Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 101


__ADS_3

Tiga bulan pun berlalu semenjak pernikahan Amaris dan Damar. Aylin dan Imam sedang dalam tahap akhir pengajuan. Hampir menyerah di awal karena terlalu banyak dokumen dan tes yang harus dijalani untuk menjadi istri seorang prajurit.


Adel dan keluarganya menguatkan Aylin agar tetap bertahan. Tiba saatnya tes terakhir untuknya dan Imam. Menghadap kepada petinggi kesatuan. Adel tersenyum senang melihat Aylin begitu cantik menggunakan baju persit khas istri TNI AD.


"Masyaallah.... cantiknya kakak aku ini! Gemes pengen gigit deh!" Aylin dan Adel sama-sama tertawa. Ada panggilan masuk grup A squad. Archee dan Amaris sudah menunggu.


Aylin mengangkatnya. "Masyaallah..... cantek kaliiiii" kata Amaris menyapa.


"Assalamualaikum" sindir Archee. "Waalaikum salam pak camat dan bu camat" Semuanya tertawa.


"Akhirnyaaa.... setelah ada drama ingin mundur dan batal nikah sama Imam. Hahahaha, selamat ya dek!" kata Archee.


"Pengajuan terakhir ini..... manis untuk dikenang pahit untuk diulang" jawab Maris


"Hasek!" balas semuanya kompak. "Semoga lancar pengajuan terakhirnya. Adel habis ini nyusul ya Del. Kurang berapa bulan lagi sih Ilyas pulang?" tanya Humai


"Masih kurang 5 bulan lagi Mbak" jawab Adel.


"Pas Ilyas balik dapat ponakan. Kita indehoy, mereka yang momong! Hahahah" kata Archee. Semuanya tertawa. "Enak aja! Kagak bisa!" sahut Adel.


"Ya sudah, aku berangkat dulu ya? Do'akan lancar"


"Aamiin" jawab semuanya. Panggilan itu pun berakhir. Imam sudah bersama Aylin. Mereka akan menghadap atasan Imam.


Gugup melanda keduanya. Imam menenangkan dirinya dan juga Aylin. Mereka sudah sampai di batalyon. Langsung berjalan menuju ruang atasan Imam berada. Salah satu anggotanya memberitahu bahwa atasan Imam sedikit terlambat karena ada rapat koordinasi dengan Polres.


"Sudah mau selesai, ada saja yang menghambat!" keluh Aylin menanggapi berita tersebut.


"Sabar Ay"


"Iya Sabar! Memang bisa apa lagi??"


Imam terdiam. Menghela nafasnya. "Kalau kamu ngeluh terus kayak begini, Mas yang rasanya berat! Bisa gak sih coba sabar??"


"Lhoh, kok kamu malah sewot sih Mas??"


"Mas gak sewot! Capek aja dengerin kamu ngeluh terus dari awal pengajuan! Jadi istri prajurit ya begini! Kalau kamu memang gak sanggup harusnya ngomong diawal kita ketemu!" kata Imam sudah terpancing emosi.


Aylin tak habis pikir dengan ucapan Imam. "Aku sudah pernah hampir menyerah! Tapi semuanya melarangku, dan alasan terkuatku adalah rasaku terhadapmu! Aku gak nyangka ya Mas, kamu tega ngomong gini ke aku!"


Aylin merasa sangat kesal dengan ucapan Imam. Dirinya meninggalkan Imam. Berniat kembali ke rumah. Imam mengusap wajahnya kasar. Ia segera mencegah Aylin.

__ADS_1


"Ay" Imam menghadang jalan Aylin. "Apa??" tanya Aylin marah.


"Maafkan ucapan Mas, Mas gak bermaksud untuk mengucapkan hal itu Ay. Mas tahu kamu capek, Mas paham. Tapi, cobalah untuk lebih bersabar. Karena bukan cuma kita saja yang menunggu, ada anggota yang lain juga bernasib sama seperti kita"


Aylin diam seribu kata. "Maafin Mas" Menggenggam tangan Aylin mencoba meyakinkannya.


"Maafin Aylin juga Mas, gak seharusnya Aylin mengeluh terus menerus seperti ini"


Imam tersenyum dan mengecup tangan Aylin. "Mas maafin. Kembali ke asrama dulu deh, Mas belum sarapan" Aylin tersenyum dan mengangguk. Mereka menuju asrama Imam.


Sampai di asrama, Aylin langsung menyajikan bubur ayam yang dibelinya di depan Batalyon. Mereka makan dengan tenang. Selesai makan, mereka sibuk dengan ponselnya. Aylin memberitahukan kepada keluarganya bahwa masih harus menunggu atasan Imam.


