Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 95


__ADS_3

Papah Duta menjawab permintaan Amaris. "Bismillah,... Ehm... Nduk Amaris Ayu Wicaksana, Insyaallah, Papah dan Mamah memberimu restu nduk cah ayu. Kami ikhlas kamu dipersunting oleh Mas Damar Assegaf. Jadilah istri yang berbakti terhadap suamimu. Jadilah istri yang bisa menjadi pakaian bagi suaminya. Jaga fitrahmu, jaga kehormatan suamimu. Dan, jangan lupakan Papah dan Mamah" Amaris kembali memeluk Papah Duta.


Mamah Laras bergantian memberikan wejangan bagi Amaris. "Anak Mamah sudah akan menjadi istri dari seorang lelaki pilihannya. Ingat pesan Papah nak, jika nanti kamu menjadi seorang ibu, jadilah dunia pertama untuknya. Jadilah sekolah pertamanya, jadilah guru pertamanya, jadilah ustadzah yang amat ia cintai dan kagumi, jadilah teman, sahabat, dan pengawas yang baik baginya. Isi rumah tanggamu dengan ilmu agama, agar keberkahan tercurah untuk kalian. Selamat menempuh hidup baru sayang, semoga kebahagiaan dan keberkahan menghampirimu dengan tulus"


Amaris kembali menangis dan memeluk Mamah Laras. Semuanya tersihir oleh suasana itu. Mereka pun merasakan cinta dan kasih sayang tulus dari orang tua untuk anaknya.


Setelah acara pengajian selesai, tiba saatnya malam midodareni. Pihak keluarga Damar datang dengan membawa segala seserahan. Terjadi obrolan hangat di tengah dua keluarga itu.


Damar sangat merindukan Amaris. Namun sayang, dirinya belum bisa bertemu dengan calon istrinya itu. Ia mengirim pesan. Mencurahkan rasa rindunya untuk calon istrinya.


Me : Sayang, Mas kangen banget sama kamu, bisa gak sih kamu ngintip sebentar di pintu?


My Angel : Sabar Mas, besok kita bertemu setelah 3 hari lamanya tak bisa bersua. Kamu sudah makan sayang?


Me : 3 hari apanya? Sewindu iya! Gak selera makan


My Angel : Hahahah, sabar. Makan dong Mas, Maris gak mau kamu sampai sakit nanti. Makan ya??


Me : Ya coba deh nanti dipaksain makan. Nyanyikan sebuah lagu. Biar kangen Mas sedikit terobati.


My Angel : Oke


Amaris menelpon Damar. Damar segera mengangkatnya ketika panggilan itu masuk.


Assalamualaikum


"Waalaikum salam, hai cantik"


Halo Mas ku sayang. Hahaha, kangen ya?? Sama! Aku pun kangen. Tahan beberapa jam lagi. Setelah itu aku milikmu


Damar tersenyum senang. Hatinya kembali berdesir ketika Amaris mengatakan hal itu. Ia seperti melayang di udara.


Mas, nanti jangan lupa makan ya? Jaga kondisi biar tetap fit.


"Iya, biar nanti bisa main kuda-kudaan sama kamu! Hahahaha"


Hahahah, terserah kamu, itu sudah menjadi hak kamu nantinya. Aku nyanyi sekarang?


"Iya lah"


Lagu dari Pakdhe Didi Kempot ya??


"Terserah"


Bismillah.... Opo iki sing jenenge

__ADS_1


Wong kang lagi ketaman asmoro?


Prasasat ra biso lali


Esuk awan wengi tansah nggodo ati


Bingung rasa ning atiku


Arep sambat nanging karo sopo


Nyatane ora kuwowo


Ngrasakke atiku sansoyo nelongso


Damar mengembangkan senyumnya dengan mata berkaca-kaca. Rindunya teramat sangat menyiksa baginya. "I Love you Amaris"


Love you too.... kamu nangis kah? Kok suaranya kayak orang nangis


"Ha? Nggak, cuma kelilipan saja. Ya sudah, Mas pulang dulu. Istirahat ya? Kamu juga jangan telat makan. Berdo'a biar besok Mas lancar baca ijabnya"


Iya Mamas..... semangat ya! Assalamualaikum


"Waalaikum salam" Damar mematikan panggilan itu. Tersenyum lega setelah mendengar suara Amaris. Dirinya dan keluarganya pulang.


