
Acara resepsi telah usai. Namun masih ada beberapa tamu yang mengobrol dengan Papah Duta. Mak Siwi, Emaknya Imam datang terlambat beserta keluarganya. Kalian tahu apa yang dibawa oleh keluarga Imam sebagai kado untuk Damar dan Amaris??
Keluarga Imam memberikan padi yang baru saja dipotong dan lima buah entok yang masih hidup lengkap dengan kandang dan pakan entok itu. Imam sampai tak habis pikir dengan keluarganya. Jika ada perlombaan kado pernikahan paling out of the box, maka pemenangnya adalah keluarga Imam.
Keluarga Imam sangat percaya diri membawa kado itu. Damar dan Amaris sangat terkejut mendapatkannya. Mamah Laras tertawa terbahak-bahak. Calon besannya yang satu ini memang orangnya sangat apa adanya.
"Maaf Bu Laras, Pak Duta, kami terlambat. Karena tadi harus nangkap entok dulu" jelas Mak Siwi.
"Gak papa Bu Siwi, malah kami berterima kasih, ini nanti dimasak rica-rica entog enak nih Ris, Dam" kata Mamah Laras.
Mak Siwi dan keluarganya menghampiri Damar dan Amaris memberikan ucapan selamat bagi mereka. "Makasih ya Mak, kadonya sangat berguna bagi kami, heheheh" ucap Damar.
"Sama-sama, ini padinya tinggal bawa ke selep biar digiling dan bisa jadi beras. Entoknya tinggal disembelih lalu dimasak. Tuh, Imam jagonya nyembelih entok"
Imam menghela nafasnya. "Mak, kenapa milih kado begini??" protes Imam.
"Lha kowe kan ngomong, Amaris dan Damar itu sudah punya semuanya kan? Makanya emak mikir, apa ya yang belum mereka punya?? Yul bilang, kasih entok kita aja mak! Pasti belum punya. Gitu. Ya wes Mak bawa itu"
"Gusti Mbak Yull......" keluh Imam. Semuanya hanya tertawa. Aylin yang baru saja mengantarkan teman-teman puskesmasnya ingin kembali masuk. Namun, tangannya dicekal oleh Suci.
"Ada apa?" tanya Aylin heran. "Bisa kita bicara?" kata Suci. Aylin sunggu malas berhadapan dengan wanita satu ini. Dia telah salah menilai Suci. Dulu, dirinya menilai bahwa Suci adalah wanita yang baik, tapi sepertinga pemikirannya perlu diluruskannya kembali.
"Katakan"
"Bisakah kamu menjauhi suamiku? Jangan tebar pesona di depannya??" Aylin menautkan alisnya bingung. Dia mencoba berpikir sejenak dengan maksud ucapan Suci.
"Bentar-bentar, ini maksudnya gimana ya?? Aku?? Tebar pesona sama Seno?? Kapan?? Kalian memang cocok ya! Yang satu begini yang satu juga sama saja ternyata! Tumbu ketemu tutup!" Aylin maju dua langkah mendekati tubuh Suci. Hingga menyisakan jarak hanya beberapa milimeter.
"Gini ya Mbak Suci, saya itu sudah tidak tertarik pada suami anda semenjak dia melukai hati saya, Menggoda Seno?? terpikirkan oleh saya saja tidak! Seno dibanding Mas Imam?? Bahkan dia tidak pantas dibandingkan dengan Mas Imam!! Istilahnya itu, Seno makanan yang sudah saya lepeh!"
Suci merasakan hawa panas yang menyerangnya. Ia tak bisa mengontrol emosinya. Dengan segera ia melayangkan tangannya untuk menampar pipi Aylin yang putih mulus itu. Aylin dengan sikap langsung mencekalnya.
Seno yang melihat hal itu langsung menitipkan anaknya kepada Wulan. Menghampiri Suci dan Aylin. "Kamu apa-apaan sih??!" Bentak Seno kepada Suci.
"Dia yang mulai! Dia bilang kamu itu sudah dilepehnya!" terang Suci secara tak lengkap.
__ADS_1
"Cocok kalian berdua itu!" Aylin geleng kepala melihat dua manusia yang menyakiti dirinya terdahulu. Dia meninggalkan mereka. Suci disuruh Seno untuk kembali bersama Wulan. Seno mengusap wajahnya kasar.
Seno mengejar Aylin dan mencekal tangan Aylin. "Lepasin gak??!" sarkas Aylin. Lebih tepatnya seperti berteriak. Imam yang awalnya masih tertawa bersama yang lain langsung melihat Aylin yang sedang diganggu oleh Seno.
