Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 82


__ADS_3

Aylin baru saja tiba di rumah. Terlihat suasana rumah malam itu begitu ramai. Semua keluarga dan saudara kumpul menjadi satu. Semuanya menampakkan wajah gembiranya.


"Ini calon manten masih kerja aja buk!" sapa Hilal. Aylin tertawa dibuatnya. "Nyari cuan Pak, buat biaya nikah!"


"Hilih pret!"


"Tumben lu balik Lal?"


Hilal tersenyum. "Masa sahabat gua mau lamaran, gua gak datang sih?"


"Ahahaha, seakan-akan lu tuh sahabat sejati ya??" Semuanya tertawa. "Hilal tuh pengen memastikan kamu bersama lelaki yang tepat. Iya kan Lal? Cieeee..... segitu sayangnya sama Kak Aylin?? Hmmm??" Goda Amaris.


"Hahahaha, sayangnya sebatas sahabat ajah! Gak lebih! Cinta gua cuma buat Azka"


"Azka kapan diresmiin?" pancing Adel. "Lu sendiri kapan diresmiin bontot??"


"Pacarnya lagi jauh..... di Malaka, lama lagi, 8 bulan. Hadeh....." sahut Aylin.


Adel berdecak. "Jangan diingetin terus dong! Nanti berasa sangat lama"


"Tenang Mbak Del, yang terpisah hanya raganya, bukan rasanya" sahut Habib. "Widih..... makin lancar gombalannya Bib. Pantesan Maryam luluh! Hahahaha" jawab Aylin.


"Kalian tuh belum pernah merasakan yang namanya LDR karena tugas. Beraaaattttt..... Setiap hari tuh mikirin dia disana keselamatannya gimana, kalau gampang sinyal sih gak gimana-gimana. Susah sinyal, sekalinya bisa telpon cuma lima sampai 10 menit" tutur Habib.


"Berantem tok lagi isinya......" imbuh Maryam. "Kenapa berantem?" tanya Adel


"Gimana gak berantem Mbak Del, giliran dia yang telpon aku lagi ngerjain sesuatu. Giliran aku yang telpon dia ada pasien terus" tutur Maryam. Membuat Adel berpikir.


"Nanti Azka juga bakalan kena tugas begitu Mar?" tanya Hilal. "Iyo mesti lah Mas"


"Duh dek!" jawab Hilal sambil menepok jidatnya. Semuanya tertawa mendengarnya. "Gak usah khawatir Mbak Del, kalau jodoh gak akan kemana. Malah kalau kalian sering berantem tuh tandanya kalian saling kangen, tapi belum bisa menyampaikannya dengan kata. Karena memang definisi dari kangen yang sebenarnya adalah tak terungkapkan hanya dengan kata"


Adel tersenyum mendengar ucapan Maryam. "Tuh dengerin! Makanya kalau ada orangnya tuh di sayang-sayang dek, jangan dicuekin!" kata Amaris.


"Iyaaaaa..... bawel ih! Eh, kak, kalian baju kebayanya sama gak?" tanya Adel tetiba terlintas sesuatu di kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Aylin dan Amaris. "Gimana kalau kita bikin itu Mas Damar sama Mas Imam bingung milih mana calonnya??"


"Setuju!" kata semuanya. Aylin dan Maris saling pandang. "Okelah, tapi kebayanya kami lain lho"


"Tenang, gini aja, nanti pas waktunya kalian keluar, kami bantu kalian dengan menutupi bagian atas diri kalian. Jadi besok pakai bawahan jarik yang sama. Biar mereka bingung" tutur Maryam sambil menaikturunkan alisnya.


"Oke lah" sahut Aylin dan Amaris. "Sip!"


Malam semakin larut, akhirnya para tamu pamit pulang. A squad pun masuk ke kamar mereka masing-masing. Aylin sedang video call dengan Imam. Begitu juga dengan Amaris, dia sedang tertawa sambil menempelkan ponselndi telinganya. Adel hanya bisa tersenyum sambil melihat boneka kesayangan pemberian dari Ilyas.


"Ya Allah..... benar terasa sepi dan berat.... Huft...." Adel menuju jendela kamarnya dan membukanya. Tiupan angin malam menerpa wajahnya. Ia melihat rembulan yang membentuk lingkaran sempurna. Lalu tersenyum.


