Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 76


__ADS_3

Aylin memikirkan cara untuk membantu adiknya. Namun, kepalanya tak bisa diajak kompromi. Dirinya juga sedang memikirkan rencana lamarannya dengan Imam besok rabu. "Oke, tenang Lin, pikirin dulu catering makanan buat besok rabu" Ia menghubungi tantenya.


Tante Nina, yang mewarisi usaha dari mertuanya, Nenek Meli. "Halo tante, maaf ganggu. Tante, ini Ay Ay mau ngomong, besok rabu catering untuk acaranya Maris dipsarahin ke tante bukan sih? Alhamdulillah.... tante, porsinya ditambah ya? Karena besok itu Aylin juga lamaran sama Mas Imam. Heem, sekitar 100 porsi, iya dibikin 150 gak papa tante, nanti kalau sisa kan bisa dibagikan. Heem, yawes.... makasih ya tente...."


Aylin segera melakukan panggilan video grup dengan ketiga saudaranya. "Ngapain telpon malam-malam?" tanya Amaris.


"Ada masalah"


"Masalah apa?" tanya Archee dan Amaris bersamaan. "Abang, janji jangan bilang sama Papah dan Mamah dulu. Takutnya, mereka syok. Nanti biar Aylin dan Adel yang ngomong setelah selesai lamaran"


"Iya ah, ada apa sih?" tanya Archee.


"Empang lele kita diracuni sama pegawai bernama Yogi. Karena dia ketahuan melakukan tindak korupsi di kantor meubel, dia gak terima lalu meracuni empang. Dan, itu lele mati semua. Adel bingung, gimana caranya gaji karyawan kalau pemasukan langsung hilang? Ada sih yang sudah umur dua setengah bulan, tapi kan gak sebesar yang usia 3 bulan kalau di jual. Piye? Kasihan Adel tuh"


Amaris dan Archee tampak berpikir. "Ih, otak ku kalau suruh mikir bisnis puyeng" jawab Maris.


"Abang ada ide, untungnya gak seberapa, malah nanti hasilnya sepertinya akan imbang antara pengeluaran dan pemasukan, tapi, lebih baik begitu daripada kita ambil utang di bank. Ris, coba kamu hitungkan berapa persentase keuntungan yang bisa didapat Adel jika kita menjual lele itu dengan harga yang sama seperti yang umur tiga bulan dengan tambahan beberapa ekor lele? Bandingkan jika kita menjual dengan harga rendah tapi gak dikasih bonus?" terang Archee.


Amaris mengangguk. Ia segera menghitung seperti yang diminta Abangnya. Dia berkutat cukup lama. "Sekarang Adel gimana Lin?" tanya Archee.


"Dia mencoba kuat, mana lagi ditinggal Ilyas Satgas lagi. Kita ini kakak macam apa sih bang? Ngasih beban berar banget ke pundak adek kita?" tanya Aylin.


"Udah, jangan mikir jauh-jauh. Sebisa mungkin kita bantu dia. Abang akan gunakan tabungan Abang untuk beli lele itu. Kirim ke Demak. Nanti Abang jual lagi. Untungnya kita sumbangin buat empang. Bukan buat Adel lho ya. Tapi untuk empang" Aylin mengangguk. Amaris telah menyelesaikan penghitungannya.


"Mending dijual dengan harga mahal dengan ditambah beberapa ekor. Kalau kita jual murah, belum tentu timbangannya nanti akan pas. Jadi langsung pukul harga mahal tambah beberapa ekor akan memininalisir kerugian. Aku setuju sama ide Abang. Aku juga akan menggunakan tabunganku untuk beli lele itu. Nanti aku jual di kompleks asrama. Keuntungannya akan kita sumbangkan untuk empang" terang Maris.


"Ck, gak usah, simpan tabungan kamu untuk keperluanmu Ris. Bentar lagi kamu akan menikah.... butuh biaya banyak"


Amaris menggeleng. "Maris sudah plot kan uang yang Maris punya sendiri-sendiri. Anggap ini sedekah kita untuk karyawan kita. Parah kah kak keadaan disana?" tanya Maris


Aylin mengangguk. "Empangnya harus diratakan dengan tanah Ris"


"Ya Allah.... jahat banget sih orang itu! Besok aku telpon Adel pagi-pagi deh sebelum sidang pra nikah"

__ADS_1


Aylin mengangguk. "Ya sudah, nanti aku juga akan lakuin hal yang sama seperti kalian. Mas Imam juga mau join. Damar gak mau join?"


