Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 114


__ADS_3

Ilyas membawa Adel meninggalkan rumah menuju sebuah hotel. Para saudara iparnya tertawa melihatnya yang terbirit-birit takut diganggu oleh mereka lagi. Papah Duta dan Mamah Laras yang masih bermain dengan Syafiq terheran dengan tingkah pengantin baru itu.


"Ada apa ya Fiq??" tanya Papah Duta terhadap Syafiq.


Humai menghampiri Papah Duta. Mengambil Syafiq dari gendongan mertuanya. "Ada apa Mai??"


"Hmm? Oh, itu Pah, pada ngerjain Ilyas dan Adel. Ganggu malam pertama mereka"


"Ha? Hoalah.... pada edan! Adiknya mau ibadah malah digangguin. Daripada begitu kan ya mending mereka juga ikut ibadah!" kata Mamah Laras protes.


"Kita juga kan nanti Mah?" tanya Papah Duta. Membuat Mamah Laras memelototinya. "Sudah tua juga!"


Humai tertawa mendengar hal itu. "Dasar lelaki, gak pernah puas kalau soal begituan" geramnya pelan namun.masih bisa terdengar oleh Mamah Laras.


"Archee juga begitu Mai?" tanya Mamah Laras. Papah Duta berdecak. "Gak usah ditanya Mah! Humai sampai perdarahan, kalau bukan karena Archee terus karena siapa?"


Semuanya menyusul bergabung bersama Papah Duta. "Ayo tidur. Biarkan mereka menikmati indahnya malam mereka. Hahahaha" kata Imam.


Mamah Laras menjewer telinga Archee, Imam, dan Damar secara bergantian. "Ini pasti ide gila kalian kan? Dasar ih! Orang mau ibadah kok diganggu!"


Mereka mengerang kesakitan karena jeweran itu. "Bang Archee nih Mah!" sahut Imam dan Damar bersamaan.


"Lhah, kok aku kenanya! Haish! Dah lah! Bubar bubar bubar. Pengantin barunya sudah kabur!" Archee menarik tangan Humai. Meninggalkan semuanya.


"Pah, titip tidurkan Syafiq! Kami juga mau ibadah!"


"Wooooo, Pak Camat gendeng!" teriak semuanya. Dan seperti biasa, Syafiq langsung menangis ketika Uminya dibawa kabur oleh Abinya. Dengan terpaksa Humai mengambilnya kembali.


.


Adel dan Ilyas sampai di salah satu hotel di Yogyakarta. Mereka sengaja menjauh dari rumah karena mereka berpikir, jika dekat rumah, pasti masih bisa disusul oleh saudaranya. Hanya berbekal KTP, ponsel, dan dompet mereka check in di hotel.


Petugas meminta KTP mereka. Lalu setelahnya mereka diantarkan ke kamar pesanan mereka. Ilyas sengaja memilih kamar dengan tipe presidential suite. Ingin memanjakan istrinya dengan fasilitas yang ada.


Mereka telah sampai di depan kamar mereka. Ilyas dan Adel langsung masuk ke kamar. Adel menekan saklar lampu dan menyala. "Bang, ini terlalu berlebihan"


"Ck, biarin ah! Abang kan mau mengukir indah kenangan kita malam ini disini! Gara-gara mereka tuh!"


Adel tertawa. "Maafin saudara Adek ya?" Ilyas mengangguk dan tersenyum.


"Abang ke kamar mandi dulu deh, kebelet. Bikinin Abang kopi ya Dek, bisa kan??"

__ADS_1


Adel mengangguk. "Ya sudah, Adek buatkan kopi dulu" Adel menuju sebuah nakas kecil. Disana sudah tersedia pemanas air, berbagai minuman dan cemilan. Ada juga kulkas mini disana.


Sedangkan Ilyas sedang di kamar mandi. Pintu kamar diketuk. Adel telah selesai membuat kopi membukanya. Karyawan hotel mengantarkan baju untuknya dan Ilyas. Adel menerimanya. Ilyas memanggilnya untuk membawakan baju gantinya. Adel menyerahkannya dengan jantung berdebar-debar.


Adel merasa canggung melihat Ilyas tak memakai kaosnya. Memperlihatkan dada bidang nan eksotik dan mempesona. Ditambah roti sobek tanpa selai itu membuat Adel ingin menggigitnya. Ilyas tersenyum tipis melihat rekasi istrinya.


"Lihat aja Dek, sudah sah!" katanya. "Ganti baju sana" Adel hanya mengangguk malu sambil tertunduk.


Adel segera masuk kamar mandi. Mengeluarkan baju gantinya. Betapa tercengang dirinya melihat baju yang transparan itu. Kurang bahan, dan terlalu tipis menurutnya. "Ini gak salah bajunya begini?"


