
Imam terduduk lemas di depan Ilyas. Ilyas melihat Azka melintas. Memanggil juniornya. "Az!"
Azka mencari sumber suara. Ia menghampiri Ilyas. "Mana makanan Abang?"
"Lhah, katanya udah makan?" jawab Azka polos. Imam berdecak. "Yang udah makan tuh aku Az, Ilyas mah makan angin"
"Hahaha, kirain! Untung gak jadi diminta Bamin"
"Jangan ngomong Bamin deh! Sebel gua!"
Ilyas menatap Azka. Azka mengangkat bahunya tanda tak tahu. "Nih, intinya yang Azka tahu, tadi bang Imam dan mbak Aylin berantem. Udah sampai itu doang. Azka balik dulu ya bang.... Mau WA nan. Hehehe"
Ilyas menerima makanan itu dan mengangguk. Ia mulai memakan makanannya. "Kenapa sih harus ember juga mulut Bamin?" tanya Imam kesal.
Ilyas mencoba mencerna pertanyaan Imam. "Lu kenapa sih Mam?"
"Aylin marah gara-gara gua ketahuan kemarin cuma ngetes dia"
Ilyas tertawa puas. "Akhirnya...... Makanya! Kurang ajar sih lu, anak orang pake lu kerjain! Pasti tuh, orang tuanya gak terima makanya bisa ketahuan! Hahahahah"
"Hish! Bantuin mikir kek gimana caranya minta maaf ke Aylin! Jangan ngetawain dong!"
"Ogah! Gak ada untungnya buat gua!" jawab Ilyas. Imam memanyunkan bibirnya.
Ilyas menghabiskan makanannya dan menarik Imam untuk kembali bekerja. "Jangan galau mulu, itu junior waktunya binsik. Mandat dari komandan suruh bawa mereka jalan sore"
Imam menghela nafasnya. Memasang wajah cemberut. "Rutenya?"
"Terserah, 3 jam jalan cukup lah. Aha..... lewat depan puskesmas tempat kak Aylin kerja aja! Siapa tahu dia lihat lu"
Imam berpikir. "Urusannya apa kalau dia lihat aku Yas?"
"Ya siapa tahu makin marah kan? Hahahaha" Ilyas berjalan terlebih dahulu meninggalkan Imam. Imam hanya bisa menghembuskan nafas bingung.
Ia merogoh kocek celananya. Mengetik pesan untuk Aylin.
__ADS_1
Me : Ay
Me : Maafin mas ya? Mas beneran nyesel. Baikan yuk..... ✌
Pesan itu hanya dibaca tanpa dibalas Aylin. Ia mengetik pesan lagi.
Me : Nanti malam mas jemput di klinik ya? Kali ini beneran pake mobil mas sendiri. Kapok mas bohongin kamu. Oke sayang??
Me : 😘😘😘 udah mas kasih kiss nih, banyak lagi. Jangan ngambek lagi ya?
Aylin mengetik......
Aylin : Sejak kapan itu ada panggilan sayang? Sejak kapan aku minta diciun sama kamu?? 🙄
Imam tersenyum. Caranya memancing Aylin agar membalas pesannya berhasil.
Me : Sejak kamu bilang mau jadi calon persitku, disitulah kamu sudah menjadi kesayanganku 😁😁😁
Aylin : preeettttt.... gombal! Nyatanya juga bohong!!
Aylin : 😫😫😫😫🤮🤮🤮🤮🤮🤮🤮
Imam tertawa melihatnya. Ia memasukkan kembali ponsel di sakunya dan menyusul Ilyas yang sudah mempersiapkan para juniornya.
Sedang di tempat lain, Aylin tersenyun tak jelas memandangi dan membaca lagi isi chatnya dengan Imam.
"Ih, kok aku seneng banget sih?" katanya. Tapi, sungguh ia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. "Ih, aku nih apaan coba? Kayak baru pertama aja dipanggil sayang! Tapi, kenapa sebahagia ini? Dasar! Kerja Lin kerja!"
Aylin menghela nafasnya dan mulai mengerjakan tugasnya. Mengisi laporan hasil pemeriksaan dan lain sebagainya.
Imam dan Ilyas mulai menggiring junior mereka keluar dari batalyon. Berjalan menyusuri jalan sebagai latihan fisik. Sedangkan Ilyas menggunakan motor berboncengan dengan Imam. Mengikuti perlahan para juniornya.
Rute yang sangan panjang jika harus berjalan kaki. Apalagi dengan suasana terik matahari yang sedang berada tepat diatas kepala. Semakin panas untuk mereka. Kilometer demi kilometer mereka tempuh hingga mendekati puskesmas dimana Aylin bekerja.
Imam turun dari motor dan memberi perintah pada semua juniornya. "Saat nanti melintas depan puskesmas, berhenti 1 menit! teriak yang sekencang-kencangnya! Bilang! Dokter Aylin, tolong maafkan senior kami! Teriak yang keras! Kalau sampai saya dengar ada yang tidak teriak, siap-siap binsik yang lebih dari ini"
__ADS_1
"Siap siap siap!!!" jawab semuanya kompak.
Entah suatu kebetulan atau tidak, saat itu adalah jam pulang. Yang mana semua orang yang ada pasti akan berada di luar gedung puskesmas. Rombongan TNI melintas dan nerhenti di depan gerbang puskesmas. Mereka meneriakkan seperti yang diminta Imam.
"Dokter Aylin, tolong maafkan senior kami! Dokter Aylin tolong maafkan senior kami!" Mereka mengatakannya berulang-ulang. Aylin langsung menjadi pusat perhatian.
"Cie dokter Ay Ay..... tuh ada fansnya satu kompi datang" goda teman-teman Aylin. Wajah Aylin memerah. Ia malu bukan main. Para junior Imam masih saja berteriak di depan gerbang puskesmas.
Ia berjalan menghampiri Imam. Ilyas hanya tertawa di atas motor. "Kamu apa-apaan sih?" katanya kesal. "Semuanya diam!" kata Aylin. Mereka tak mau menuruti Aylin.
"Maaaasssss....." Imam tersenyum. "Mereka hanya akan menuruti perintahku. Maafin dulu dong!"
Aylin berdecak. "Iya aku maafin!" Imam tersenyum "Maju jalan!" Para pasukan itu meneruskan perjalanan mereka. Ilyas tertawa menyaksikan Aylin yang terpaksa memaafkan Imam.
"Yas, ambil alih" Ilyas mengangguk meninggalkan mereka berdua. Teman-teman Aylin menyapa mereka berdua.
"Cie cie cie..... baikan nih ye....."
Aylin hanya memaksakan senyumnya. "Udah, aku mau balik!" Imam mencekal tangan Aylin.
"Ikhlas kan maafin Mas?"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1