Imam sudah kehabisan kesabarannya. Jika dengan perkataan dan perbuatan kecil tak bisa maka Imam akan berbuat lebih. Dengan mengepalkan tangannya Imam berjalan cepat menuju Aylin. Hanya dengan sepuluh langkah dia sudah di samping Aylin dan langsung melayangkan tinjunya di wajah Seno.
Bugh
Dengan sekali tinju, Seno terhuyung dan jatuh terjengkang ke belakang. "Mas!" Aylin mencegah pergerakan Imam yang hendak menendang Seno.
"Cowok brengsek kayak begini perlu dikasih pelajaran Ay! Harus dengan kekerasan kan biar anda itu sadar??! Sudah saya bilang! Jangan ganggu calon istri saya! Saya pastikan kepala anda tidak akan berada pada tempatnya!"
Mereka bertiga menjadi pusat perhatian. Aylin menarik tangan Imam untuk meninggalkan tempat itu dan mencari tempat untuk menenangkan diri berdua.
Akhirnya mereka memutuskan untuk ke ruang tamu. Adel memberikan air bagi mereka berdua. Sedang di tempat tadi, Zafran dan Archee sedang berhadapan dengan Seno.
"Kalau ini bukan acara Amaris, sumpah! Akunhajar sampai remuk dan rontok gigimu!"
Zoya menenangkannya. Archee berkacak pinggang. "Bisakah anda melepaskannya? Karena sedari awal anda yang menginginkannya. Dia sudah bukan lagi yang anda kenal. Meskipun anda mungkin bisa mendapatkannya, tapi hatinya sudah lain. Hatinya sudah milik orang lain. Jika anda seorang lelaki sejati, hadapi kenyataannya. Bukan malah berlagak sebagai pengecut! Bukan hanya Imam yang akan membuat anda terluka, saya juga akan pastikan anda mengalami hal yang lebih buruk darioada itu!"
"Kamu diapain tadi?" tanya Imam masih mencoba mengendalikan diri. Aylin menceritakan kejadian selengkap-lengkapnya tanpa ada yang ditutup-tutupinya.
"Dasar manusia gak ada otak!" sarkas Imam. Tak habis pikir ada seorang lelaki yang sudah ditolak oleh seorang wanita masih saja mengejarnya. "Gak punya harga diri banget sih!"
"Wes.... gak usah terbawa emisi"
"Emosi!" jawab Aylin dan Imam bersamaan. Adel tertawa mendengar mereka begitu kompak.
Malam menjelang, masih banyak tamu berdatangan. Membuat Damar dan Amaris harus tetap setia dengan senyum ramah dan manis mereka menyambut tamu-tamu tersebut.
Damar sudah mulai gusar ingin naik ke atas. Zafran dan Archee bisa membaca gerak-gerik Damar. Mereka menggoda adik mereka satu ini.
"Sstt... ngapain??" pancing Archee. "Gak sabar pengen anu Bang" jawab Damar.
"Sudah siap senjata tempurnya? Sudah kamu asah belum?? Biar sekali dorong langsung jleb gitu!" Zafran pun tak ingin kalah dalam mengompori Damar.
__ADS_1
Damar menaikturunkan alisnya lalu menunjukkan pil yang diberikan oleh gengnya. "Apaan nih??" tanya Archee.
"Pil kuat!"
"Ha? Masa pil kuat warnanya pink begini sih Dam? Dapat darimana?" tanya Zafran mengamati pil itu. Ia seperti mengenal pil itu. Tak asing baginya.
"Dapat dari Bang Si"
"Sigit?? Ih! Bukan ini! Kamu nih jangan polos amat Dam sama kelakuan Sigit! Gak hapal-hapal kamu sama kelakuan dia!" kata Zafran meyakinkan Damar..
Damar memberi isyarat kepada Amaris untuk memanggilkan Aylin. Aylin menuju kerumunan lelaki itu.
"Apaan?"
"Kak, ini pil kuat bukan?"
Aylin memperhatikan dengan seksama pil itu. "Kok kayak antimo ya?"
"Ha?" kata Archee dam Damar bersamaan. Zafran sudah menduganya. Ia sangat hapal dengan itu karena dulu dia sering muntah di perjalanan hingga mengharuskannya minum pil itu.
"Efeknya tidur! Selamat! Kamu baru saja lolos dari jebakan batman Sigit! Hahahaha" Zafran tertawa melihat ekspresi wajah Damar yang masih melongo.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Maaf lama, tempat othor mati lampu tadi. Jadi mau nulis malah dikerubutin nyamok!