Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 27


__ADS_3

Humai melakukan tes wawancara dengan lancar, meskipun ia gugup. Tapi, ia mampu menutupinya. Tes wawancara selesai pukul 10 siang. Tinggal menunggu hasil.


Ia mengirim chat pada Archee untuk menjemputnya.


Me : Bang, jemput


Archee : Bentar


Me : Iyaaaaa


Archee segera meluncur ke rumah sakit untuk menjemput istrinya. Tak perlu menunggu waktu lama, karena kantor Archee juga dekat dengan rumah sakit. Humai melihat mobil Archee sudah terparkir. Ia segera menghampirinya.


Membuka pintu mobil. Duduk dan menggunakan seatbelt. Archee menyodorkan tangannya kepada Humai. "Biasakan cium tangan suami, meskipun kamu belum mau disentuh Abang, tapi ini juga salah satu......"


"Iya iya" Humai menyalami Archee. Archee tersenyum. Mulai melajukan mobil kembali ke rumah.


"Gimana tadi wawancaranya?"


Humai sangat antusias ketika ditanya tentang kegiatannya. "Hmmm, tinggal nunggu keputusan Allah. Mmm.... Abang nanti pulang jam berapa?"


Archee menoleh karena merasa aneh dengan pertanyaan Humai. "Kenapa? Tumben kamu tanya Abang pulang jam berapa"


"Gak usah geer dulu. Aku cuma tanya. Aku bosan di rumah sendirian. Gak ada teman, makan sendirian"


"Bilang aja mau ngajak makan siang bareng. Iya apa iya?" Goda Archee pada istrinya. Humai menggigit bibirnya. Menahan malu.


"Ya gak papa sih kalau makan...."


"Iya, nanti Abang pulang buat makan siang. Abang pulang seperti biasanya sayang.... Jam 4 sore"


Humai kembali berdesir ketika dipanggil sayang oleh Archee. "Besok minggu Abang mau ajak kamu jalan ke pantai"


Humai menautkan alisnya bingung. "Pantai? Memang Demak punya pantai?"


"Eits... jangan salah.... Punya dong! Meskipun pantai buatan sih. Namanya Pantai Glagah Wangi. Liburannya tipis-tipis dulu ya? Nanti kalau Abang waktunya sudah luang, Abang ajak liburan beneran"


Humai mengangguk. Ia merasa bahagia. Archee selalu memperhatikannya, sekecil apapun itu bentuknya. Seperti membelikannya daster rumahan karena isi kopernya adalah baju haram dan gamis semua. Membelikannya sandal jepit tanpa ia minta, membelikannya cemilan kesukaannya yaitu cilok setiap Archee pulang dari kerja.


Ia tersenyum sendiri mengingat hal itu. Sambil memainkan kuku-kukunya. Tak lama, mereka pun sampai di rumah. "Masuk rumah dan jangan lupa dikunci. Masak yang enak karena nanti Abang pulang untuk nemenin kamu makan siang"


Humai mengangguk. Ia kembali meraih tangan Archee dan menciumnya. Lalu, entah keberanian apa yang muncul dalam benak Humai, ia memberikan kecupan pada pipi Archee.


Membuat Archee terkejut. Jantung mereka serasa ingin loncat dan meletup-letup seperti dipasangi petasan. "Assalamualaikum" ucap Humai hendak turun, tapi dicegah oleh Archee.


Ia langsung menempelkan bibirnya ke bibir Humai. Menikmati ciuman itu. Hingga akhirnya Archee melepaskan bibirnya. Ciuman pertama bagi keduanya. Wajah mereka sama-sama merona merah. Berdiam seperti patung. "Maaf" kata Archee.


Humai menautkan alisnya. "Kenapa minta maaf?"

__ADS_1


"Karena Abang melanggar janji Abang padamu, untuk tidak menyentuhmu sebelum kamu sendiri yang mengijinkannya"


Humai tersenyum. "Itu... hak Abang. Dan.... Humai mengizinkan Abang untuk menyentuh Humai mulai sekarang, karena Humai juga cinta sama Abang"


Bahagia luar biasa yang Archee rasakan. Akhirnya, jawaban atas perasaannya datang jua. Tak sia-sia ia menanti. Tak sia-sia ia selalu memberikan perhatian pada Humai, menyebutnya dalam do'a.


"Arrrgghhhhhh..... Abang pengen teriak! Makasih sayang"


Ia mengecup kening Humai. "Sama-sama bang, ya sudah. Humai.... turun. Hati-hati bawa mobilnya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Humai turun dari mobil dan melambaikan tangannya saat sudah berada di depan pintu. Girang bukan main Archee dalam mobil itu.


"Alhamdulillah ya Allah...." ucapnya dan segera kembali ke kantor.


.


Adel menepati janjinya untuk bertemu dengan Ilyas. Ia menunggu di mobil. Masih enggan jika harus masuk ke batalyon dan laporan.


Ilyas keluar masih menggunakan seragam bersama Imam. "Ndaaaaakkkk.... dia ini ngakak kencan tapi kok ada Bang Imam sih?" tanya Adel terheran.


Ilyas dan Imam masuk ke dalam mobil. "Assalamualaikum bos!" sapa Ilyas. Imam tertawa mendengarnya. "Panggilan sayangmu antimeanstream ya Yas!"


Mereka tertawa. "Tumben bang Imam ikut. Ada gerangan apakah ini?"


"Mau ngintilin orang pacaran!" sahut Imam. "Biarin aja dek dia ikut, dia yang maksa. Nanti kan nyesel sendiri kalau ikut"


"Ngebakso yuk dek?"


"Oke pak!"


Imam bermain ponselnya. Mendengarkan percakapan dua orang yang sedang kasmaran itu.


"Gimana anak-anak kita? Pada bandel gak? Ada yang stunting gak?" tanya Ilyas. Membuat Imam yang sedari tadi asik bermain ponsel langsung nimbrung dalam percakapan itu.


"Anak orang udah lu apain Yas?? Jangan bilang udah lu...."


Adel tertawa. "Bang Imam ih, gak mungkin lah! Berani dia begitu? Pengen dipecat apa gimana?"


"Iya juga sih! Terus, anaknya siapa? Pakai acara stunting lagi. Kayak ngikutin program kesehatan aja lu!"


Ilyas tertawa. "Lele ku maksudku Mam! Aku kan beberapa minggu gak pulang. Pikiran lu jorok banget sih!"


"Bikin jaring baru Bang, sudah harus diseleksi lagi biar gak saling makan" Ilyas mengangguk.


"Sekarang makan dulu. Anak kalian biarkan berenang menjelajahi samudra empang!" Kata Imam seraya turun dari mobil. Adel.dan Ilyas tertawa.


Mereka memesan bakso. "Mau yang biasa atau yang mercon dek?"

__ADS_1


"Biasa ajah" jawab Adel.


"Aku mercon Yas!"


"Gak tanya! Pesen sendiri lah! Emang situ pujaan hati saya??" Imam melongo mendengarnya. "Njirr.... temen sialan! Awas aja lu kalau gak ada Adel"


Adel tertawa melihay tingkah mereka berdua. Ilyas dan Imam memesan bakso pilihan mereka masing-masing.


Tak lama bakso itupun datang. Ilyas yang sudah beberapa minggu tak bertemu dengan kekasihnya minta dimanja. "Suapin...." rengeknya kepada Adel. Imam yang sedang makan menjadi terbatuk melihat tingkat rekannya itu.


"Sumpah! Geli aku" Adel tertawa. Ilyas melempar tisu pada Imam. "Makanya jangan jomblo!"


Adel menyuapi Ilyas. Seorang pengamen datang dan bernyanyi di depan Imam. "Misi mas, mbak, nunut nyari rejeki nggih?"


Imam dan yang lain mengangguk. "Malam ini.... kusendiri..... tak ada yang.... menemani..... seperti.... malam malam..... yang sudah sudah....."


Imam kembali terbatuk. "Kok yo ngasi pengamen nyindir aku to yo yo. Ya Allah gusti..... jan..... bangeten! (Kok ya sampai pengamen nyindir aku to ya ya. Ya Allah..... jan..... kebangetan!)" Adel dan Ilyas tertawa terbahak-bahak.


"Mas, lagumu ganti, kalau gak mbok ganti.gak tak bayar kamu" kata Imam. Pengamen itu menyengir.


"Oke mas, lagu apa ya?" Pengamen itu nampak berpikir. "Aha... tring" kata pengamen itu sambil memetik gitarnya.


"Ibu ibu bapak bapak siapa yang punya anak tolong aku kasihani aku tolong carikan diriku kekasih hatiku ku tak laku laku..... Pe"


Imam memberikan uang 5 ribu perak. "Makasih mas"


"Lagu kok yo kanggo jomblo!" Ilyas dan Adel semakin tertawa. "Seneng.... seneng.... seneng lihat aku menderita...."


"Aduh... sakit perut aku. Lagian, ada orang mau kencan ngintilin. Kena karmanya kan??" kata Ilyas.


"Bang, mau gak tak kenalin sama kembaran aku?"


Imam menghentikan makannya. "Nanti lah aku pikir-pikir dulu"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2