"Nanti lah aku tanya sama dia. Dia di asrama bang Hamka"


Archee menautkan alisnya. "Lha asrama dia kenapa?"


"Ih, Abang nih gimana sih? Kan asramanya buat aku nginap beberapa hari"


"Ooo.... baru tahu Abang. Jangan melewati batas! Ingat, kalian belum halal! Kamu juga Lin"


"Nggih pak camat...." jawab Amaris dan Aylin bersamaan. Lalu mereka bertiga tertawa. "Sudah malam. Istirahat yok. Abang besok harus kerja"


"Ya sama, aku pun kerja. Ya sudah, mari kita bahu membahu membantu adek kita. Kita kasih support buat dia. Dia yang paling kuat diantara kita aja bisa nangis Bang, jadi gak tega kan aku"


"Ya sudah, besok kita kasih support buat Adel. Fokus ke Adel dan empang dulu. Pasti si Yogi sudah ditangani sama pengacara papah kan?" Aylin mengangguk. Akhirnya mereka mengakhiri panggilan video itu. Mengistirahatkan diri dari penatnya hari.


Waktu berputar, seiring dengan perputaran bumi. Subuh menjelang. Adel terbangun dan memeriksa ponselnya. "Kok belum ada kabar ya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia sedang menunggu kabar dari Ilyas. Ia merapikan tempat tidurnya lalu bergegas mengambil wudhu.


Sholat sendirian di kamar. Memunajatkan doa dalam kekhusyukan. Meminta pada Allah atas masalah yang dihadapinya. "Ya Allah, datangkanlah rezeki tak terduga dari-Mu, agar hamba bisa menyalurkan rezeki-Mu bagi karyawan hamba. Berikanlah jalan keluar untuk masalah ini. Jagalah hati Ilyas Saputra dari godaan. Mantapkanlah hati hamba dan hatinya menjadi satu. Lindungi dia, jaga dia, hamba titipkan dia hanya pada-Mu. Aamiin"


"Assalamualaikum, adek kakak yang cantik.... semangat ya? Kakak udah dengar dari kak Aylin. Semangat ya sayang, semuanya pasti ada jalan keluarnya kok, kakak cuma bisa bantu doa"


"Waalaikum salam. Iya makasih, doain Adel kuat ya kak. Doain ada yang beli lele banyak, biar karyawan kita tetap bisa makan"


"Aamiin, kakak doakan selalu untuk kamu Del. Eh, kakak harus segera siap-siap mau sidang pra nikah. Doain kakak juga ya lancar sidangnya"


"Iya, Adel doakan semoga lancar sidangnya. Pulang jam berapa nanti?"


"Belum tahu, nunggu sidang selesai dulu"


"Oke deh, Adel mau mandi nih. Daaa... assalamualaikum"


"Waalaikum salam"

__ADS_1


Adel tersenyum. "Alhamdulillah ya Allah.... Engkau memberikan saudara yang sangat amat perhatian bagi hamba...."


Saat Adel akan menuju kamar mandi, ponselnya kembali berdering. Ia melihat nama yang muncul. Panggilan video. "Bang Archee.... pasti mau ngasih support juga. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam sayangnya Abang..... Hehehe, semangat ya dek! Adek kecil Abang paling bisa diandalkan. Jangan sedih, nanti Abang pikirkan gimana caranya agar kita bisa tetap bertahan. Sabar yak! Abang kerja dulu"


"Iya makasih, salam buat Humai"


"Eh! Manggilnya yang sopan! Dia kakak ipar kamu"


"Iya pak camat.... maaf, Bang..... jangan bilang dulu sama Papah dan Mamah ya?"


"Oke, ya sudah, Abang mau mandi, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Adel tersenyum dan meletakkan ponselnya. Ia hendak beranjak tapi ponselnya kembali berdering. Ia segera menyahutnya tanpa membaca nama yang muncul. "Apalagi sih Bang???"


"Halo"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Bang Archee apa Bang Ilyas yang nelpon??? 😁😁😁. Stay save gaes. Ning omah wae


__ADS_2