Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 120 (END)


__ADS_3

Tahun ke lima pernikahan Amaris dan Damar. Mereka belum memiliki anak. Semua cara sudah mereka lakukan. Mulai dari mengkonsumsi makanan tinggi asam folat, mengatur pola hidup sehat, program hamil, dan program bayi tabung. Namun, usaha mereka belum membuahkan hasil.


Dokter spesialis pun sudah membantu sebisa mereka. Namun, kembali lagi, Allah lah pengatur skenario terbaik dalam hidup kita. Baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Mertua Amaris tak ingin menyakiti hati menantunya. Mereka hanya ingin menguatkan menantunya saja. Menunggu dan menunggu. Karena hasil dari sabar pasti lebih indah dan manis.


Amaris tengah sholat malam sendirian. Damar sedang tugas. Menengadahkan tangan dan berdo'a. "Ya Allah, hamba pasrahkan segalanya kepada-Mu. Hamba kembalikan semuanya kepada-Mu. Ajari kami keikhlasan untuk menerima semuanya"


Amaris selalu mengulang do'a yang sama tiga kali di setiap malam. Dia dan Damar mengembalikan jalan hidup mereka pada Yang Maha Kuasa. Pagi menjelang. Amaris menyambut gembira suaminya yang pulang.


Tapi, dia merasakan badannya meriang dan perutnya terasa kembung. "Mas"


"Dalem sayang"


"Beli makanan dulu gak papa?? Badanku kok rasanya meriang, perutku begah. Masuk angin apa ya??"


Damar mengangguk. "Ya sudah, Mas beli makanan dulu ya?? Mau makan apa??"


"Nasi pecel aja lah"


"Siap nyonya Damar. Apa lagi?" Amaris tersenyum. "Makasih sayang. Sudah itu saja"


Damar segera mencari makanan yang dimaksud. Sedang Amaris di rumah sedang muntah karena merasa perutnya sangat tidak enak rasanya. Selesai muntah dia membuat teh manis untuknya.


Damar kembali dan Amaris tersenyum menyambutnya. "Kamu pucat sekali Dek?"


"Hmmm? Gak papa kok Mas, mungkin masuk angin kali ya. Duh, bisa bantuin aku pakaikan minyak kayu putih di tubuhku gak Mas?"


Damar mengangguk. "Mau sarapan dulu?" Amaris mengangguk. "Kamu duduk saja, biar Mas yang siapkan"


Damar menyiapkan sarapan untuk istrinya. Lalu duduk di sampingnya dan dengan telaten menyuapinya. "Maaf ya Mas, aku gak bisa melayani kamu"


"Iya gak papa, gantian Mas yang melayani kamu. Kamu semalam pakai AC nya kegedean atau gimana sih yank?? Mas sedih kalau lihat kamu sakit begini" terang Damar sambil menyuapi Maris.


Maris tersenyum. "Perasaan ya biasa saja tuh suhu ACnya. Ya.... mungkin karena daya tahan tubuh aku lagi drop kali ya Mas"


Damar mengangguk. "Periksa ya nanti sore??" tanya Damar. Amaris menggeleng. "Aku pengen istirahat saja. Palingan nanti hilang kok. Minum penurun panas saja Mas"


"Hmmm.... kamu susah banget sih kalau disuruh periksa Yank?"


"Aku malas minuk obatnya Mas.... hehehe"


"Ya sudah lah. Habis ini istirahat saja. Biar Mas yang beresin rumah" Maris mengangguk.


Tiga hari berlalu semenjak Maris sakit. Tapi, bukannya semakin membaik, sekarang badannya sakit semua. Seperti orang yang telah usai perjalanan jauh. Damar tak tahan lagi melihat keadaan istrinya.


"Iya Mas, nanti aku periksa. Gak usah, klinik dekat rumah kok pakai dianterin segala. Kamu fokus saja sama kerjaanmu. Iya. Waalaikum salam" Amaris menghela nafasnya. Ia bersiao untuk ke klinik dekat rumahnya sebelum Damar benar-benar memaksanya untuk periksa.


