
Sedang di tempat yang lain, ada hati yang sedang bahagia. Ada cinta yang sedang tumbuh dan berkembang. Bersemi dan siap merekah bagai bunga yang siap menjadi menawan.
Archee begitu antusias. Ia membersihkan ranjang dan mengganti spreinya. Adzan isya' berkumandang. Archee segera mengambil wudhu. Humai pun melakukan hal yang sama. Mereka melakukan sholat isya' berjamaah. Lalu melaksanakan sholat sunnah yang tertunda.
Archee mengecup kening Humai begitu lama. Menghujaninya dengan ciuman. Humai tersenyum malu mendapatkannya. Wajahnya merona. Baik Archee maupun Humai membereskan peralatan sholat mereka. Archee sudah siap di ranjang sambil senyam senyum. Humai mengambil dan berganti dengan baju seksi itu. Memakai sedikit parfum.
Aroma parfum itu tercium oleh hidung Archee. Sangat lembut dan menggoda. Ditambah penampilan seksi dari Humaira yang menampilkan lekuk tubuhnya. Humai mematikan lampu kamar mereka. Lalu menyusul Archee naik ke ranjang.
Archee duduk bersandar pada ranjang dan menyuruh Humai mendekat. Memeluknya dan mengecup keningnya. "Sejak kapan jatuh cinta sama Abang?"
"Mmm... sejak kapan ya? Humai gak tahu pastinya bang, tapi setiap Abang memanggil Humai dengan sebutan.... sa.... yang.... hati Humai selalu berdesir-desir. Perhatian Abang selalu membuat Humai mabuk kepayang dan selalu ingin mendapatkannya"
Archee tersenyum dan membelai rambut istrinya lagi. "Alhamdulillah kalau kamu sufah mau jujur atas perasaanmu"
"Sama-sama, Abang selalu menyebut Humai dalam do'a Abang, Humai selalu memimpikan Abang, dan Abang tahu? Saat Humai online tengah malam itu menunggu kabar dari siapa?"
Archee menggeleng. "Humai menunggu kabar dari Abang. Humai selalu tanya Abang sudah selesai sholat atau belum kan? Saat Abang bilang sudah, hati Humai menjadi tenang dan Humai tidak memimpikan Abang lagi. Hampir setiap malam, ketika Humai lulus dari kuliah kedokteran gigi, saat itulah Humai sering memimpikan Abang" terangnya.
"Apa itu alasannya kamu mau menikah dengan Abang? Karena jawaban dari Allah yang selalu muncul adalah Abang?" Humai mengangguk.
"Bukan karena kamu malu sama Ayah?" Humai menggeleng. "Humai mau dikhitbah oleh Abang karena mimpi itu"
Archee tersenyum. Ternyata kekuatan do'a memang nyata adanya. Meminta pada sang pemilik hati sesungguhnya.
"Kenapa Abang gak mengungkapkan rasa cinta Abang ke Humai?" tanya Humai masih penasaran, karena Archee selalu menyembunyikan perasaannya.
"Itu.... karena Abang berusaha untuk memintamu pada pemilik dirimu"
Mereka kembali terdiam. Archee mengecup puncak kepala Humai. "Abang sayang dan cinta sama kamu, Mai"
"Hal yang sama juga Humai rasakan saat ini Bang"
Archee mulai menghujani wajah Humai dengan ciuman. Melu*mat bibir manis Humai. Memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Humai. Humai hanya mengikuti permainan Archee. Ia mengalungkan tangannya ke leher Archee. Ciuman menjadi panas dan liar. Hingga Humai menepuk dada Archee minta dilepaskan. Mereka hampir kehabisan oksigen.
Wajah Humai merona merah. Archee tersenyum melihatnya. Ia memulai lagi ciuman itu. Turun ke leher Humai, sangat lembut, hingga menghasilkan desahan yang lolos dari bibir Humai. "Aah...."
"Enak?" tanya Archee. Humai memalingkan wajahnya dan mengangguk. Leher putih bersih nan jenjang terpampangn nyata di depan Archee. Ia mulai meninggalkan jejak kepemilikannya disana. "Hanya milik Abang, dan hanya Abang yang bisa melakukannya" kata Archee.
Tangan Archee mulai bergerilya. Ia meremas sesuatu. Meremasnya dengan lembut. Humai semakin menikmatinya. Tangan Archee masuk ke dalam baju itu. Mencoba membuka pengait yang ada di belakang. Lalu memainkan sesuatu didalam sana.
"Mmmhhhh..."
__ADS_1
Archee memposisikan istrinya untuk berbaring. Sesuatu miliknya yang berada dibawah sana mengeras. Ia menempelkannya ke paha Humai.
