Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 71


__ADS_3

Adel masih saja menangis di atas motor. Membuat Imam semakin bersemangat untuk mempertemukan mereka. "Mas.... hiks.... buruan!"


"Sabar Del! Mas nih lagi nyoba ngejar lho!"


"Tambah kecepatan lagi!" perintah Adel.


"Cah edan! Bahaya Nduk! Tenang, kalau jodoh gak kemana!"


"Hiks.... ngomong memang gampang! Coba kamu dipisahin sama Aylin!"


"Weh, jangan dong! Makanya! Kalau ngomong itu dipikir dulu bos lele, jangan asal ngejeplak aja minta putus! Nyesel ya??"


"Hiks..... huhuhu.... buruan! Usah banyak ngomong! Huhuhu" Imam menghela nafasnya kasar. "Kalau bukan calon ipar, udah tak turunin kamu di jalan Del!"


Bandara telah terlihat di depan mata. Imam menurunkan Adel di depan pintu masuk. Karena terburu-buru hingga lupa melepas helm. "Eee..... helmnya!"


Adel kembali lagi dan memberikan helm itu. Adel segera berlari masuk, mencari keberadaan para pasukan Satgas itu. Ia bertanya pada satpam. Satpam tersebut mengatakan bahwa mereka telah melakukan check in sekitar 10 menit yang lalu.


Adel kembali menangis. Langkahnya gontai tak berdaya. Imam menuju tempat informasi. Menyuruh untuk membetitahukan bahwa tas pinggang milik Ilyas Saputra tertinggal.


Adel mencari sumber suara. Ia mengedarkan pandangannya berharap Ilyas kembali mengambil tas itu. "Hiks.... bantu Adel ya Allah" harapnya.


Ilyas segera kembali menuju truck yang ditumpanginya. "Mikir apa sih Yas, sampai lupa barangmu" Langkahnya terhenti ketika melihat seorang perempuan yang dikenalnya, menangis melihat ke arahnya. Ia kembali berjalan, melambatkan langkahnya.


Mencoba mencubit dirinya sendiri. Menampar pipinya sendiri. Kini, Ilyas dan perempuan yang tengah menangis itu berhadapan. Ilyas diam menyaksikan perempuan itu menangis. "Kenapa nangis?" tanyanya tak tega namun dengan wajah datar. Perempuan itu menggeleng. "Kenapa nangis? Siapa yang nyuruh nangis?" tanya Ilyas lagi.


Adelia Ayu Wicaksana, adalah perempuan yang sedang menangis di hadapan Ilyas. "Abang tanya, kenapa nangis? Siapa yang nyuruh nangis?" Adel hanya diam sambil menangis melihat Ilyas. "Abang tanya sekali lagi, kalau kamu gak jawab Abang pergi. Kenapa nangis? Ha? Siapa yang nyuruh kamu nangis?" Adel semakin sesenggukan dalam tangisnya. Ia tak tahan lagi. Ia memeluk Ilyas dengan sangat erat. Ilyas membiarkan tubuhnya dipeluk Adel. Seragamnya basah karena air mata perempuan yang dicintainya.


Ilyas menahan dirinya agar tak memeluk Adel. Namun, pertahanannya runtuh. Ia pun tak kuasa. Ia membalas pelukan Adel. Mendekapnya sangat erat. "Nyesel kan?" katanya. Adel mengangguk. "Adel minta maaf sama Abang, hiks huhuhuhu"


"Tahu kan rasanya gimana? Sakit sendiri kan jadinya? Kamu tuh sebenarnya beneran sayang gak sih dek sama Abang? Kalau kamu beneran sayang, harusnya kamu tahu apa yang abang inginkan. Harusnya kamu paham apa yang abang mau. Bukan dikit-dikit minta putus. Apaan tuh!" Ilyas mengungkapkan kekesalan hatinya.


Imam bersidekap sambil membawa tas pinggang Ilyas. "Dasar dua anak manusia bodoh! Masih pada saling cinta juga!" gumam Imam melihat kedua insan yang sedang berpelukan itu.


"Abang harus segera berangkat" Adel menggeleng. "Abang berangkat tugas dek" Adel menggeleng lagi. Ilyas kembali mendekapnya.


"Adel minta maaf telah menyakiti Abang"

__ADS_1


"Abang sudah memaafkan"


"Adel minta maaf karena emosi memutuskan hubungan kita"


"Sudah terlanjur" Adel melepas pelukannya dan menghapus air matanya. "Kok jawabnya gitu? Hiks....." tanya Adel.


"Memang Abang harus jawab gimana? Bukannya kamu yang ingin Abang pergi dari hidupmu? Sekarang, keinginanmu dikabulkan lho sama Allah"


Adel kembali menghapus air matanya. "Adel gak pernah bilang kalau Abang harus pergi dari hidup Adel. Maafkan.... hiks.... maafkan Adel yang karena emosi mengambil keputusan yang salah Bang. Hiks..... Adel mau minta balikan sama Abang"


Ilyas menahan tawanya. "Balikan? Yakin minta balikan? Sama Abang? Sama pria yang selalu nuntut perhatian dari kamu? Sama pria yang kamu bilang orangnya kasar? Dan kamu bilang gak bisa hidup sama dia? Yakin kamu?"


"Adel gak sanggup kehi..... hiks..... kehilangan Abang! Adel.... huhuhu hiks..... beneran sayang..... hiks..... sama Abang"


"Abang bakalan nuntut yang lebih dari kamu. Siap kamu?"


Adel mengangguk. "Adel bakalan lebih perhatian sama Abang"


"Yakin bisa?" Adel mengangguk. "Insyaallah akan Adel buktikan ucapan Adel ke Abang, hiks...."


"Tapi Abang mau berangkat tugas lho"


"Abang akan jawab permintaan kamu setelah Abang sampai di Malaka. Dengarkan perintah Abang. Jangan pernah nangis. Jangan pernah sedih. Jaga diri selama Abang tugas. Jaga kesehatan, jangan telat makan. Jangan telat sholat, jangan lupa ngaji" Adel mengangguk.


"Jangan tidur larut malam, olahraga seminggu tiga kali, makan makanan yang sehat, jangan genit sama lelaki, jangan sering-sering main ke batalyon kalau gak sama kak Aylin. Jangan dandan cantik selama Abang tugas" Adel tersenyum dan mengangguk lagi.


"Banyak banget.... hiks.... perintahnya"


"Iya dong! Abang punya banyak mata-mata lho ya disini! Jangan macam-macam! Tengokin Ayah dan Ibu. Perhatianmu untuk orang tua Abang juga sangat berarti"


Adel mengangguk. "Iya, kabari Adel jika sudah sampai. Kabari jika ada sinyal. Jaga mata dan hatimu selama disana. Adel juga punya mata-mata di sisi kanan dan kirimu"


Ilyas tersenyum, mencium kening Adel lama sekali. Hingga ada panggilan lagi untuknya. Panggilan kepada Danki Ilyas Saputra, pesawat akan segera berangkat. Mohon untuk segera masuk ke dalam pesawat.


"Abang sudah dipanggil. Abang berangkat ya?" Adel menghapus air matanya. Ia mengangguk. Imam mendekati mereka. "Nih tas lu! Untung aja ketinggalan, kalau gak, hadeh..... bakalan mewek terus ini bocah di atas motor!"


Ilyas tersenyum dan menerima tasnya. Ia memeluk sahabatnya. "Titip awasi dia!"

__ADS_1


"Wegah.... aku ngawasin Aylin aja susah! Malah mbok tambahin satu! Pasangin aja tuh cctv di kepalanya" kata Imam tak masuk akal. Ilyas dan Adel tertawa mendengarnya.


"Abang.... berangkat ya? Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Adel menyalami Ilyas. Ilyas menghujani wajah Adel dengan ciuman.


"Et et et.... belum muhrim! Sono berangkat lu!" Ilyas tertawa. Ia segera balik badan dan melambaikan tangannya. Ia berbalik lagi dan memeluk Adel kembali.


"Wes.... angel kandanane! Dosa Yas!" Imam mengingatkan sahabatnya. Ilyas tertawa mendengarnya. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Ilyas segera berlari menuju pesawat yang akan membawanya. Adel tersenyum lega masih bisa meminta maaf dan memperbaiki hubungannya dengan Ilyas. Imam juga tersenyum dibuatnya.


"Wes? Lega?" Adel mengangguk. "Ayo pulang" Adel mengangguk.


"Makasih ya mas udah dianterin sampai sini"


"Sama-sama. Makanya Del, kalau ada masalah tuh diceritain. Ilyas tuh tipe lelaki yang selalu nuntut perhatian. Oh ya, dia nitip sesuatu tuh buat kamu. Masih di batalyon. Nanti ambil ya"


Adel mengangguk. Mereka menuju parkiran dan mengambil motornya. "Ngebut lagi gak?"


"Boleh, biar cepet sampai batalyon"


"Oke kalau kamu mintanya begitu bos!"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Dah ya? Lunas ya? gak utang ya othor ya? Mata othor pegel. Mau rehat dulu. Monggo dinikmati sambil makan donat juga bisa. Mana nih donatnya buat othor? Atau ada yang mau ngirimin makanan lain ke othor? Bisaaa.... 🤣🤣🤣


__ADS_2