Ia berangkat menggunakan sepeda motor. Hanya lima menit dari rumah. Maris memarkirkan motornya. Lalu masuk untuk mendaftar. Setelah menunggu beberapa saat barulah namanya dipanggil.


Dokter bertanya keluhannya. Obat apa saja yang sudah diminum, dan tanggal terakhir mensnya. "Astaghfirullah!" ucapnya terkejut.


Dia segera mencari kalender di ponselnya. Lalu melihat dimana ia menandainya. Ternyata sudah tiga bulan ini dia tidak menstruasi. Dokter pun menawarkannya tes kehamilan. Amaris sempat ragu, sebelum akhirnya memutuskan mau untuk tes kencing.


"Selamat ya bu! Anda hamil!" Dokter itu memberikan ucapan selamat kepada Maris. Maris menutup mulutnya yang menganga tak percaya akan ucapan dokter itu.


"Ini hasil tes nya bu. Sekali lagi, saya ucapkan selamat. Tolong jaga pola makan, pola stress, dan jangan sembarangan minum obat ya bu"


Amaris menangis haru. "Terima kasih dok!"


"Sama-sama" balas dokter itu sambil tersenyum. Amaris menebus obatnya. Lalu pulang dengan hati yang.... ah, tak bisa digambarkan kebahagiaannya. Dia mampir ke apotek sebentar untuk membeli tes kehamilan lagi. Bukan satu, melainkan dua buah. Ia ingin memastikan lagi sebelum memberitahukan kepada suaminya.


Sesampainya di rumah, ia berdiri di depan kaca. Meraba perutnya. Lalu tersenyum sendiri. "Kamu beneran sudah ada di dalam perut Umma, Nak?? Ya Allah..... nyata kah ini??"


Amaris ingin memastikan lebih lanjut. Dirinya menyimpan dan merahasiakannya dari Damar. Damar pulang dan menanyakan kabar istrinya. "Sudah periksa Dek?"

__ADS_1


"Sampun Mas?"


"Dokter bilang sakit apa?"


"Katanya kecapekan"


Damar makan sambil mengangguk. "Cari pembantu saja ya?" Maris menggeleng.


.


Pagi itu, saat subuh menjelang, Maris merasa mual. Dia menahannya. "Mas, kamu sholat sendiri dulu ya. Aku kebelet nih"


Damar mengangguk. Amaris menuju kamar mandi sambil menyelipkan dua buah tes kehamilan di dasternya. Dia mual tapi tidak bisa muntah. Lalu dia melakukan uji kehamilan lagi.


Dia menunggu harap-harap cemas. Dan hadilnya muncul. Dia menangis haru melihat dua garis muncul di tes kehamilan itu. Segera dia menghapus air matanya dan berwudhu. Selesai sholat, seperti biasa, dia akan menyiapkan pakaian Damar.


Dia meletakkan hasil tes kehamilannya di samping seragam Damar. Ketika Damar selesai mandi, dia masih tidak memperhatikan benda itu. Saat akan keluar kamar, barulah dia tersadar. Mengambil hasil tes itu dan melihatnya.


Seketika langsung keluar kamar dan mencari dimana istrinya. "Yaaaaaannnkkkk"


"Dalem Mas" sahut Amaris yang sedang berada di meja makan. "Ini apa??"


"Tes kehamilan" jawab Maris


"Punya siapa Yank?"


Amaris diam tak menjawab. Lalu tersenyum dan mengecup kening Damar. "Selamat, kamu akan menjadi seorang Abah. Alhamdulillah, dia sudah hadir dalam perutku Mas" jelas Amaria sambil menitikkan air mata.


"Ha?? Beneran??" Amaris mengangguk. Seketika Damar langsung memeluk istrinya. Mereka berdua menangis bahagia atas kehamilan itu. "Barakallah sayang..... semoga keberkahan tercurah kepadamu..... Hiks.... Semoga kehamilan kamu lancar sampai nanti melahirkan. Semoga kesehatan dan kebahagiaan tercurah untukmu sayang..... Terima kasih, terima kasih istrikuuuuu"


"Sama-sama Mas.... Terima kasih juga sudah sabar menunggu. Terima kasiiihhhh"


Mereka melepaskan pelukan itu. Saling menghapus air matanya. Dan tersenyum. "Kita kasih tahu Mamah dan Papah yuk Yank?"