"Abaaaaang......" teriaknya dari kamar mandi. Ilyas yang mendengarnya malah cekikikan di luar. "Dalem sayang??"


"Ini kenapa baju Adek begini??"


"Mana Abang tahu?? Sudah lah, pakai saja!"


"Gak ah! Malu!"


Ilyas semakin terkikik mendengar jawaban istrinya. "Malu sama siapa? Pakai Dek, perintah suami nih!"


Adel memasang wajah sedihnya. Kembali meraih baju itu. Lalu dengan helaan nafas berat akhirnya ia mengganti bajunya. Ia keluar dengan malu-malu. Menutup sebagian tubuhnya dengan tangannya. Namun itu sia-sia.


Ilyas menoleh. Terpana akan keindahan hakiki di depan matanya. "Sini" Ilyas menepuk sisi sofa panjang yang didudukinya. Adel mengangguk. Berjalan dengan ragu mendekati suaminya.


Adel tersenyum. "Makasih Bang"


"Kita ini sudah halal Dek, gak usah jaim dan malu lagi"


"Ya.... tetap saja Bang. Ini kan yang pertama untuk kita" Ilyas membelai rambut Adel. Mencium aroma wangi shampoo yang dipakai istrinya.


Mereka saling diam. Tak tahu langkah selanjutnya. "Abang..... Sengaja pesan baju ini untuk Adek?"


"Iya"


"Kenapa milih begini??" tanya Adel polos. Menghasilkan jitakan dari sang suami di kepalanya. "Aww sakit Abang!"


"Maaf maaf maaf! Kamu sih! Ya masa kita.mau indehoi pakai bajunya gamis sama koko? Atau baju dinas sekalian??"


Adel tertawa lepas mendengarnya. Membuat gingsul giginya terlihat sempurna. "Dek, Abang boleh monta sesuatu gak?"


"Apa?"

__ADS_1


"Cium disini, disini, disini, disini, dan semuanya" Ilyas menunjuk wajahnya. Membuat Adel merona malu. Lalu tersenyum dan mengangguk menuruti permintaan suaminya.


Pertama ia mencium kening Ilyas. Lalu turun ke mata. Berlanjut ke pipi kanan dan kiri. Bergeser ke hidung. Dan turun ke bibir dengan cepat. Ilyas hanya tersenyum tipis. Adel mematung setelah mencium bibir Ilyas. Jantungnya sedang melakukan aerobik.


Ilyas mendekatinya. Melakukan hal yang sama persis seperti istrinya lakukan. Mereka beradu pandang saat Ilyas akan mencium bibir istrinya. "I love you, bos lele"


"I love you too, Om loreng" Ilyas memejamkan matanya. Menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya. Penuh kelembutan menikmati dan menjelajahi setiap sudut bibir itu.


Adel meremas sendiri tangannya. Ilyas masih fokus dengan bibirnya. Sekarang gerakannya menuntun Adel untuk ikut menikmati aktivitas mereka. Ilyas menggapai tangan Adel dan mengalungkannya di lehernya.


Ilyas menggendong Adel ala-ala bridal style menuju kasur empuk itu. Membaringkannya dengan perlahan. Tangannya mulai nakal. Menjelajahi dan menyentuh setiap tubuh istrinya.


Ilyas berhenti untuk mengambil nafas. Sama-sama tersenyum dan memulai ciuman itu lagi. Lalu turun menjejaki leher. Meninggalkan bekas kepemilikannya disana.


Adel sangat terbuai dengan setiap sentuhan dari suaminya. Entah kapan Ilyas melucuti pakaiannya dan milik Ilyas sendiri. Kini, mereka sama-sama dalam keadaan polos.


Gelora dalam jiwa Ilyas semakin mendidih. Gairahnya memuncak. Ia kembali menikmati setiap inchi yang dilewati bibirnya. Adel hanya bisa pasrah dan terbuai.


"Sudah siap Dek?" Adel hanya mengangguk malu. Ilyas mencoba menyatukan miliknya dengan milik istrinya. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya benteng pertahanan Adel runtuh.


Meski perih dan sakit, Adel menahannya. Mereka melakukannya dengan penuh kebahagiaan dan keikhalasan hati. Setelah hampir satu jam. Akhirnya mereka melakukan klimaks secara bersama.


Ilyas menarik miliknya keluar. Lalu berguling ke samping istrinya. Adel menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua dan memeluk Ilyas. "Makasih ya Dek" Mencium kening Adel.


"Sama-sama sayang"


"Alhamdulillah.... Abang mau dong dipanggil sayang terus tiap hari" pintanya manja. Adel terkekeh mendengarnya.


"Iya, nanti Adek panggil Abang sayang tiap hari"


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Maaf lama. Tadi ngerjain tugas sekolah si anak dulu


__ADS_2