
Acara lamaran telah usai. Tinggal keluarga inti yang ada disana. Keluarga Damar memastikan untuk acara selanjutnya. Sedangkan keluarga Imam memastikan untuk tanggal pernikahannya dengan Aylin.
"Jadi Pak Duta, nanti kami akan datang saat malam midodareni setelah sholat Isya'. Kami hanya membawa beberapa kerabat"
Papah Duta dan Mamah Laras mengangguk. "Nggih Pak, nanti saat sudah perjalanan Damar kasih tahu Maris saja ya Nak. Biar Papah juga persiapan disini"
"Halah, besan.... gak usah persiapan apa-apa. Sudah diatur semua sama WO" jawab Pak Ali.
"Hahaha, ya tetap saja dong pak Ali, kami kan gak enak kalau kami juga tidak siap" balas Mamah Laras.
Aylin dan Imam menggoda Emak yang sedari tadi lebih kalem dari biasanya. "Mak, kenapa diam?" tanya Aylin.
"Jaga image dong Ay, ada tamu banyak. Jangan sampai bobroknya Emak ketahuan" terang Emak.
Imam menahan tawanya. Tiba-tiba saja terlintas sesuatu di kepalanya. Ia membisikkan sesuatu di telinga Aylin. Aylin mengangguk paham.
Gantian Pak Andi yang berdiskusi dengan Papah Duta tentang tanggal pernikahan anak mereka. Mereka sedang serius dan suasana menjadi hening. Imam mulai melancarkan aksinya untuk mengerjai Emak.
Tetiba saja dia berbicara dengan keras dan lantang. "Apa Mak? Minta kembang goyangbya dibungkus semua???" kata Imam. Aylin menahan tawanya.
Syifa, Mbak Yul dan suaminya juga ikut menahan tawanya. Mereka tahu jika itu adalah akal-akalan Imam. Sontak Emak melotot dan memukul bahu Imam. "Ooooo gundulmu kuwi!" Umpat Emak yang didengar semua orang yang masih ada disana.
Mereka semua tertawa mendengar umpatan Emak terhadap Imam. "Gak deh Bu Laras, Imam ki memang ngarang! Bocah kok ngerjain Emaknya"
"Gak Papa bu Siwi, nanti saya bungkuskan. Buat oleh-oleh pulang ke Sleman. Dibagikan ke tetangga"
"Ooo iya bener-bener bu. Heeh.... biar pada tahu kalau Imam yang jomblo hampir lima tahun akhirnya laku juga!" Balas Emak. Imam kalah telak. Aylin tertawa puas melihat dan mendengar banyolan mereka.
Sedangkan di sisi lain. Adel sedang bersama orang tua Ilyas. "Kamu kenapa bisa putus sama Ilyas sih cah ayu? Anak Bunda bikin ulah sama kamu? Bikin salah?"
"Sudah lah Bun, itu urusan anak muda. Ya kalau gak jodoh mau gimana lagi" jawab Ayah Bekti.
Adel menggeleng. "Adel yang salah mengambil keputusan Bun, tapi Bunda sama Ayah tenang saja, Adel..... sudah baikan kok sama Abang"
"Baikan dan balikan kan?" tanya Bunda Siwi senang. Adel tersenyum dan mengangguk. Bunda Siwi langsung memeluk Adel.
"Beruntungnya Ilyas bisa kembali lagi sama kamu"
"Maaf ya Bun, Yah, kalau kemarin-kemarin Adel kelewat cuek. Sampai jarang main ke rumah. Insyaallah, nanti Adel setiap sabtu sore ke rumah" Bunda dan Ayah tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
Bunda Siwi menggenggam tangan Adel. "Tungguin Abangnya sampai pulang ya? Nanti kalau kamu sibuk telpon kami, biar kami yang main ke empang"
"Eh, jangan Bunda.... di empang baunya amis, panas lagi"
Ayah Bekti tertawa mendengarnya. "Kamu kira Ayah gak suka panas-panasan? Ayah juga dulu tentara, hujan panas sudah makanan sehari-hari. Sudah biasa bagi Ayah"
Adel tersenyum mendengarnya. Ternyata orang tua Ilyas sangat lah pengertian terhadap kesibukannya. Menyesal ia tak mencoba dekat sedari dulu.
