Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 118


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Azka Ramadania Atmajaya binti Raka Atmajaya dengan mas kawin satu buah rumah dibayar tunai!" Hilal mengucapkan ijab qabul itu. Para saksi berteriak sah. Semua gembira menyaksikannya.


Imam dan Aylin saling pandang tang tersenyum. "Bahunya akan menjadi tempat bersandar istrinya. Dan ketika dia bersedih sudah ada tempatnya saling berbagi. Haaaaahh..... leganya aku" kata Imam.


Aylin tertawa mendengar perkataan suaminya. "Dasar! Hmmm.... Alhamdulillah mereka bisa bertahan karena musibah itu. Ayo kita kasih selamat dan berfoto dengan mereka" Imam mengangguk. Menggandeng tangan istrinya untuk memberikan selamat kepada Hilal dan Azka.


"Alhamdulillah.... Barakallahu lakuma wabarakah 'alaikuma wajama'a baina khuma fii qhoir" ucap Aylin. Hilal dan Azka menengadahkan tangan mereka dan mengamini do'a Aylin.


"Makasih ya Ay" jawab Hilal. Azka memeluk Aylin sambil terduduk. "Makasih Mbak Aylin, Mas Imam. Terima kasih kemarin menghibur Mas Hilal"


"Sama-sama. Sekarang, itu akan menjadi tugas kamu, Az" kata Aylin. Azka mengangguk dan tersenyum.


Mereka berfoto bersama. Akad telah usai. Azka masih menggunakan kursi roda karena betisnya yang mengalami patah tulang. Dia mendapatkan cuti dari pekerjaannya selama kurang lebih tiga bulan. Dia ingin memanfaatkan cuti itu untuk fokus terhadap kesembuhannya dan mengabdi pada suaminya.


Seperti biasa, geng somplak akan hadir dengan penuh keceriaan. Mereka sengaja datang terlambat karena ingin menemani adik terkecil mereka.


"Kami nginap lho Lal" kata Ali. Mereka sudah merebahkan diri di lantai rumah Azka dan Hilal. Anak-anak mereka bermain di halaman sambil diawasi oleh Papi Raka.


"Terserah kamu Bang!" jawab Azka. Hana, Muti, Luna dan Maryam menyerahkan kado mereka. Azka dan Hilal saling pandang.


"Ini bukan kado antimeanstream kan??" tanya Azka lebih lanjut.


"Buka saja" jawab Sigit sambil menaik turunkan alisnya. Hilal membuka kado itu. Semua kado itu isinya sama. Hilal sampai tertawa dibuatnya. "Majalah dewasa??" tanya Hilal dan Azka bingung.

__ADS_1


Ali dan Sigit langsung duduk. Danang dan Habib sudah tahu gelagat mereka. "Belajar dulu dari situ" kata Ali merangkul adik iparnya itu.


"Aku kan dokter Bang"


"Ck! Meskipun kamu dokter, kamu butuh bahan untuk belajar! Apalagi kamu baru terjun di surga dunia ini. Banyak yang harus kamu kulik-kulik sebelum nanti action sama Azka" timpal Sigit.


Para istri mereka membiarkan suami mereka mengompori Hilal. "Nih ya Lal, Ali saja yang mantan duda, waktu mau beraksi sama Hana bisa grogi lho!" lanjut Sigit.


"Dasar setan! Kalian nih ya! Pada gak waras nih kalau ngasih kado!" Azka melemparkan bantal sofa pada Sigit dan Ali. Mereka semua tertawa.


"Itu masih mending! Kami mau ngasih antimo kayak Damar, kasihan. Nanti kalau adinya berdiri tegak kayak monas gimana??" sahut Danang.


"Eh, tapi itu beneran gak sih? Kemarin aku cobain minum antimo lho" kata Bima.


"Bukan! Dia minum antimo karena vertigo! Hish! Dasar suami aku nihhhh" kata Jihan sambil menjewer telinga Bima. Semuanya tertawa.


"Ku kira mau membuktikan itu!" kata Hamka. "Bosen nih! Bikin tiktok yuk!" ajaknya.


Para suami itu bersemangat. Mereka mencari-cari peralatan yang ada. Baskom besi, gayung, semprotan tanaman, botol minum, galon kosong, dan payung.


"Ini buat apaan coba??" tanya Muti heran dengan kelakuan suami mereka. "Yank, rekamin yank. Sound nya pakai lagunya Denny Caknan, Angel. Buruan" Muti menggeleng. Akhirnya Habib yang mengabadikan momen gila itu.


Hamka duduk di tengah sambil memegang galon yang diperumpamakan sebagai gendang. Sigit meletakkan baskom besi itu di kepala Hamka. Danang memegang gayung air. Sigit memegang payung. Ali memegang semprotan. Bima memegang botol minum.

__ADS_1


Sigit memberi instruksi, ketika ada bunyi cesss, maka setiap orang yang memegang alat itu harus memukulkan di atas kepala Hamka. Semuanya siap. Musik mulai dimainkan. Awalnya memang berjalan lancar hingga ada bubyi cessss. Dan semuanya melancarkan aksinya untuk menghabisi Hamka.


Ali sengaja menyemprotkan air yang masih ada di semprotan itu ke wajah Hamka. Bima pun sama. Dia membuka botol itu dan menyiram wajah Hamka. Sigit dan Danang memukulkan gayung dan payung dengan keras di baskom besi itu.


Hingga membuat semuanya tertawa. Hamka ingin marah, tapi ditahannya. Ia tahu, mereka melakukan ini untuk menghibur saudara mereka.


"Haish!!! Junior-junior kurang ajar memang kalian ini!"


Mereka kembali tertawa dengan wajah kesal Hamka.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Kurang 2 chapter lagi END ya gaes.....


__ADS_2