nasehat kalian. Adel ke kantor dulu, ada berkas yang harus segera diperiksa"


"Kakak nebeng, kakak juga mau ke klinik, lihat semuanya yang ada disana" Adel mengangguk. Papah dan Mamah tersenyum melihat anak-anaknya.


"Lin, jadi itu alasan kamu minta pindah puskesmas?" tanya Mamah Laras. Aylin mengangguk.


"Maaf ya Pah, Mah, Aylin tidak jujur. Aylin terlalu malu" terangnya. Mamah Laras mendekati anaknya dan memeluknya.


"Ngapain harus malu? Kamu wanita yang kuat nak, cari yang lain!" Mereka semua tertawa.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2