Damar melakukan panggilan video kepada Mamahnya. Menunjukkan hasil tes kehamilan Amaris. Mereka juga merasakan kebahagiaan yang dirasakan Maris dan Damar. Maris juga memberitahu keluarganya. Semua yang mendengarnya bahagia. Akhirnya, buah kesabaran mereka muncul. Allah akan mengirimkannya di waktu yang tepat, tanpa kamu minta. Karena Allah, adalah perencana terbaik yang kita miliki.


.


Empat bulan setelah berita kehamilan Maris.


Semua berkumpul untuk acara tujuh bulan Maris di rumah mereka. Damar mengundang semuanya. Hari-harinya penuh dengan kebahagiaan. Selalu memanjakan istrinya dengan kenyamanan.


Humai dan Archee menggendong anak kembar mereka. Syafiq lebih memilih berjalan sendiri. Imam, Aylin, dan Kafka juga berjalan di belakang keluarga Archee. Adel, Ilyas dan Afiqa mengikuti para kakaknya.


Hilal menggendong Azian yang tertidur dalam gendongannya, Azka menggandeng tangan suaminya. Maryam sedang hamil anak kedua, Arfian berjalan senang bersama Ayahnya. Zafran, Zoya, Almaira juga turut hadir.


Keluarga Arjun juga datang bersama putri-putri mereka. Mengucapkan selamat untuk acara tujuh bulanan Maris. Tak lupa pula, genk somplak dan keluarga kecil mereka turut hadir meramaikan acara itu. Selamatan tujuh bulanan pun dimulai. Semua khidmat dalam acara itu.


Mereka masih berkumpul dan enggan pulang dari rumah Damar. Mereka agak santai karena esok adalah hari minggu. Sigit merasa dirinya mengantuk. Dan dengan cepatnya dia tidur terlentang dengan berpangkuan tangannya sendiri.


Padahal, sedari tadi Zia minta dibelikan susu kotak di minimarket seberang jalan. Akhirnya Danang, Ali, dan Hamka yang membelikannya. "E busyet! Kita yang momong anaknya, dia yang tidur! Perlu dikasih binsik anak ini" kata Hamka sudah menyeringai kejam.


Ali pun sepemikiran dengan Hamka. "Aku pun setuju"


"Cari cara buat ngerjain Sisi!" perintah Hamka.


Ali berpikir keras. Lalu membuka plastik belanjaan para krucil tadi. Dia memiliki ide cemerlang! Brilian sekali otak Ali soal begini!


"Dam! Sst! Pinjem gunting!"


"Buat apaan?" tanya Damar sambil mendelat. "Buruan ah! Ada pertunjukan seru nih! Zia! Aarez, Baim, sini!"


Para krucil pun menurut. Damar memberikan gunting itu pada Ali. "Nanti kalau Ayah bilang, gajahnya Papah hilang sambil nangis ya kalian??"

__ADS_1


"Kita mau ngerjain Papah??" tanya Zia. Ali mengangguk. "Oukey!" kata Zia setuju. Hamka sampai melotot mendengar jawaban Zia yang setuju jika Papahnya dikerjai oleh mereka.


Ali membuka sosis besar itu. Lalu memotongnya menjadi dua bagian. Meletakkannya di tengah-tengah alat vi*tal Sigit. Hamka membangunkan Sigit. Bima yang merekam momen itu.


"Si, bangun Si! Zia minta beli susu kotak tuh!" Sigit menggeliat dan saat hendak membuka matanya, Ali dengan cepat memotong ujung sosis itu. Para krucil langsung memulai aksi mereka.


"Huaaaa..... gajahnya Papah kepotong! Huaaaaa" tangis mereka kompak. Semua terkejut termasuk Sigit yang langsung memegang alat tempurnya itu. Dan Sigit baru sadar jika dirinya sedang dikerjai oleh semuanya.


"Njir! Bang*ke emang lu Al!" Ali langsung lari dengan memegangi sarungnya. Sigit mengejarnya persis seperti anak kecil. Semuanya tertawa melihat hal itu.


Humai mendekati Rachmi. "Sst.... Masih belum move on juga dari Babang Ilyas?? Udah sih Miii.... Sama Agil aja siiih"


Rachmi tersenyum. "Sudah move on dong! Hihihi. Kami sedang pendekatan. Do'akan lancar ya??"


"Cieee, ternyata! Gas pol duluan dia! Hahahaha"


.


Pagi hari di rumah Damar. Semuanya bangun pagi. Mereka bersiap untuk melakukan foto keluarga. Seperti rencana mereka pada lima tahun lalu. Semuanya menggunakan baju warna senada, yaitu putih. Terlihat kesibukan terjadi disana. Riweh mendandani anak mereka.


Fotografer dipanggil ke rumah dan menata ruangan untuk berfoto. Setelah satu jam menunggu keluarga itu, akhirnya semuanya siap. Bukan hal yang mudah mengajak anak-anak berfoto. Kadang ada yang tidak mau, ada yang menangis. Haduh, ribet!


Fotograger mengambil foto mereka dengan sabar. Setelah 2 jam akhirnya foto itu pun selesai. "Cetak 24R lima kali ya Mas" kata Damar.


"Siap pak bos!"


Papah Duta melihat satu per satu keluarganya. Mamah Laras mendekatinya, ikut melihat anak dan cucunya hidup rukun dan bahagia. Mereka berdua saling pandang dan tersenyum. Papah Duta memeluk Mamah Laras.


*Orang yang berbahagia bukanlah orang yang hebat dalam segala hal. Namun, orang yang bisa menemukan hal yang sederhana dalam hidupnya dan senantiasa bersyukur.


Kebahagiaan itu tak dapat dikejar, ia bukan uang, bukan pula barang, melainkan sebuah kondisi. Ya, kondisi untuk berserah*.


...-----THE END-----...


Assalamualaikum semuanyaaaaa 😁😁😁😁


Alhamdulillahi rabbil 'alamin, karya author yang ke empat sudah tamat..... Yeay.... Kalian tahu gak sih gaes?? Ini karya othor yang pualing lama dalam pengerjaannya. Dan, paling menguras otak untuk bisa menemukan ide dalam pengembangan ceritanya.


Hampir tiga bulan author garap karya ini. Perlahan namun pasti. Hmmmm...... sedih ya?? Sama! Author juga sedih harus pisah sama kalian. Heheheh


Terima kasih author sampaikan untuk kalian semua pembaca karya-karya author, mulai dari Tunangan Bayaran, Larasati & Pak Bupati, Cinta karena Mandat, and Pelabuhan hati Si Kembar 4. Terima kasih, khamsahamnida, thank you, xie xie, gumawoooo. Terima kasih buanyak. Tahu gak sih? Kenapa author minta kalian komen?? Karena dari komenan kalianlah jika otak othor tidak menemukan inspirasi, dia akan tercipta dengan sendirinya. Hahahah


Author hanya bisa membalas kalian dengan do'a. Semoga semuanya diberikan nikmat kesehatan. AUTHOR AKAN HIATUS DULU SAMPAI DESEMBER. Tunggu karya author selanjutnya ya??


Jangan buru-buru dihapus dari favorite. Insyaallah, author akan penuhi janji author untuk nulis kembali. Author juga minta do'a dari kalian, semoga author bisa lolos dari tahap per tahap berikutnya dalam seleksi CASN 2021 ini.


Oke..... waktunya pamit!


Author dengan segenap hati, memohon maaf jika ada salah kata. Kadang ngomongnya pedes. Kadang telat up, hehehehe. maklumin dan maafin yak!


Author beserta keluarga A Squad pamit undur diri. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. See you on December😊😊😊😊


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2