
Waktupun silih berganti. Hari digantikan minggu, minggu digantikan bulan. Humai dan Archee sedang sibuk-sibuknya mengurus Syafiq. Tak terasa kini usia Syafiq sudah menginjak empat bulan. Terkadang, jika mereka sama-sama sibuk, dengan terpaksa mereka harus menitipkan Syafiq di tempat penitipan anak.
Humai dan Archee sepakat untuk melakukan hal itu karena mereka memang tak ingin ada pembantu di rumah. Setiap selesai bekerja, mereka akan bermain dengan Syafiq. Seperti sekarang, Archee baru saja tiba dari luar kota. Dia langsung menjemput Syafiq di tempat penitipan anak.
Karena waktu juga sudah menunjukkan jam praktik Humai selesai, Archee bersama Syafiq menjemput Humai. Mereka menunggu di dalam mobil. Humai keluar dari gedung rumah sakit bersama dengan seorang dokter laki-laki. Archee tak mengenal dokter itu.
"Sama siapa tuh Umi mu Fiq?"
"Ooooo oooooo ooooo" sahut Syafiq. "Abi nanya beneran nih?? Samperin yuk!" Archee segera keluar dari mobil membawa Syafiq bersamanya.
Berjalan menuju arah Humai. Humai tersenyum senang melihat mereka berdua. "Syafiq anak Umiiii, Umi kangen sayang" ucap Humai sambil mengambil Syafiq dari gendongan Archee.
"Syafiq doang ternyata yang dikangeni. Ya wes lah, Abang tak luar kota lagi" Archee hendak berbalik. Humai tertawa mendengarnya.
"Ya kangen juga kaliii" jawab Humai sambil menggeram pelan agar tak didengar dokter lelaki di belakangnya. "Yang keras dong ngomongnya!" pancing Archee.
Humai hanya tertawa garing menanggapi keinginan Archee. "Pulang yuk!" Ajak Archee. Humai mengangguk.
"Don, saya duluan, pelajari tentang penyakit pulpitis dan tindakan yang bisa dilakukan jika menemui pasien seperti itu. Buat makalah tentang itu, dan besok kamu harus penyuluhab di depan pasien" perintah Humai kepada Doni.
"Ya bu" Humai dan keluarganya menuju mobil. Archee melajukan mobilnya. "Siapa tuh?" tanya Archee.
"Anak coas, kenapa? Cemburu lagi?? Fiq, Abi tuh sekarang banyak cemburunya tahu gak sih nak? Umi sampai puyeng kalau sudah mulai ngambek-ngambekan begitu!"
Archee tertawa mendengar hal itu. Membuat Syafiq yang mendengarnya juga ikut tertawa. "Abang tadi sampai rumah jam berapa?"
"Jam 11 siang. Kamu tadi naik ojeg?" Humai menggeleng. "Bareng Mbak Zo, karena dia periksa gigi juga tadi. Eh, Abang belum tahu kan? Mbak Zo sudah telat sebulan. Makanya dia tadi chek up giginya yang ditambal. Tambalannya masih bagus atau tidak. Dia khawatir kalau nanti hamil terus sakit gigi"
"Alhamdulillah.... Syafiq nanti ada teman main ya nak? Kita juga sekarang mau makan siang sama mereka. Pantas Mas Zaf bilang mau mentraktir kita. Ternyata...."
Mereka telah sampai di tujuan mereka. Mencari Zoya dan Zafran tapi belum ada. Mereka mencari tempat duduk. Syafiq dipangku oleh Humai. Tak lama, Zoya dan Zafran datang. Saling menyapa dan duduk berhadapan.
"Ponakan tante sudah bisa apa??" tanya Zoya gemas dengan Syafiq yang murah senyum.
__ADS_1
"Budhe! Enak saja tante! Tua gue dong!" balas Archee tak terima. Semuanya tertawa. "Fiq, bapakmu makin galak ya!" kata Zafran.
"Eits, bukan cuma makin galak Mas Zaf, posesifnya Ya Allah....., cemburunya makin naik tingkat!" sahut Humai cepat. Pelayan datang menawarkan menu. Mereka memilih menu itu. Dan melanjutkan mengobrol lagi.
"Nanti kamu bakalan merasakan sendiri Mas!" kata Archee.
"Gak usah nanti, sekarang saja sudah kejafian Chee. Mas mu ini toh, suka banget ngerjain orang kecamatan coba. Masa Rudi disuruh nyuci mobilnya coba Chee"
Semuanya tertawa. "Salah dia sendiri, nempel-nempel mulu sama kamu!"
"Cieeee ikutan bucin cieeee" kompak Archee dan Humai menyoraki mereka. Syafiq mulai rewel. Dia menangis minta minum. Akhirnya Humai menyu*sui Syafiq terlebih dahulu.
Makanan datang. Archee makan terlebih dahulu. Lalu setelahnya mendekati Humai yang berada di ruangan berpenyekat untuk ibu menyu*sui. Menyuapi istrinya dengan penuh canda. Zoya tersenyum melihat keromantisan mereka.
"Mas, nanti kalau kita punya anak, kamu bakalan kayak Archee juga gak?" tanya Zoya. Zafran menggeleng. Membuat Zoya kesal.
"Hahahah, ya tentu saja dong Zoya sayang! Jangankan nunggu kita punya anak. Sekarang, nanti, besok, lusa, sampai tua, kalau kamu minta terus disuapi, bakalan Mas lakuin"
"Sama-sama. Makan yang bergizi tinggi. Awas minta kebab lagi!"
"Kebab kan juga sehat Mas, isinya daging, sayuran, karbo dari roti" bantah Zoya. Terjadi perdebatan kecil diantara keduanya.
Archee dan Humai tersenyum melihat cara mereka berinteraksi. Hampir sama dengan mereka. "Masakan kalau gak dikasih bumbu tuh hambar Mai. Kalau kebanyakan bumbu bikin kita gak enak menikmatinya. Bumbu cinta kita ya pertengkaran kecil itu. Yang menjadikan kita dewasa dengan sendirinya, berani menyingkirkan ego masing-masing untuk sama-sama meminta maaf"
Humai mengangguk. Tanda menyetujui ucapan suaminya. "Iya, seminggu lagi nikahan Ilyas dan Adel ya Bang? Bisa gak kalau Abang ambil cuti agak panjang gitu. Dari hari jum'at gitu?"
Archee menautkan alisnya. "Kenapa?"
"Humai mau ngajak Abang kencan, hanya berdua. Nanti kita titipkan Syafiq sama Bunda dan Ayah sebentar"
"Kencan?? Mau ngajak Abang kemana??" tanya Archee mencubit hidung Humai. "Kemana ya? Ya kemana saja, namanya juga kencan!"
"Kalau ke hotel boleh gak sayang??" tanya Archee. Membuat pipi Humai merona dengan sempurna. "Ih.... malu ih..... cieee.... pengen ya?? Hahaha"
__ADS_1
Humai mencubit paha suaminya. "Gak pernah puas kamu Bang"
"Oooo jelas! Wong enak kok! Ini makannya sudah apa nambah??"
"Sudah, senang sekali kalau Humai gendut? Kok disuruh makan terus?"
"Mau gendut kayak apapun, Abang cuma cinta sama kamu"
"Hilih! Preeet!"
"Lah, dia gak percaya. Nanti Abang buktikan!"
"Caranya??"
"Bikinin adek buat Syafiq. Hahahaha" jawab Archee sambil menaik turunkan alisnya. Humai hanya tertawa menanggapinya.
"Belum bisa dong, kan ada IUD nya, weeeek" Humai menjulurkan lidahnya persis seperti anak kecil. Bangkit dan meninggalkan Archee.
Archee menyusul di belakangnya. Setelahnya mereka berpisah pulang ke rumah masing-masing.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1