Rombongan keluarga itu pamit pulang. Damar mulai berulah lagi. Ia tak ingin pulang. Ia ingin memandangi gadisnya sampai puas. Karena setelah ini dirinya dan Maris akan benar-benar dipingit. Ponsel milik Maris akan diganti dengan ponsel jadul yang hanya bisa mengirim pesan dan telepon.
Ia menekuk wajahnya karena kesal. "Ayo pulang dek!" Bujuk Mbak Wulan. Damar menggeleng. Imam dan yang lain tertawa dibuatnya.
"Balik gih Mas, cuma tiga hari sayang" Bujuk Maris agar Damar bersedia pulang. "Tiga hari bagaikan seminggu"
"Lebay!" jawab semuanya kompak lalu tertawa. "Dulu aja bisa lu LDRan" sahut Hamka.
"Ya beda Bang"
"Apanya yang beda? Balik! Hapalin tuh ijab qobul!"
"Wes apal!"
"Heleh, orang Mbak Shan aja belum mlenthung kok!"
Shanum melempar Damar dengan bantal sofa. "Mlenthung mlenthung! Kamu kira digigit semut?? Jangan salah! Aku sudah positif doooong...... Baru aku tes semalam"
"Alhamdulillah....." ucap semuanya bersyukur. "Piye? Mumpung gratis lho ini ilmuku!" kata Hamka lagi.
"Bisa gak sih kalau pingitannya dibatalin saja? Beneran gak sanggup aku, kalau gak lihat wajah dia sehari"
Hamka dan Imam geram. Mereka langsung menyeret Damar untuk segera pulang. Membuat semuanya tertawa. Mereka mengistirahatkan diri di rumah masing-masing.
Hilal mengantarkan Azka untuk kembali ke Batalyon. "Kamu kok tumben Mas, bukan weekend bisa pulang?" tanya Azka penasaran.
"Hmm? Hehehe, biasa, tukar-tukar jadwal sama yang lain. Gak enak dong, masa sahabat lamaran Mas gak datang?"
Azka menautkan alisnya. Sedekat apa sih hubungan mereka?. Batin Azka. "Terus nanti pas Mbak Aylin nikah kamu juga datang?"
"Pasti dong!"
__ADS_1
"Ooo" jawab Azka singkat. Entah mengapa hatinya menjadi sakit saat mendengar jawaban Hilal. Hilal menoleh padanya. "Kamu kenapa? Kamu cemburu sama Aylin??" tanya Hilal.
Azka menjadi kesal sendiri menanyakan hal yang tidak perlu ditanyakan. "Yank, eh, kamu kenapa?" tanya Hilal bingung. "Gak papa, capek aja. Ngebut gih! Aku mau buruan sampai di Batalyon"
"Ih, kok jadi gini sih? Kamu cemburu??" tanya Hilal lagi.
"Gak! Ngapain cemburu!"
"Lhah, sekarang kenapa jadi uring-uringan? Mas punya salah kah? Mamas salah ngomong kah?" tanya Hilal lagi. Ia mengingat-ingat lagi ucapannya tadi. Sepertinya memang ia tak salah bicara.
Dasar cowok! Semuanya sama! Gak peka! Sedekat apa sih kalian? Sampai kamu meluangkan waktu buat Mbak Aylin! Bela-belain tukar jadwal biar bisa datang di acara lamarannya! Hish!!! Azka membatin lagi dalam hati.
Hilal telah sampai di depan Batalyon. Azka bersiap untuk turun. "Yank.... ngobrol dulu. Kamu kenapa sih?" tanya Hilal.
"Gak papa!"
"Gak papa gimana? Uring-uringan begitu kok bilang gak papa! Apa sih?? Mamas salah apa sih??"
Azka menghela nafasnya. Ia melihat ke arah kaca samping. "Yank,.... lihat Mamas.... Mamas disini lho"
"Kamu sedekat apa sih Mas sama Mbak Aylin? Sampai-sampai semua hari penting bagi dia kamu ikutin? Lebih spesial mana antara aku dan dia?"
Hilal menahan senyumnya. Tebakannya benar. Azka sedang cemburu kepada Aylin. "Jangan cemburu sama Aylin. Dia sama Mamas cuka sebatas sahabat. Gak lebih nduk cah ayu"
"Iya kah? Tapi kenapa aku merasa kalian itu sangat dekat??"
Gini nih perempuan! Kitanya jujur dia masih gak percaya. Apalagi gak jujur??! Hadehhh.... Sabarrrrrrr. Batin Hilal sambil menatap mata Azka.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip