Pelabuhan Hati Si Kembar 4

Pelabuhan Hati Si Kembar 4
Bab 16


__ADS_3

Jakarta


Amaris dan Aylin bersiap untuk pulang ke Magelang. Minggu adalah hari penting bagi kembaran lelaki mereka yaitu Archee Putra Wicaksana. Meskipun pernikahan saudara kembarnya itu tidak dirayakan, tapi mereka tak mau kehilangan momen bahagia itu.


"Hish, mas Seno nih nyebelin!" Kata Aylin sambil meldmpar ponselnya ke sofa.


Amaris memperhatikannya. "Kenapa lagi sih?"


"Dia ngebatalin lagi coba dek! Dia tuh serius gak sih sama aku? Disuruh ketemu papah sama mamah aja susahnya minta ampun!"


Amaris menghela nafasnya. "Mana aku tahu mas Seno serius atau tidak? Tanya sendiri lah sama hati kamu"


Aylin menghela nafasnya. Memejamkan matanya. "Coba sarannya Abang deh kak, minta petunjuk dari Allah"


Aylin mengangguk. "Iya kakak sudah mencobanya seminggu lalu, tapi sampai sekarang kakak belum dapat jawaban"


"Sabar, pasti kalau jodoh gak akan kemana. Ya mungkin untuk waktu dekat ini mas Seno memang benar-benar sibuk" Amaris meyakinkan Aylin.


Aylin mengangguk. "Yuk lah berangkat ke bandara. Akhirnya, cita-cita papah tercapai, ingin menikahkan bang Archee terlebih dulu"


Amaris mengangguk. "Semoga Humai kelak bisa mencintai Abang kita dengan tulus"


"Kalau aku sih yakin, Humai bakalan bucin sama Abang" sahut Aylin. Amaris mengangguk. Mereka berdua tersenyum. Lalu berangkat ke bandara.


Mereka naik pesawat dari Jakarta ke Semarang. Karena Amaris harus menjemput Damar. Tak lama, mereka pun tiba di Semarang. Hamka dan Damar telah menunggu mereka.


Damar merentangkan tangannya menyambut Maris. Maris berpura-pura akan memeluknya, saat sudah dekat, Maris berbalik dan memeluk Aylin. Hamka tertawa dan memeluk Damar.


"Belum halal" kata Maris mengingatkan. Damar tersenyum dan mengangguk.


"Bang Hamka, apa kabar?" tanya Aylin.


"Baik dong Lin Lin"


"Geng somplak bakal datang gak?" tanya Maris. Hamka dan Damar mengangguk.


"Mereka datang kok, tapi mungkin besok kali ya ke Magelangnya" terang Damar.


"Ya sudah, yuk langsung berangkat ke Magelang" Mereka semua mengangguk dan segera menuju Magelang.


.


Archee menunggu pagi. Tengah malam seperti biasa ia akan melakukan sholat tahajud. Selesai sholat, ia ingin kembali tidur, tapi tak bisa. "Saya terima nikah dan kawinnya, Aisyah Humaira Makarim binti Farid Baihaqi, dengan seperangkat alat sholat dan emas batangan 3 gram dibayar tunai!" Archee tersenyum sumringah setelah selesai melafalkan ijab qobul itu. "Saaahhhhh...." jawabnya sendiri.


"Abang sih bahagia Mai, tapi bagaimana dengan hati kamu? Akankah kamu bahagia bersama Abang?"


"Nikah sama dia bingung, gak nikah bingung. Mbuh Chee, kebanyakan mikir kamu!" Archee menghela nafasnya. Ia mengambil ponselnya dan melihat kembali Humai masih online.


"Chat ah" Archee mulai mengetik.


Me : Assalamualaikum

__ADS_1


Humai : Waalaikum salam


Me : Kok belum tidur?


Humai : lagi nunggu kabar


Archee mengerutkan alisnya. "Dia nih sebenarnya nunggu kabar dari siapa sih? Zidni? Bukannya dia lagi terlibat kasus?"


Me : Nunggu kabar dari siapa? Abang cemburu lho 😜


Humai : Sudah sholat?


Me : Sudah, jawab dong pertanyaan Abang


Humai : Aku ngantuk bang, wassalamualaikum


Me : Waalaikum salam. Bobok yang nyenyak calon istriku. I LOVE YOU 💞💞💞💞


Humai tak membalasnya lagi. Archee tersenyum. "Akhirnya kata itu bisa juga aku ungkapkan. Meskipun belum dengan ucapan. Tapi setidaknya dia tahu, aku memang benar-benar mencintainya"


Humai tersenyum dan memejamkan matanya. Pagi menjelang. Humai membantu mbak Yanti membereskan rumahnya.


