
Tak perlu waktu lama bagi Ilyas untuk mempersiapkan keperluannya karena sudah menjadi kebiasaannya. Ia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia bergegas sholat Isya.
Selesai sholat ia kembali lagi ke meja belajarnya. Tersenyum pada boneka Adel. "Abang tahu Abang salah, maafin Abang. Jika waktu bisa Abang putar kembali, Abang pengen minta kamu gak mutusin Abang. Abang terlanjur cinta dan sayang sama kamu Dek. Maafin Abang ya?"
Ia memeluk boneka Adel. Mencium kening dari boneka itu. Lalu memeriksa ponselnya kembali. Hanya pesan dari grup dan Rachmi. Ia membuka pesan yang ada di grup. Membaca satu per satu komentar yang muncul dalam chat itu. Lalu membaca kembali pesan Rachmi.
Rachmi : Ooo... sudah tidur. Oke baiklah. Selamat istirahat Bang ☺
Ilyas menutup ponselnya dan beranjak ke ranjang. Mematikan lampu dan mulai memejamkan matanya.
Imam menikmati makanan bersama Aylin tanpa tahu kabar yang sudah menyebar. Mereka berbincang seru mengenai lamaran mereka yang akan terjadi 3 hari lagi. "Besok mampir batalyon, nanti Mas bawakan formulir untuk nikah batalyon. Mulai dari sekarang belajar tentang kebhinekaan Yank"
Aylin mengangguk. "Susah ya Mas?"
"Kalau belajar gak susah"
"Hmmm.... oke deh..."
"Mas pamit sekarang ya? Gak enak udah malam. Tahu-tahu udah jam 9 aja"
Aylin mengangguk. "Hati-hati. Sampai asrama langsung istirahat ya. Salim dulu" Imam mengangguk. Aylin menyalami Imam.
Imam mengecup kening Aylin. "Istirahat juga, bujukin adiknya biar mau baikan sama Ilyas. Nanti Mas juga bujukin Ilyas deh. Mas balij ya, assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Aylin mengantarkan Imam sampai pintu depan. Lalu masuk dan mengunci pintu. Mematikan lampu rumah dan naik ke kamarnya.
Ia mengetuk kamar Adel. Melihat adiknya sudah terlelap sambil memeluk boneka. "Masih cinta kamu sama Ilyas? Tidur aja sampai harus kamu peluk bonekanya"
.
Imam langsung istirahat sekembalinya dari rumah Aylin. Ia sangat letih mengemudikan mobil dari Semarang menuju Magelang. Masih belum mengetahui pengumuman yang ada. Pagi menjelang. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Apel pagi dilakukan di halaman batalyon. Imam bertemu dengan Ilyas. "Yas!"
"Apa?" jawab Ilyas sambil tersenyum. "Main pulang ninggalin gua sendirian! Baikan sono sama bos lele"
"Hahaha, gak bisa Mam. Kan jam 8 aku berangkat!" jawab Ilyas sambil mengatur pasukannya.
__ADS_1
"Berangkat? Maksudnya?" tanya Imam bingung. "Satgas"
"Ha? Emang udah keluar nama-namanya?" Ilyas mengangguk. "Lu kebiasaan banget sih Mam selalu gak periksa chat masuk. Oh ya, nanti.... gua titip sesuatu untuk Adel ya? Siapin pasukan lu"
Imam terdiam. Ia segera menyiapkan. pasukannya. Ia bertanya pada salah satu anggotanya. "Aku berangkat Satgas atau tidak?"
"Ijin, tidak Danki. Danki yang berangkat hanya Danki Ilyas"
Imam menghela nafasnya lega. "Setelah apel segera kasih tahu Ay Ay nih" gumamnya. Apel dimulai. Komandan Batalyon memimpin jalannya apel pagi itu. Tak lama apel pun selesai. Imam segera menghubungi Aylin.
"Yank, bilang sama bos lele, Ilyas berangkat Satgas ke Malaka jam 8 pagi ini"
Ha? Jangan bercanda ah Mas
"Beneran Ay, Mas gak bohong. Mas yang ketinggalan berita. Tapi tenang, Mas gak berangkat kok. Cuma Ilyas doang"
Yaudah matiin dulu gih. Biar aku telpon Adel dulu
"Oke"
Ilyas sudah siap dengan perlengkapannya. Ia memberikan tas berisi ponsol itu kepada Imam. Imam menerima dan melihat isinya. "Jangan dibuka lho Mam, disitu ada surat buat dia. Tolong kasihkan ke dia ya?"
