
Adel merasa lebih tenang. Ia kembali menuju saudaranya. Damar, Hamka, dan Imam, sedang mengobrol di depan mobil. Adel melewati semuanya. Ia masuk dan menanyakan ponselnya.
"Gak bisa hidup Del, layarnya hancur" terang Shanum. Adel mengangguk. Ia mengambil sim card dan memori dari ponseo itu. "Shan, pinjam hp bentar boleh gak? Aku mau telpon orang bentar" pinta Adel.
"Makan dulu dek" Aylin menyuruh Adel untuk makan. "Udah gak selera kak" Amaris dan Aylin hanya bisa menghela nafasnya. Amaris menuju kasir dan melakukan pembayaran.
Adel menghubungi pengacara Papah Duta. "Datanya sudah saya kirim pak, mohon segera diperiksa. Memang ada kejanggalan dalam pembuatan laporan tiap bulannya. Iya, saya harus meneliti ulang laporan keuangan itu selama 3 tahun. Kalau saya lihat, dia memang dari awal setelah lulus dari pegawai magang pak melakukan hal itu. Iya, mohon bantuannya pak, tolong rahasiakan dulu dari Papah, karena Papah sedang sibuk. Adel gak mau makin nambah beban pikiran Papah. Ya pak, Waalaikum salam"
Adel mengakhiri panggilan itu. Ia mengambil lagi sim card itu. Mengembalikan ponsel Shanum. "Kakak bantuin usut masalah di perusahaan meubel Del" kata Aylin. Adel menggeleng.
"Gak usah, Kakak fokus saja sama lamaran Kakak. Serahkan sama pengacara Papah. Biar semuanya beliau yang ngurus" Amaris kembali mendekati mereka.
"Udah yuk pulang" katanya. Mereka semua mengangguk. Damar masih sebagai pengemudi. Shanum dan Hamka duduk di tengah, sedangkan Imam, Aylin, dan Adel duduk di belakang. Adel celingukan mencari seseorang.
"Dia sudah pulang naik bus" tutur Ilyas.
"Gak nanya" jawab Adel datar. "Dasar kepala batu! Yang satu begini, yang satu juga begitu!"
Adel memilih memejamkan matanya. Terputar kembali memorinya saat pertengkarannya dengan Ilyas tadi. Baru tadi malam kamu membuat degup jantungku seperti dipasangi petasan, dan saat ini kamu bukan lagi milikku.
Memori itu tanpa permisi pada Adel lewat dengan sengaja. Mulai dari pertemuan pertamanya. Marahnya ia karena ia berpikir Ilyas tak jujur padanya, dan semua kenangan yang terukir seiring berjalannya waktu.
Tak terasa air matanya pun luruh. Ia segera menghapusnya. Tak mau jika ada yang melihatnya. "Del, kalau semisal besok Ilyas berangkat Satgas kamu bakal kehilangan gak?" tanya Imam.
"Ha? Emang dia mau berangkat Satgas?" jawab Adel.
"Misal! Dengerin pertanyaan Mas dong. Misal dia berangkat Satgas, kamu bakal merasa kehilangan gak?" tanya Imam lagi. Adel diam.dan merenung.
"Jawab sih Del!" Imam memaksa Adel menjawab pertanyaannya. Adel membuang wajahnya melihat ke arah jalanan. "Ngapain ngerasa kehilangan? Toh sekarang udah bukan siapa-siapa lagi"
"Masih bisa diperbaiki kali Del, kalau kamu mau sih" timpal Hamka. Adel hanya diam.
"Aku nek dikon milih ngandani wong budheg opo wong keras kepala milih ngandani wong budheg! (Aku kalau disuruh milih memberitahu orang tuli atau orang keras kepala milih memberitahu orang tuli!" kata Hamka jengkel dengan sikap Adel.
"Kenapa Bang?" tanya Shanum. "Karena kalau orang tuli, dia memang gak bisa dengar, tapi dia mampu membaca ataupun mengerti isyarat. Tapi kalau orang keras kepala, dia itu dengar tapi pura-pura tuli! Lebih mentingin gengsinya" tutur Hamka.
__ADS_1
Adel tak membalasnya. Ia hanya diam. Ia memejamkan matanya kembali. Perjalanan menjadi hening hingga tiba di Semarang. Mereka mampir di rumah dinas Damar untuk sholat maghrib. Lalu Imam melanjutkan perjalanan bersama Aylin dan Adel.
"Yank, telpon Emak, bilang kalau lamarannya besok rabu" perintah Imam. Aylin mengangguk dan segera menghubungi calon mertuanya. Emak mengalihkan ke panggilan video.