"Apakah aku benar-benar sedang merindukanmu? Hingga sejenak melihat bulan seperti menggambar senyum manismu dalam dirinya. Ilyas..... Aku rindu sama kamu! Kamu dengar itu?? Ilyas Saputra! Aku! Rindu! Kamu!" Adel berteriak meluapkan rasa sesak yang ada dalam dadanya.


Amaris dan Aylin sampai bisa mendengar teriakan itu. Mereka membuka jendela masing-masing. "Ngapain sih Del?" tanya Aylin.


"Lagi minta sama bulan, titip salam rindu untuk Ilyas Saputra"


Amaris dan Aylin tersenyum mendengarnya. "Sabar dek, kakak yakin, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan" sahut Amaris.


Mereka bertiga tertawa. "Doa kakak buat kamu, semoga kamu segera nyusul kami" kata Aylin.


"Aamiin" jawab ketiganya. "Masuk yuk, dingin nih" Mereka kembali menutup jendela mereka. Bersiap untuk tidur.


Sedang di Malaka, Ilyas sudah terlelap. Ia bermimpi seperti bertemu dengan Adel. "Abang juga rindu sama kamu Adelia" lalu tersenyum dan kembali terlelap.


.


Pagi hari, Aylin masih bekerja di Puskesmas. Karena acara lamaran akan dilaksanakan setelah Maghrib. Sedang di rumah, Amaris mengatur dekorasi yang ada. Memastikan semuanya sudab tertata rapi. Adel memilih libur untuk membantu persiapan kakaknya. Papah Duta lebih banyak diam melihat putrinya sibuk. Ia tersenyum.


"Hmm..... apakah benar aku sudah siap ditinggal pergi oleh anak-anakku? Rasa-rasanya aku masih tidak ikhlas melepaskan mereka. Astaghfirullah.... titik terberat menjadi orang tua adalah ketika melihat anaknya akan dipersunting oleh lelaki yang sudah menjadi takdir hidupnya" gumam Papah Duta.


Mamah Laras membawakan kopi dan duduk disampingnya. Papah Duta meminum kopi itu. "Emmm.... selalu rasa yang sama yang kamu suguhkan untuk Abang"


Mamah Laras tersenyum dan mengalungkan tangannya ke lengan Papah Duta. Menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Masih ada Laras yang selalu menemani Abang. Masih ada Laras yang butuh bahu ini untuk bersandar. Jangan sedih Pah, anak-anak kita pergi bukan untuk meninggalkan kita. Anak-anak kita pergi untuk belajar tentang kehidupan yang lebih keras nantinya. Yang akan membuat mereka sekuat baja. Tugas kita sekarang adalah menjadi pengawas dan penengah bagi mereka"

__ADS_1


"Ck, tahu aja sih kalau Abang lagi sedih??"


Mamah Laras tersenyum lalu mencubit dagu Papab Duta. "Laras kenal Abang bukan sehari dua hari, puluhan tahun kita bersama, menghadapi semuanya. Sampai jumlah uban Abang pun Laras ingat"


"Hahahaha, mosok?? Coba sebutkan jumlah bulu ketek Abang yang lurus ada berapa??" tanya Papah Duta konyol.


Mamah Laras tertawa mendengarnya. "Gak ada yang lurus lah, belum Mamah rebonding kok!"


Amaris dan Adel tersenyum melihat orang tuanya. "Seneng lihatnya. Bikin hati adem. Ini yang bakalan membuat Kakak rindu akan rumah" kata Amaris.


"Iya Kak, ini yang membuat kita gak rela ninggalin rumah" sahut Adel.


"Hmmmm.... tolong jagain mereka ya Del"


"Tanpa kalian minta pun, Adel akan jaga orang tua kita. Sering-sering balik ke rumah lu! Awas kalau gak balik!" Amaris tertawa mendengar ancaman itu.


Sore menjelang. Persiapan telah selesai dilakukan. Selesai sholat, Mamah Laras, Amaris, Aylin, dan Adel pun mulai dirias.


"Adel ikut dirias juga?" tanya Aylin.


"Iya, buat nambah mereka makin bingung. Hahaha"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2