Archee bermain di area terbuka itu. Meninggalkan jejaknya di semua bagian. Ia menanggalkan bajunya dan milik Humai. Humai merona malu. Ia kembali memalingkan wajahnya sambil menyilangkan tangannya. "Buka sayang"
Humai membukanya dengan ragu. Archee mulai menghisapnya. Dengan tangan yang lain bermain dengan benda itu. Saat sedang menikmatinya, ponsel Archee berbunyi.
Ia mengabaikannya, tapi ponsel itu terus saja berbunyi. Membuatnya menggeram dan akhirnya mengangkatnya. Agil menelpon atasannya di waktu yang tak tepat.
"Assalamualaikum! Apa sih Gil!?? Ganggu aja!"
Waalaikum salam, lhah, bapak gimana sih? Kan malam ini kita ada pertemuan rutin untuk membahas pencairan dana jalan pak
Archee memejamkan matanya dan menepok jidatnya. "Malam ini Gil? Gak bisa dipindah di malam-malam yang lain apa? Saya lagi ada acara nih Gil"
Ya malam ini lah pak.... Yang buat undangan bukan saya pak.... huhuhu. Saya sudah di luar nih pak. Kenapa lampunya padam sih? Baru juga jam 8
"Ngirit listrik tahu gak?? Ya sudah, tunggu dulu! Saya siap-siap dulu"
Nggih bapak.... sendiko dawuh.
Archee mengakhiri panggilan itu. Lalu melirik ke Humai yang sudah menarik selimut untuk menutupi dirinya. "Kerja lagi bang?" tanya Humai. Archee mengangguk. "Huft... baru mau permisi masuk pintu lho. Udah gagal aja sih"
"Bebas rapi. Abang ke kamar mandi dulu. Gak usah bukain pintu buat si Agil. Biar dia dikerubutin nyamuk sampai habis darahnya biarin" katanya kesal
Humai tertawa. "Jangan jahat ah, Humai tunggu sampai Abang pulang. Nanti kita lakukan yang tertunda"
Archee tersenyum dan mengangguk. Ia mengambil kembali bajunya dan menuju kamar mandi. Humai menyiapkan baju untuk suaminya. Memadu padankan corak dan warna. Batik dengan gambar gunungan dan celana hitam.
Archee kembali dari kamar mandi dengan penampilan yang lebih segar. Ia segera berganti baju. Setelah siap, ia berpamitan dengan Humai. "Abang rapat dulu, jaga diri di rumah. Kuncinya biar abang yang bawa. I love you" cup. Sebuah ciuman mendarat di bibir Humai.
"I love you too pak camat, cepat pulang ya?" Archee mengangguk. Humai menyalami Archee. Archee segera keluar dari rumah. Mengunci pintu dan mengantonginya.
"Lama amat pak!" kata Agil sedikit kesal. Archee meliriknya. "Mau protes?"
Agil menggeleng takut. "Besok disini kasih obat nyamuk pak" Archee tak menyahut. Mereka segera masuk ke mobil. Dan menuju tempat rapat digelar.
Humai melihat tampilan dirinya di meja rias. Meraba leher dan dadanya yang penuh dengan tanda merah. Meraba bagian deoannya yang dinikmati oleh suaminya. Ia tersenyum dan merona malu.
Akhirnya ia memilih bermain ponsel. Melihat Amaris sedang online.
Me : Assalamualaikum
__ADS_1
Amaris : Waalaikum salam kakak ipar cantik! Tumben ngechat?
Me : Iya nih, aku lagi dirumah sendirian. Abang pergi rapat. Kamu apa kabar? Keadaan Aylin gimana?
Amaris : Alhamdulillah aku sehat kakakku..., kak Aylin jangan dikhawatirin. Sudah happy pol dia. Gimana? Udah belah duren belum?? 😜
Me : ☺☺☺
Amaris : Belum ya? Yah, padahal aku dan yang lain berharap banget kamu bisa jatuh cinta sama Abang kak
Me : Hampir melakukannya, tapi gagal ðŸ¤ðŸ¤«ðŸ¤«
Amaris : 😲😲😲 kenapa gagal???
Me : Abang berangkat rapat Ris
Amaris : 😒😒😒
Me : 😂😂 kok kamu yang bete sih?
Amaris : Iya lah! Sekalinya ada kesempatan malah kerja! Dasar bang Archee!
Me : 🤣🤣🤣. Aku ngantuk nih, aku tidur dulu ya. Assalamualaikum
Amaris : iya, waalaikum salam. Buruan belah duren sebelum kami paksa kalian! 😛
Humai hanya tersenyum membacanya. Menyimpan ponselnya dan menarik selimutnya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1