Seno yang memang diundang oleh Wulan, kakak dari Damar ikut dalam acara midodareni itu. Ia memang celingukan mencari keberadaan Aylin. Mumpung Suci tak ikut dalam acara itu. Istrinya menunggu di hotel karena anak mereka tidur.


"Mbak Aylin..... gak tahu deh kemana? Temennya Mbak Aylin??" Seno mengangguk. Imam yang masih bisa mendengar dengan jelas semakin terbakar oleh tingkah Seno.


Zafran membaca gerak-gerik Imam. Mengamatinya. "Kamu lagi cemburu sama Seno ya?"


Imam mengangguk. "Lihatin saja dulu Mam, kalau dia beneran nyari Aylin, kasih pelajaran! Mas juga gedheg lihatnya"


Ternyata dugaan Zafran benar adanya. Seno melihat Aylin yang sedang memasukkan seserahan untuk keluarga Damar. Ia mendekati dan berpura-pura memberikan seserahan itu kepada Aylin. Membuat Aylin terkejut.


"Eh"


"Hai" sapa Seno dengan senyum bahagia. Imam tak kuasa lagi untuk menahan amarahnya. Zafran mencegahnya. "Kendalikan dirimu. Ingat! Ini acara Maris"


Imam mengangguk. Mendekati mereka. "Ehem ehem ehem"


Aylin menoleh ke Imam. "Mas"


"Sini Ay, ngapain dekat-dekat dengan dia?" kata Imam tak suka. Aylin tersenyum dan menghampiri Imam. Tapi, tangannya dicekal oleh Seno.


"Lepasin gak??!" kata Aylin tegas.

__ADS_1


"Aku cuma mau ngobrol doang!"


Imam langsung memiting tangan Seno ke arah belakang. Mengunci pergerakannya. Seno mengaduh kesakitan. "Sadar diri! Anda itu sudah bukan siapa-siapanya lagi! Dia ingat anda ada di hidupnya saja tidak! Kenapa anda repot-repot membangkitkan kenangan yang sudah mati?? Ini baru peringatan untuk anda! Jika anda masih mengganggu calon istri saya, saya pastikan kepala anda akan terpisah dari leher anda!"


Aylin hanya meringis kengerian melihat amarah Imam. Imam melepaskan cengkraman tangannya. Lengan Seno menjadi sakit. Imam menarik tangan Aylin agak kasar dan menjauh dari tempat itu.


Zafran dan Archee datang menghampiri Seno. "Ternyata kamu itu lebih buruk dari sampah!" kata Archee lalu meninggalkan Seno. Zafran hanya tersenyum kecut memandanginya.


"Syukuri yang menjadi milikmu sekarang. Karena Aylin bersyukur karena melepasmu. See?? Dia bersama penjaga hatinya" kata Zafran sambil menampar kecil wajah Seno.


Damar hanya geleng kepala melihatnya. Ia memberitahu Mbak Wulan tentang hal itu. Tapi, Mbak Wulan tak ingin ikut campur urusan orang lain. Ia memilih bungkam. Mereka pulang. Menyambut hari esok. Malam.terasa begitu lama bagi Damar. Tapi tidak untuk Amaris. Ia merasa malam begitu cepat. Ia tak bisa tidur memikirkan esok hari bahagianya.


.


Pagi menjelang. Akad akan dilakukan jam 9 pagi. Semuanya telah bersiap sedari pagi. Semuanya sibuk dengan diri mereka masing-masing.


Jam 9 pun menjelang. Damar telah berada di tempat akad dilangsungkan. Bapak Kapolda adalah saksi dari pihak Damar. Dan Ayah Indra adalah saksi dari pihak Amaris.


Geng somplak seperti biasa, akan menggoda junior mereka. "Hasek! Nanti malam belah duren!" goda Ali.


Sigit mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. "Nih, tak kasih gratis!"


Damar yang selalu polos diantara mereka pasti akan termakan oleh hasutan mereka. "Apaan nih? Pil penguat biar tambah roso ya??" tanya Damar.


Bima menahan tawanya dengan susah payah. Hamka berdahem untuk menutupi rasa tawanya. Danang dan Habib hanya menyengir mendengar hal itu.


"Iya, itu pil penguat! Minumnya 1 jam sebelum mau hubungan Dam! Wuih! Pasti nanti tambah asoy geboy!" kata Sigit


Damar tersenyum senang mendengar hal itu. "Beneran Bang Si!??"


"Beneran! Gua cobain terus Shanum hamil! Po gak tokcer???" kata Hamka. Pak penghulu datang.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Cukup ya?? Hihihihi.....


__ADS_2