"Assalamualaikum cah ayu" sapa Emak.
"Waalaikum salam, Mak sedang apa?"
"Lagi mikirin kamu sama Imam punya anak cewek apa cowok" Imam dan Aylin tertawa mendengarnya.
"Belum juga dipakai ini pusaka Mak, udah dibayangin aja. Mak, orang tua Ay Ay minta lamarannya barwng sama kembarannya. Tiga hari lagi. Piye? Siap?" kata Imam.
"Haiyo mesti siap dong! Kamu juga siap kan Mam?"
"Siap. Beliin yang enak-enak dari Sleman Mak. Udah dulu ya Mak ku sayang, kami lagi perjalanan gak bisa diganggu. Assalamualaikum" Imam langsung mematikan panggilan video itu. Aylin tertawa melihatnya.
Aylin melihat ke kursi belakang dan melihat Adel terpejam. "Itu anak beneran tidur atau bohongan ya?" katanya.
"Udah, biarin aja sih. Kalian langsung pulang ke rumah? Gak mau mampir nyari makan dulu?" tanya Imam. Aylin menggeleng.
"Aku masakin mie rebus di rumah, mau gak Mas?"
Setelah berkutat dengan jalanan, Imam dan kedua perempuan itu sampai di kediaman Papah Duta. Aylin membangunkan adiknya. Adel langsung masuk rumah dan naik tanpa menghiraukan kakak dan calon iparnya.
"Rebahan dulu sana, aku buatin mie rebus dulu"
"Rebahannya sama kamu di kamar lebih enak lagi tuh!"
"Ngeres!" Aylin memukul lengan Imam. Imam tertawa puas. "Cabenya 3 ya Yank, sama es susu ya?"
"Nggih" Aylin segera menuju dapur dan memasak. Adel sudah terlalu malas untuk membersihkan dirinya. Ia hanya berganti pakaian dan menuju ranjangnya. Melihat boneka Imam yang selalu tersenyum kepadanya.
Air matanya kembali menggenang di pelupuk. "Huft....." Adel duduk dan mengambil boneka itu. "Kenapa tersenyum?" Ia berbicara dengan boneka itu.
"Lihat! Hp ku rusak dan tidak bisa mengetahui apapun! Akibat ulah siapa? Kamu mau pulang sama tuanmu?" Adel sudah seperti orang gila yang berbicara sendiri pada boneka itu.
__ADS_1
Sedang di asrama kecil itu. Ilyas baru saja kembali entah darimana. Ia membawa tas berisikan ponsel baru. Seseorang mengetuk pintu asramanya.
Anggota Ilyas. Memberi hormat. "Ijin Danki, daftar nama yang akan diberangkatkan tugas sudah diumumkan. Penempatan di Kabupaten Malaka" kata anggota Ilyas.
"Malaka? Maksudmu perbatasan Indonesia dan Timor Leste?"
"Ijin, Iya Danki. Dan.... Danki tergabung dalam pasukan Satgas" Ilyas terdiam. "Aku akan melihatnya. Kembalilah"
Anggota itu memberi hormat pada Ilyas. Ia kembali ke dalam rumahnya dan melihat pemberitahuan dari grupnya. Ia membaca nama-nama yang akan ikut Satgas. Nama Imam tak ada. Ia menghela nafasnya.
Ia melihat meja belajarnya. Mengambil boneka Adel yang ia letakkan di bawah lampu belajar. "Sempurna untuk hari ini. Hubungan kita berakhir dan aku harus pergi untuk sementara"
Ia mengambil pulpen dan secarik kertas. Terdiam sebentar dan mulai menggoreskan tinta pena itu. Menulis sesuatu entah untuk siapa.
Ada chat masuk di ponselnya. Ia segera membukanya. Ia berharap itu dari Adel. Tapi ternyata bukan. Rachmi Lazuardi Priyadi yang mengirim pesan itu untuknya.
Rachmi : Assalamualaikum Bang, sudah tidur?😊
Ilyas hanya membacanya. Ia menyimpan kembali ponsel itu dan mulai menulis lagi. Setelah itu memasukkan surat itu di dalam tas ponsel baru itu.
Ia segera menghubungi orang tuanya. Mengatakan bahwa dirinya esok akan diberangkatkan Satgas. "Hmm? Adel.... mungkin gak bisa ikut Bu, cukup Ibu dan Ayah saja yang datang. Jam 8 acara pelepasannya Bu. Iya sudah, Ilyas beres-beres dulu. Assalamualaikum"
Ilyas meletakkan ponselnya lagi dan mulai mempersiapkan barang bawaannya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
hayoh loh! Babang Ilyas mau Satgas!