Sedangkan Imam, mencari kabar dari anggotanya. Apakah atasannya sudah kembali? Waktu terus berjalan mengikuti arahnya. Sudah hampir 3 jam Aylin menunggu. Dia mulai bosan.


Dia melihat Imam. Imam ganti melihatnya. "Suntuk ya?" tanya Imam. Aylin mengangguk. Imam beranjak ke samping Aylin.


Menggenggam tangannya. "Maaf ya"


"Untuk apa?"


"Karena kamu harus melalui semua ini"


"Jangan minta maaf Mas, kamu gak salah. Akunya saja yang kurang sabar. Banyak cobaan menuju halal tuh bener adanya ya Mas?"


Imam termenung lalu mengangguk. "Syukur kalau kita bisa melewati satu per satu dari semua itu Ay. Jujur.... Mas gak tahu untuk menentukan arah jika dulu kamu milih mundur. Takut kehilangan karena kamu sudah mengakar dihati Mas"


"Hehehehe, pohon kali ah mengakar!"


"Ay"


"Hmm??"


"Boleh Mas minta satu hal sama kamu??" tanya Imam sambil menatap dalam mata Aylin. Membuat Aylin sedikit gugup. "Apa Mas?"


"Mas minta.... jangan pernah meninggalkan Mas. Karena Mas akan menjadi buta tanpamu karena kamu selalu menuntun Mas dalam kebaikan, menjadi tuli tanpamu karena Mas gak bisa mendengar lagi suaramu, dan menjadi bisu karena Mas tidak akan bisa lagi menjawab setiap pertanyaan super duper bawel dari kamu"


Aylin mengalungkan tangannya di lengan Imam. "Insyaallah, aku selalu disini" jawab Aylin menunjuk dada Imam. "Karena seperti katamu, aku sudah mengakar di dalam sana"


"Makasih ya Ay"


"Sama-sama Mas" ada pesan masuk ke ponsel Imam. Imam segera membacanya. Ternyata atasannya sudah berada di ruangannya. Imma dan Aylin segera bersiap.

__ADS_1


Lalu menghadap atasan Imam. Menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh atasan Imam. Hampir setengah jam lamanya proses itu berlangsung. Dan akhirnya rangkaian pengajuan pun selesai.


Aylin menangis haru saat menerima lembaran tanda tangan dari atasan Imam. Keluar dari ruangan atasan Imam, dirinya sudah disambut oleh anggotanya. Mereka langsung menggiring Imam dan Aylin menuju motor ninja KW itu sambil meneriakkan yel-yel mereka.


"Jadi kawin jadi kawin jadi kawin" kata mereka. Aylin tertawa sejadi-jadinya karena ulah anggota TNI itu.


"Mak! Imam jadi kawin Mak! Otewe maringi putu!" kata Imam sambil memboncengkan Aylin mengitari area Batalyon.


Imam mengantarkan Aylin pulang. Memeluk Papah Duta karena terlalu senang. "Selamat ya nak, Alhamdulillah ya Allah.... kami ikut senang mendengarnya"


Adel yang baru saja kembali merasa heran. "Kenapa nih??"


"Kakak sudah selesai pengajuan dek!" kata Aylin senang sambil memeluk adiknya. Adel pun ikut merasakan kebahagiaan itu. "Alhamdulillah Ya Allah"


Mereka duduk di ruang tamu dan bercengkrama. "Pah, alhamdulillah, kerugian kita bisa ditutup dengan keuntungan yangbkita dapatkan Pah" jelas Adel.


"Barakallah..... beneran Del?" tanya Papah Duta. Adel mengangguk semangat. "Alhamdulillah ya Allah, Engkau memang Maha Adil. Maha pemberi cobaan, dan Maha pemberi jalan keluar"


"Naikkan gaji karyawan sesuai nadzar Papah Del"


"Nggih Pah"


Satu bulan setelah pengajuan. Rumah Papah Duta nampak ramai kembali. Banyak orang datang bersalaman dengan mempelai pengantin.


Yup. Aylin dan Imam resmi menjadi suami istri. Resepsi digelar di rumah Papah Duta dengan konsep yang sama, yaitu garden party.


Banyak yang berubah. Maryam sudah menggendong seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki yang sekarang sudah berumur tiga bulan. Perut Humai sudah semakin membuncit karena kehamilannya memasuki tujuh bulan.


Amaris dan Damar masih setia menunggu kehadiran calon buah hati di tengah-tengah keluarga kecil mereka. Adel masih setia menunggu pemilik hatinya pulang.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Maaf ya, up lama. Othor kecapekan


__ADS_2