Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 91


__ADS_3

Zafran mengakhiri panggilan itu. Humai tersenyum ke arah Zoya. "Gimana? Masih ragu?"


Zoya tersenyum sambil merenung. "Jawab sendiri sama hatimu Mbak, Mas Zaf, seorang intel yang kita sama-sama tahu. Dia juga orang sibuk. Tapi, meluangkan waktunya demi kamu, cuma sekedar ngobrol biar tahu keadaan kamu. Bukan kah itu sesuatu hal yang istimewa? Dan menurutku, itu romantis!"


Mbak Yanti memotong percakapan mereka. "Bu, garang asemnya sudah matang" Humai mengangguk. "Makasih ya Mbak, mungkin sebentar lagi Abang pulang"


Humai mengambilkan dua bungkus garang asem itu untuk Mbak Yanti. "Saya pamit ya Bu, Bu Zoya, mari, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam. Salam sama Agil, Yan. Bilang, besok suruh beli boxer yang gambar sinchan!" Mbak Yanti tertawa mendengarnya. Humai mengantarkan Mbak Yanti sampai depan pintu. Kembali menutup dan mengunci pintu.


Melihat jam. Heran mengapa suaminya belum kunjung datang. Ia meraih ponselnya. Menelpon suaminya.


Tunggu sebentar ya sayang, lagi ngantar Mas Zaf potong rambut, katanya biar makin ganteng paripurna. Biar makin klepek-klepek Zoya sama Mas Zaf


"Ha? Mas Zaf? Bukannya dia di Jakarta?"


Kata siapa? Orang dia ada di Demak dua hari ini kok


"Lhah, tadi tuh Mas Zaf sama Mbak Zo vidcall an"


Ya sudah, matikan dulu. Siapkan makanannya ya sayang. Lima menit lagi Abang pulang. Love you istriku. Assalamualaikum


"We love you too, Bi. Waalaikum salam" Humai tersenyum senang mendengar ungkapan cinta dari Archee. Ia kembali bersama Zoya. Menyiapkan makanan tanpa memberitahu Zoya bahwa Zafran ada di Demak.


"Aku balik ya Mai?"


"Eh, jangan balik dulu! Disini dulu, makan siang sama-sama"


Zoya berdecak. Ia merasa tak enak. "Gak usah, nanti aku ganggu kalian"


"Kalau nolak, besok lagi gak boleh main kesini!" Zoya tertawa mendengarnya. "Hati kamu tuh tulus banget Mai, menyesal aku pernah jahat sama kamu. Pantas Archee tidak bisa berpaling dari kamu"


"Apaan sih Mbak?? Mau air dingin atau air putih biasa?"


"Dingin saja. Kok empat? Memang ada tamu lagi?" Humai mengangguk. Ia menahan senyumnya. "Mbak, Mas Zaf lagi dimana?"

__ADS_1


"Ya di Jakarta lah! Aneh pertanyaanmu!"


Humai mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak lama, bunyi deru sepeda motor pun terdengar. Humai tersenyum senang. Segera ia menuju pintu dan melihat dua orang lelaki yang tampan dan gagah.


Ia membuka pintu dan langsung menghambur memeluk Archee dan menghujani Archee dengan ciuman di pipi dan kening suaminya itu. Archee senang mendapatkan sambutan itu dari istrinya. "Ya Allah, pelan-pelan sayang. Senang sekali lihat Abang pulang. Nih kiwinya. Mana salamnya??"


"Assalamualaikum, Abang juga potong rambut kah? Makin segar saja lihatnya!" cerocos Humai sambil menyalami Archee. Zafran hanya bersidekap melihat keromantisan itu.


"Waalaikum salam. Iya, sekalian lah! Sudah siap makanannya?" Humai mengangguk lalu menggandeng lengan Archee berjalan masuk. Zafran berdahem dan mereka menoleh dan menyengir ke arah Zafran. "Lupain aja lupain!"


"Hahaha, maaf Mas, ayo masuk, Mbak Zo masih ada tuh di dalam" Zafran mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Archee dan Humai juga ikut masuk.


Zafran tersenyum melihat Zoya. Ia mengendap. Melihat apa yang sedang diperhatikan Zoya. Ternyata Zoya sedang memperhatikan foto dirinya yang ada di akun instagram miliknya. Zoya mengelus-elus foto yang ada di ponsel itu. "Kamu dewasa banget sih Mas. Jatuh cinta kan aku sama kamu!"