Ilyas tersenyum kecut. "Apapun itu, tidak akan merubah keadaan bahwa kami sudah tidak memiliki hubungan apapun"
Imam menghela nafasnya kasar. "Kalian bisa gak sih berpikir layaknya orang dewasa? Ha? Kalau yang satu sedang emosi, maka harusnya yang satu meredamnya. Bukan malah ikut kebawa emosi. Lu coba deh Yas ngalah sama bos lele. Hubungi dia, perbaiki hubungan kalian sebelum lu pergi tugas. Lu nih bakalan 8 bulan di Malaka. Bukan waktu sebentar, sangat lama. Ayolah Yas.... mengalah lah sama bos lele"
Ilyas malah tertawa. "Aku kurang ngalah apa sih Mam sama dia? Sudah lah, dia yang minta putus. Dia ingin aku pergi dari hidupnya. Keinginannya terkabul. Jadi, apa yang harus kupertahankan??"
Terdengar siaran bahwa yang akan berangkat Satgas harus berada di lapangan dalam waktu 3 menit. Ilyas menepuk bahu Imam. "Selamat untuk lamaranmu nanti sama Aylin. Salam untuk dia. Maaf gak bisa datang. Dan, kalau kalian nikah maaf juga aku gak bisa datang"
Imam memeluk sahabatnya itu. "Jaga diri disana baik-baik. Jaga hati buat bos lele seorang, karena gua tahu, lu sayang banget sama dia. Kalau ada kesempatan buat balikan jangan sia-siain"
Ilyas hanya tersenyum. Ia segera menuji lapangan. Apel pelepasan pasukan Satgas dimulai. Semuanya menangisi kepergian mereka. Orang tua Ilyas hanya berharap anaknya pulang dengan selamat.
"Adel kemana Yas?" tanya Ibu. Ilyas tersenyum sedih. "Adel dan Ilyas..... sudah putus bu"
"Kok bisa?" tanya Ayah. "Ya.... namanya juga hubungan Yah, kandas kan suatu yang wajar. Doakan Ilyas selalu ya Bu, Yah. Ilyas pamit"
__ADS_1
Para anggota Satgas sudah naik di truck MPL. Mereka akan diantarkan ke bandara. Aylin mencoba menghubungi Adel tetapi selalu dimatikannya.
"Iiiihhhh....... si Adel nih susah bener sih dihubunginya! Heran aku!" Aylin geram sendiri karena gagal menghubungi Adel. Waktu menunjukkan 8 lewat. "Ya Allah.... persatukan kembali dua manusia bodoh ini!"
"Dok, pasien 2 ya" kata salah seorang oegawa puskesmas. "Iya mbak"
Aylin mengirim pesan pada Adel.
Me : Del, Ilyas beneran Satgas di Malaka. Hari ini dia berangkat! Buruan susulin ke Batalyon!
Aylin menyimpan ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, Adel bersama pengacara Papahnya langsung menyidang salah satu karyawannya yang terbukti melakukan korupsi.
Pengacara Adel meminta ganti rugi atas tindakan yang dilakukan oleh karyawan itu. "Jika kamu tidak bisa mengembalikan uang yang kamu korupsi dari perusahaan, maka kamu akan dipidanakan!" kecam pengacara Adel.
"Saya melakukan itu terpaksa bu"
Adel tersenyum kecut mendengarnya. "Kenapa? Orang tua kamu sakit? Penipu! Orang tua kamu saja tidak pernah menikmati hasil kerjamu. Mau bukti? Atau apa? Pacar kamu butuh biaya?"
Karyawan itu diam. "Saya beri waktu untuk kamu mengembalikan uang perusahaan. Jika kamu mencoba untuk lari, silahkan. Saya akan kejar. Saya akan pastikan kamu berada di bui!"
Karyawan itu tak bisa berkelit lagi. Ia pasrah. Akhirnya sidang itu pun selesai. Adel menghela nafasnya dan berterima kasih oada pengacaranya. Ia melihat ponselnya dan melihat banyak panggilan tak tertawab. Membaca pesan dari Aylin.
Dia mematung. Tubuhnya lemas. Air matanya lolos tanpa permisi.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Kalau ada yang kurang sreg dengan cerita yang othor buat, boleh kok ninggalin novel ini. Othor punya pemikiran sendiri dalam menyusun alurnya. Othor tidak ingin sampai revisi lagi. Jadi, hargai jalan cerita yang othor buat ya gaes ☺☺☺