"Gak usah mbak Humai, biar saya saja"


"Gak papa mbak Yan, kan saya numpang disini. Mbak, boleh tanya sesuatu gak?" Mbak Yanti mengangguk.


"Bang Archee pernah dekat dengan perempuan gak sih mbak?"


"Seriusan dia gak pernah pacaran ataupun dekat dengan perempuan?" Humai memastikan.


Mbak Yanti mengangguk. Archee menjemput Humai. Mbak Yanti menemui atasannya.


"Dia ngrepotin gak mbak?" tanya Archee. Mbak Yanti menggeleng. "Malah bantuin saya iya pak"


Humai sudah siap. Ia berterima kasih pada mbak Yanti yang telah mengizinkannya menginap. Saling berpelukan, dan meninggalkan rumah mbak Yanti.


"Kita mau kemana Bang?" tanya Humai. "Ke rumah Abang dulu. Nunggu disana, terus lihat pengumuman dan pulang"


"Sudah sarapan belum?" Humai menggeleng. "Ya sudah nanti sarapan di rumah saja"


Tak lama mereka sampai di rumah Archee. Humai mengamati sekelilingnya. Bersih, rapi, asri, dan adem. Itu yang dirasakannya saat menginjakkan kaki di rumah Archee.


Archee membuka pintu. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" jawab Humai. Mereka masuk ke dalam rumah. Humai berkeliling melihat kondisi rumah. Sangat amat rapi. "Rapi banget, ada ART disini?"


Archee menggeleng. "Adanya IRT nantinya, merangkap sebagai dokter gigi di RSUD kalau keterima" jawab Archee. Membuat Humai kembali merona.


Archee ke dapur. Ia mengupas bawang merah dan putih. "Biar aku saja" Humai menawarkan bantuan pada Archee. Archee mengangguk. Humai cekatan sekali melakukan pekerjaan itu. Archee mulai menghidupkan kompor dan memasukkan kocokan telur untuk dijadikan telur dadar.


"Siapa yang masakin Abang tiap harinya?" tanya Humai. Archee tersenyum. Archee merasa Humai mulai tertarik dengan dirinya. "Masak sendiri. Nanti kalau sudah nikah sama kamu kan kamu yang bakalan masakin abang"

__ADS_1


"Kalau aku gak mau?"


Archee menatapnya. "Ya sudah, Abang masak sendiri"


"Kalau aku gak mau pegang pekerjaan rumah?"


"Biar Abang yang kerjakan"


"Abang gak marah?"


"Ngapain harus marah?"


"Ini kan tugas istri"


Archee menghela nafasnya. "Pekerjaan rumah adalah pekerjaan bersama. Kewajiban istri adalah melayani kebutuhan suaminya. Kalau kamu niat jadi istri Abang, tanpa Abang suruh pun kamu akan melakukan apa yang menjadi kewajibanmu. Kewajibanmu adalah melayani suamimu. Dan Abang wajib menegur jika kamu tidak bisa melakukan hal itu. Karena pertanggung jawabannya di akhirat. Paham?"


Humai mengangguk. Humai mulai menumis bumbu itu, lalu memasukkan nasi menambahkan kecap dan cabai. Menambahkan penyedap rasa dan daun bawang. Menumis sebentar dan mematikan kompor.


Ia menyajikannya di dua piring. Menambahkan telur dadar diatasnya lalu membawanya ke meja makan. "Kopi atau teh?" tanya Humai.


"Kopi, 1 sendok saja gulanya" Humai mengangguk. Membuat kopi pesanan Archee dan menyajikannya. Mereka mulai sarapan. Archee mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kenapa enak?" tanya Humai. Archee mengangguk. "Makasih sudah masakin Abang"


"Sama-sama"


Sarapan pun selesai. Archee masih menikmati kopi buatan Humai. "Abang tadi malam sebut nama aku lagi ya dalam do'a Abang?"


Archee terkejut dan tersedak kopinya. Ia terbatuk-batuk sampai keluar air dari hidungnya. Humai tetap tenang. "Bikin kaget aja sih"


"Apanya yang bikin kaget? Kalau Abang kaget, itu artinya benar. Tadi malam, aku mimpi lagi tentang Abang" jelas Humai menatap Archee.


Archee menunduk sambil memainkan gelasnya. "Apa kamu terganggu dengan kehadiran Abang dimimpimu?"


Humai tersenyum tipis. "Di mimpiku, Abang selalu membuatku tertawa"


"Maka tugas Abang adalah membahagiakanmu. Abang mau menyiapkan keperluan untuk pulang ke Magelang" Archee beranjak dari kursi dan masuk ke kamarnya.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2