Archee menggoda Zoya. "Ungkapin langsung saja sih! Mumpung ada orangnya tuh!" kata Archee sambil menuju wastafel. Zoya menoleh dan terkejut. Hingga ponselnya terjatuh karena kaget melihat keberadaan Zafran di belakangnya, dan dengan tampilan yang amat segar dan tampan paripurna.


Humai dan Archee membiarkan mereka berdua berinteraksi dengan caranya. "Mas.... Kok bisa disini?"


Zafran mengambil ponsel milik Zoya. "Ini orang memang ganteng banget! Camat Archee saja kalah!!" kata Zafran memuji dirinya sendiri di layar ponsel Zoya.


Archee dan Humai tertawa mendengarnya. Zoya menutup wajahnya karena malu. "Malunya nanti saja, Mas lapar, ayo makan" sambil mengusap-usap rambut Zoya.


Zafran duduk dan hendak mengisi piringnya. Zoya merebutnya. "Biar aku saja" Zafran menyerahkan piringnya. "Iya kalau diterima Chee, kalau ditolak?" jawabnya sambil melirik Zoya.


Humai ikut-ikutan menggoda Zoya. "Mosok sih ditolak? Wong mau ki kon milihke kebaya kok Mas! (Masa sih ditolak? Orang tadi tuh suruh milihkan kebaya kok Mas!)"


Archee juga menimpali ucapan istrinya. "Bukannya dia tadi bilang jatuh cinta sama kamu Mas? Itu artinya peluangmu untuk ditolak hanyalah 0,001 persen" Zoya semakin merona dibuat oleh Humai dan Archee. Zafran hanya tersenyum dan melihat ekspresi wajah Zoya.


Archee makan sepiring berdua bersama Humai. "Kalian lagi ngirit atau bagaimana sih?" tanya Zafran. Humai dan Archee tertawa. "Ini namanya romantis Mas!"


"Sudah, makan, jangan ngobrol terus!" Kata Zoya. Garang asem itu masih panas. Namun terlihat menggiurkan lidah. Archee tak sabar. Ia langsung mengambil ayam yang masih panas itu. Alhasil jari tangannya kepanasan.


"Aw aw aw" kata Archee. "Innalillah.... Abang kenapa sih? Gak sabaran deh. Benda masih panas Bang" Humai meraih jemari Archee dan langsung menghisapnya. Membuat Zafran dan Zoya tersedak karena keromantisan mereka.


Humai dan Archee malah tertawa menyaksikan ekspresi mereka. "Kenapa sih?? Kalian pengen? Makanya buruan nikah!" kata Archee.

__ADS_1


"Ehm.... Kalian sumpah! Bisa gak sih pamer kemesraannya nanti saja?? Aku bukan iri" protes Zafran pada adik sepupunya itu.


"Terus??"


"Dia lagi galau besok lamarannya kalau ditolak bagaimana" jawab Zoya cepat.


"Apa hubungannya??" tanya Humai.


"Kalau dia galau, perasaannya lagi gak karuan Mai, kamu pamerin kemesraan, makin kocar kacir perasaannya. Mau ikut seneng belum tentu diterima, mau sedih juga belum tentu ditolak"


Mereka tertawa mendengar pernyataan Zoya. "Kayak hati kamu yang perasaannya lagi kocar-kacir karena duduk disebelah intel ganteng?? Gitu maksudnya Mbak Zo??" jawab Archee. Zoya kembali merona.


Zafran menyukainya. Ia menyangga kepalanya, yang ditelengkannya ke arah Zoya. "Hari ini kamu apa bawa panci kukusan to Bu Camat? Kok dari tadi aku perhatikan wajahmu selalu merah??"


"Cie yang lagi malu cieeeee" Humai dan Archee semakin membantu Zafran untuk melancarkan aksinya menggoda Zoya.


Zoya semakin merona merah. Ia hanya mampu diam dan menahan senyumnya. Makan siang pun usai. "Abang balik ke kantor lagi ya??" kata Archee selesai memakai sepatunya.


Humai mengangguk. Menyalami Archee. Archee mendaratkan ciumannya di kening Humai. Zoya tersenyum melihatnya. "Adem lihat keromantisan kalian"


"Ya nanti Mas Zaf bakalan begitu juga calon sepupu ipar! Balik lu ke kecamatan! Mas, anterin tuh!" kata Archee.


"Oh yo mesti to Chee, lumayan, sambil menyelam minum air sirup tambah susu kental manis dan nata de coco" jawab Zafran menghasilkan cubitan di lengannya dari Zoya.


"Assalamualaikum" pamit Archee pada semuanya. "Waalaikum salam" jawab semuanya. Zoya pun ikut pamit bersama Zafran. Humai masuk rumah dan mengunci pintunya kembali.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2