
Ilyas tertawa puas. Adel memasang muka cemberut. Tak mempedulikan Ilyas yang terus meminta maaf padanya. "Maaf ya sayang"
"Mbuh!"
"Hahaha, jangan mbuh to.... Habisnya.... kamu tuh gak pernah agresif nyariin Abang sih. Makanya Abang pengen ngetes seberapa rasa cinta kamu sama Abang. Hehehe"
"Emang perlu agresif gitu?" tanya Adel heran. Ilyas tersenyum dan mengangguk. "Perlu, kalau kamu gak di WA Abang duluan, kamu gak nge-WA kan? Jangan terlalu cuek, Abang juga butuh perhatian dari kamu"
Adel diam. Mencerna setiap ucapan Ilyas. Memang benar, dirinya memang tipe orang yang cuek. Itu karena dirinya tak ingin dianggap gampangan. Ia ingin tampil sebagai wanita elegan.
"Aku takut kalau aku agresif kamunya menjauh dari aku Bang" jelas Adel. Ilyas menggeleng.
"Abang seneng kalau kamu perhatian ke Abang. Abang seneng kalau kamu mengganggu dan meneror hape Abang. Abang seneng kalau ada notif dan tertulis nama Adel Sayang di hape Abang"
Adel menoleh pada Ilyas. "Bener Abang gak akan ilfeel?" Ilyas mengangguk.
"Pindah sini, biar Abang yang setirin" Adel mengangguk. Ia turun dan bertukar posisi dengan Ilyas. Lalu mereka pulang.
"Bang, pokoknya Adel gak suka ya kalau Abang genit-genit lagi ke cewek"
"Siap Bos! Abang begitu karena kamu cuek sama Abang"
"Iya" jawab Adel. Ilyas menurunkan kecepatan mobil. Ia melihat Imam dan Aylin mendorong motor.
"Si kakak sama Imam kenapa tuh dek?" Adel menoleh. Ilyas menghentikan mobilnya. Adel turun dari mobil. "Kenapa motornya?"
"Mogok, bener kata Ilyas kali, dia kalau lihat orang pacaran cemburu" tutur Aylin sambil mengatur nafasnya.
"Ay, kamu bareng mereka aja. Bias Mas yang dorong motornya" kata Imam. Aylin menggeleng.
"Gak ah. Aku bantuin Mas aja, udah deket kok rumahnya. Tinggal lurus sekitar 100 meter lagi terus belok kiri" terang Aylin.
Imam tersenyum tipis. Emang beneran baik hatimu Ay, beneran bukan cewek matre kamunya, betapa bodohnya cowok yang nyia-nyiakan kamu. Eh, tapi ada untungnya juga ding buat aku. Hahaha. Kan aku bisa kenalan karena dia putus sama cowoknya. Batin Imam dalam hati.
"Udah dek, kamu buruan pulang gih. Bilang sama Papah dan Mamah jangan tidur dulu. Mas Imam mau ketemu. Lagi kena kendala. Gih, buruan......"
Adel mengangguk. Ia kembali ke mobil. "Kakak gak mau bareng kita. Mau bantuin Bang Imam katanya. Ayo bang pulang, harus segera menyampaikan amanah dari kakak untuk Papah"
Ilyas mengangguk. Itu beneran mogok apa cuma akal-akalannya Imam lagi sih? Setahu aku, motor Bamin tuh terawat banget lho. Gak pernah rewel. Batin Ilyas.
"Ih, malah bengong. Ayo sayang"
"Iya sayang....." Ilyas mulai melajukan mobilbya lagi. Menuju rumah.
Imam memang sengaja membuat seolah-olah motornya mogok. "Ay, kenapa gak bareng sama Adel sih? Nanti kalau kakimu lecet dan capek gimana?"
__ADS_1
"Ya kamu yang harus tanggung jawab lah Mas, antar jemput aku tiap hari!"
