Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 35


__ADS_3

"Jangan sedih ah, kan minggu depan kita ketemu lagi sayangnya Mamas" ucap Damar melihat wajah Maris yang selalu sendu ketika mereka harus kembali terpisah jarak dan waktu.


"Mas pulang dulu, sabtu depan mas tunggu di bandara. Senin pengajuan. Semoga lancar, fitting, akad" bujuk Damar. Amaris mengangguk. Damar melihat jamnya. "Mas check in ya?" Maris mengangguk dengan senyum dipaksakan.


"Senyumnya yang ikhlas dong"


"Iya ah bawel, sana check in. Kamu gak beli oleh-oleh buat mereka?" Damar menggeleng.


"Kamu aja yang beli, bagikan minggu depan. Males bawa barang banyak. Hihihi"


"Dasar! Ya sudah, hati-hati. Kalau sudah sampai Semarang jangan lupa kabari. Jaga kesehatan, jaga diri, jaga hati, I lobe You pak pol"


"Iya, I love You too bu guru cantik. Daaahh" akhirnya mereka berpisah kembali. Damar check in dan Maris meninggalkan Bandara kembali ke rumah.


Ia tersenyum sendiri mendapati perhatian dari Damar, mulai dari mobil untuk mas kawin, ATM gaji Damar yang sudah dipegangnya, makan disuapi, kaki pegal dipijit, dibelikan sandal jepit. "Hmmm, romantis banget sih kamu maaas... makin cinta deh akunya sama kamu"


Maris telah sampai di rumahnya. Ternyata supir papah Damar sudah berada di sana. "Assalamualaikum mbak Maris"


"Waalaikum salam pak, mau ambil mobil ya?"


Pria paruh baya itu mengangguk. "Sekalian minta alamat lengkap rumahnya mbak Maris yang di Magelang. Karena besok mobilnya alan dikirim kesana"


Amaris menuliskan pada memo kecil dan menyerahkannya pada pria itu. "Ya sudah, saya permisi dulu mbak"


Amaris memberikan kunci mobilnya dan Pria itu berlalu. Ia masuk ke rumah. Tapi, saat akan menutupnya, rombongan motor dan mobil pun berhenti di rumahnya.


Amaris mengenali salah satu motor itu. Milik miridnya. Ia segera keluar dan membuka gerbangnya. "Assalamualaikum bu guru cantik" sapa semuanya.


Amaris terkejut dengan kehadiran mereka semua. "Waalaikum salam. Ada apa nih?"


"Kita mau mengadakan pesta perpisahan sama ibu" kata Ircham lagi. Amaris tersenyum.


"Ayo masuk. Cham, buka garasi biar motornya bisa diparkir ke dalam semua. Mobilnya parkir depan gak papa"


Mereka semua masuk ke rumah Maris. Maris memesan makanan secara mendadak dalam jumlah banyak. "Kalian sih gak bilang kalau mau datang, kan Ibu gak punya makanan"


"Kita kesini bukan buat makan bu, kita mau mengutarakan isi hati kami" ucap Dinda

__ADS_1


"Benar bu, kami dari 3 kelas yang ibu ampu, mengucapkan banyak terima kasih sama ibu, ibu sangat sabar dengan tingkah konyol kami, gak pernah marah saat dijahili oleh kami, kami.... kehilangan ibu banget.... huhuhuhuhu" timpal Izmi.


Semuanya ikut terharu. Begitu juga dengan Maris. "Terima kasih atas perhatian kalian pada ibu, jadilah murid yang berbakti pada semua guru. Tetap hormat pada mereka yang lebih tua"


"Kalau ibu tetap disini apa gak bisa sih bu? Huhhhhuhuhu" Ircham ikut menangis. Maris malah tertawa melihat anak didiknya yang biasa menggodanya begitu cengeng di depannya.


"Gak bisa Cham, calon suami ibu kerjanya di Semarang. Gak usah pada sedih ah, nanti kalau ibu ada waktu, ibu main ke SMA"


Para murid perempuan memeluk Maris. Menangis dalam pelukan itu. Merasa kehilangan atas kepindahan Maris. Makanan pun datang. Ircham dan para murid yang lain mengambil dan membagikan pada semuanya.


"Pada makan dulu dah, nangisnya nanti lagi" kata Maris.


"Nangis nguras tenaga juga ya bu" balas Ircham.


"Ibu baru tahu Cham, kamu bisa nangis"


"Jangan bilang-bilang lho ya! Awas kalau ada yang bilang" kata Ircham kepada semua teman-temannya. Semuanya tertawa.


"Tenang, udah gua rekam disini" kata Dinda. Maris hanya tertawa atas tingkah murid-muridnya.


Acara makan itupun selesai. Ibnu mengambil gitarnya. Semua murid itu mambentuk lingkaran. "Malam ini, kita rayakan perpisahan kita dengan guru kita tersayang dan tercantik se SMA. Ibu Amaris Ayu Wicaksana, terima kasih atas ilmu yang telah ibu ajarkan kepada kami, hingga kami menjadi pribadi yang berilmu. Terima kasih telah sabar atas kenakalan kami, sehingga kami menyayangi ibu semakin dalam. Terima kasih atas ketulusan hati ibu, kami, gabungan dari kelas 12 IPA 1 sampai 3, mengucapkan banyak terima kasih pada ibu. Semoga nantinya Ibu diberikan kebahagiaan bersama suami ibu, diberikan banyak anak dan limpahan rejeki. Perpisahan bukanlah akhir segalanya. Karena kita bisa berjumpa di kesempatan yang berbeda. Satu lagu dari Endank Soekamti, Sampai Jumpa" ucap Ibnu sebagai perwakilan kelas.


Mereka semua bernyanyi. Amaris tak kuasa lagi membendung air matanya. Ia menangis sambil memeluk murid perempuannya. Ibu akan sangat merindukan kalian. Terima kasih para muridku.


Hey, sampai jumpa di lain hari


Untuk kita bertemu lagi


Kurelakan dirimu pergi


Meskipun ku tak siap untuk merindu


Ku tak siap tanpa dirimu


Kuharap terbaik untukmu


Acara perpisahan itu pun telah selesai. Satu per satu murid Maris berpamitan. Mencium tangan gurunya dengan penuh haru. "Ingat, sebentar lagi ujian. Ibnu, Dinda, Ircham, buat grup dan masukkan semua nomor murid dari IPA 1 sampai 3. Ibu akan tetap membimbing kalian secara virtual. Ibu ingin kalian lulus semua"

__ADS_1


Mereka mengangguk. "Kami pamit bu" kata Ircham.


"Hati-hati di jalan, langsung pulang ke rumah masing-masing. Fokus sama mimpi-mimpi kalian. Ingat! Ibu masih mengawasi kalian" semuanya kembali tertawa.


Amaris tersenyum. Tak menyangka bahwa perhatian para muridnya begitu besar terhadapnya. Ia segera membereskan rumahnya. Membersihkan dirinya, berganti baju, dan menuju ranjangnya.


Tak lama dering ponselnya berbunyi. Ia tersenyum melihat nama yang muncul. Ia mengalihkan ke panggilan video. Damar tersenyum di layar ponsel itu. "Mamas sudah sampai asrama. Kamu belum tidur?"


"Baru mau tidur, nunggu kabar dari Mamas dulu"


"Itu kenapa matanya sembab?" tanya Damar.


"Tadi para muridku datang dadakan dan mengadakan perpisahan sama aku"


Damar tersenyum. "Pasti berat banget ya yank?" tanyanya. Amaris memgangguk. "Maaf ya" katanya lagi.


"Mas gak perlu minta maaf, itu semua sudah pilihan Maris sendiri. Bobok gih, besok masuk apa?" tanya Maris.


"Besok mas sehari full di kantor. Ganti bang Hamka. Dia mau pulang ke Magelang" Amaris mengangguk.


"Ya sudah, bobok sana. Assalamualaikum" pamit Damar.


"Waalaikum salam" jawab Maris. Mulai berdoa. Melepas hijabnya dan memejamkan matanya.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2