
Ilyas dan Adel telah sampai di Demak. Berniat untuk menyambangi Archee dan keluarga kecilnya. Mereka mampir ke sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi.
Ilyas tak tahu apa yang harus diberikannya pada Syafiq, anaknya Archee dan Humai. Adel memilih baju-baju yang menggemaskan itu. Ilyas mendekatinya.
"Lucu kan Bang??" Ilyas mengangguk. "Lucunlagi kalau yang makai anak kita" bisiknya di telinga Adel.
Membuat pipi Adel langsung mengeluarkan semburat jingga di wajahnya. Ia tersenyum malu dan memukul lengan Ilyas. "Apaan sih??"
"Cie malu cieeee. Hahaha, gemesin banget sih kamu Dek kalau lagi malu-malu meong begini!"
"Ih! Meong katanya! Jadi Adek sama kayak kucing??"
"Hahahah, gak dong sayang, masa calon istri sendiri Abang samakan dengan binatang. Pilih itu saja deh, sepeda itu. Biar lama makainya. Kalau baju cepat sesak Dek"
Adel mengangguk. Dia meminta pegawai toko untuk mengambilkan sebuah sepeda dengan warna biru. Bisa dipakai saat anak usia delapan bulan ke atas hingga dua tahun.
Saat Adel sedang melakukan pembayaran, Ilyas sedang melihat-lihat pernak-pernik bayi yang menurutnya memang sangat menggemaskan. Ada seorang pembeli lagi datang.
"Bang Ilyas!" sapa perempuan itu dengan senang. Adel menoleh, mencari tahu siapa yang memanggil kekasihnya. Sedangkan Ilyas, bingung melihat sosok perempuan itu.
"Abang apa kabar?? Jahatnya di wa gak pernah dibalas!" Rachmi Lazuardi Priyadi adalah perempuan itu. Anak dari Dokter Arjun Priyadi dan Rena Lazuardi.
Adel menghampiri mereka. "Rachmi bukan sih??" Ilyas sedikit terkejut mendengar nama Rachmi disebut. Bakalan marah gak ya? Please ngambeknya besok-besok lagi saja. Jangan saat ini. Batin Ilyas.
Rachmi menoleh. "Mbak Adel?? Ya Allah.... Apa kabar mbak? Kok bisa kebetulan begini sih??" Rachmi memeluk Adel dan cipika cipiki dengannya.
"Iya, aku mau nganterin Bang Ilyas ke rumahnya Bang Archee, nengok Syafiq" jelas Adel.
"Bang..... Ilyas? Mbak Adel kenal sama..... Bang Ilyas juga??"
Adel mengangguk. "Iya, kamu.... kenal sama Abang juga??" tanya Adel kepada Rachmi dan Ilyas.
Ilyas mengangguk. "Dulu, waktu kita marahan, Abang satu bis dengan keluarga mereka"
Rachmi merasa ada jalinan yang spesial antara Adel dan Ilyas. Dirinya mencoba mengulik lebih dalam lagi. "Pacarnya Mbak Adel ya??"
Adel tersenyum. "Calon suami" jawabnya bangga. Ilyas seoerti melayang di udara mendengar jawaban Adel. Ia tersenyum senang. Sedangkan Rachmi, terkejut sampai menjatuhkan ponsel miliknya.
Syok mendengar kata 'calon suami' dari mulut Adel. Adel mengambilkan ponsel milik Rachmi. "Ma... Makasih Mbak"
"Kenapa sih? Kok kaget gitu?"
Rachmi menyembunyikan kekecewaannya. Sungguh, saat ini dirinya ingin cepat pergi dari hadapan Adel dan Ilyas. Ingin lari sekencang-kencangnya, dan berteriak sekeras-kerasnya. Hatinya sesak. Dipenuhi oleh rasa kecewa yang begitu besar. Ternyata, Ilyas memang tidak tertarik pada dirinya. Terbukti dari cara Ilyas yang menanggapi chatnya. Hanya dibaca tapi tidak pernah membalas satu kali pun.
__ADS_1
"Kita duluan" Kata Ilyas kemudian sambil menggandeng tangan Adel. "Mi, Mbak duluan ya?"
Rachmi hanya mengangguk. Ilyas dan Adel telah meninggalkan toko. Rachmi menghapus air matanya yang tumpah begitu saja. Mamah Rena menyusul anaknya masuk ke dalam toko.
"Sayang, kenapa??"
Rachmi langsung menghambur dalam pelukan Mamahnya. "Bang Ilyas Mah, ternyata Bang Ilyas calonnya Mbak Adel" terangnya.
Mamah Rena terkejut juga mendengar hal itu. Tapi, beliau menutupi rasa keterkejutannya. "Sabar sayang, lelaki bukan hanya Ilyas saja. Masih banyak yang lain. Ayo pilih kado buat Syafiq"
"Mah, bisa gak kalau nengok Syafiqnya lain kali saja?"
"Kenapa?"
"Karena mereka juga mau nengok Syafiq Mah, aku gak sanggup lihat Bang Ilyas berduaan dengan Mbak Adel"
"Memang mereka ada di Demak??" tanya Mamah Rena masih belum paham benar dengan situasi yang terjadi.
"Ck, tadi Rachmi ketemu mereka disini Mah! Mereka juga mau nengok Syafiq"
"Ya sudahlah, tidak usah begitu. Kita sudah jauh-jauh datang dari Kudus ke Demak lho. Mamah sudah gak ada waktu luang lagi Nak. Nanti kita sebentar saja deh"
Akhirnya Rachmi mengikuti arahan Mamahnya. Dia sudah tak semangat lagi untuk memilih kado. Akhirnya, Mamah Rena lah yang memilih kado untuk Syafiq.
"Mah, Rachmi tunggu di mobil saja lah"
"Eh, ayo turun, ada Budhe Ais dan Pakdhe Farid lho"
Rachmi dengan kesal turun mengikuti Mamahnya. "Assalamualaikum" ucap Mamah Rena.
"Waalaikum salam..... Aaa... Rena, Rachmi...." Bunda Ais langsung memeluk keduanya. "Arjun gak ikut?" Tanya Ayah Farid.
"Gak bisa Mas, Mas Arjun lagi ada operasi cito katanya"
"Mmmm..... masih strong dong ya??" goda Bunda Ais. Semuanya tertawa. Pandangan Rachmi tak lepas dari kedua insan yang sedang menimang bayi mungil itu.
"Kalau tahu mau kesini tadi bareng Mi" kata Adel.
Rachmi hanya tersenyum getir. Ilyas tak memperdulikannya sama sekali. Dia asik menggoda Syafiq yang masih belum tahu apa-apa.
Rachmi memberi kode untuk Mamahnya. "Mbak Ais, Mas Farid, kami pulang dulu ya??"
"Eh, tunggi dulu. Baru dipesankan bakso sama Archee. Nah tuh mereka datang"
__ADS_1
Humai menyalami Mamah Rena dan memeluk Rachmi. "Sudah lama?"
"Baru kok" jawab Rachmi.
"Gil, bawa masuk semuanya. Hidangkan di meja ya?" perintah Archee.
"Nggih Pak, sendiko dawuh" kata Agil sambil melirik pada Rachmi. Mengakibatkan dirinya tersandung keset rumah. Hampir saja jatuh dan menumpahkan semua bakso itu.
"Hati-hati Mas" kata Rachmi.
Agil tersenyum malu karena ulahnya. Archee sampai geleng kepala. "Ngopo sih Gil??"
"Gak papa Pak, itu lho, kesetnya mbok ya beli yang baru. Kepleset terus saya"
"Halah, wong biasanya kami gak papa. Kenapa?? Bingung lihat cewek cantik ya??" goda Humai.
Agil masuk sambil mengomel. "Gak Bapak gak Ibu sama saja. Mentang-mentang saya jomblo terus digituin"
"Wah, ngasih kode nih! Mi, pedekate Mi" sahut Ayah Farid. Rachmi hanya tersenyum menanggapinya.
Setelah makan, Rachmi dan Mamah Rena pamit pulang. Syafiq tidur pulas dalam gendongan Ilyas.
"Pinter kamu Yas" puji Ayah Farid.
"Oh, iya dong Yah, calon Bapak siaga ya begini" jawab Ilyas. Membuat Adel tersenyum malu.
"Ih, Abang apaan sih ngomongnya??"
"Cieee malu lagi cieeeee" goda Ilyas. Semuanya tertawa karena tingkah dua orang yang sedang kasmaran itu.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1