Imam malah tertawa. "Itu hukumannya?" Aylin mengangguk. "Aku gak mau ninggalin kamu sendirian, ngedorong motor, kan kita tadi berangkatnya berdua, masa iya aku tinggalin kamu sendirian? Ya resiko ditanggung berdua to. Nanti kalau tabungannya udah cukup, motornya dijual, tukar tambah sama motor yang jaman sekarang. Kalau belum nyukup, cari yang setengah pakai aja"
Imam tersenyum mendengarnya. "Kamu gak malu deket sama aku? Aku gak punya apa-apa lho"
"Ngapain malu? Gak punya apa-apa kan sekarang, roda kehidupan berputar Mas, gak selalu berada pada tempat yang sama"
"Aku bersyukur bertemu sama kamu Ay, cowok yang nyia-nyiakan kamu rugi besar"
Aylin tersenyum mendengarnya. "Urusan dia mau rugi atau gak Mas, aku udah gak mau bahas apapun tentang dia"
"Pasti sakit hati banget ya?" tanya Imam.
Aylin mengangguk. "Siapa sih yang mau diselingkuhi? Dan.... posisinya, seperti aku yang jadi selingkuhannya. Hahahaha"
"Dih, dia malah seneng"
"Senang lah Mas, kan bisa tahu ternyata memang dia bukan yang terbaik dari Allah untuk aku" Imam mengangguk. Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah.
Aylin bingung, ramai sekali? Pikirnya. Imam menyandarkan motornya. "Assalamualaikum" sapa Aylin dan Imam.
"Eh, waalaikum salam" Papah Duta tersenyum melihat Imam. Imam menyalami kedua orang tua Aylin.
"Ini mobil siapa? Papah beli baru?" tanya Aylin. Papah Duta menggeleng.
Aylin melihat Imam. "Gak usah minder. Rejeki orang beda-beda. Pah, ini Mas Imam, temannya Ilyas. Yang mau ketemu sama Papah dan Mamah"
"Ayo masuk, ngapain di luar?" Papah Duta merangkul bahu Imam. "Mah, kopi" katanya.
"Nggih" jawab Mamah Laras. "Yas, urusin mobil kakaknya ya? Mamah mau bikin minum dulu"
"Nggih Mah"
Papah Duta menyuruh Imam duduk. "Siapa nama lengkap kamu Mas?" tanya Papah Duta.
"Imam Bachtiar, pak"
"Tentara?" Ilyas mengangguk. "Orang tua masih lengkap?"
"Masih pak"
"Berapa bersaudara?" tanya Papah Duta lagi.
"3 pak, saya anak nomor dua"
__ADS_1
"Aslinya Mas Imam anak tunggal pah, saudaranya bukan kandung semua"
Papah Duta mengangguk. "Asli mana?"
"Sleman pak"
"Dekat dong, Papah itu orangnya terbuka. Kalau ada yang mau mendekati anak Papah monggo, silahkan, tapi dengan catatan. Menuju jenjang serius. Kalau hanya untuk main-main mending mundur"
Kopi datang. Mamah Laras mempersilahkan Imam untuk minum. "Ayo nak Imam, diminum dulu"
"Nggih bu, terima kasih"
Imam dan Papah Duta minun kopi. "Ajak Aylin ketemu sama orang tuamu. Tanyakan pendapat mereka tentang anak papah. Jika sudah sama-sama mantap, segera urus nikah batalyon" kata Papah Duta.
Ilyas menyerahkan STNK dan bukti penerimaan barang pada Mamah Laras. "Mobilnya sudah mbok masukin garasi sekalian Yas?"
"Sampun Mah, Adel mana?" tanya Ilyas duduk di samping Imam. "Mandi" kata Aylin.
Tak lama Adel turun. Dan seperti biasa. Ia akan jatuh di anak tangga terakhir. Semua tertawa menyaksikannya. Ilyas hanya geleng kepala melihat tingkah Adel.
"Sama cerobohnya kayak kamu Mas, tuh, tiap hari jatuh melulu"
"Itu salah anak tangganya" jelas Adel.
"Anak tangga disalahin" protes Aylin.
Akhirnya, Ilyas dan Imam pamut pulang karena hampir jam 10 malam. "Motornya tinggal sini aja sih Mas, besok biar dibenerin ke bengkel dulu" kata Aylin.
"Gak usah, biar digeret sama mobil Ilyas aja"
"Ya sudah lah. Hati-hati pulangnya"
Ilyas memasangkan tali pada motor Imam. Lalu mereka pulang. Di pertengahan jalan, tali dilepaskan, Imam menyalakan mesin motornya.
"Dasar Imam kampret! Bisa dia ngerjain cewek sampai suruh dorong motor!" Umpat Ilyas. Imam hanya tertawa dan melambaikan tangannya.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip